ABYAZ

ABYAZ
Menitipkan Bayi Tampan



Kampus dimana tempat Abyaz, Viral, dan si kembar Nakula, Sadewa menimba ilmu.


Saat ini, menjadi tempat kuliah, Gaby, Tata, Ghani beserta genk kupu-kupu.


Ghani memilih beasiswa dari Mahatma. Gaby juga mengikuti saran sang Kakak. Agar berkuliah di kampus yang di naungi oleh Mahatma Corporation.


Gaby tidak jadi menunda kuliahnya, ia memulai seperti para teman-temannya. Gaby mengikuti kuliah online, dan Viral yang membuatnya begitu. Yang penting adiknya ini, tidak tertinggal dengan para teman-temannya yang lain.


Sayangnya, Gaby ketahuan tidak ikut dalam ospek di awal kuliahnya. Akhirnya, Gaby harus mengikuti ospek ala seniornya, yang telah membuatnya lelah, tapi Gaby tidak masalah.


Para senior ini, mereka tahunya Gaby ini adalah mahasiswi biasa. Bukan dari keluarga pemilik yayasan kampus.


"Iya Kak. Siap."


"Sana, kamu cari dompet saya." Ujar seorang senior cantik dan ia sangat populer di kampus ini.


"Baik Kakak yang cantik."


"Kamu bilang apa? Aku cantik?"


"Memang Kakak cantik. Masa aku harus bilang Kakak ganteng."


"Kamu berani melawan omongan saya?"


"Sorry."


Senior itu tampak bersedekap, ia masih mengamati Gaby dan ia berkata "Sana, buruan cari dompet saya."


"Oke."


Gaby yang memakai seragam SMA. Ia juga menjadi tontonan para temannya.


Ghani dan Tata hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Mereka juga tidak bisa membantu Gaby.


Genk kupu-kupu merasa senang, saat melihat Gaby yang diperlakukan begitu.


"Tata, sepertinya kita harus bantuin Gaby."


"Ghani, dia nggak mau kita bantuin."


"Kenapa Gaby nggak bilang aja, kalau dia keluarga Mahatma."


"Bener banget. Pasti para senior akan segan berbuat itu sama Gaby."


Hanya Ghani dan Tata yang sudah tahu, siapa sosok Gaby sebenarnya. Cantika, juga tahu hal itu, sayangnya ia hanya tahunya kalau Gaby ini seorang anak asuhan dari keluarga Mahatma.


Gaby mencari-cari di setiap sudut gedung kampusnya, lantas ia berjongkok "Huh, aku sudah dipermainkan."


Dompet itu ada di dalam tasnya, saat ia hendak mengambil tisue. Hampir dua jam mencari dompet seniornya. Ternyata, itu hanya rekayasa untuk membuat Gaby lelah.


"Ngeselin." Gaby duduk di lantai.


Tata mendekatinya. "Ini minum dulu."


"Makasih Tata, gurita."


"Hem, kamu ini kenapa nurut aja sih. Heran aku tuh. Kamu harusnya bilang sama Kak Vania, kalau kamu itu putri dari keluarga Mahatma."


"Buat apa bilang begitu?"


"Biar kamu nggak dikerjai sama senior."


Tata sekarang, sudah tampil seperti putri. Rambut yang di curly tampak panjang sebahu. Penampilannya lebih ke warna pastel dan sangat terkesan feminine. Tidak lagi seperti Tata semasa SMA.


"Tata guritaku sayang. Biarkan saja mereka begitu. Lagian, waktu itu aku nggak ikut ospek. Aku jadi ngerasain waktuku kembali lagi."


"Ye, orang dikerjain malah seneng."


Gaby lekas minum pemberian Tata, ia lalu berkata "Aku mau balik ke senior dulu. Nanti kita pulang bareng."


"Oke."


Senior yang bernama Vania Angelika. Sangat cantik dan populer di kampus itu. Tadi, setelah jam makan siang. Ia mengatakan kalau dompetnya telah hilang. Lalu, ia menunjuk pada Gaby. Ia menugaskan Gaby untuk mencarinya. Sayangnya, itu hanya sebuah permainan dari kegiatan ospek.


"Thank you." Vania menerima dompetnya.


"Iya."


"Nanti malam kita masih ada pesta. Kamu harus jadi asistenku."


"Hah?"


Dalam hatinya tidak senang, apa boleh buat. Kali ini ia hanya bisa menurut.


"Baik Kakak."


Vania lantas pergi dan Gaby masih duduk di tempat itu. Aula umum dan suasana siang ini masih ramai. Ada pula mahasiswa susulan yang diperlakukan sama halnya dengan Gaby.


Sudah lebih dari jam 2 siang. Tata dan Ghani mendekati Gaby. Mereka bertiga duduk di anak tangga aula umum. Aula yang seperti tempat teater. Tempat ini sering dipakai untuk seminar maupun saat ada pertunjukan drama.


"Tata, ayo kita pulang. Arjuna pasti sudah kangen Bundanya."


Ghani bertanya "Kenapa kamu nggak cari baby sister aja?"


"Ghani, aku tuh nggak mau Arjuna sama orang lain. Kecuali saudara aku sendiri."


Tata menyela, "Tapi, kalau besok kuliah udah mulai. Apa setiap hari kamu titipin ke saudara kamu?"


"Entahlah, aku juga bingung."


"Mendingan, kamu cari baby sister aja. Biar nggak capek."


"Aku tunggu Kak Zoe balik. Kalau udah ada dia, aku bisa tenang."


"Memangnya, Kak Zoe bisa merawat bayi?"


"Emh, setidaknya Kak Zoe bisa mengawasi susternya."


"Sekarang, Arjuna dimana?"


"Di kantor Mahatma."


"Kantor Mahatma??"


"Iya. Apa kalian mau ikut aku jemput Arjuna?"


Ghani bertanya "Kita boleh masuk kantornya?"


"Boleh." Ucap Gaby.


Tata berkata "Aku ikut."


Mereka bertiga, sedang menuju kantor Mahatma. Ghani yang mengemudikan mobilnya Gaby.


Semenjak kuliah, Gaby selalu membawa mobilnya sendiri. Tidak memakai sopir maupun bodyguard.


Setelah Gaby lahiran, Zoe meminta ijin cuti panjang. Ia sedang melakukan pelatihan di luar kota, bersama team bodyguard pilihan Mahatma.


Tampak carseat baby, yang ada di sampingnya. Ghani dan Tata berada di depan.


"Hebat juga kamu, jadi Nyonya Alvaro, tapi masih bisa ngurus bayi sendirian."


"Terus, kalau kamu nyetir mobil. Arjuna pernah rewel nggak?"


"Ya pernah. Tapi nggak apa-apa sih. Aku sekarang udah terbiasa."


Tata dan Ghani saling menatap sekilas. Ghani lalu menatap ke arah jalanan, Ghani bertanya "Besok, siapa lagi yang mau kamu titipin?"


"Entah. Aku belum kepikiran."


7 Jam sebelumnya


Pagi yang indah dengan cuaca cerah. Gaby dengan percaya diri mendatangi kantor Mahatma.


Gaby ingin menitipkan Arjuna kepada Viral. Sayangnya, Viral baru saja pergi untuk pertemuan dengan para Presdir. Dengan terpaksa, Gaby menitipkan bayinya kepada saudaranya yang lain.


"Kak Darra. Aku buru-buru harus ke kampus. Kakak tolong jagain Arjuna. Aku percaya sama Kakak."


"Tapi aku mau..." Belum selesai Darra berkata. Gaby sudah pergi begitu saja.


Arjuna yang bobok manis di stroller dan ada satu tas besar berisi perlengkapan bayi.


Darra yang duduk di kursinya, lantas ia berdiri. "Hallo Arjuna."


Darra yang hanya menatapnya dan ia bingung. "Gaby sudah gila. Anaknya ditinggal begitu saja."


Gaby juga ada-ada saja. Menitipkan bayinya kepada Darra, yang lagi sibuk bekerja.


Darra lantas memanggil sekretarisnya.


Posisi Darra sekarang di bawah Viral. Ia bertukar tempat dengan Binar. Sang Daddy juga harus menjaga harga diri putra tampannya. Akhirnya, Darra yang menempati kursinya Binar dan Binar menjadi Bos kosmetik milik Lingga.


"Nina, tolong kamu gantikan saya. Untuk memimpin rapat pagi ini."


"Baik Mrs. Darra."


Darra juga membawa sekretaris lamanya dan Binar juga membawa asisten pribadinya.


Pertukaran yang sangat epik. Meskipun begitu, Binar jadi menganggap bawah ia dibuang kesana kemari.


Oweek!


Oweeek!


"Duh, Arjuna nangis. Gimana cara gendongnya?"


Oweeek!!


Semakin nyaring.


Di ruang kerjanya.


"Hallo Arjuna. Ini Mami Darra."


Darra menyebutkan dirinya Mami, setelah kelahiran Arjuna. Karena, ia tidak mau dipanggil Budhe ataupun Tante.


"Arjuna, jangan nangis. Mami bingung."


Darra yang berdiri dihadapan bayi embul ini. Tampak kebingungan sendiri dan ia hanya menatapnya saja.


"Darling"


Darren lantas datang ke ruangannya. Karena, sekretaris Darra mengatakan kalau Darra tidak bisa memimpin rapatnya, dan sedang menjaga bayi.


"Darra, kenapa kamu diemin aja? Kamu harus menggendongnya."


"Aku nggak tahu caranya."


Darren yang sudah menimang Arjuna, mata bayi itu telah menatapnya saja.


"Arjuna sayang. Ada Papi disini."


Oweeek!!


Malah semakin rewel, setelah mendengar suara itu bukan suara Ayahnya.


"Darling, gimana ini? Dia nggak mau sama kamu."


"Kayaknya Arjuna haus. Coba kamu buatin susu."


"Gimana caranya?"


"Kamu cari di tasnya. Baca panduan, pasti Gaby kasih contohnya."


Darra jadi super heboh dan dia langsung mengacak-acak tas bayi itu, sampai salah ambil dan akhirnya melihat kotak yang berisi perlengkapan susu.


"Ini gimana caranya? Nggak ada petunjuknya?"


"Cari tahu di sosmed."


"Oke."


Darra yang semakin bingung, karena suara tangis Arjuna tidak henti juga.


Oweek!!


Setelah 15 menit berlalu, Arjuna telah mengedot manja. Masih terjaga dan menatap Darren saja.


"Darling, dia masih lihatin kamu terus."


"Iya, namanya bayi, fokusnya ya sama yang gendong."


Darren, pelan-pelan menempatkan Arjuna dalam pangkuan Darra.


"Arjuna sayang, kamu sama Mami Darra dulu. Papi mau kerja lagi."


"Darling, jangan tinggalin aku."


"Darra, kamu harus bisa. Semangat."


"Nanti nangis lagi gimana?"


"Darra, kamu pasti bisa." Darren dengan kedipan matanya.


Kemudian, Darren pergi meninggalkan ruangan itu.


"Arjuna, kamu bobok ya. Jangan nangis lagi."


Arjuna menatap Darra, perlahan bayi itu terlelap dalam dekapannya.


Darra tampak duduk di sofa, ia tidak bergerak sedikitpun. Kedua tangannya masih mendekap bayi tampan.


Setelah sore.


"Kak Darra, terima kasih."


"Iya."


Darra jadi baper.