
"Kenapa Papa ajak Edward kesini?" Bulan dengan wajahnya yang begitu manis terpaksa, saat berbisik kepada Papanya.
Karena sang Papa mengajak calon suami dan calon mertuanya ke apartemen pribadi milik Bulan.
Apartemen yang bersebelahan dengan milik Bintang dan sangat dekat kantor JS. Bukan dekat lagi, memang masih satu wilayah JS. Bahkan, Apartemen ini juga bernama JS.
"Kalian sudah mau menikah, kamu bisa belajar jadi istri yang baik. Kamu yang masak buat suami dan mertua kamu. Kamu harus menyiapkan keperluannya."
"Papa." Desis Bulan yang sangat menolak.
Melihat ke arah jam tangan, lalu berkata "Papa masih ada urusan penting lainnya. Calon suami kamu sudah ada disini. Selesai sudah tugas Papa menjemput calon mertua kamu.
Bulan tersenyum, kedua orang tua Edward juga tampak tersenyum, meskipun ada perbedaan bahasa, mereka tidak masalah dengan pernikahan putranya.
Papa Damar lalu berpamitan akan pergi, Bulan harus bisa menjadi seorang istri yang baik dihadapan calon mertuanya.
"Honey, kenapa kamu mendadak begini?" Bisiknya.
"Aku sudah menghubungimu dari kemarin." Itulah yang terucap, meskipun cara bicara Edward terkesan kaku saat berbahasa Indonesia.
Mentang-mentang sang Papa keturunan Korea. Anak cantiknya yang ini, asal saja mengucap ingin menikah dengan pria Korea. Eh, ternyata ucapannya terbukti nyata.
Edward Lee, Brondong manis seusia Beby. Rentang usia yang sangat jauh. Tetapi, Edward sudah ditaklukan oleh sang Bulan purnama, saat pertemuan pertama mereka di Jerman.
Bulan yang saat ini telah memasak di dapur bersama Edward, sedangkan kedua orang tua Edward berada di kamar untuk beristirahat.
Edward ini anak pertama dari dua bersaudara. Jadinya, kedua orang tuanya juga masih sangat muda.
Edward juga baru menyelsaikan kuliahnya dan dia seorang penulis.
"Kamu cobain ini."
"Emh, enak. Aku suka."
Bulan tersenyum, tidak sia-sia beberapa hari mempelajari menu masakan dari sebuah aplikasi resep sang mama pintar.
"Kamu sangat cantik ketika masak."
"Benarkah?"
Edward dengan manis mengikat rambut Bulan yang tampak tergerai dan ia tidak suka dengan rambut yang teruai saat memasak. Tanpa berkata tidak suka, Edward bertindak cepat.
"Kamu berkeringat."
"Aku belum terbiasa di dapur."
"Kalau begitu. Kamu tidak perlu di dapur."
"Sepertinya, kamu benar."
Edward dengan cepat melepaskan celemek masak yang masih melekat di badan Bulan. Lalu mengangkatnya dan menggendong Bulan ke sofa yang ada di ruang televisi.
"Terima kasih."
"Aku sangat merindukanmu. Kamu disini saja. Kamu tidak perlu mengotori tangan kamu dengan bumbu dapur."
"Kalau kamu lapar?"
"Aku bisa ke restoran dan aku tidak mau membuatmu capek di dapur."
Bulan tersenyum dan Edward memeluknya.
"Aku takut."
"Takut?"
"Aku belum siap hamil."
"Aku tahu."
"Kamu tidak masalah, kalau aku menundanya?"
"Emh, aku tidak masalah. Selama kamu tetap bersama aku."
"Tapi orang tua kamu."
"Bulan, kita menjalani hidup kita. Bukan mereka. Orang tuaku juga berfikir modern, kita tidak harus memiliki anak."
"Tapi, aku..."
Belum sampai banyak berucap kata, Edward sudah menyumpal bibir yang dari tadi telah menggodanya.
"Emh Edward."
"Aku cinta kamu." Ucap Edward yang sangat manis. Bulan membalas "Aku juga mencintai kamu."
Di apartemen sebelahnya, sang Papa yang hanya duduk mengamati putra tampannya.
"Mama sama Papa terlalu sibuk buat adik-adik Bintang. Jadi, bukan salah Bintang kalau semalam menginap di Puncak."
Papanya hanya diam, dan sang Mama berkata "Mama udah bilang, minggu ini Mama akan melamar Starla. Tapi, kamu malah mengajaknya bermalam di Vila kita."
"Bintang lakukan ini, biar Mama sama Papa gercep menikahkan Bintang sama Starla. Kaya Arjuna, itu kalian cepat banget menikahkannya."
"Arjuna sudah bekerja. Mama nggak cemas lagi soal Beby, terus kamu gimana?"
"Itu sebelah rumah, Edward juga masih nganggur. Papa juga terima lamarannya dan minggu depan mereka menikah."
"Setidaknya, Edward punya penghasilan dari novelnya dan Bulan tidak banyak pengeluarannya."
"Siapa bilang. Bulan malah sering banget jalan-jalan. Kalau Starla nggak begitu Mama. Starla juga mengerti keadaan Bintang yang begini adanya."
"Kamu berani melawan Mama?"
"Bintang, mana berani melawan Mama."
Bintang berlulut meminta maaf kepada Mama dan Papa. Malah sang Mama jadinya mengomel kemana-mana.
"Baik, nanti malam Papa akan melamar Starla. Tapi, kalau Abahnya Starla nanti menolak lamaran kamu. Papa nggak bisa menolong kamu."
"Yaaah. Papa harus berhasil."
Mama berkata "Kamu anak cowok, sana pergi lamar sendiri Starla dihadapan orang tuanya."
"Ya. Mama kok gitu."
"Arjuna berani melamar adik kamu di depan Mama sama Papa."
"Arjuna?"
"Iya."
"Kapan?"
"Sebelum akad nikah."
"Kamu tanya sendiri saja sama Arjuna.
Bintang malah kabur begitu saja. Kedua orang tua ini tersenyum melihat putra semata wayangnya.
Kesan pertama Bintang waktu pertama bertemu Abahnya Starla, menjadikan dia di tolak oleh Abahnya Starla.
"Helikoptermu, bikin jemuran tetangga pada terbang."
Yang kedua, Bintang yang mengendarai motor gagah, sang Abah Starla berkata "Aku tidak pernah mengajak Starla untuk naik motor. Dulu, setiap aku mengantar Starla ke sekolah. Aku selalu bawa mobil. Anakku, nggak ada yang pakai motor begini."
Benar, kedua Kakak Starla itu laki-laki dan tidak ada yang mengendarai motor. Meski mereka tampak hidup sederhana, Papa Starla tidak pernah membuat anak gadis satu-satunya ini merasa kekurangan. Semua serba ada, untuk anak permpuannya dan sangat termanjakan.
Ketiga kalinya menjemput Starla di tahun kemarin. Bertemu di Bandara, pada saat itu Bintang membawa serombongan teman ngedrifnya. Bintang juga tidak tahu, kalau Abahnya Starla juga menjemput di Bandara.
"Kamu bawa rombongan?"
"Iya Om. Mereka teman-teman saya."
"Meskipun kamu bawa 100 pasukan. Aku tidak akan mengijinkan Starla ikut sama kamu."
"Iya Om. Saya tahu."
"Kalau sudah tahu kenapa masih disini?"
Bos Bintang langsung turun derajatnya, dihadapan para teman-temannya. Sang Bos Bintang yang takut sama calon mertuanya.
Abah Mahendra, Abah seribu pintu. Beliau pemilik kost-kostan dan juga kontrakan yang sangat banyak. Meski Bintang dan Starla sudah lama menjalin hubungan, tetapi Abahnya Starla memang susah digapai sang Bintang Kejora.
Di rumah Jimmy, dua orang teknisi pintu otomatis telah selesai memasang pintu.
Jimmy yang menginginkan pintu yang sama agar terpasang di pintu utama dan di kamarnya. Akhirnya, semua pintu sudah di ganti dan yang membayar semanya, sang Bulan purnama.
Arjuna dan Beby bergantian memindai jari, untuk kunci otomatis pintu kamar mereka.
"Lumayan." Ucap Beby.
Arjuna mengelus rambutnya, "Kepala kamu masih pusing tidak?"
"Tidak. Aku jauh lebih enakan."
Jimmy mendekat "Beby, semua pintu sudah di ganti. Kalian bisa bobok cantik lagi."
"Ini sudah sore. Aku tidak ingin tidur."
Arjuna berkata "Beby, kamu harus banyak istirahat."
"Aku nggak apa-apa. Aku besok juga mau kembali kerja."
"Sayang, kamu jangan kerja lagi."
Beby yang berjalan ke sofa dan Arjuna menemaninya. Jimmy sibuk bermain pintu, dari pintu satu ke yang lainnya. Jimmy jadi berubah kekanakkan.
"Beby, kamu di rumah saja."
"Kamu takut sama Mama Papa?"
"Bukan begitu sayang."
"Arjuna, hanya itu pekerjaan yang bisa aku lakukan. Aku Beby, bukan Cinta. Kamu waktu itu dukung aku. Kenapa sekarang melarang aku?"
"Sayang, kemarin saja begitu kejadiannya. Aku mencemaskan kamu."
"Aku tahu Arjuna. Tapi, semua orang hidup pasti akan mengalami kejadian yang aneh-aneh, nggak selamanya hidup akan terus mulus."
Arjuna memegang tangannya, lalu berkata "Kamu kerja sama aku. Kamu bisa ikut aku terus."
"Kamu mau aku melototin kamu. Coba pikir, kamu juga hanya bisa bekerja sebagai aktor. Aku juga begitu, aku hanya bisa kerja di Butik itu. Apalagi Maharani juga baik sama aku, dia bukan Bos yang kolot dan jutek."
"Baik, terserah kamu saja."
Jimmy yang berlari dan merasa berdebar, ia berkata "Di depan, ada pria maskulin."
Kedua orang itu berkata "Sang Bintang kejora."
"Dia siapa?"
"Kembaran Kak Bulan."
"Kembarannya?"
"Iya."
"Kok beda banget."
Ting tong.
Ting tong.
Arjuna berkata "Biar aku saja yang buka pintu."
Jimmy berkata "Aku saja, aku sebagai tuan rumah harus membukakan pintu untuk tamu."
Beby merasa Jimmy sangat lucu dan ia jadi merapikan dirinya.
Arjuna berkata "Tumben Kak Bintang kesini."
"Ya kan aku sakit. Pasti, dia cemas sama adiknya."
Beby yang sudah kepedeaan duluan, semoga saja Bintang kejora juga ada basi-basi menanyakan kabar sang adik kecilnya ini.
"Silakan masuk." Ucap Jimmy begitu sopan kepada Bintang.
"Apa Arjuna ada di rumah?"
"Iya, Arjuna ada di rumah. Dia sedang mengelus-elus kesayangannya."
"Kesayangannya?"
"Maksud saya, dia sedang bersama Beby."
"Owh iya. Beby."
Jimmy mempersilakan Bintang untuk duduk di ruang tamu.
"Tuan mau minum apa? Teh atau kopi?"
Bintang menjawab "Kopi panas."
"Baik Tuan. Tunggu sebentar."
"Manager Arjuna ramah juga." Batinnya.
Jimmy dalam hatinya, "Bintang. Namanya saja, sudah bersinar terang. Seandainya aku bisa menjadikannya aktorku. Aku semakin kaya."