
Pagi-pagi sekali di jam berangkat kantor. Dua orang tampan sudah bersiap untuk mendatangi sebuah rumah sakit anak, tempat kerja sang dokter tampan.
Kedua orang ini datang dengan terpisah. Damar yang sudah tancap gas setelah subuh tadi. Sedangkan Alvaro sekitar jam 7 pagi.
Mereka telah membuat janji, untuk bertemu di rumah sakit anak. Tempat sang kakak ipar bekerja. Rumah sakit khusus anak-anak.
Rumah sakit 5 lantai dan tampak gedung berwarna hijau dengan sentuhan warna lebih terang.
Terdapat taman area bermain anak dan juga ruang konsultasi untuk anak yang mengalami keterlambatan bicara, serta yang mengalami gangguan lainnya.
Lalu, yang utama di rumah sakit ini adalah tempat pemeriksaan anak sakit dan yang sedang menjalani terapi lain.
Dr. Emran sendiri adalah dokter anak untuk pemeriksaan umum. Praktek di jam pagi atau malam hari. Tergantung jadwal masuk kerjanya.
Pagi ini, dokter Emran kerja di pagi hari. Jam praktek dari jam 8 - jam 11 siang.
Damar yang sudah tiba di parkiran rumah sakit. Lalu, Alvaro belum juga sampai di tempat mereka janjian.
Damar yang tidak sabar, ia berjalan lebih dulu. Saat berjalan banyak yang sudah menatapnya. Bagaimana tidak, Damar bagaikan aktor korea yang ada di drama CEO. Penampilannya, yang sangat rapi dengan setelan jas warna abu-abu muda. Tampak memakai kacamata hitam dan juga masker yang menutup area hidung dan juga mulutnya.
Setelah Alvaro datang, ia juga bergegas untuk keluar dari mobilnya. Tampak memakai masker. Alvaro yang berpenampilan lebih casual, hanya memakai kaos warna putih dan celana jeans warna biru.
Damar yang duduk di ruang tunggu, ada beberapa orang dan suster telah melihat ke arahnya.
Damar memang special, kulitnya yang glowing bak porselin. Mungkin karena, Damar keturunan Korea, dan semenjak menikah ia mengikuti perawatan kulit bersama istrinya. Jadi, kulitnya sangat terlihat berbeda. Banyak yang mengira kalau dirinya seorang aktor.
Untung saja, Damar tidak melepaskan maskernya. Coba kalau dibuka, pasti akan terpesona bila menatapnya.
"Mas Damar, sorry telat."
"Sana, kamu yang daftar."
"Lah, kok aku. Mas Damar udah datang duluan, kenapa nggak daftar." Al yang gemas dan kesal.
"Aku lebih tua darimu."
"Iya, iya."
"Eh, ingat daftar anak sakit. Bukan kita."
"Iya juga ya. Aku nggak malah kepikiran soal itu."
Mereka berdua ini, ada-ada saja. Sang Kakak ipar baru bekerja, malah pada gangguin. Kenapa nggak ajak ketemuan saja. Di restoran atau di hotel gitu. Ini malah pergi ke rumah sakit tempat prakteknya.
Akhirnya, Damar mengikuti Alvaro, yang sedang mendaftar. Alvaro yang telah mengisi data pasien pada sebuah alat digital. Seorang petugas perempuan tampak memandunya.
Alat canggih itu juga langsung otomatis, menyambungkan ke bagian lainnya. Nanti, akan ada sebuah kartu yang berisi data pasien, bila nantinya pasien kembali melakukan pemeriksaan lanjutan, tidak perlu mengisi data mereka lagi. Bisa mendaftar melalui aplikasi rumah sakit dan akan diberikan nomor antrian pasien.
"Nama anak?" Alvaro befikir.
"Damar"
Damar menyela, "Jangan, aku lagi nggak sakit."
"Ini nama anaknya Mas Damar."
"Itu tadi nama orang tua udah Damaro, masa nama anaknya Damar."
"Bener juga. Aku kenapa jadi nggak bisa mikir. Ya udah, emm. Alva Damaro."
"Hems, Alva Damaro."
"Ini bagus."
"Ya udah. Buruan di asal."
Alvaro mengisi data sesuka hatinya dan jari-jarinya dengan cepat mengetik di layar digital itu.
"Oke, sudah selesai."
"Itu, belum disini."
"Apalagi Mas?"
Damar meletakan ponselnya, untuk scan barcode pembayaran. Alvaro dan Damar bisa tersenyum, setelah ada yang keluar dari alat itu. Sebuah kartu pemeriksaan atas nama Alva Damaro.
Setelah mendaftar mereka berjalan dan menuju ke tempat dokter praktek yang dituju. Setelah melewati sebuah lorong dan mereka menaiki lift. Mereka berdua tiba di sebuah ruangan. Lantas, mereka melakukan scan kartu pasien. Setelah mendapat nomor antrian. Mereka sudah bisa menunggu di kursi tunggu, depan pemeriksaan.
Hanya ada beberapa orang di tempat itu dan rata-rata membawa anak berusia bayi sampai usia 9 tahun. Sedangkan mereka, hanya berduaan.
"Mas, mana anak kamu?"
"Siapa?"
"Alva Damaro." Alvaro yang mengejek dengan tertawa ringan.
"Haishh, ini demi kedamaian bersama."
"Kurang damai gimana?"
"Hem, kamu nggak tahu aja. Ada aja yang diributin. Begini salah, begitu salah. Udah sebulan aku di anggurin."
"Kak Abyaz lagi bedrest. Mas Damar yang harus mengerti."
"Terus, kamu sendiri gimana? Ngapain milih ide beginian?"
"Ya sama, semenjak lahiran. Gaby jadi fokusnya ke Arjuna. Giliran Arjuna sama aku dia pergi sama teman-temannya. Aku ngomong apa dia ngomong apa. Aku nggak nasehatin dia, dia udah baper duluan. Aku juga bingung mas."
Meski mereka tampak mengobrol, tapi mereka tahu. Ini di rumah sakit. Harus pelan-pelan ngomongnya.
"Ya, kita butuh resep dari dr. Emran." Damar dengan semangat yang ada saat ini.
"Kak Abyaz tahu nggak, Mas Damar kesini?"
"Tadi, aku bilangnya ada meeting penting di kantor Alvaro. Makanya, aku rapi begini. Kalau nggak gitu, mana bisa aku pergi."
"Hem, aku dijadiin tameng."
"Kamu yang bikin ide begini. Terus Gaby gimana?"
"Aku bilangnya tadi, ada urusan di luar."
"Dia cuek?"
"Iya."
"Wah, gawat Al. Jangan-jangan Gaby ada cem-ceman lain di kampus."
"Yaaa, Mas Damar jangan jadi kompor. Aku bisa kepanasan ini."
"Aku dulu juga gitu sih, dicuekin. Tapi, sekarang ini. Beneran nggak bisa kemana-mana, yang ada curiga melulu."
"Hemm, namanya juga lagi hamil. Pasti Kak Abyaz hormonnya beda."
"Bisa jadi juga. Tapi, aku butuh udara luar. Bayangin aja, sebulan ini aku berasa di kurung. Ke kantor nggak boleh, pertemuan penting nggak boleh. Aku harus kerja, cari cuan buat dia. Mana sekarang minta ini itu yang branded. Aku kalau nggak kerja, duit dari siapa?"
"Pak Presdir mah duitnya banyak ." Alvaro yang berasa meledek.
"Alvaro, kamu sekarang udah kerja di Z. Coba direktur gajinya berapa? Sama aja, posisi kita. Mana harus bayar ini itu. Kalau aku nggak ada proyek T. Susah juga hidupku."
"Bener juga Mas. Apalagi, gaji karyawan perusahaan dan rumah pekerja rumah."
"Kalau gaji perusahaan itu urusan dari uang perusahaan. Kalau yang rumah. Itu pengawal, aspri, pembantu, dan Kakak kamu. Hems, puyeng aku."
Alvaro semakin mengerti. Melihat Damar yang memang begitu adanya. "Iya juga, apalagi hidup terus berjalan. Kalau nggak kerja. Duit nggak bisa datang gitu aja."
Setelah menunggu sekitar 30 menit, mereka siap dipanggil.
"Saya suster."
"Anaknya?"
"Saya suster."
"Bapak jangan bercanda."
"Suster saya ingin bertemu dokter Emran."
"Maaf Bapak, tidak bisa."
"Please suster sebentar saja."
"Saya adiknya, ada masalah sebentar." Ucap Alvaro.
"Kalau begitu, hanya 5 menit ya Pak."
"Baik suster."
Setelah masuk ke ruang praktek dr. Emran.
Damar dan Alvaro tampak berdiri. Mereka membuka masker dengan senyuman manis menatap dr. Emran.
"Anak Alva Damaro." Ucap sang dokter dan membawa tawanya.
"Kalian berdua ada-ada saja."
Lantas mereka berdua duduk di hadapan dr. Emran, sang Kakak ipar.
"Siapa yang mau di periksa?"
"Ya itu, Alvaro dan Damar." Jawab Alvaro.
Damar berkata "Mas Emran, harus tolongin saya. Ini tentang saya dan Abyaz."
"Tolongin?"
"Mas Emran juga harus kasih solusi buat aku. Aku bingung kalau ngatasi soal Gaby." Alvaro yang menatapnya.
Emran menatapnya dengan santai, lalu berkata "Jam makan siang di restoran Papa."
"Ya, jangan disana. Nanti Abyaz bisa ngambek."
"Iya, aku juga pamitnya nggak ke restoran. Nanti malah ketemu Kakak."
"Oke, nanti di cafetaria. Kita sambil ngopi. Jam 11 aku sudah selesai."
"Nggak bisa kasih resep sekarang?" Damar yang begitu adanya. Pokoknya harus kilat dan cepat beres.
"Damar, saya harus kerja. Profesional. Bukannya begitu, Presdir Damar."
"Iya. ya udah. Aku tunggu Mas Emran di depan sini aja."
"Tidak disini. Di cafetaria."
"Mas Damar, kita nurut aja sama Mas Emran. Demi resep."
"Oke."
Akhirnya mereka menanti dan sampai jam 11 nanti. Datangnya jam 8. Jam 9 baru menunggu di ruang tunggu. Jam setengah 10 baru ke ruang dokter dan saat ini baru jam setengah 11.
Mereka berdua, tampak duduk di cafetari. Sambil ngopi-ngopi manis.
Jam 11 teng. Damar yang melihat ke arah pintu cafetaria dan sang Kakak ipar belum juga menampakan diri.
"Mas, kamu nggak sabaran. Pantas saja Kak Abyaz jadi begitu selama hamil. Mungkin bayinya kayak kamu."
"Al, aku nggak sabaran. Lihat ini. Berapa panggilan dari Abyaz."
"Hpku mati, mungkin Kak Abyaz juga telephone ke aku."
"Kamu enak, Gaby jadi cuek. Aku yang nggak bisa kemana-mana."
Kakak ipar datang setelah 10 menit kemudian, "Sorry, kalian harus nunggu."
"Nggak apa-apa Mas, Al bisa ngerti. Cuma Mas Damar yang nggak sabaran."
"Lihat ini, lagi. Manggil terus."
Sang dokter tampan tampak tersenyum, lalu berkata "Ibu hamil memang lebih sensitif. Jadi manja, mood berubah dan begini salah, begitu saja. Itu hal wajar."
"Mas Damar, aku juga udah dicurigain. Aku dibilang kencan dihotel, main sama cewek, ketemuan begini-begitu. Gimana hidupku tenang. Padahal, dia sendiri yang pelukan sama Binar." Damar yang gemas-gemas sekali, tapi sangat mencintai istrinya.
"Kuncinya, sabar. Sabar untuk sementara waktu. Ikuti saja kemauan Abyaz."
"Sudah Mas. Tapi, aku sudah mau masuk kerja. Cutiku sebulan sudah habis cuma di rumah saja."
"Menemani istri bedrest di rumah dan memanjakan dia. Itu juga sebagian dari ibadah. Memangnya, kamu nggak pernah tanya-tanya sama Papa."
"Tanya tapi nggak soal ini, aku soal ini takut kalau tanya sama Papa. Apalagi, sekarang Papa tinggalnya sama Binar."
"Masih dendam?"
"Ya susah aja Mas. Mau ikhlas berasa susah. Gimana sih Mas. Istri dipeluk orang lain, ya nggak rela. Aku aja nyewa pengawal buat aku biar nggak di dekati perempuan. Abyaz malah main pelukan sama Binar."
"Damar, sepertinya mood kamu yang berubah, bukan Abyaz. Setelah apa yang aku lihat. Kamu yang ngidam, bukan Abyaz. Aku kemarin, ketemu Abyaz juga biasa saja. Tidak banyak perubahan. Tapi, aku lihat kamu. Beda banget, sama yang sering aku temui."
"Ya mungkin, karena aku dikurung sebulan bagaikan ayam nggak kena cahaya luar."
"Coba saja, kamu renungkan masalah kamu. Kamu harus sabar dan terbuka. Binar sekarang sudah menganggap Abyaz itu saudara. Yang lalu sudah berlalu. Jalani dengan apa adanya. Lagian, kalau Binar dan Abyaz waktu itu tidak bertemu, pastinya akan terpedam sampai menjadi penyakit hati untuk Binar. Abyaz juga akan merasa bersalah akan masa lalu mereka itu."
Alvaro menepuk bahu Damar, lalu berkata. "Tindakan Mas Damar waktu sudah tepat. Aku sama Papa juga setuju, kita dukung Mas Damar. Cuma soal Kak Abyaz yang semakin manja dan cuma maunya sama Mas Damar. Sementara waktu, ikuti saja kemauan Kak Abyaz. Lagian, dulu Mas Damar juga sering keluar kota, ke luar negeri. Di hamil yang sekarang. Coba di rumah aja, turuti dulu kemauan Kak Abyaz."
"Oke, aku akan berusaha sabar. Tenang dan ikhlas. Meskipun rasanya berat."
Emran tersenyum, lalu berkata "Alvaro, kamu bisa menasehati Damar, tapi kamu juga bingung menangani masalah hatimu sendiri."
"Ya bingung Mas. Sekarang ya sama begitu salah, begini salah. Aku juga bingung Mas, kalau dia cuek aku nggak suka. Kalau dia minta perhatian, aku pas lagi sibuk kerja."
"Itu hanya masalah waktu saja. Aku dulu sama Kakak kamu juga begitu. Apalagi waktu Owen masih bayi. Alishba yang jenuh, aku juga nggak ada waktu buat menghibur dia. Aku kadang juga ingin bantuin jagain Owen. Tapi, waktu itu aku baru penempatan di rumah sakit ini. Pasti, jadinya ada ribut kecil dan kita pernah saling cuek. Ya, semua itu wajar. Dulu, aku sampai telephone Papa, minta solusi buat nenangin perasaan Alishba yang lagi begini-begitu. Aku nggak malu tanya sama Papa. Akhirnya Papa kasih solusi dan memang harus sabar, ketika menghadapi kaum hawa."
"Baik, Mas Emran. Terima kasih atas waktunya. Aku pamit dulu. Ini Abyaz sudah minta aku untuk pulang."
Emran berkata "Iya hati-hati, kalau butuh teman cerita, chat aku. Kalau aku ada waktu, pasti aku akan hubungi kamu."
"Baik Mas Emran. Terima kasih."
Alvaro masih tinggal, lalu dokter tampan memasan minuman. Alvaro yang sudah mimum kopi, ia masih menatap ke arah Damar yang berjalan.
"Dia yang kaya raya. Bilangnya duit susah di cari. Lalu, aku harus kerja lembur demi duitnya."
"Alvaro, hari ini Arjuna dimana?"
"Di rumah sama suster."
"Baguslah. Arjuna anaknya sangat sehat. Gaby pintar merawatnya."
"Iya Mas."
"Al, Gaby itu masih sangat muda. Jadi wajar kalau dia kadang cuek, kadang butuh perhatian. Apalagi, dia ibu muda. Moodnya sama seperti ibu hamil. Jadi, kamu harus sabar. Lebih baik nikmati alurnya. Sekiranya, Gaby jenuh, ingin jalan berdua. Ya ajak ke mal, nonton berdua, ngopi di cafe. Arjuna biar sama suster di rumah, lagian ada pengawal yang siaga. Kamu sebisa mungkin, harus bisa mengerti Gaby. Apalagi, kalian menikah juga dadakan."
"Iya Mas."