ABYAZ

ABYAZ
Bab. 1. Arjuna Kembali



Tertunduk lemas di sebuah kamar mewah. Menutup wajahnya dengan kedua tangan dan penuh perasaan.


Hening.


Ada seorang gadis yang telah menatap ke arahnya. Gadis itu juga merasa heran. "Dia kenapa?"


Batin gadis itu masih bertanya-tanya, kenapa ada sosok pria muda yang datang ke kamarnya, lantas termenung dalam kesedihannya.


Air mata itu mengalir lembut, dengan rasa tidak percaya. Dada seketika menjadi berdebar penuh kegelisahan.


Tak terdengar suara tangisnya, tapi ia sudah meneteskan air matanya. "Aku pasti salah kamar." Sekali lagi untuk meyakinkan dirinya. Ia kembali membuka matanya.


Perlahan kedua tangan itu telah menyeka air matanya. Begitu berat mengangkat kepalanya, masih dalam keadaan menunduk, dia menoleh ke arah pintu.


"Apa ini? Siapa dia?" Dalam hatinya yang masih bertanya-tanya. Pikiran apa yang telah merasuki batinnya. Harusnya, hari ini dirinya akan mengejutkan seseorang.


Lantas, kejutan apa yang sudah ia terima. Pandangan mata itu, tertuju kepada gadis yang masih saja memegang gagang pintu kamarnya.


Mencoba untuk berdiri, entah kenapa kakinya sampai tak bertenaga, tangannya membantu tumpuan untuk berdiri lagi, masih berusaha dan ia tidak sanggup karena berdebar. Jantungnya berdesir hebat dan merasa ada yang hilang dari dirinya.


Setelah ia berdiri dan tatapan mata itu. Sangat menawan, begitu jernih dan manik mata itu sudah berpusat pada sosok yang ada dihadapannya.


Gadis itu bersedekap, merasa tidak suka dan menatapnya dengan kesal "Apa kamu tidak punya sopan santun?"


"Kamu bisa ketuk pintu."


"Kenapa harus nyelonong masuk?"


"Hai, kamu!"


Hembusan nasfas lega, dan ia hendak berkata. Kembali melihat sekitar ruang kamar ini sudah tidak lagi sama.


Dirinya, yang saat ini masih berdiri, ia memang membutuhkan penjelasan dari seseorang. Tapi, bukan gadis ini. Melainkan, gadis pemilik kamar ini. Begitu, menurut pemikirannya saat ini.


"Aku memang tidak punya sopan santun." Sudah tampak berkacak pinggang. Tatapan itu berubah tajam, dan raut wajah itu menggambarkan kalau dirinya tidak suka dengan gadis yang ada dihadapannya.


Gadis itu berkata "Silakan keluar."


"Aku?"


"Iya, anda."


"Baik. Aku akan keluar."


Dengan berjalan pelan, ia keluar, sekali lagi menoleh ke ruangan itu.


Dap!


Pintu itu kamar itu telah tertutup dan gadis itu telah mengunci pintu kamar itu.


Masih menatap ke arah pintu. "Cinta."


Mengingat akan beberapa tahun lalu.


"Arjuna."


"Arjuna, tungguin aku."


"Arjuna, sana keluar."


Arjuna, yang masih menatap pintu.


Memori kala itu, ketika mereka masih mengenakan, seragam putih abu-abu.


Sosok tampan ini, begitu tengil dan mempesona.


"Aku Arjuna. Aku akan mencari Cinta." Tampak tersenyum tengil dan itu sudah menjadi ciri khasnya.


^^^Arjuna mencari Cinta.^^^


^^^Hari ke-10 setelah kepergian Cinta.^^^


Beberapa saat sebelum Arjuna kembali. Rona bahagia telah terpancar dari wajah tampannya. Sorot mata yang indah dari kedua matanya, di sertai alis mata yang tertata rapi dan bulu mata lentik itu juga menambah kesan cantik pada kedua kelopak matanya. Bibir manis dengan senyuman tengilnya.


"Aku memang mempesona." Ujarnya, dan saat ini kedua asisten tim busana telah memakaian jas yang bermerk mahal.


Menatap sebuah cermin, "Lumayan."


Kemudian ada penata rambut yang telah merapikan bentuk rambut dengan gaya menawan.


"Oke."


"Arjuna, ini pose yang harus kamu lalukan."


"Aku tidak suka."


"Ayolah. Ini pemotretan terakhir. Setelah ini kita pulang dan kamu bisa berlibur."


"Heei, pembohong. Jimmy pembohong."


"Suerr tek kewer kewer. Aku bakalan kasih kamu libur sebulan." Tapi sang manager itu, telah mengangkat 3 jari di tangan kirinya. Arjuna menekukkan jari itu, sampai kedua matanya mengikuti arah jari itu terpendam.


"Deal, tiga bulan."


"Arjuna." Suara rempongnya dan dalam batinnya mengumpat Arjuna dengan kesal.


"Oke, oke, 3 bulan." Jari ini memang tidak bisa berbohong. Sambil terus mengikuti langkah kaki sang Arjuna.


Arjuna saat ini telah menampilan wajah maskulinnya, dan berjalan dengan gaya menawan. Menatap ke arah kru yang sedang mengambil gambar.


Arjuna Madaharsa, sang aktor ternama. Pujaan para wanita dan kali ini sedang melakukan pemotretan. Shuting film sudah selesai 3 hari yang lalu, tapi masih ada jadwal untuk pemotretan.


Sebuah film "Arjuna Mencari Cinta." Dan dibintangi oleh sang Arjuna sejati. Ia juga penakluk wanita, meski itu hanya membuat petaka untuknya. Gosip telah bertebaran dan selalu menjadi trending topik utama.


Meskipun begitu, ia tetap menjadi Sang Arjuna. Aktor berbakat, lulusan kampus ternama, masih muda dan kaya raya. Gadis mana yang tidak akan terpikat padanya.


Dia memang tidak punya hati untuk siapapun. Selagi bisa bersenang-senang kenapa tidak. Hanya bermain satu dua. Tidak banyak, kecuali A, B, C, D, sampai Z.


Di dalam mobil, setelah pemotretan, Arjuna menuju ke bandara. Managernya sudah sewot.


"Jelaskan sama aku? Siapa dia?"


"Owh, itu teman SMA."


"Mantan?"


"Bukan Jim."


"Terus? Itu apaan? Peluk-pelukan?" Dia memang baperan. Lebih baperan dari pada para cewek-cewek itu.


Menatap sang manager dan Arjuna dengan senyuman manisnya, bertanya "Aku ini siapa kamu?"


"Kamu milikku."


"Terus, kenapa masih tanya soal gosip murahan ini?!"


Arjuna dengan suara keras karena dia sudah malas. Harusnya, 2 minggu lalu dirinya sudah bisa liburan. Karena, ada masalah dalam pengambilan gambar. Semua rencananya jadi batal.


"Duh, aku pusing dengar suara kejam kamu."


Arjuna duduk bersandar, memejamkan kedua matanya.


"Aku ingin segera pulang."


"Tenang saja, semuanya sudah aku atur."


"Aku ingin bertemu kekasihku."


"Apa??" Semakin cekot-cekot kepalanya, mendumel "Kekasih?? Arjuna, kamu sudah gila? Kita sudah terlanjur menandatangi kontrak kerja yang baru. Aku bisa kena denda." Masih dengan perkataan lainnya yang tidak dimengerti. Dari A sampai Z semua diucapkan dengan bawelnya.


"Itu urusan kamu, bukan masalah aku."


"Arjunaaaaa!!!!"


Suara itu lebih mengerikan dari suara film horor yang pernah dia bintangi. Sampai Arjuna harus menutup kedua telinga dengan headset.


Ocehan sang manager tiada henti, tapi Arjuna sudah tampak terpejam dan ia sampai bermimpi.



Arjuna Madaharsa, adalah Anak pertama Alvaro Putra Prasetya dan Gaby Aurora Putri.


Tampan, menawan, berkharisma, tengil, mempesona, dingin, kalem dan macho. Eith, itu semua sikap dan sifat yang pernah ia lakoni saat mendalami peran untuk adegan film.


Kalau tengil, memang ada faktor keturunan, tapi untuk yang lainnya. Emm, Arjuna tidak begitu hebatnya. Arjuna sosok manja, nakal, usil, dan kurang pintar.


Hal itu, juga terjadi pada seorang gadis cantik. Ia cantik, manja, usil, dan tidak bisa apa-apa. Masih mendingan, Arjuna bisa cari duit dari hasil perannya. Dia sama sekali tidak bisa apa-apa.


Setelah beberapa jam menaiki pesawat. Arjuna telah tiba di ibukota.


"Cinta!"


Saat memasuki kamar gadis itu, Arjuna tidak mendapati saudaranya. Tidak ada lagi gadis usil itu, tidak ada lagi gadis pembuat onar, tidak ada lagi gadis yang suka bolos sekolah, tidak ada lagi gadis yang menghabiskan duitnya, ketika atm dan kartu kreditnya diboklir oleh sang Mama.


"Dia nggak ada disini."


"Ini bukan kamar Cinta?"


Tatapan matanya menoleh ke arah dinding, tak ada lagi foto mereka, tak ada lagi coretan-coretan mereka, tak ada lagi hiasan penangkal mimpi.


"Dimana cintaku berada?"


"Kenapa aku jadi sedih?"


"Cinta, pergi kemana?"


Tertunduk lemas dan tak bertopang.



Hallo semua,


Sekedar mengingatkan.


Untuk yang mengikuti kisah lanjutan ini semoga tidak bingung ya.


Anggap saja ini cerita dengan kisah yang baru.


Ada Sang Arjuna Yang Mencari Cinta.


Terima kasih 🤗