ABYAZ

ABYAZ
Bab. 64. Modal Dana Untuk Usaha



Othor bingung nulisnya. Kenapa dari jaman ke jaman cepet begini. Mbah Pras semakin senja pastinya.


Mohon maklum, bila ada salah kata, salah penulisan dan kemiripan cerita dengan yang lainnya. Karena ini, hanya cerita biasa dan tidak ada yang istimewa.


Ini cuma haluan romansa cinta, hanya ada baper mesra saja. Wis, ngono wae. 🤭


Yuk, balik ke kisah Arjuna dan Beby.


Mereka berdua yang masih berada di ruangan kerja itu. Tampak manis dan Arjuna sudah menceritakan tentang dirinya yang hanya bersantai.


"Lalu, gimana dengan kamu?"


"Aku, biasa aja."


Arjuna melihat kantor ini membuat dia kagum, lalu bertanya "Kamu dapat modal dari mana?"


Beby menutup mulut suaminya, "Sstth, jangan kenceng-kenceng ngomongnya."


Arjuna menatapnya tenang dan Beby sudah tampak senyuman. "Nanti, aku ceritain sama kamu."


"Kenapa nggak sekarang?"


"Ayo kita pulang. Nggak enak kalau aku lagi libur tapi terlihat disini. Mereka jadi nggak nyaman."


Arjuna mengerti dan mereka pulang menuju ke rumah. Sudah lebih dari jam 5 sore, dan kondisi jalan tampak macet.


"Sayang, macet."


"Kamu jenuh?"


"Tidak."


Arjuna melihat ke wajah istrinya dan memegang pipi gemasnya. Arjuna bertanya "Kamu senang aku disini?"


"Iya. Aku senang sekali."


"Aku juga tidak ingin meninggalkan kamu lagi.


"Aku tahu."


Saat mereka berdua masih bersama di dalam mobil. Terdengar suara lagu dari radio mobil itu. Lagu yang berjudul Musim Hujan dari HIVI! Telah menemani mereka yang gabut, selama dalam kemacetan lalu lintas ibukota di sore ini.


Masin padat merayap, terlihat senja yang hadir menyapa, dengan janji esok akan segera datang kembali.


Bait lirik lagu itu, Beby turut menyanyi bersama sang suami tercinta.


"Dan hujan datang kemari,


Temani diriku yang sepi,


Deru derasnya mengiringi,


Setiap kata yang berbisik di hati."


Keduanya, saling berpegangan tangan.


"Aku sayang kamu." Arjuna telah mengecup pungung tangan lembut istrinya.


Beby berkata "Aku juga." Lalu, mengecup pipi suaminya dengan gemas. "Arjuna sayangku, sayangku, sayangku."


Arjuna yang mengingat akan obrolannya waktu di kantor istrinya. Mengenai dana awal perusahaan. Mana mungkin, Beby bisa mencari modal sendiri, tanpa orang tua dan keluarganya.


"Sayang, tadi kamu tanya aku soal modal bisnisku."


"Iya, aku juga lagi mikirin itu."


Serasa ada telepati diantara perasaan mereka berdua. Beby dengan tersenyum lalu ia bercerita. Arjuna tampak senang saat mendengarkannya.


"Papa, Papi, Pakde, Ayah, sama Paman Shin-ping?"


Beby mengangguk dan ada rasa malu untuk mengakuinya. Tapi, dia sangat senang.


"Sayang, aku bawa proposal. Jadi, aku nggak langsung meminta gitu aja. Terus, tugas Starla mencari lokasi untuk pabrik kita."


"Aku mengerti, istriku sudah berusaha."


Flashback On.


Selang, satu bulan setelah kepergian Arjuna. Beby dan Starla membuat ide usaha untuk mereka berdua.


"Papa."


"Papa lagi sibuk sayang. Papa mau ada rapat."


Papa Damar yang memang sengaja, tapi Beby sangat gemas tetap mengikuti langkah kaki sang Papa.


Dihadapan para staff andalan dan sang Papa sudah duduk di kursinya. Sang sekretaris juga sudah meletakan dokumen penting di atas meja rapat itu.


"Papa."


Wajah itu tampak cemberut, dan para staff jadi melihat ke arah Beby. Tadinya, ada yang mengira itu selingkuhan Presdir mereka.


Beby ikut duduk dalam rapat itu dan menunggu sampai rapat selesai. Tapi sang Papa tampak menghiraukannya.


"Papa."


Papa Damar menoleh, "Ada apa lagi?"


"Aku serius. Aku butuh dana untuk buka usaha."


"Mana proposal kamu?"


"Proposal?"


Beby dengan tangan kosong dan tidak membawa apapun dalam tasnya.


Ia pikir akan mudah meminta modal usaha dari sang Papa. Ternyata sang Papa ini, sudah mempermainkannya.


Di sebuah meja staff ada kertas kosong, Beby mengambilnya, menulis proposal kasih sayang tulus untuk sang Papa, dengan tertanda Beby Ayazma sang putri tercinta.


"Ini, proposalnya."


Sang Papa tersenyum, lalu berkata "Papa masih kurang yakin. Papa juga cemas, kalau sampai Mama kamu akan memarahi Papa lagi."


"Papa. Papa mau aku teriak-teriak disini?" Wajah itu, sangat menggemaskan. Bahkan, pakaiannya memang terkesan manis dan jelita tiada tara.


"Boleh juga ide kamu."


"Papa!!! Aku butuh dana, modal usaha!!"


Sang Papa spontan menutup mulut putri bungsunya ini. Mereka yang berdiri dan masih dekat ruang rapat tadi. Para staff yang di sekitarnya, jadi menatap ke arah mereka berdua.


"Kamu ini bener-bener nekat."


"Siapa yang ngajarin aku begini?"


Sang Papa terdiam, lalu berkata "Sayang, kita ngobrol di dalam."


"Tadi aku udah begitu. Papa sama Pak Yogi malah mempermainkan aku."


"Beby, bukan begitu maksud Papa." Papa Damar yang merasa kalah.


"Yogi, kasih apa yang dia minta."


"Papa, jangan kasih dana modal buat Beby."


"Kak Bintang kok begitu sama aku."


"Aku tahu, kamu sama Starla sudah mengatur semuanya."


"Ye, itu urusan rumah tangga kalian berdua. Aku sama Papa urusannya beda."


"Pak Yogi, jangan di tulis."


"Pak Yogi, buruan tulis."


"Beby!"


"Kak Bintang!!"


Keduanya saling menatap bagaikan kilat yang menyambar. Sekretaris itu sampai bingung sendiri.


Papa berkata "Bintang, biarkan adikmu senang."


"Papa tetap saja belain Beby."


"Kamu laki-laki, kamu pasti lebih bisa memahami."


"Papa, tapi gimana dengan aku. Starla nekat kerjasama dengan Beby."


Beby berkata "Kak Bintang. Semangat lemburnya. Harus sabar menghadapi sahabatku. Oke."


"Papa, terima kasih." Mengecup gemas pipi sang Papa dan langsung kabur begitu saja.


Papa menepuk bahu Bintang, lalu berkata "Kamu harus sabar. Coba kamu bantuin Papa kerja."


"Papa."


"Kamu juga harus menanggung kebutuhan istri kamu."


Bintang Kejora merasa kalah sebelum bertanding dan akhirnya siap bekerja di JS demi meraih hati istrinya tercinta.


Setelah dari JS, Beby langsung bertandang ke GG. Tempat kerja sang Papi kandungnya.


"Papi lagi sibuk?"


"Tumben kamu kemari." Sang Papi langsung menghampiri putri kandungnya dan mengajaknya untuk duduk di sofa.


"Papi, aku mau buka usaha sama Starla."


"Buka usaha?"


"Iya."


"Usaha apa?"


"Semacam fashion."


Beby yang tersenyum dan begitu imut. Sang Papi tersenyum, lalu berkata "Papi tidak suka kalau kamu bekerja."


"Tapi, aku sudah bosan. Aku sudah coba tinggal dari rumah ke rumah yang lain. Tetap saja, aku ingin kembali bekerja."


"Papi mengerti." Dia merasakan akan gelisahan putrinya, saat Arjuna pergi meninggalkan putrinya.


"Papi, ini aku bawa proposal kasih sayang untuk Papi."


"Baik, Papi akan menerimanya proposal ini. Tapi, Papi juga ingin melihat project dan hasil kerja kamu nanti."


"Iya. Aku akan buktiin sama Papi. Kalau aku bisa bekerja dengan baik."


Dana modalnya, sudah ada di tangan. Beby kembali menghitung lagi, baru sekian persen dan masih butuh untuk membeli mesin dengan teknologi canggih.


Hari kedua, berkunjung ke kantor Mahatma.


"Beby. Ada perlu apa kamu datang kemari?"


Beby yang dulunya memanggil Om Viral. Setelah menikah, jadi ikutan memanggil Pakde Viral.


"Pakde Viral. Ini, aku mau buka usaha sama Starla. Tapi, aku masih butuh dana."


"Dana?"


"Iya, tidak banyak. Hanya untuk membeli mesin di pabrik fashion."


"Pabrik fashion, sepertinya menarik."


"Kamu butuh dana berapa?"


"Segini Pakde."


"Hanya segini?"


Tertera, 100 Juta dan itu hal mudah bagi seorang Presdir Viral. Dengan secepat mungkin, sang Pakde menulis lembaran cek dengan nomimal 1 M.


"Pakde, ini kebanyakan. Aku baru pemula."


"Tidak apa-apa. Sisanya, untuk kamu beli rumah."


"Beli rumah? Aku tidak mau. Aku mau menunggu Arjuna kembali."


"Kamu bisa memakainya sewaktu-waktu. Apalagi, kamu tanggung jawab Arjuna."


"Tapi, aku tidak mau menerima ini Pakde. Berikan sejumlah nominal itu saja Pakde."


"Baik." Pakde Viral yang mengerti dan mengganti cek dengan yang baru.


Sudah mendapat dana sekian ratus juta, dan pikirnya akan cukup untuk membeli ini dan itu. Semuanya, akan tercukupi. Tapi, untuk anggaran awal perusahaan masih belum cukup ternyata.


Beby yang tidak mengerti soal keuangan, dan Starla saat ini menatapnya.


"Aku heran sama kamu. Dikasih 1 M. Malah kamu tolak."


"Aku pikir harga lahan untuk pabrik, itu sudah terbayar."


"Beby, kita harus gerak cepat."


"Tunggu, aku masih ada Ayah mertua dan Nenek."


"Yang jelas, soal dana itu. Aku serahkan sama kamu."


"Iya sayangku. Kamu nggak perlu cemas. Kita akan meraih mimpi kita bersama."


"Oke."


Starla sendiri, pengantin baru. Malahan, belum mekrok kembang karena masalah dengan orang tuanya. Sampai detik ini, Starla seperti di buang oleh keluarganya dan ia hanya hidup dari sang Bintang Kejora si pengangguran, tapi suaminya itu pewaris masa depan.


Hari berikutnya, sudah bertandang ke Ayah mertua.


"Beby. Apa tidak sebaiknya kamu di rumah saja."


"Ayah. Dengan bekerja, aku jadi ada kegiatan dan tidak lagi memikirkan masalah Arjuna."


"Kamu benar."