
Di ranjang mewah dan ngobrol berdua. Abyaz, yang dalam dekapan manja sang suami tercinta.
Meski usia pernikahannya belum genap 10 tahun. Mereka berdua tetap sama seperti dulu. Selalu manis, dari teman hidup menjadi belahan jiwa.
"Kapan mulai mencintaiku seperti ini?"
"Damdam, mulai deh."
Semakin menempel, perangko aja kalah. Apalagi truk gandeng, ya lewat.
"Emh, iya. Aku lupa." Damar yang selalu santai, lalu sedikit melepaskan pelukan.
"Apalagi?" Suara manja istrinya.
"Sayang maaf. Aku lupa, kalau bulan depan di jadwal kosong itu."
"Apa hayo. Kita nggak jadi liburan?"
"Ya jadi, tapi nanti si kembar gimana?"
"Kamu bilang kita berempat. Ya kita ajak."
"Tapi, jadwal luang itu."
"Kenapa emangnya? Kamu udah ada janji yang lain?"
"Iya aku udah janji sama belahan jiwaku. Aku juga sudah pesan tempat disana. Terus gimana?"
"Iih, perasaan kamu nggak ada janji sama aku."
"Ada sayang. Tanggal itu, anniversary kita."
"Hah? Seriusan? Kenapa aku bisa lupa?"
Abyaz meraih tablet yang berada di meja samping tempat tidurnya dan melihat agenda pribadinya.
"Benar."
Damar sudah senyam-senyum, dan tangan itu membelai-belai rambut istrinya.
"Damdam, gimana dong?"
"Ya udah kalau kamu inginnya kesana. Jadi, aku tinggal batalin yang di Paris. Kita ke Swiss aja."
"Nggak mau."
Damar "Terus?"
"Aku maunya ke Swiss dulu. Terus, pas hari jadi kita, di Paris."
"Kalau gitu, aku nggak bisa sayang."
Abyaz yang tampak melotot dan tangannya mengepal. Seolah ingin meninju suaminya. Perlahan bibirnya menukik ke bawah dan cemberut manja.
"Sayang, bulan depan jadwalku penting semua. Kamu juga penting. Aku pikir satu minggu cukup buat kamu."
"Kamu gitu, padahal bulan itu hari kita bertemu dan menikah."
"Sayang, aku juga harus kerja."
"Kamu pilih kerjaan atau aku??" Jarinya yang menunjuk ke wajahnya sendiri.
"Sayang, kalau aku nggak kerja. Nanti klien penting aku malah kabur, kalau bukan aku yang tangani sendiri bisnis ini, mereka masih enggan buat percaya yang lain."
"Ada Kak Stella. Ada Liu."
"Sayang, bisnis ini nilainya bukan hanya milyaran. Tapi ini proyek triliunan."
"Apa aku nggak berharga di mata kamu?"
Damar meraih ponselnya, lalu ia tampak mengirim sebuah pesan.
"Iya sayang, kamu lebih berharga dari apapun."
Perlahan bibir itu mulai terlihat manis, beralih ke pangkuan sang suami dan mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Damar masih sibuk dengan ponselnya, lantas berkata "Aku sudah batalkan bisnisnya. Kamu puas?
"Damdamku sayang."
"Eits. Tapi ingat, disana kamu nggak bisa belanja."
"Yaaa, kok gitu?"
"Sayang, aku libur kerja sebulan buat liburan sama kamu. Jadi, aku nggak dapat gaji di bulan depan."
"Terus aku gimana? Aku sudah pesan tas sama Angella."
"Nah, ini yang aku cemaskan kalau aku libur."
"Percuma punya suami Presdir tapi pelit."
"Kamu bilang aku pelit? Sayang, lihat isi gudang kamu itu."
"Aa.. Mas Damar."
"Hemm."
"Damdam sayang."
"Hemms."
"Sekali ini saja."
"Nggak, aku takut ketahuan sama Papa. Aku pernah ditanya, Zakat sebanyak itu untuk apa? Apa kamu punya istri simpanan?"
"Iya sayang, simpananmu di gudangku." Abyaz cekikikan sendiri, melihat Damar yang memperagakan suara sang Papa.
"Aku bukannya nggak mau nurutin kamu sayang. Kamu ingat, apa saja nasehat Papa, untuk kita. Harta yang terpenting itu keluarga. Materi bisa dicari. Tapi, aku juga butuh materi buat istriku yang hobby koleksi tas."
"Iya.. Iya.., aku nggak beli tas lagi. Ya, aku nggak enak aja sama tamu kamu, sama teman-teman yang lain. Masak iya, istri Presdir Damar nggak melek mode."
"Siapa yang berani bilang begitu sama kamu sayang?" Damar yang gemas.
"Yaaaa kemungkinan, begitu."
Damar kemudian mengelus-elus rambut istrinya.
"Sayang, sayang."
"Baiklah, aku batalin tas yang aku pesan sama Angella."
"Bagus."
"Hemm."
"Ya bagus. Kamu masih ingat nasehat Papa."
"Iya, aku juga takut kalau dimarahin Papa. Awas! Jangan, kasih tahu Papa soal gudang koleksi itu."
"Oke."
"Nanti, bakalan aku jual semua tasnya. Buat yang lebih bermanfaat. Tapi, kita harus pergi liburan."
"Keren sekali, istriku ini."
"Janji."
"Baca ini kalau nggak percaya. Sebulan aku bebas. Aku milik kamu."
Abyaz dengan gemas mengecup bibir manis suaminya, sampai berulang-ulang kecupan itu. Sang suami, tidak sabaran langsung saja melanjutkan ke ciuman panasnya. Begitu menggairahkan dan ingin segera membawa ke malam yang panjang.
Rapatkan pintu kamar, jangan sampai diketuk-ketuk sang Bintang malam.
Flashback On
Sekitar dua tahun yang lalu. Abyaz yang meminta dan sangat memaksa.
"Mas Damar."
Setelah acara arisan, dirinya pulang dengan cemberut. Dirinya tidak tahu harus cerita apa pada teman-temannya saat di arisan tadi. Karena, dia belum ada pengalaman di tempat yang sedang di bahas.
Topik utama dalam obrolan itu adalah Dugem, clubbing dan minuman haram. Memang benar, beberapa dari teman sosialita ini. Ada yang gemar sekali ke tempat seperti itu.
"Aku bilang nggak ya nggak. Aku tidak ijinkan kamu kesana."
"Mas. Aku cuma ingin kesana. Aku udah janjian sama Jane. Mas, aku juga tahu mana yang haram dan mana yang halal."
"Abyaz, sekali lagi aku katakan. Aku tidak ijinkan kamu pergi kesana."
Damar lantas terdiam, kalau semakin dilarang, Abyaz tetap akan melawan dan tidak ada ujungnya perdebatan mereka.
Abyaz terdiam, saat melihat ekspresi Damar yang begitu tegas.
Suasananya, masih di kantor dan ada tempat khusus untuk mereka bicara berdua.
"Oke kalau itu yang kamu mau. Tapi, aku harus ikut."
"Iya, ya udah Mas Damar temeni aku." Nada suara Abyaz sudah lebih lembut.
Damar yang melihat raut wajah istrinya dan ia langsung meraih bahu istrinya. Mendekapnya erat dalam pelukannya. Mengelus rambutnya dengan tenang.
"Sayang, maafin aku."
"Emh."
"Aku terlalu sibuk. Sampai lupa memperhatikan kamu."
"Aku juga salah."
"Kalau sudah tahu salah. Kenapa masih nekat?"
"Aku cuma penasaran."
"Ya udah, kita pulang dulu. Aku juga udah nggak ada mood buat kerja."
Abyaz masih dalam dekapannya dan tidak lama mereka pulang ke rumah. Butuh waktu 2 jam lebih, hanya untuk pulang ke rumah. Perjalanan dari kantor ke rumah sangat lama, karena memang jarak rumah dan kantor juga sangat jauh.
Setelah jam malam, dan waktunya ke tempat itu. Tidak main-main, Damar bahkan membawa istrinya ke tempat itu dengan helikopter pribadinya.
Mereka berdua langsung tiba di atap gedung tempat itu. Serta, keamanan sudah terjaga ketat.
"Ayo."
Abyaz lantas tersenyum senang, tangan suami sudah menggenggamnya erat.
Menuruni anak tangga dan ada lima bodyguard yang tampak memakai pakaian bebas. Mungkin, karena ini tempat untuk bersenang-senang.
"Silakan Presdir." Dengan kedipan mata dan Damar hanya mengangguk.
Mereka sudah duduk di tempat khusus. Abyaz yang tampak memperhatikan ke sekitarnya. Suara musik yang tidak enak di dengar telinga Damar dan Abyaz tidak masalah akan hal itu.
Abyaz berkata "Mas, aku mau nyusul Jane."
"Kamu disini saja."
Tangan Damar yang lihai memegang pinggul istrinya.
"Mas, kamu kenapa sih?"
"Lihat disana, itu Jane."
Tampak Mahmud yang menari dengan seorang pria. Entah, itu siapanya, yang jelas Abyaz sudah melihatnya.
Damar mengambil minumannya dan ia tersenyum tipis. Aroma minuman Damar telah tercium oleh istrinya.
Abyaz meraih gelas itu, dan berkata "Mas, kamu sudah gila."
Damar tersenyum, lalu berkata "Sayang, ini halal. Percaya sama aku."
"Nggak mau."
"Kamu mau menari?"
"Nggak."
"Terus ngapain kamu mau kesini?"
"Aku cuma penasaran aja."
"Penasaran? Nanti, jadinya keterusan sayang."
Abyaz diam, lantas ada sosok tua dan memakai kacamata. Dengan suara tawa dan langsung duduk di hadapan Abyaz.
"Madam sepertinya tidak suka jamuan saya."
"Mas dia siapa?" Bisik Abyaz.
"Kamu lupa?"
Abyaz dengan mata melotot melihat Guru Mao, yang sudah tampil berbeda.
"Guru Mao? Ngapain disini?"
"Saya yang harusnya bertanya sama Madam. Kenapa Madam ingin kemari? Ini rumah saya."
"Rumah?"
Bangunan gedung ini, depannya rumah Guru Mao. Ketika masuk ke dalam. Sebuah club malam rating 5.
Begitu gemerlap suasana tempatnya, untuk memuaskan para tamunya.
"Mas, jadi ini?"
Damar mengangguk, dan kembali minum.
"Minuman itu bukan alkohol. Saya siapkan khusus untuk Presdir dan Madam."
Abyaz berkata "Iya. Terima kasih."
Abyaz berbisik, "Mas, aku mau kesana."
"Pergilah."
Siapa yang akan berani menyentuh istrinya. Karena, ini juga termasuk wilayahnya.
Abyaz tidak menari, tetapi ia hanya memperhatikan temannya. Lantas menoleh ke seseorang yang sangat dikenalnya.
Sang suami tampak bersedekap dan hanya mengamati langkah kaki istrinya.
Seorang pria, telah menikmati sajian bartender dan duduk seorang diri.
"Abyaz!"