
Sore hari, setelah semua pekerjaannya selesai. Arjuna yang merebahkan dirinya di atas ranjang. Sang manager masih saja mencari tahu, di hotel mana dan di kamar mana Beby menginap.
"Yuhu....Aku datang." Hebohnya.
Sudah sangat senang dan begitu merdu suara Jimmy. Membuat Arjuna semakin pusing.
"Arjuna, hei.. bangun. Aku udah tahu, dimana Beby menginap."
"Jimm, jangan ganggu dia."
Jimmy akhirnya duduk di sebelahnya, dan merasa gemas "Kamu ini bodoh apa idiot sih. Jelas-jelas Beby ada disini. Kamu malah nggak mau mendekat. Semalam aja, gegana. Sekarang, Beby ada di depan mata. Kamu malah loyo. Gimana sih? Nanti dia pergi jauh lagi, kamu bakalan nyesel."
"Jimm, dia minta aku menjauh. Dia ingin sendirian dulu." Arjuna masih menutup kepalanya dengan bantal.
Jimmy menarik bantal itu, ia berkata "Kamu udah dewasa, pandai merayu cewek-cewek. Masalah beginian aja, masak harus diajarin sama aku."
"Maksud kamu itu apa? Aku ngantuk. Kamu pergi sana, aku malas bahas ini."
"Bener ya. Nggak nyesel."
"Terus aku harus gimana Jimm? Dia nggak mau ketemu aku."
"Masa iya, cewek duluan yang harus ngedeketin kamu. Kamu rayu dia. Bicara baik-baik. Ada masalah apa, sampai dia pergi. Biar kamunya juga tahu."
"Aku susah ngerayu dia. Cewek yang paling susah dirayu cuma dia."
"Salah sendiri, main bilang sayang-sayangan. Giliran begini bingung sendiri."
"Aku bingung. Lagian, dia juga butuh waktu."
"Kamu bilang sama aku. Dia hobby shopping, sana ajak jalan berdua. Belanja apa gitu. Nanti aku atur, biar kamunya nggak diganggu media."
"Entahlah. Dia sekarang nggak ada minat belanja. Uang yang aku kasih, juga nggak dipakai. Dia nggak suka sama aku. Aku cium dia aja, dia malah nangis."
"Hemm, ini masalahnya. Biangnya ada di kamu. Main nyosor aja."
"Ya, habisnya waktu itu."
"Waktu itu apa?? Emangnya kamu lagi mendalami peran dewasa? Hiish!"
"Ya namanya orang suka, gimana sih. Aku takut dia kecewa."
"Ya udah, kalau suka di kejar." Jimmy lalu pergi, Arjuna mulai memikirkan hal itu. Tidak mudah bagi dia untuk dekat dengan gadis itu. Mengingat semua kenangan lalu. Arjuna yang tidur menyamping dalam kegelisahan.
Jimmy yang keluar kamar dan Beby juga sedang keluar dari kamarnya.
"Wah, kalian memang berjodoh." Jimmy yang telah bertepuk tangan ala cowok maskulin.
"Emh, kamu menginap disini?"
"Benar. Itu, kamar Arjuna. Aku disana."
"Perasaan, semalam aku pergi. Terus, aku kesini. Tahu-tahu, kalian berdua juga ada disini. Kalian ngikutin aku??"
Jimmy lebay, "Enak aja ngikutin kamu. Kita ada pemotretan."
"Owh, aku pikir kalian mencari aku."
"Kamu berharap dicari Arjuna?".
"Emh."
Jimmy memutari Beby, lalu berkata "Kamu pasti mengharapkan sesuatu dari Arjuna."
"Emh."
"Iya kan? Hayo ngaku."
"Nggak."
Beby hendak pergi, tapi Arjuna telah mendengar suaranya.
Degh!
Jimmy tersenyum manis, dan meninggalkan mereka berdua.
Arjuna tampak menggendongnya dan membawa Beby ke kamarnya.
Beby yang diam tanpa kata. Rasanya sangat berdebar. Dia yang mengalihkan pandangannya dan tidak mau menatap wajah Arjuna.
Arjuna yang masih menggendongnya.
Emm
Dia langsung saja mengecup bibir Beby. Entah perasaan apa yang ada saat ini. Arjuna sudah tidak terkendali. Beby yang masih dalam gendongannya, awalnya juga menikmati ciuman itu. Namun, setelah itu. Beby menyudahi dan mendorong wajah Arjuna.
Arjuna perlahan membaringkannya di atas tempat tidur. Tatapan Arjuna sangat serius, Beby memalingkan wajah cantiknya. Tangannya langsung meraih bantal dan memeluknya dengan erat.
Arjuna mendekat "Kenapa kamu pergi ninggalin aku?"
Beby yang diam. Dalam hatinya gelisah tak menentu. Perasaan apa yang telah merasuk dalam hati dan pikirannya.
"Aku mau ke kamarku." Beby yang hendak pergi. Arjuna memegang kedua tangan gadis itu.
"Jangan pergi lagi. Aku ingin kamu bersamaku."
"Aku."
"Aku mohon, temani aku. Kali ini saja."
Gadis itu menatapnya, raut wajah dan kedua mata Arjuna sudah tampak letih. Biasanya, Arjuna yang memperhatikan dia. Sebulan ini, Arjuna telah menemani dia. Dalam keadaan terluka, hanya ada Arjuna, yang mengerti dirinya. Kali ini, Arjuna sangat membutuhkannya.
"Aku hanya_"
Beby kembali menatapnya, lalu memegang wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku, juga ingin bersamamu."
Arjuna yang tersipu, dalam hati ia tersenyum.
Lalu, Beby tersenyum dan melepaskan tangannya. Arjuna dalam kebahagiaan, ia menarik tubuh gadis itu, dan kembali menciumnya.
Bibir tipis nan lembab. Arjuna yang merasakan cintanya telah kembali.
Keduanya saling menikmati ciuman itu, perlahan kedua bibir itu sudah terlepas.
Senyuman tipis dari keduanya dan Beby memeluknya.
"Aku kangen sama kamu."
"Aku nggak bisa tidur tanpa kamu."
"Emh, kamu sih. Bilang, Cinta Damayaz, cinta pertama kamu di umur kamu ke 16. Meskipun, saat itu aku. Tapi, aku yang sekarang, bukan Cinta."
"Hei, siapa yang bilang?"
"Ya ada. Aku baca di sosmed."
"Owh itu. Kan dulu, kita berdua buat janji. Kamu cinta pertama aku. Semua teman-teman nggak ada yang tahu kalau kita saudara. Apa kamu lupa?"
"Iya, aku tahu. Makanya, semalaman aku berfikir panjang tentang itu. Tapi, aku jadi kangen sama kamu. Nggak ada yang elus-elus aku."
Arjuna mengelus rambutnya, "Makanya jangan tinggalin aku."
"Emh, satu lagi. Kamu cinta sama aku?"
"Emh, nggak tahu."
"Aaa.. Ada yang bilang kamu cinta sama aku."
"Aku memang menyayangi Cinta Damayaz. Tapi, sekarang aku sayang banget sama Beby Ayazma."
"Sayang banget??"
"Iya, sayang pake banget."
"Nggak cinta?"
"Aku takut ditolak."
"Kamu takut ditolak aku?"
"Ya aku bingung, gimana ungkapinnya."
"Owh, ya udah nggak apa-apa."
"Aku mau, jalani hidup ini sama kamu. Yang penting, kamu ceria lagi seperti dulu. Yang hobby shopping lagi, yang suka jahil sama aku, yang suka ngadu sama Oma. Yang pokoknya, semuanya. Aku mau kita seperti dulu."
"Tapi, aku bukan saudara kamu. Aku juga nggak mau jadi saudara kamu."
"Terus, maunya jadi apa?"
"Jadi bayi kamu."
"Bayi aku?"
"Iya, kamu yang bobo-boboin aku, kamu yang bangunin aku, kamu yang nyiapin sarapan buat aku, kamu yang antar aku kalau pergi-pergi. Terus, kamu yang selalu ada di hati aku."
Arjuna mendengar itu terasa lega, ia tersenyum dan memeluk Beby dengan gemas.
"Kamu mau ikut aku shuting?"
"Terus kerjaku gimana? Nanti kalau kamu ciuman sama artis lain, aku nggak mau lihat. Aku nggak suka. Aku suka kamu yang begini ini. Bukan yang ada di layar kaca."
"Ohh, aku sudah di tolak."
"Arjuna sayangku, sayangku, sayangku. Aku udah janji dari dulu akan selalu dukung kamu. Aku nggak keberatan soal pekerjaan kamu. Aku malah senang, kamu bertanggung jawab sama pekerjaan kamu. Tapi, kamu juga harus ingat. Aku juga bisa terluka. Makanya, lebih baik aku nggak nonton kamu di layar kaca."
"Iya aku ngerti. Dari dulu kamu juga selalu bilang begitu."
"Aku senang, aku pikir setelah kita dewasa akan renggang. Ternyata kita malah semakin dekat."
"Iya, kamu benar. Tapi, aku jadi susah bilang Cinta, cintaku, cintaku. Aku takut kamu marah dan sedih lagi."
"Nggak, aku nggak marah. Sekarang, panggilnya Bayiku, bayiku, bayiku sayang."
"Boleh juga ide kamu. Nanti aku pikirkan dulu. Sepertinya akan susah."
"Arjuna, itu kata yang mudah. Tinggal bilang bayiku, bayiku, bayiku sayang. Apa susahnya?"
"Ya susah sayangku, sayangku, sayangku."
"Emh, terserah kamu. Sayangku juga boleh."
Tidak lama, waktunya maghrib sudah tiba. Arjuna sudah tampak jadi imam. Seperti biasanya, di saat tinggal bersama.
Arjuna yang membangunkannya "Beby, ayo bangun sayang. Sudah adzan subuh. Beby, ayo bangun." Dengan segala caranya. Terkadang pernah, mengangkatnya ke kamar mandi, dan membuat gadis itu terbangun karena kakinya terasa basah, akan guyuran air. Mata terpejam itu, perlahan terbuka. Meski, rasa kantuk gadis itu tidak tertahankan. Memang sulit, apalagi dari dulu dia yang paling susah bangun pagi.
Setelah sore itu, mereka telah makan bersama. Kali ini, ada Jimmy.
"Putus?!"