
Sore hari dengan rintikan air hujan, seorang ibu datang memberikan semangat untuk putrinya.
"Sayang." Ucap Britney yang mendekati Abyaz dan Abyaz langsung terisak dalam dekapan sang Mama.
"Mama, Damar pergi. Damar dalam penyidikan. Gimana kalau Damar ditahan?" Abyaz yang seperti gadis belia seolah mengadu kepada Mamanya, tentang masalah yang terjadi pada suaminya.
Britney yang memeluknya, berkata "Sayang, kamu tidak perlu cemas. Allah pasti melindungi orang yang tidak salah. Mama yakin, kalau Damar tidak bersalah."
Abyaz yang masih menangis dengan sesenggukan, berkata "Buktinya, dia tidak pulang. Ponselnya dari tadi udah nggak aktif."
"Ya mungkin masih ada interogasi, jadi ada beberapa pemeriksaan dan Damar banyak ditanya oleh petugas yang berwenang. Tapi Mama sangat yakin, Damar pasti akan segera pulang."
Perlahan Abyaz mulai tenang, dan Britney mengusap air mata Abyaz. Dengan penuh rasa sayang, Britney mengelus rambutnya.
"Sudah sore, ayo mandi. Rambut kamu sudah lepek." Ucap Britney yang merayu putri manjanya.
"Emmh,..."
"Kamu sudah menikah, jangan seperti dulu yang ngunci diri di kamar. Apa kamu tidak malu sama semua pelayan yang sudah membujuk kamu?"
Abyaz mulai tenang, di luar hujan sangat deras. Tapi dia hanya mengurung diri di kamar dan tidak henti menangis. Sudah jam 16.30 WIB.
"Ya udah, Abyaz mau mandi."
"Mama tunggu di luar. Ada Owen juga di bawah sama Kakak. Al juga ikut kesini."
Abyaz hanya mengangguk dan Britney segera keluar dari kamar itu.
Abyaz yang berada di kamarnya sendiri, dan sudah satu jam lebih dia mengurung diri di kamar.
Britney yang tadi pagi mendapat kabar dari suaminya. Kalau menantunya tersandung masalah, akhirnya dia dan Alvaro berangkat ke Jakarta. Jam 2 siang tiba di Bandara Internasional. Lalu di jemput Alishba dan Giel.
Sang menantu dokternya tidak bisa menjemput ibu mertuanya, karena ada jadwal operasi pasiennya. Jadi, Alishba meminta Giel untuk menjemput sang Mama dan Adikknya. Pras juga tidak tahu kalau istrinya akan datang, tadi pagi hanya menelfonnya dan Britney malah mengabari Alishba.
"Gimana Ma? Apa Abyaz sudah tenang?" Tanya Alishba.
"Iya, Adik kamu sudah mulai tenang."
Keluarga itu ada di ruang tengah. Al duduk di samping Ayahnya. Owen juga tampak tertidur dalam pangkuan Mbah Pras.
"Owen bobok." Britney mengelus Owen dan menciumnya. Aroma minyak telon dan sangat khas bayi.
"Iya, habis mandi pasti bobok." Ucap Alishba.
Giel yang sedang mendapat telfon dari Viral dan dia bilang sudah mengunjungi Damar di kantor tim penyidik.
"Kak Giel, sudah sering kesini?" Tanya Alvaro.
"Baru 2 kali. Waktu itu sama Damar. Dari kantor, terus Kak Giel diajak kesini."
"Owh, tadi jalannya sangat jauh. Masih area hutan. Apa tidak seram kalau malam-malam di jalan tadi."
Giel tersenyum dan Pras juga tersenyum.
Alvaro hampir sama seperti Abyaz yang penakut. Melihat tadi, saat mobil yang masuk dari berrier gate dan sampai di rumah itu, ya ada sekitar 4 kilometer.
"Emh, tidak jauh Al. Karena kamu baru pertama kali."
"Kakak juga baru 2 kali." Balasnya.
"Al, disini memang kalau malam masih ada suara tonggeret."
Alvaro semakin merinding, dan bertanya "Tonggeret apaan Pa?"
"Serangga yang ada di hutan. Suaranya nyaring. Samalam Papa duduk di luar, dengar bunyinya. Tapi kalau di dalam nggak kedengeran."
"Kenapa juga, rumah Mas Damar ada di tengah hutan."
Alishba dan Britney tersenyum.
"Bu Britney, Bu Alishba. Kamar sudah kami siapkan. Mari ikut kami." Ucap dua pelayan dan Alvaro hanya menatap mereka.
"Iya Mbak. Terima kasih." Jawab Britney dan mengikuti mereka. Koper sudah dibawa mereka.
Lalu ada satu pelayan pria yang mendekati Alvaro "Mas Alvaro, mari ikut saya. Kamarnya ada di ujung sana."
"Kenapa nggak dekat kamar Mama?"
"Tidak Mas Alvaro. Ruang atas khusus perempuan."
Alvaro tampak tidak senang, Pras tersenyum dan berkata "Nanti Papa temani. Kamu tidak usah takut."
"Kamar Papa dimana?"
"Di sana itu, dekat kamar Damar. Tapi nanti Papa temani kamu."
"Mas, aku mau satu kamar sama Papa aja."
Giel dan Pras menahan tawa, hanya tersenyum. Lalu pelayan pria itu mengantarkan Alvaro ke kamar Pras.
"Om Pras, Giel nanti juga akan menemui Damar."
Pras berkata "Itu masih hujan. Apa kamu mau pulang?"
Giel tersenyum dan berkata "Sudah tidak sederas tadi."
"Memang Damar akan berapa lama disana?"
Giel berkata "Kalau untuk kasus seperti ini, bisa jadi 5 sampai 10 hari. Bahkan dia juga akan masuk sidang dalam pengadilan. Walaupun tidak bersalah, tapi nama dia juga sudah terseret."
"Om Pras tidak perlu cemas. Kuasa hukum yang dibawa Guru Mao bukan orang sembarangan. Pasti Damar akan segera bebas."
"Kalau Om bisa mengerti keadaan ini. Memang semua pemeriksaan harus sesuai prosedur yang ada. Tapi kamu lihat sendiri, gimana kondisi Adik kamu."
"Hems, Om Pras benar. Abyaz memang susah untuk mengerti kondisi suaminya. Nanti aku juga akan bantu sebisa aku."
Tidak lama Giel sudah berpamitan dan segera ke kantor penyidik untuk menemui Damar dan Guru Mao.
Stella yang ada dalam ruang interogasi hanya senyum-senyum nggak jelas. Bahkan dia sangat lancar sekali saat menjawab pertanyaan yang diajukan petugas kepolisian.
"Nona Stella. Anda boleh pulang. Tapi, nanti akan ada pemeriksaan ulang. Mohon kerjasamanya."
"Terima kasih Bu Polwan. Pasti saya akan kooperatif." Balasnya dengan senyuman dan langsung pergi.
Menyeritkan rambut panjangnya ke belakang dengan jari-jari lentiknya, senyuman semanis madu dia berikan untuk menyapa para petugas, saat berjalan melewati mereka semua.
"Adikku, sayangnya kamu tidak melihat kehebatan aku."
Stella sangat percaya diri dan ternyata sudah ada yang menjemputnya.
"Sudah selesai?"
"Kamu datang tepat waktu."
Viral dengan gayanya yang khas dan Stella bak aktris papan atas. Mereka berdua keluar dari kantor polisi dan menuju ke rumah Kakek Sung Hoon.
"Kenapa harus kesana?"
"Mobilku masih disana."
Stella untuk pertama kalinya memegang perut laki-laki. Viral cukup mengebut saat mengantar Stella pergi ke rumah Kakek Sung Hoon.
Maghrib telah tiba, Abyaz yang masih berada di kamarnya. Saat ini, Alishba dan Britney yang menemani dia.
"Sudah, jangan dipikirkan terus. Kakak yakin Damar tidak dipenjara."
"Tetap saja. Aku juga nggak bisa menemuinya."
"Kamu kangen?"
"Nggak. Tapi masih kepikiran."
Britney tersenyum dan mengajak Abyaz untuk sholat berjama'ah.
"Aku lagi haid."
"Ya sudah, Mama mau sholat dulu."
Pantas saja sensi dan seharian juga sangat tidak senang. Apalagi ada masalah ini. Moodnya sangat tidak senang. Memang dari kemarin-kemarin sedang tidak bersemangat.
"Kalau gitu, kamu jagain Owen."
"Ya udah. Ajak kesini. Aku malas keluar kamar."
"Iya, Kakak ajak Owen kesini."
Abyaz sudah bersama Owen dan cukup gemas. Bahkan mereka berdua tampak sedang berselfie.
"Owen, Om kamu lagi apa ya? Apa dia sudah sholat?" Kembali lagi memikirkan sang teman hidupnya.
"Owen, Tante gemes sama kamu."
Di kantor tim penyidik.
Damar ikut sholat berjama'ah para petugas dan Guru Mao masih menunggu di ruangan tadi.
"Tuan Damar sudah berubah. Dia sudah dewasa." Guru Mao yang mengingat akan masa kecil Lee Eun Ho yang sangat bersikap dingin, bila bertemu seseorang. Boro-boro mengobrol, menyapa saja tidak mau.
Setelah selesai sholat maghrib, Damar kembali ke ruangannya. Sudah tampak berganti pakaian dan tampak sendu.
"Tuan kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Saya akan disini menemani Tuan."
"Tidak perlu, kamu pulang saja."
"Baiklah, nanti saya akan pulang."
"Apa Abyaz masih menangis?"
"Sepertinya tidak. Pelayan sudah tidak lagi menghubungi saya."
Damar mendengar pelayan yang tadi memberitahu Guru Mao. Damar jadi semakin rindu. Ingin rasanya segera menemui Abyaz.
"Bilang sama pengacara, cepat keluarkan aku dari sini."
"Baik Tuan Damar."
Damar yang dulu sempat berfikir, dia tidak memiliki cinta dan tidak peduli dengan kehidupannya, akan seperti apa nantinya. Tapi semenjak beberapa hari ini, dia ingin sekali hidup mencintai dan dicintai.
"Sayang, aku merindukanmu."
Di rumah, Abyaz memandangi foto Damar dari ponselnya.