
"Mama kamu? Kamu yakin?!"
"Iya. Mama aku." Suara itu berubah melow.
"Owh, kamu kesini nyariin Mama aku."
Beby mengangguk, padahal tadinya udah senang dan bahagia, melihat sang anak kandung. Jadi patah semangat.
"Papa." Cinta yang memanggilnya lebih dulu dan memegang erat lengan sang Papa.
Beby melihat ke arah Papa yang ada di sampingnya.
"Papa pilih aku, apa dia?"
"Papa pilih putri Papa."
Beby merangkul lengan sang Papa "Papa pilih aku apa dia?"
Sang Papa berbisik kepada Beby "Papa tetap, yang pertama. Kamu."
"Beneran?"
"Iya sayang."
"Cinta, Papa pilih aku bukan kamu."
"Oke. Aku nggak keberatan. Aku ada Mamaku."
Sang Mama yang keluar dari kamar mandi, dan Cinta sang anak kandung sudah memegang lengan tangan sang Mama.
Membuat perasaan Beby semakin tak menentu. "Papa, aku mau sama Mama."
"Rayu Mama kamu."
"Emh, kemarin aku cuekin Mama."
"Pakai jurus yang Papa ajarin."
"Aaa.. Nggak mau."
Ia lalu berkata "Papa, aku balik ke kamar aku."
"Sayang."
"Mama nggak sayang sama aku."
"Siapa bilang Mama nggak sayang sama kamu??"
"Kak Bulan!" Ia langsung terkejut dan memeluk erat sang Kakak satu ini.
"Aku punya kejutan buat kamu."
"Apa?"
Surprise!!
"Happy birthday Beby. Happy birthday Beby. Happy birthday Beby. Happy birthday Beby..."
"Selamat ulang tahun, Beby Ayazma."
"Kalian,. "
"Uuh, adikku ini. Bikin gemas." Ucap sang Bintang dan langsung memeluknya.
"Aaa.. Kak Bintang. Aku jadi baper."
"Kenapa nggak pulang? Aku kangen banget sama kamu."
"Emh, aku bukan adiknya Kak Bintang."
"Siapa bilang. Aku Kakak kamu. Dari dulu sampai nanti. Aku tetap Kakak kamu."
"Emh, aku jadi makin baper."
"Selamat ulang tahun. Ini hadiah dari aku."
"Hah, kunci mobil?"
"Iya. Mobil baru. Atas nama, Beby Ayazma."
"Beneran? Ini buat aku?"
"Iya beneran. Mau nggak?"
"Iya, aku mau. Mau banget."
Bintang yang tampak terharu. Tampak mengelus rambut Beby dengan manis.
"Kak Bintang. Terima kasih."
"Aku bingung pilih warnanya. Starla yang pilihin."
"Owh, dia memang tahu kesukaan aku.
"Dia titip ini juga, buat kamu."
"Iya, aku nanti telephone dia."
"Oke."
Bos Bintang, itu julukkannya. Hobby balap mobil dan modif mobil-mobil mahal. Pokoknya yang berhubungan dengan ngedrif.
Pria maskulin, berkharisma dan super peka. Dia juga anak Mama. Calon penerus JS nantinya. Tapi, sampai sekarang dia juga belum menikah. Kekasihnya, masih studi di luar negeri.
"Aaaaaa kalian ini. Aku niatnya mau ngejutin Mama. Malah aku jadi yang terkejut. Hayo, ide siapa ini?"
Keluarga itu, malah main tunjuk ke Arjuna.
Ada Mama, Papa yang masih berdiri di belakangnya. Ada Arjuna, sang Kakak tampan dan sang Kakak cantiknya, serta sang anak kandung, yang sekarang bernama Cinta Damayaz.
"Emh, kalian nakalin aku. Aku jadi nangis ini."
Sang Mama mendekat "Selamat ulang tahun sayang. Mama nggak akan lupa, sama ulang tahun putri cantiknya Mama."
"Emh, Mama. Aku jadi nangis lagi." Beby yang sudah menangis.
"Selamat ulang tahun yang pertama, untuk Beby Ayazma."
"Mama terima kasih. Mama udah ngerawat aku sampai sebesar ini. Mama memang ibu yang luar biasa." Beby mencium gemas pipi sang Mama. Mama Abyaz juga terharu dan sangat bersyukur. Putrinya, telah kembali ceria lagi.
"Kak Bulan, aku kangen banget." Kembali memeluk sang Kakak yang lama tak jumpa.
"Ye, apalagi Kakak. Giliran Kakak pulang kamunya malah ngilang."
"Ya kan aku."
"Udah, nggak ada nangis-nangis lagi. Apapun keadaan kita. Apapun perbedaan kita. Aku tetap Kakak terbawel kamu. Awas, jangan main api sama Arjuna."
Arjuna menyela, "Kenapa Arjuna jadi bawa-bawa?"
"Arjuna, kamu harus jaga bayi ini yang bener. Kalau sampai bayinya nangis. Aku tinju kamu. Sampai penyet."
"Ampun Kak Bulan."
Bulan sosok yang garang, tengil, tapi penyayang. Masih single dan hobby traveling.
Eiits, kekasihnya juga memiliki hobby yang sama, yaitu jalan-jalan. Tadinya, dia duluan yang mau menikah. Tetapi, karena adanya masalah ini. Jadi, di undur waktunya. Mungkin, tidak akan lama.
Cinta Damayaz berkata "Ayo kita tiup lilin bareng."
"Pasti ini ide kamu."
Dia seolah tidak mau disalahkan.
"Udah,, ayo tiup lilinnya bareng."
"Umur kita sekarang ya satu."
Arjuna mendekat "Ini, kalau mau ramai."
"Aaaa. Arjuna sayangku, sayangku, sayangku. Tahu aja kesukaan aku."
Semuanya menggeleng dan akhirnya mereka tiup lilin bersama.
"Yeee...." Betapa serunya dirinya.
Cinta yang sekarang, menjaga imeg cool. Ia memang lebih dingin. Karena, beda asuhan beda pula hasilnya. Bisa jadi, karena ketegaran hatinya. Tidak ada yang tahu, masa lalunya seperti apa. Apalagi, sempat berada di lingkungan yang sama dengan istri pertama Presdir Arman. Kelihatannya saja beda rumah, beda ruangan, tapi jadi yang kedua juga tidak nyaman di hati.
"Selamat ulang tahun."
"Selamat ulang tahun.
"Hadiah buat kamu."
"Ini, tadi aku beli tas. Niatnya buat aku sendiri. Tapi, kita ulang tahun."
"Oke, nggak masalah. Nanti aku pakai ke kantor. terima kasih."
Beby tersenyum ceria.
Sang Papa mendekat "Kalian berdua ini, putri Papa."
"Aku nomor 1." Ucapnya yang kekanakan.
"Ini Bayi besarku."
Sang Papa gemas dan sang Mama berkata "Terus, posisi Mama dimana?"
"Mama biasanya, disini."
"Nggak bisa. Mama disini. Punya aku."
"Papa, anak Papa gitu sama aku."
"Cinta."
"Mama disini aja. Sama Bintang. Mamaku, Mama kesayangan Bintang."
"Wow, terus aku??"
Bintang berkata "Tukang foto."
"Hish, selalu begini."
Bulan lantas yang mengatur kamera dan ia dengan segera ke posisi dia berdiri.
Pose,
Cekrek
Pose manis
Cekrek
Pose bebas
Cekrek
Sudah banyak sekali foto yang diambil.
"Nanti di cetak yang besar. Buat di rumah."
Bulan membalas "Siap Papa."
Sang bayi gede itu, melihat ke sekitar. "Arjuna kemana?"
Bintang berkata "Mau shuting."
"Dia belum ucapin apa-apa sama aku."
"Udah, biarin aja. Kamu harus sama Kakak. Kakak masih kangen sama kamu."
"Iya, Kak Bulanku yang menghalangi aku sama Arjuna." Tampak mengecup pipi sang Kakak bawelnya.
"Ya udah sana. Kejar."
Kedua orang tuanya, sampai menghela nafas. Cinta lalu pergi ke kamarnya dan Bulan Bintang masih bersama kedua orang tuanya. Untuk merapikan semua alat kejutan itu.
"Papa, ini pelayan hotel pasti syok." Bintang yang sambil memunguti party popper dan lainnya.
"Udah, biarkan saja. Papa udah bilang lebih dulu sama staf hotel."
"Ya nggak enak aja, kalau kotor begini." Ucap Bulan.
"Biar adik kamu senang lagi."
"Iya, iya. Papa Bulan tersayang."
Mama berkata "Tadi, Papa lama banget. Arjuna sampai dicaling beberapa kali sama managernya."
"Ya, anak kamu begitu. Kalau sama Papa, nggak asal ngambil yang dia suka. Di lihatin dulu, dia coba, terus ngaca lagi, dia teliti bener-bener."
"Cuma segitu saja hasil shoppingnya?"
Sang Papa mengangguk. Lalu Bintang bertanya "Papa, itu Arjuna sama Cin. Eh maksud aku Arjuna sama Beby, emang iya. Pacaran??"
"Iya, tadi Beby cerita. Ya begitu. Ingin pacaran. Tapi Beby bilang ingin putus. Terus bilang lagi, tapi kalau nggak ada Arjuna, Beby susah tidur. Sebulan itu, waktu masih sedih. Arjuna yang nemenin dia sampai dia tidur."
"Owh, jadi beneran. Ada tahap ke serius?" Tanya Bintang.
"Papa belum bisa mastiin. Beby bilang, dia belum ingin menikah. Dia masih ingin bersenang-senang."
Sang Mama berkata "Papa, tapi kalau begitu juga nggak baik. Arjuna juga jarang di rumah. Nanti, siapa yang akan menemaninya di rumah."
"Papa nggak tahu. Beby bilang, dia tetap dukung pekerjaan Arjuna."
Keluarga itu sedang membahas anak gadisnya yang telah berhubungan dengan aktor tampan.
Di kamar lain, Arjuna meninggalkan sebuah hadiah istimewa. Beby begitu senang saat melihat hadiah itu.
"Emh, aku suka ini."
[Arjuna, kamu dimana?]
[Beby, Arjuna shuting. Jangan ganggu. Oke.]
Meskipun, yang membalas chatnya itu Jimmy, dia merasa senang. Hari ini, rasa sakitnya telah terobati.
Bintang yang tidur dipangkuan sang Mama "Bintang duluan yang menikah. Masak adik terus."
"Mana Starla? Kapan pulangnya?"
"Sebentar lagi."
"Kalau begitu, minggu depan Mama sama Papa akan melamar Starla buat kamu." Mama Abyaz yang gemas.
Bulan yang ada di pangkuan sang Papa "Papa, Bulan nikahnya mundur lagi aja ya. Bulan masih ragu."
"Sayang, apa yang kamu ragukan?"
"Bulan belum siap punya anak. Bulan takut kayak Mama yang hidupnya di rumah aja."
"Sayang, Papa dari awal juga nggak minta kamu untuk menikah. Kamu yang pacaran, terus di lamar, kamu yang jawab sendiri. Terus, Papa harus gimana?"
"Aaa.. Bulan bingung."
"Kita nikah bareng aja." Ajak Bintang.
"Bener, kan kita kembar." Langsung tos.