
Gaby seolah mendapatkan keluarga baru yang menyayanginya. Saat ini dia masih duduk di kursi mobil sebelah kiri. Gaby yang menatap ke depan dan melihat jalan yang lurus.
"Aku sudah berbohong."
Al berkata "Sudah, jangan dibahas."
"Mas Al." Gaby yang ingin bercerita.
Al mengelus rambut Gaby, berkata "Gaby aku mengerti. Kalau memang mereka kerabat yang baik. Pastinya tidak akan membiarkan kamu tinggal sendirian dan jauh dari mereka."
Gaby membulatkan bibirnya, "Mas Al, mereka juga kerabatmu."
Di dalam sebuah mobil, suasana menjadi hening. Hanya ada suara lalu lalang kendaraan di sekitarnya. Gaby yang diam tanpa kata. Hanya mengingat akan masa kecilnya bersama sang Papa.
Tidak lama terdengar kumandang adzan maghrib. Al fokus mencari masjid sekitar. Karena sang Mama dan Papa, tidak mau menunda-nunda ibadahnya.
Gaby menatap jalan sekitar, sudah adzan maghrib dan jalan itu begitu ramai.
Gaby melihat seorang ibu yang tampak menggendong anaknya dan membawa sekarung kerupuk. Bisa jadi, ibu itu sedang berjualan.
Seorang ibu yang tidak lelah berjuang untuk anak-anaknya. Gaby sangat tahu, kalau ibunya telah berjuang saat melahirkan dirinya.
Danial Zhu, adalah ibu kandung Gaby. Dia wanita yang pandai. Semasa hidup, dia juga berjuang sendiri. Bahkan, hidup di negeri asing. Kuliah, bekerja dan ia terus berjuang agar bisa menggapai cita-citanya. Sampai pada akhirnya, ia bertemu dan berkenalan dengan Papanya Gaby.
Danial yang tidak pernah menyerah. Pejuang garis 2 dan dua kali mengalami keguguran karena rahimnya bermasalah.
Danial yang terus berjuang, agar bisa memiliki seorang anak. Sudah lebih dari 7 tahun dan akhirnya kebahagiaan itu menghampirinya, dia bisa mengandung dan melahirkan seorang putri.
Semasa mengasuh, dengan cinta dan kasih sayang. Danial merawat putrinya tanpa bantuan baby sister. Hari-hari dengan penuh canda tawa. Namun, pada akhirnya ia mengalami sakit dan pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Setelah kepergian Mamanya tercinta, Gaby dibawa Papanya kembali ke kota yang ada di Indonesia. Anak balita yang manis dan manja. Begitu aktif dan ceria. Hari-hari sang Papa yang selalu sibuk bekerja dan hanya Darren yang menjaga selama Gaby di rumah. Darren yang masih pelajar, setiap di rumah harus menemani adik manis ini bermain. Dari mainan boneka, menari-nari, petak umpet dan mainan ala anak perempuan yaitu masak-masakan.
Mengingat kala Gaby masih usia TK.
"Daddy,..."
Gaby yang berlari ke arah pintu rumah dan sang Papa baru pulang dari kantor.
"Gaby sayang."
"Daddy, tadi Gaby di sekolah belajar menari dan mewarnai gambar." Ucapan anak TK yang manis dan tingkahnya begitu menggemaskan.
Daddy tampan itu menggendongnya dan mencium gemas putri cantiknya.
Sekilas ingatan Gaby, saat ini dirinya berada di sebuah Masjid. Gaby yang duduk di sebelah Mama Britney.
Baru saja Gaby selesai menunaikan ibadah sholat maghrib. Gaby berdo'a dan mengingat akan masa-masa bersama Papanya.
"Daddy."
Gaby yang mengadahkan kedua telapak tangannya dan tampak berdo'a. Dengan segenap perasaan cinta untuk kedua orang tuanya.
Setelah berdo'a, Gaby mencium tangan Britney dan memeluknya.
"Ibuk." Ucap Gaby yang saat ini dalam pelukan Mama Britney.
Air mata rindu dan penuh cinta untuk kedua orang tuanya. Britney mengelus punggungnya dan Gaby yang masih memakai mukena, tampak menangis.
Orang sekitarnya menatap Gaby, namun mereka berfikir. Gaby sedang memeluk Mamanya.
Gaby menatap Britney, lalu berkata "Ibuk, Gaby mau menikah sama Mas Al."
Britney tersenyum dan bertanya, "Apa alasan kamu menerima lamaran Al?"
Sebenarnya, beberapa hari yang lalu. Alvaro Putra Prasetya telah melamar Gaby dihadapan kedua orang tua.
"Gaby ingin memiliki keluarga."
Gaby merasakan kasih sayang keluarga ini.
"Gaby mau menerima lamaran Mas Al, namun dengan satu syarat."
Britney bertanya "Apa syaratnya?"
"Gaby tidak mau dipoligami."
Briney yang tersenyum dan berkata "Baiklah kalau itu syarat yang kamu ajukan. Nanti Tante akan sampaikan sama Alvaro."
Gaby yang mengingat akan cinta dan ketulusan sang Papa. Yang tidak menikah lagi setelah kepergian Mamanya.
2 jam kemudian.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Gaby Aurora Putri Binti Yusuf, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? sah?!"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillahi rabbil 'alamin"
Britney langsung bersujud syukur, lalu memeluk Gaby dengan bahagia. Air mata cinta dan penuh kasih sayang untuk putra tampannya.
Suatu takdir yang indah. Sebuah ikrar dan janji suci telah menyatukan Alvaro dan Gaby.
Setelah selesai sholat maghrib, Papa Pras menemui Ustadz Amir. Kebetulan beliau yang menjadi imam sholat maghrib tadi. Sang Papa bertanya dan konsultasi tentang sosok pemuda yang ingin menikahi gadis yatim piatu.
Wali nikah telah disiapkan, syarat nikah sudah disetujui dan mas kawin yang berupa uang tunai, Alvaro sendiri yang mengambilnya di ATM terdekat.
Secepat inikah jodoh yang ditakdirkan untuk gadis belia ini. Gaby masih menangis dalam pelukan Britney.
"Ibuk.." Gaby yang masih menangis, antara bahagia dan menganggap dia tidak berfikir panjang. Dia hanya menginginkan sebuah keluarga.
"Iya sayang." Mama Britney masih memeluknya.
"Gaby boleh panggil Mama?" Setelah melepas pelukannya dan menatap wajah Britney.
Mama Britney juga masih meneteskan air matanya, dia merasa sangat bahagia.
"Iya sayang, kamu harus panggil Mama."
Britney tersenyum bahagia, dan segera membawa Gaby mendekati Alvaro.
Alvaro Putra Prasetya telah resmi menjadi suami Gaby Aurora Putri.
Pak penghulu telah menyiapkan buku nikah. Meskipun, yang terlampir harus segera disusulkan. Alvaro dan Gaby hanya mengisi formulir. Buku nikah itu juga masih kosong. Belum ada foto dan data resmi mereka. Hanya tanda tangan dari kedua mempelai itu.
Akad nikah yang serba dadakan, dan Masjid ini juga terletak di pusat kota. Pak penghulu yang di kenal Papa Pras, datang tepat waktu. Beliau yang sering ditanya ini itu soal pernikahan, meski kadang dilupakan Papa Pras.
Mendengar putranya mantab untuk menikahi Gaby, dengan segera menghubungi Pak Penghulu. Kalau tidak dituruti, nanti Pak Penghulu itu bisa didatangi Papa Pras lagi dan lagi. Sebenarnya, bukan hanya Mama Britney yang tidak sabaran soal pernikahan Alvaro. Papa Pras sendiri juga semakin aktif menemui Pak Penghulu, setelah Alvaro membawa gadis ke rumahnya.
Kedua wajah yang saling bertemu, Gaby menatap wajah tampan itu dengan perasaan berdebar dan tatapan Al begitu manis.
Gaby mencium tangan kanan Alvaro, dan Alvaro mencium kening Gaby. Di hadapan para saksi dan penghulu.
Tampak rona wajah bahagia, dengan penuh kasih sayang dari kedua mempelai.
1 jam kemudian.
Baru saja tiba di rumah, Gaby yang masih bingung dan menatap keluarga ini.
"Apa aku bermimpi?" Batinnya.
"Gaby, kamu kenapa?" Tanya sang Mama.
Gaby masih saja berdiri di ruang dapur. Mama Britney sibuk menata belanjaan tadi. Dua kantong dibawa sang Mama ke depan kulkas, lalu menata berbagai minuman botol dan buah-buahan.
Gaby mengikuti Mama Britney, lalu bertanya "Mama, apa tadi Gaby tidur?"
"Tidur? Memangnya di mobil tadi kamu tidur? Seingat Mama, kamu cuma sibuk bermain ponsel."
"Jadi tadi itu?" Tanya Gaby yang bingung.
Alvaro ke arah kulkas dan membuka pintu kulkas. Mengambil minuman kaleng dan kembali pergi. Gaby hanya memandanginya saja.
"Mas Al, suamiku?" Batin Gaby.
Mama Britney berkata "Kamu sekarang menantu Mama. Kamu tidak perlu sungkan kalau ingin makan ini itu. Kamu bisa bilang sama Mama, atau ambil sendiri di kulkas apa saja yang kamu mau."
Gaby bersandar kitchen set. Bertanya "Mama, jadi tadi itu. Gaby sama Mas Al, beneran udah nikah?"
"Iya sayang, kalian tadi sudah akad nikah."
"Mama, tapi Gaby masih bingung."
"Bingung kenapa?"
Belum sampai Gaby berkata, ada tamu yang datang.