ABYAZ

ABYAZ
Belum Saatnya



Beberapa tahun kemudian, ini tentang sang putra tampan. Masih kelanjutan "Panggil Aku Mas!"


POV Alvaro


"Pa, Al berangkat." Ucap Alvaro, sambil berjalan melewati Papanya.


"Nggak sarapan dulu?" Tanya sang Papa, yang tampak duduk di sebuah kursi di ruang makan. Suara sang Papa yang lembut, meski usianya semakin tua namun kharisma Papa Prasetya tak luntur dimakan waktu. Semakin terlihat berwibawa dan tampak masih gagah.


"Nanti aja Pa, di Sekolah." Jawabnya dan ia pun berjalan dengan tergesa-gesa.


Alvaro Putra Prasetya, ia laki-laki tampan yang berkharisma. Memiliki wajah khas kebulean dan begitu mirip Mamanya yang khas timur tengah. Wajah tampan dan sangat rupawan.


Sang ibu yang berjalan dari dapur menuju ruang makan. Setibanya di meja makan ia meletakan nasi goreng favorite sang putra tampannya.


"Pa, Al sudah turun?" Tanyanya dengan tatapan yang memang tidak tahu kalau sang putra sudah pergi begitu saja. Ia berfikir kalau sang putra masih berada di kamar.


"Al sudah berangkat, apa dia tidak pamit lagi?"


"Tadi dia cuma bilang kalau nanti pulang malam." Suara itu sudah berubah, suara yang lembut itu penuh perasaan.


Kebiasaan Alvaro sudah berubah, tidak lagi seperti dulu. Yang selalu memeluk Mamanya dan mencium pipi sang Mama ketika hendak pergi.


Britney Rhiannon, sang Mama. Tampak wajah sendu, sepertinya semakin hari semakin jauh dari sang putra.


Setelah kejadian beberapa bulan yang lalu. Putranya seolah tidak ingin lagi diatur atau dinasehati sang Mama. Usia Alvaro sekarang sudah 30 tahun, sudah waktunya untuk membina rumah tangga. Tapi, hal lain di rasakan Alvaro. Bahwa ini belum saatnya. Dia masih ingin bersama kedua orang tuanya.


"Pa, kenapa Al belum bisa maafin Mama?"


"Tapi Pa,..." Keluh sang istri yang masih mengharapkan kalau sang putra harus segera menikah.


"Sayang, Al sudah dewasa. Dia tahu apa yang harus dia lakukan."


Britney duduk di sebelah suaminya dengan tatapan sendu, lalu berkata "Mas, kita sudah tua. Bagaimana Al bisa hidup sendiri?"


Sang suami menghembuskan nafasnya dengan pelan, tangan kirinya memegang tangan istrinya. Tangan kanan itu mengusap lembut rambut istrinya yang sudah tampak memutih itu.


"Aku paham, aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi kita tidak bisa memaksa anak-anak kita, untuk tetap menuruti semua keinginan kita."


"Apa aku salah kalau ingin melihat Al bahagia. Seperti Alishba dan Abyaz Mas. Kita semakin senja, apa kita masih bisa menunggunya Mas."


"Sayang,..."


Sang suami tidak bisa berkata-kata lagi, apa yang istrinya katakan memang benar adanya. Usia mereka berdua tidak lagi muda. Sang istri juga sudah sakit-sakitan, dia sendiri juga sudah banyak lupa. Namun, mereka berdua berusaha untuk selalu kuat demi anak bungsunya.


Suasana sendu dan semakin hening. Perlahan mata indah itu tampak berkaca-kaca. Air mata penuh kasih sayang untuk sang putra tampannya. Putra bungsu yang begitu ia sayangi dan ia mengharap akan kebahagian sang putra tampannya.


Guratan hati seorang ibu, apakah akan ada penawar manis yang datang di usia senja mereka berdua, nantinya? Akankah Al akan terus melajang? Apakah akan datang cinta untuk Al? Akankah Al akan segera menikah dan menerima perjodohan orang tuanya?


Nantikan kelanjutannya, 🤗


Maafin Othor yang selalu PHP ya. Semoga tulisan ini, mengobati kerinduan kalian sama Mas Pras. 🙏