
Setelah beberapa hari hanya berdiam di rumah itu. Beby merasa sangat suntuk. Ia berulang kali bertanya kepada Arjuna, apakah sudah mendapatkan lowongan untuk dirinya bekerja.
"Arjuna. Sampai kapan kamu akan mengurung aku disini? Kalau kamu bersikap begini. Aku akan pergi jauh."
Itulah ucapan gadis itu, dan Arjuna juga semakin gemas.
Arjuna, saat ini sudah bertandang ke kantor utama Mahatma.
"Sorry, Arjuna. Aku barusan terima tamu penting. Aku jadi cuekin kamu."
"Aku tidak apa-apa."
"Kamu mau minum apa?"
Arjuna mengangkat cangkir kopi warna putih. Tadi sekretaris Noah. Sudah lebih dulu menyiapkan minuman untuk Arjuna. Sang sekretaris, juga lumayan memandangi aktor tampan ini. Bahkan, ia sempat berfoto selfie dari jauh dan membuat story, bahwa ada aktor tampan yang datang ke kantornya.
"Kak Noah. Ada hal yang ingin aku minta."
"Iya. Apa yang kamu minta?" Ia juga tampak tersenyum.
"Apa disini, ada lowongan?"
Noah yang menjadi direktur utama dan Arjuna juga tampak dekat dengannya. Sebagai saudara, mereka juga selalu menjaga silaturahmi.
"Aku mengerti. Ini pasti soal tuan putri Presdir Damar."
Arjuna yang terkaget, "Kak Noah tahu?"
"Barusan, siapa yang sedang aku temui, di ruangan Papa. Dia orangnya, Presdir Damar."
"Apa maksud Kak Noah?"
"Kamu tidak akan mengerti. Seorang Papa, mana bisa melepaskan putrinya begitu saja. Meski, dia bukan putri kandungnya."
"Kak, tapi ini soal pekerjaannya."
"Arjuna, aku siap membantu kamu. Apa yang kamu minta akan aku berikan. Tapi, soal ini. Lebih baik, kamu antarkan saja dia kembali ke rumahnya."
Arjuna merasa ada yang tidak beres. Bahkan, Beby sempat bilang kalau Presdir Arman bukan ayah kandungnya. Jangan-jangan itu memang sengaja membuatnya begitu, agar pulang ke rumah.
"Kak Noah, terima kasih atas waktunya. Aku permisi dulu."
"Arjuna, kenapa buru-buru?"
Noah menghembuskan nafasnya, ia berkata "Mana berani aku mempekerjakan tuan putri. Yang ada aku malah yang dipekerjakan."
Noah menganggap hal ini sangat aneh. Tapi, dia tidak berfikir jauh. Dia hanya menepati permintaan Presdir Damar.
Selama di dalam mobil, Arjuna telah berfikir keras. Dia hendak menemui Presdir Arman ke kantornya. Sayangnya, beliau sedang ada di kediamannya.
1 jam kemudian
Set!
Mobil sedan putih itu telah terparkir di rumah mewah. Halamannya begitu luas. Dari pintu gerbang utama sampai tiba di halaman parkir rumah itu, jaraknya sekitar 500 meter.
Arjuna jadi membayangkan, bagaimana waktu itu Beby bisa berjalan kaki dan tidak merasa capek.
Seorang pelayan, telah mengantarkan ke ruang khusus tamu. Arjuna yang telah duduk di sofa. Memandangi bingkai besar. Baru beberapa hari lalu. Bingkai besar itu sudah berubah. Tidak ada lagi foto istri keduanya. Yang ada hanya keluarga utama.
"Ada perlu apa. Kamu mencari aku?"
"Saya ingin menanyakan soal Cinta. Maksud saya, putri dari istri kedua anda."
"Ada apa dengan dia? Sampai mengutus kamu datang kemari."
"Saya tidak di utus siapapun. Saya hanya ingin bertanya secara pribadi. Apa Presdir Arman, bukan ayah kandungnya?"
"Owh, soal itu. Dia memang bukan putriku. Aku dulu mencintai istri keduaku, semasa dia masih hidup. Tapi, putrinya bukan anak kandungku. Aku tidak bisa menerima dia. Bagiku, dia hanya orang asing. Meskipun, dia anak alm. istriku."
"Hanya orang asing."
"Apa Presdir mengetahui, siapa ayah kandungnya?"
"Soal itu, aku tidak tahu. Dulu, Gisella itu seorang model. Dia juga banyak pria. Jadi, aku mana tahu. Siapa ayah kandung anak itu?"
"Gisella?" Arjuna yang merasa sangat familiar.
Seorang gadis yang selesai bermain golf di halaman belakang rumahnya. Sudah tampak mendekati Arjuna.
"Hei, kamu Arjuna."
"Jovita?"
"Iya. Lama kita nggak bertemu."
"Bener, sudah 5 tahun."
"Oh, aku pernah nonton film kamu. Keren."
"Iya. Terima kasih."
"Ayah." Dia beralih ke samping ayahnya.
"Kamu mengenal pemuda ini?"
"Dia dulu teman SMAku."
"Owh, jadi dia mengenal Zolla."
"Emh, aku tidak tahu."
Lalu dia pergi, dia yang malas ketika sang ayah membahas tentang Zolla.
"Jadi, kamu mengenal Zolla?"
"Tidak. Saya hanya mengenal Cinta."
"Owh, begitu. Kalau bertemu Zolla. Titip salam, dan suruh dia main ke rumah."
"Baik. Nanti akan saya sampaikan."
"Apa, Pakde Damar juga ingin putrinya kembali?"
Arjuna yang tancap gas, dan melaju dengan cepat. Dia malah pergi ke rumah.
Setelah sekitar satu jam perjalanan, ia tiba di rumah. Sang Bunda yang melihat putra tampannya sudah pulang.
"Sayangnya Bunda."
"Bunda. Arjuna bingung."
"Kenapa sayang? Sini ceritain sama Bunda."
Arjuna yang merebahkan kepalanya dalam pangkuan sang Bunda.
"Bunda, tadi pagi-pagi, aku ke kantor Papi. Aku di tolak."
"Aku ke kantor Mahatma, aku juga di tolak."
"Siapa yang menolak kamu? Pakde? Kak Noah?"
"Iya, mereka semua nggak mau mempekerjakan Beby."
"Beby?"
"Iya, Cinta."
"Kamu sama Cinta?"
"Iya. Aku ngikutin dia waktu di tempat Presdir Arman. Terus, aku ajak pulang ke tempat Jimmy."
"Jadi, Cinta di rumah Jimmy?"
"Beby Bunda. Beby."
"Bunda udah terbiasa begitu."
"Sebaiknya, kamu ajak Cinta kesini."
"Ngapain kesini. Dia nggak mau, dia itu mau memulai kehidupan barunya. Tapi, nggak ada satupun yang mau ngertiin perasaannya. Bagi kita ya mudah aja Bunda. Tapi bagi dia, ini kehancuran."
"Kamu memang benar. Tapi, kamu tahu sendiri. Gimana Pakde sama Budhe kamu."
"Bunda, kali ini aja. Kita harus ngerti perasaan Beby."
"Coba kamu bicarain sama Pakdemu."
"Pakde Damar?"
"Iya, siapa lagi. Pakdemu, pasti ingin putrinya pulang ke rumah."
Setelah beberapa saat di rumah dan sempat terlelap dalam pangkuan sang Bunda. Arjuna lalu pergi ke JS. Lebih baik menemuinya, di kantor dari pada di rumah. Yang ada, dia juga akan mengingat kenangannya bersama Cinta Damayaz.
Setelah basa-basi.
"Pakde, tolong sekali ini saja mengerti dia. Dia sangat terluka."
"Arjuna, kamu belum merasakan menjadi seorang Papa. Kamu tidak mengerti perasaan kita. Kita sebagai orang tua, juga merasa sangat kehilangan putri kita."
"Pakde, tolong kali percayakan dia sama Arjuna. Kasih kesempatan untuk dia memulai kehidupan barunya. Agar dia tidak merasa lebih terluka. Arjuna yakin. Setelah dia mulai keseharian yang baru. Pasti, dia akan kembali ke rumah Pakde. Dia hanya perlu waktu untuk menyesuaikan dirinya."
"Mungkin kamu benar. Tapi, saat ini Mamanya, sangat kehilangan putrinya. Aku sebagai suami, rasanya tidak sanggup melihat istriku yang sakit."
"Pakde, Arjuna juga merasakan apa yang Pakde rasakan. Tapi, menurut Arjuna, lebih baik kita memberinya waktu dan kesempatan."
"Apa kamu bisa menjamin? Cinta kita akan baik-baik saja?"
"Pakde, Cinta sudah mengganti namanya. Beby Ayazma. Dia membuat itu karena kalian."
"Karena kita?
"Beby Ayazma, Bayi kecil Abyaz Damar."
"Nama yang bagus." Suasana sendu.
"Pakde Damar. Beby, sudah tidak ada ibu kandung. Bahkan, Presdir Arman tidak mau mengakuinya sebagai anak. Presdir Arman bukan ayah kandung Beby."
"Bukan ayah kandungnya?"
"Arjuna sedang mencari tahu. Karena itu juga. Beby merasa tidak memiliki siapapun. Dia ingin membuka lembaran baru, dengan nama barunya dan dia ingin bekerja. Dia juga ingin membuktikan. Kalau dia memang layak menjadi putrinya Pakde sama Budhe."
Mendengar hal itu, Sang Papa ini, menjadi semakin risau. "Siapa ayah kandungnya?"
Melihat Pakdenya tampak melamun saja, Arjuna memanggil "Pakde Damar."
"Pakde akan menuruti kemauan Cinta."
"Beby. Beby Ayazma."
"Baik. Pakde akan memberikan waktu. Tapi, Kalau nanti, dia sudah tenang. Kamu harus bilang sama Pakde. Apapun yang dia butuhkan, kamu harus bilang sama Pakde."
"Arjuna tahu, Pakde menyuruh pengawal untuk mengawasi dia. Kali ini saja, Pakde percayakan putri Pakde sama Arjuna."
"Pakde percayakan dia, sama kamu."
"Terima kasih."
Setelah malam tiba, Arjuna kembali ke markas khususnya.
"Arjuna, dari mana saja."
"Ada urusan.
Melihat ke sekitar ruangan dan kamar. "Jimm, Beby mana?"
"Aku tidak tahu."
"Beby pergi?"
"Palingan ke Mal. Kamu kurung dia terus, ya mana betah."
Arjuna mencari. . .