ABYAZ

ABYAZ
Misi Pertama Gagal Lanjut Misi Kedua



Minggu pagi tiba dengan sejuta rasa. Berharap untuk harapan kedua insan ini bisa terwujud. Dan sebuah janji, akan ditepati.


Tiba saatnya menjalankan sebuah misi. Tiga hari lalu Damar sudah menyamar dan tidak mendapatkan hasil apapun. Semua data sudah di rubah, bahkan tidak ada keganjilan. Data perusahaan dari Ji-sung Grup, semua tampak baik, tidak ada data hitam, yang menunjukan kalau Ji-sung Grup sudah bermain gelap.


Abyaz yang kemarin ke pesta perjamuan Madam Mercy, dia tidak bisa dapat info apapun. Hanya saja, cukup berteman dengan kaum sosialita. Setidaknya mereka sudah mengenal istri cucu pemilik Ji-sung.


"Aku siap." Ucap Damar yang berjalan dengan santai saat tiba di kantor utama Ji-sung Grup.


Damar yang menyamar sebagai tukang kebersihan. Karena, saat ini adalah hari ulang tahun Ji-sung Grup yang ke-40 tahun.


Kantor itu pagi ini hanya bersih-bersih, dan memanggil tim kebersihan. Hanya dua tim keamanan yang berjaga. Tapi mereka tidak mengenali Damar yang memakai masker dan seragam tim kebersihan.


"Damar, aku sudah siap." Ucapnya dengan menyalakan laptop dan memakai program privasi. Hanya tim Damar yang tahu lock program itu.


Abyaz juga telah bersiap untuk ke pesta bersama Guru Liu. Karena, Stella harus mengawasi para musuhnya.


"Aku sudah di ruangan Kakek."


"Guru Mao, apa kata sandi brankas Kakek?"


"Bocah itu memang pelupa." Batin Guru Mao.


"Tuan, XJ578OJS itu seingat saya." Ucapnya dalam seluler.


Karena Guru Mao dulunya orang kepercayaan sang Kakek, tapi dia seperti orang yang terbuang.


4 orang baru sudah bergabung, dan Damar diam tanpa suara.


Tampak orang dari tim keamanan masuk ke ruangan sang Kakek. Mereka datang, memastikan tukang kebersihan sudah membersihkan ruangan itu.


"Sayang, hati-hati." Ucap Damar kepada Abyaz.


"Sayang, kamu juga." Balas Abyaz dengan gemas.


"Kalian mau memadu kasih??" Tegur Stella.


"Kalian malah pacaran." Tegur seorang teman.


Keamanan keluar dan teman Damar yang satu ini sangat heboh "Apa aku tidak terlihat kotor? Tadi mereka menatapku."


Dia sambil memegang alat facum.


"Lumuri wajahmu dengan debu." Jawab Damar denga santai.


"Sial, aku kesini datang membantu kalian. Tapi malah menjatuhkan aku." Batinnya.


Damar kembali mendekati brankas itu. Brankas yang sangat besar dan itu ada di bawah meja kerja sang Kakek.


"Guru, bukan itu kata sandinya."


Teman Damar mendekat dan berkata "Siapa yang paling dicintai Kakekmu?"


"Entah, aku tidak tahu."


"Ulang tahun Nenekmu."


Damar akhirnya menggabungkan tanggal lahir Neneknya, tapi tidak bisa.


Ini untuk terakhir kalinya, kalau gagal. Tidak ada kesempatan berikutnya. Akhirnya, dengan rasa percaya diri dia mengingat sebuah kode. Nama dan Tanggal lahir.


EH1712JS, dan pintu brankas besar itu terbuka. Dengan cepat sang teman mengambil laptopnya yang ada di box sampah.


"Kakek mencintai aku?" Damar yang cukup baper akan kata sandi itu. Bahkan dari kecil dia hanya merasakan ucapan keras dan bentakan sang Kakek.


"Coba buka yang ini." Damar yang memberikan flashdisk, sambil melihat ke arah pintu. Dia juga sangat takut kalau sampai ketahuan tim keamanan kantor itu.


"Apa ini datanya?" Tanya sang teman.


"Sepertinya begitu."


"Aku tidak begitu paham."


Saat baper otak Damar jadi error, pikirannya hanya tertuju kepada sang Kakek.


"Kak Giel, sudah aku kirim." Ucapnya dengan heboh.


"Oke, Guru Mao yang akan melihatnya." Balas Giel dan dengan cepat mengunduh data itu.


Ternyata yang bersama Guru Mao adalah Giel.


Giel yang membantu Damar saat ini, dan dia juga sangat pandai soal program data dan sangat paham tentang management keuangan.


"Ini masih ada dua." Ucap Damar.


Dengan cepat sang teman heboh membuka file itu dan mengirim data penting itu.


Tapi di dalam sebuah brankas itu ada sebuah foto. Tampak foto Damar ketika kecil yang bersama sang Mama. Bayi mungil yang tampan. Tapi sekarang sang Mama tidak mau melihatnya.


"Damar, sudah selesai." Ucapnya senang.


"Oke..."


"Aku duluan. Aku harus membantu Abyaz."


"Iya, aku harus merapikan ini dulu." Balas Damar.


Damar tampak membuka buku catatan sang Kakek dan dia mulai membacanya.


Di tempat pesta, Abyaz sudah berjalan masuk ke dalam gedung mewah dan telihat tamu undangan sudah duduk dan beberapa baru datang.



Ada dari kalangan bisnis dan para petinggi perusahaan.


"Kak Stella aku di kursi timur." Ucapnya dengan pelan karena dia juga memakai earphone chip.


"Bagus!"


Stella tidak hanya mengawasi sang Mama. Sepertinya Cecilia akan berbuat ulah. Bahkan sosok pria itu juga sudah ada di depan Stella.


"Glen... Aku akan menyikirkan kamu, agar kamu segera lenyap dari sini." Batin Stella dengan rasa geram.


Guru Liu tampak menatap ke arah petugas IO dan sepertinya memang sudah di persiapkan. Kalau hari ini, pengumuman soal pernikahan Cecilia dengan Lee Eun Ho.


"Guru Mao, cepatlah."


"Liu kamu sangat bawel."


"Disini aku tidak bisa pergi kemanapun."


"Apa maksud kamu?"


"Penjagaan sangat ketat."


Abyaz mulai berdiri dan menyapa sang Kakek dari kejauhan. Terlihat Abyaz yang membungkukan badannya dan cukup senyuman tipis tapi memikat.


"Kak Stella, aku akan urus iblis licik itu."


"Kamu dimana?"


"Di depanmu." Viral mengedipkan mata kirinya dan ternyata sangat cepat datang. Dari kantor Ji-sung Grup ke tempat pesta memang dekat. Siapa pembalap tercepat kalau bukan Viral.


Viral bukan pria cacat, dia hanya ingin Abyaz kembali. Dia mengurung diri, karena rasa bersalah terhadap Abyaz, yang tidak bisa menjaga sang Eyang.


Padahal malam itu, dia sudah berjanji akan menjaga Eyangnya.


"Tidak perlu cemas, kalau Eyang sampai kenapa-napa. Kamu bisa membunuh aku." Ucapnya kala malam sebelum pergi ke kafe. Tidak tahunya motor itu sudah dicelakai. Itu karena seseorang dan Abyaz belum tahu kalau itu juga ulah seseorang. Hanya Viral yang sudah tahu.


4 hari sebelumnya Viral mendatangi Damar dan menceritakan semuanya, tapi dia masih menyelidiki tentang kecelakaannya, yang begitu janggal menurutnya.


Satu jam setelah acara dimulai. Benar, acara itu hanya untuk menjatuhkan Stella dan Abyaz, bahkan beberapa orang saat ini menatap Abyaz.


"Aku baik-baik saja." Batin Abyaz dengan percaya diri.


Sebuah video disebar Viral kepada semua tamu.


Yang tadinya para tamu melihat bagian video kekerasan Abyaz. Tapi kali ini tampak Cecilia yang meracuni Damar, bahkan yang sangat memalukan juga terpampang nyata dalam video berdurasi 10 menit itu.


Tadi hanya bagian potongan video saat Abyaz memukuli dia. Tapi yang ini akan membuatnya malu. Bahkan pertakaan Abyaz dan dirinya juga ada, yang tadinya ada video seolah Abyaz yang menindas dengan kejam.


Para tamu sebelum masuk, dibekali layar pintar. Perusahaan Ji-sung juga memiliki pabrik smarthphone dan elektronik. Perusahaan raksasa itu, juga tidak luput dari bisnis gelap.


"Ems, sekarang apa yang akan dia perbuat?"


Setelah para tamu menonton video yang murahan itu.


"Oke, Viral. Bagus." Ucap Guru Liu.


"Apa Abyaz senang?" Tanya Viral.


Karena dia sudah pernah berjanji kepada sang Eyang, akan selalu menjaga sang Nenek.


"Abyaz tidak ada."


"Viral. Abyaz menghilang."


"Abyaz, jawab aku." Ucap Viral dan tidak ada suara.


Viral melacak jaringan pintarnya yang menyatukan seluler itu.


"Earphone Abyaz sudah tidak aktif." Ucap dengan gundah.


Saat Viral berkata itu, Damar yang mendengar sangat terkaget.


"Viral, lacak GPS Abyaz."


"CEPAT!!!"


Damar yang saat ini, baru saja keluar dari kantor utama Ji-sung Grup dan dengan cepat berlari ke mobil.


"Apa? Abyaz hilang??" Suara Stella yang bingung dan dia juga tidak bisa melihat Glen lagi.


"Viral. Glen juga sudah tidak ada." Ucap Stella.


Damar yang tiba di mobil melempar topi dan maskernya, dengan cepat melajukan mobilnya.


Viral menyelesaikan data yang sudah dikirim oleh Guru Mao. Agar semua orang tahu. Apa kegelepan yang terjadi pada Ji-sung Grup, bahkan Guru Mao sudah melaporkan kasus ini. Bahwa perusahaan ini sudah melakukan tindak penyelewangan dana dan juga ada kasus suap yang terjadi sekitar tiga tahun yang lalu.


Guru Mao yang selalu jujur dan ingin melaporkan kasus itu, ternyata sang petinggi perusahaan itu yang berbuat. Akhirnya, Guru Mao yang tersingkirkan.


"Viral buruan pergi." Perintah Guru Liu.


Viral yang sudah dicurai tapi dia tidak takut.


Dash!!


File gelap itu sudah tersebar dan Viral kabur dari tempat itu.


"Abyaz, kamu dimana?" Batin Damar dan melajukan mobilnya dengan cepat.


"Brother, aku akan mencari Nenekku." Ucap Viral yang berlari dan akan mengendarai motornya.


Guru Liu yang hendak pergi dari tempat itu, tertangkap oleh pihak keamanan Ji-sung Grup.





Flashback pertemuan Viral dan Stella.


4 hari yang lalu di sebuah pusat perbelanjaan.


Viral yang memakai masker dan topi tampak mengintai.


"Permisi." Ucap Stella dan memotret target.


"Kamu menghalangi aku." Tegur Viral dengan kesal.


"Sorry."


Stella lalu menatap wajah Viral.


"Sepertinya, kita membututi orang yang sama."


"Maksud kamu?" Viral yang masih menutup diri. Bahkan dia kabur dari rumah sakit, orang tuanya juga sedang mencarinya.


"Mereka, pria dan wanita itu. Mereka musuhku."


"Glen,.." Ucap Viral.


"Kamu mengenalnya?"


"Iya, dia yang membuat aku lumpuh dan dia juga yang membuat Eyangku meninggal."


"Eyang?" Stella lalu mengajaknya pergi, soalnya Glen sepertinya sudah curiga.


Di sebuah tempat yang cukup jauh dari pusat perbelanjaan itu.


"Aku Stella Anastasya. Cucu pemilik Ji-sung."


"Aku Viral Wayah Yuda, anak presdir Limar Mahatma."


"Emh, keluarga Mahatma."


"Kamu tahu?"


"Tahu, karena aku anak dari Yuda Mahatma."


"Kamu? Kamu Tanteku?"


"Sudahlah, itu tidak penting. Aku anak Melinda Yoon, Mamaku pernah cinta dengan Kakekmu. Bahkan waktu itu sangat muda. Mamaku masih seusia Mama kamu."


"Oeh, tapi aku tidak tahu. Nanti aku akan tanya Bundaku."


"Tidak perlu, lagian sudah masa lalu. Aku hanya tahu itu saja. Yang pasti, keluargamu tidak mengharapkan aku."


"Tante Stella."


"Jangan panggil aku Tante, aku tidak setua itu. Apalagi kamu sudah dewasa. Nanti orang pikir, aku Tante-tante yang memanfaatkan pemuda tampan."


Viral mendengar kata tampan langsung tersenyum manis.


Memang benar, Melinda Yoon pernah menggaet Yuda Mahatma, tapi Yuda tidak tahu hal itu dan tidak ada yang tahu kalau Melinda punya anak dengan Yuda.


"Panggil aku Kak Stella."


"Oke,.." Viral dengan gaya khasnya dan berkata. "Gara-gara Glen aku cedera, dan cukup lama aku berusaha untuk bisa berdiri. Bahkan, berjalan saja harus butuh latihan yang keras. Tapi aku masih pura-pura lemah di depannya. Karena dia, masih ingin menghancurkan aku."


"Apa masalahnya?"


"Dia, sepertinya ada masalah dengan keluargaku. Tapi melampiaskan padaku. Aku jadi target yang empuk. Hanya saja, waktu itu....Eyang Damar meninggal."


"Damar? Damar?" Tanya Stella.


"Emh iya, Damar Putra Mahatma. Dia keluargaku. Dia masih muda, hanya saja aku memang terbiasa memanggilnya Eyang."


"Tunggu."


"Aku pernah mendengar itu. Apa kamu kenal Abyaz??"


"Abyaz?? Aku sangat mengenalnya, dia Nenekku. Dia calon istri Eyang, tapi Eyang sudah tiada."


"Dia, sudah jadi adik iparku."


"Owh, jadi kamu kakak dari suaminya Abyaz." Viral tersenyum.


"Sepertinya, kamu harus ikut aku."


"Emh, kemana?"


"Ke sebuah markas."


"Boleh juga.


"Kita punya musuh yang sama."


"Musuh kita. Kamu juga Tanteku."


"Sstth.. Jangan panggil aku Tantemu. Anggap saja aku orang lain."


"Siap, Kak Stella."


"Bagus." Ucap Stella dengan senang dan akhirnya Viral tinggal bersama mereka.


Flashback Off.


Dari ini, kalian tahu. Kenapa sikap dan karakter Stella sangat mirip dengan Limar Mahatma, yang tidak punya rasa takut. Bahkan, dia juga sangat tegas.


Hanya saja, tidak ada yang tahu. Melinda sendiri yang menyimpan dalam perasaannya dan Stella juga baru tahu setelah dewasa ini. Tapi dia tidak peduli.


Stella lebih memilih dendam untuk sang Kakek, karena selalu menganggap Stella seperti orang suruhan.


Dari kecil, dia tidak mendapat perlakuan istimewa.


Tidak seperti Eun Ho, walaupun serba di atur. Eun Ho mendapat fasilitas mewah, tapi yang diinginkan Eun Ho hanya sebuah perhatian.


Apalagi setelah Cecilia datang ke rumah itu, dia yang dijadikan bak putri istana. Stella tetap hanya seperti piguran saja. Itulah yang menjadikannya, ingin balas dendam dengan sang Kakek dan Mama.