ABYAZ

ABYAZ
Bab. 17. Sudah Berjanji Untuk Kembali



"Ye ye. Yeeess! Akhirnya, dia pergi juga." Jimmy yang riang gembira tiada tara. Saat mengetahui kalau Beby nggak pulang-pulang.


Arjuna masih cemas, dia malah asyik sendiri.


"Ini udah jam 10 malam. Ponselnya malah nggak aktif lagi."


"Palingan ke rumah orang tuanya. Dia anak sultan. Mana mau hidup susah sama aktor kismin."


"Enak aja, emangnya aku ngajak dia hidup susah. Aku kerja juga buat dia. Dari dulu dia hobby shopping."


"Pantes aja kamu kere. Duit buat Cinta, Cinta, Cinta melulu. Dia itu anak sultan. Kamu aja yang nggak sadar diri."


"Jimm, ini aku lagi panik. Kamu malah bawel."


"Percaya sama aku. Pasti, dia udah bobo cantik di istana barunya."


"Iya, semoga aja begitu."


"Mendingan kamu tanya ke Mamanya aja. Siapa tahu emang udah di rumah."


"Jimm, aku ngerasa aneh. Tadi sore. Aku tanya, dia udah pulang belum? Dia jawab udah. Tapi masih acara sama yang lain."


"Nah, ini. Yang lain. Kamu harusnya sadap ponsel dia. Gimana sih?!"


"Itu privasi. Aku nggak bisa begitu. Aku gini-gini juga jaga privasi orang. Apalagi dia, pasti aku jaga."


"Kamu udah samperin ke butik?"


"Udah. Aku kesana butiknya udah tutup. Aku tanya sama orang-orang sekitar."


"Kamu gila?"


"Aku pakai topi, pakai masker."


"Jangan-jangan dia kabur lagi. Wings, naik pesawat."


Kedua orang ini, masih menunggu dia kembali. Arjuna sudah mencarinya. Tapi, dia pergi dan tak kembali.


"Beby, kamu dimana?"


"Arjuna, tidur. Besok pagi kita terbang."


"Tapi, kalau dia pergi. Aku nggak bisa tenang."


"Ini, yang begini. Bikin aku malas. Kamu harus tidur. Besok itu jadwal kita mulai merayap. Kita ada pemotretan di Bali, terus ketemu sama yang team perempuan buat pembacaan skrip. Satu lagi, kita ada undangan untuk ke pesta produser. Sama, persiapan dating."


"Kamu tidur dulu. Aku mau telfon orang."


"Oke. Awas aja kalau kamu sampai nggak tidur."


"Iya, Mama Jimmy."


Arjuna sudah tampak menghubungi seseorang. Begitu serius dan setelah mereka saling bicara. Ada sebuah pesan masuk.


[Malam ini. Aku tidak kembali ke tempatmu. Berikan aku waktu untuk sendiri.]


Arjuna yang membaca itu, segera memanggil. Sayangnya, ponselnya sudah di nonaktifkan.


"Beby, kamu kenapa lagi?"


Arjuna yang mengetuk-ngetuk dahinya sendiri. Sepertinya, dia memang sudah puyeng akan gadis itu. Begini salah, begitu salah. Semuanya, serba salah. Belum jadi suami, dari mudanya sudah merasakan kegelisahannya. Bagaimana nanti, kalau sudah menikah, apa yang akan terjadi dengan Arjuna?


Setelah hari esok tiba.


Arjuna yang baru tiba dan Beby yang akan pergi. Mereka berada di satu lobby hotel. Sayangnya, keduanya tidak saling melihat. Apakah nantinya mereka akan bertemu?


Di sebuah tempat khusus, pagi-pagi sekali seorang istri ingin membantu suaminya. Saat ini telah mengadakan pertemuan dengan sang Adik.


"Binar??"


Kabar apa lagi ini, pagi-pagi sekali sudah mendapatkan berita yang mengejutkan. Meskipun, itu juga belum dapat dipastikan.


"Iya, suamiku. Kerabat kalian sendiri."


Mama Abyaz begitu terkejut, kalau ini memang benar. Jadi, selama ini yang dijaga, dirawat dan dibesarkannya, adalah anak dari orang pertama yang ada dihatinya.


Papa Damar sudah tampak menunduk. Belum selesai masalah satu, ada lagi masalah yang lainnya. Apalagi, ini menyangkut tentang putrinya.


"Kak Stella sudah yakin?"


"Aku belum yakin. Kita perlu test DNA."


"Tapi Cinta. Maksudku putri kita, dia sedang pergi. Kita berdua, juga masih menunggu dia kembali. Dia saat ini sangat membutuhkan ketenangan. Gimana, kalau dia tahu. Aku takut kehilangan dia." Suara itu dan tatapan itu, sang Mama yang tidak sampai hati. Untuk meminta putrinya test DNA.


"Aku sudah cari tahu, dan mengenai sample test DNA Cinta. Masih ada di kuasa hukum kalian. Kita bisa mencari kebenaran ini, tanpa Cinta tahu lebih dulu."


"Gimana Mas? Kamu mau menyetujuinya??" Memegang bahunya, dan sang suami telah menangis.


Papa Damar memegang tangan itu, lalu berkata "Aku tidak ingin kehilangan putriku. Aku sudah berbuat kesalahan. Untuk kedua kalinya, aku tidak bisa membiarkan putriku terluka."


Sang Kakak mengerti perasaan Adiknya, ia menatap lekat wajah Damar. Lalu ia berkata "Damar, ini kesempatan kita. Untuk mengetahui kebenarannya. Kalau Cinta memang anak suamiku. Kita harus melakukannya, ini juga demi Cinta. Akan sampai kapan Cinta menunggu dan dia merasa hidup dalam kesendirian, tanpa ibu dan ayah kandungnya. Apa kamu tidak memikirkan perasaannya itu? Aku yakin, Cinta juga bertanya-tanya, siapa ayah kandungnya?"


Hening


Bukan kekalahan dalam rival bisnis maupun percintaannya. Tapi, dia kalah sebagai orang tua. Mungkin, bisa jadi bayi pertama yang ia gendong memang putri kandungnya.


Namun, hati dan perasaan itu sudah ada untuk putri kesayangannya. Cinta Damayaz, yang saat ini sudah menyandang nama lain yaitu Beby Ayazma.


"Mas, kamu selalu menyemangati aku. Ayo, kita lakukan demi putri kita. Aku juga berharap, putri kita bisa kembali bahagia. Aku tidak sanggup kehilangan dia, meskipun nantinya akan hidup jauh dari kita. Setidaknya, kita merasakan kebahagiaan dia. Aku ingin putri kita yang dulu. Yang selalu bahagia saat bersama kita. Aku hanya ingin, putri kita kembali dengan keceriaannya, bukan dengan air mata."


Papa Damar yang menyeka air matanya dan Mama Abyaz juga tampak berlinang air mata.


Papa Damar berkata "Baik. Aku akan menyetujuinya. Aku siap menjadi saksi."


"Damar, kali ini hanya kita saja yang menangani masalah ini. Aku tidak akan membawa ini ke jalur hukum. Aku sudah mencari sederet informasi. Nanti, aku akan bertemu dengan kuasa hukum kalian dan meminta sample Cinta. Aku hanya ingin, meminta ijin dari kalian sebagai orang tua."


"Iya Kak, aku sudah bisa memahami keadaan ini. Demi putriku. Aku tidak keberatan. Apalagi, aku sudah punya rencana untuk menikahkannya dengan Arjuna. Kalau sudah bertemu dengan ayah kandungnya. Pastinya, akan lebih baik bila ayah kandungnya, yang akan menikahkan putriku."


"Arjuna. Aku juga sudah tahu itu. Soal Mirza, putraku. Aku tidak memikirkan hal itu. Karena jodoh, sudah ada yang mengatur. Seperti aku. Aku bahkan, dulunya sama sekali tidak memikirkan untuk menikah. Tapi, seiring berjalannya hubunganku dengan Papinya Mirza. Aku jadi ingin menikah."


"Iya Kak. Terima kasih, kalian tidak menyalahkan putriku. Aku juga berharap, keluarga kita tetap utuh seperti yang lalu. Aku tidak enak hati, atas masalah ini, keluarga kita jadi renggang."


"Tidak, aku sama sekali tidak mempermasalah itu. Perjodohan, putraku sudah tepat. Aku hanya berharap putraku bisa bahagia."


"Semoga mereka berdua bahagia." Perlahan, Mama Abyaz kembali tenang.


Papa Damar hanya terdiam, entah apa saja yang direnungkannya. Yang jelas, ia juga sangat ingin melihat putrinya bahagia.


Setelah pertemuan itu, mereka sepakat untuk melakukan test DNA.


Di tempat lain, Jimmy menemani Arjuna, yang saat ini telah melakukan sesi pemotretan.


"Nah, kalau begitu keren. Mempesona."


Jimmy yang memutar kamera ponsel. Arjuna masih fokus pada perkerjaannya.


Set!


"Beby??"


Jimmy yang terkejut, menatap jauh ke arah pantai.


Mengucek mata dan meyakinkannya. Ia mengarahkan kameranya ke arah jauh. Lalu, setelah di zoom.


"Beby???"


Jimmy yang berlari, dan terus saja mengucap "Beby."


Dia yang semalam kegirangan, tapi melihat Arjuna yang gelisah. Dirinya menjadi merasa tidak nyaman.


Jimmy yang berlari dan hendak mendekat ke arah gadis yang berpakaian santai.


"Beby!!"


Seketika kedua orang menoleh. Baik itu Arjuna dan juga gadis itu. Arjuna yang masih melakukan pemotretan. Ia tidak mendekat, ia hanya melihat dari jauh. Dia mengerti akan pesan itu, dan tidak lagi mengganggu gadis itu.


"Beby, akhirnya kita bertemu."


"Iya. Ngapain kamu kesini?"


"Aku yang harusnya tanya sama kamu. Kenapa semalam pergi? Arjuna jadi gelisah."


Gadis itu menatap ke ujung jauh, dan ia melihatnya "Dia, baik-baik saja."


Lalu, Beby kembali bermain pasir pantai.


"Benar. Sumpah. Semalam Arjuna nggak bisa tidur. Aku juga jadi nggak bisa tidur nyenyak."


"Emh, aku pikir kamu senang nggak ada aku."


Jimmy mendekat, lalu berkata "Besok kita pulang bareng ya."


"Aku nggak mau. Aku masih ingin disini."


"Ya udah. Tapi kamu harus baikan sama Arjuna. Aku mohon. Demi dia aku rela. Aku nggak bisa tenang kalau dia risau begitu. Nanti pekerjaannya jadi masalah."


"Dia kelihatannya nyaman. Meski nggak ada aku."


"Itu cuma di depan kamera. Coba kalau sendiri. Dia sudah kayak nggak ada semangat hidup."


Jimmy merayu dan masih saja memegang tangannya.


"Tunggu beberapa hari. Nanti aku akan kembali."


"Janji."


"Nggak mau."


"Ayolah, janji dulu."


"Iya janji."