ABYAZ

ABYAZ
Bab. 9. Arjuna Mengajaknya Pergi



Di waktu sama, setelah acara resepsi pernikahan itu. Sosok gadis cantik jelita, sedang berdiri di hadapan seorang pria tua, yang memakai tongkat di tangan kirinya. Meskipun, postur badan itu tegap, tapi ada cedera di kakinya.


Pria itu berkata "Kamu harus mau menandatangani ini."


Gadis itu dengan sorot mata yang tampak kosong. Hanya mencoba untuk membuka jati dirinya, setelah apa yang telah terjadi.


"Apa ini?" Selorohnya pelan dan ia hanya menerimanya.


"Itu, peninggalan Ibu kandungmu."


"Peninggalan?"


"Zolla tidak mau menerima itu. Setelah dia tahu, kalau dia bukan putri kandung Gisella."


Gadis itu dengan sorot mata itu, tampak diam dan ia bingung, perlahan ia bertanya "Apa maksud Tuan? Ibu kandungku sudah tiada?"


"Panggil aku Bapak atau Om Arman. Itu jauh lebih nyaman di dengar."


"Baik. Om Arman." Pikirnya panggilan itu lebih baik, karena dia juga baru ingin mengenal lebih dekat.


"Apa Zolla tidak bercerita kepadamu? Tentang Ibu kandung kamu?"


"Tidak. Saya tidak bertanya apapun. Saya tidak tahu menahu apa saja yang sudah terjadi."


"Zolla." Desisnya dan menyayangkan tindakan putrinya yang selama ini dia besarkan dengan penuh kemewahan. Bahkan, nama cantik pemberian darinya, Zolla tidak mau menerimanya.


"Om Arman? Jadi, Ibu kandungku?" Mata cantik itu, sudah semakin keruh rasanya.


"Ibu kamu sudah tiada."


"Tiada?" Semakin berdebar dan ia tak lagi bertopang. Sampai tangan itu meraba sebuah sofa, untuk segera menyandarkan badannya.


"Ibu kandung kamu. Meninggal dunia, satu tahun yang lalu. Karena kecelakaan."


"Kecelakaan?"


"Iya, malam itu hujan deras. Kita pulang dari Villa. Dan, terjadilah kejadian itu." Suara itu juga terdengar sendu.


"Jadi, Ibu kandungku. Sudah meninggal." Lemas sudah rasanya. Satu persatu, hal pahit telah ia terima. Tidak lagi ada tawa dan keceriaan itu.


Suasana malam yang kelam. Ingin hati menemui Ibu kandung yang melahirkan dirinya. Sayangnya, itu sudah tidak ada harapan.


"Ibu."


"Iya, itu foto ibumu. Itu Zolla. Sebelah kanan dia juga istriku dan anak-anak."


"Ibu." Ratapan itu.


Semakin hening dan hanya menatap bingkai besar. Yang ada di ruangan itu.


"Gisella, sudah pernah melihatmu."


"Ibu?"


"Dia melihatmu yang ceria. Kamu yang penuh canda tawa. Dia hanya melihat kamu dari kejauhan."


"Ibu melihatku? Dimana?"


"Di sekolahmu."


"Apa kamu tidak kenal Zolla semasa SMA?"


"Jadi, selama itu Ibuku sudah tahu."


"Iya. Waktu itu, kita berniat mengatakan padamu. Tapi, ibumu tidak mau melihatmu menjadi sedih dan pada akhirnya kamu terluka. Pada akhirnya, setelah kepergian ibumu. Zolla selalu mendesak aku untuk mengungkap semuanya."


"Semenjak kapan kalian tahu hal itu?"


"Aku dan Gisella mengetahui hal itu, setelah Zolla memasuki usia 15 tahun. Aku melakukannya, karena masalah pribadiku. Tapi, aku sangat menyayangi Zolla seperti kedua putriku yang lain. Aku juga sangat berat melepaskannya."


"Lalu, dia tahu setelah ibu meninggal?"


"Benar, Zolla tahu setelah membaca wasiat ibunya."


"Apa lagi yang tidak aku ketahui?"


"Aku akan menceritakan semuanya. Selama kamu mau menandatangani berkas itu."


"Ini?"


"Hanya itu saja." Ucapnya.


Warisan dari ibu kandungnya. Sebuah amanah yang telah diberikan kepada anak kandungnya.


"Ini?"


"Iya. Semua itu milik kamu."


"Om Arman, tapi saya masih tidak mengerti. Saya."


"Kamu tidak mempercayai aku?"


"Bukannya begitu. Tapi."


"Semua itu memang milik kamu. Ada hal lain, yang ingin aku katakan padamu. Tapi melihatmu sudah lelah. Kamu sebaiknya istirahat."


"Tuan."


"Om Arman. Apa maksudnya dengan semua ini?"


"Om Arman."


Dia yang masih bingung, akan apa yang telah ia terima. Hanya selembar kertas, yang menyatakan kalau dirinya tidak mendapatkan apapun dari seluruh aset kekayaan Presdir Arman. Karena, dia juga bukan putri kandungnya.


Setidaknya, dirinya merasa bebas. Setelah ia menandatangani itu. Memilih pergi sejauh mungkin. Apalagi, di rumah itu ada nenek sihir dan putri yang sama juteknya seperti Zolla. Apalagi, ada mantan Arjuna yang sangat dikenalnya.


"Untung aja, aku bukan anaknya. Kalau Iya. Aku akan mengutuk diriku sendiri. Apalagi harus bertemu Jovita setiap hari. Aku nggak mau." Rengeknya dan tampak terjongkok di pinggir jalan.


Dari kediaman mewah itu, dia terus saja berjalan. Dia sendiri juga bingung, akan tujuan masa depannya.


"Aku masih punya uang."


Dia tersenyum melihat lembaran uang yang ada di dalam tasnya. Sayangnya, dia tidak pandai menghitung uang.


"Mama. Papa. Suatu saat nanti. Kalian pasti bangga sama aku." Kembali bangkit untuk berjalan, berteman dengan udara malam.


Gadis yang tak pernah berjalan kaki dan menaiki taxi. Apalagi menaiki bus kota. Itu tidak ada dalam kesehariannya.


"Aku harus kemana?"


Saat ini, hanya memiliki kartu identitas baru. Tak ada ijazah yang bergelar atas nama dirinya. Semua rasanya telah percuma. Jauh ke seberang benua, untuk meraih gelarnya. Sayangnya, itu tidak akan berlaku untuk masa depannya.


"Arjuna? Apa aku harus menghubungi dia?" Saat berjalan, dia sangat ketakutan.


Ada mata yang memandang, ada yang juga berjalan di kanan kirinya. Pusat kota dengan gemerlap malam yang ada. Tapi, dirinya merasa sendiri dan tidak tenang.


Ia lalu memanggil sebuah taxi dan ingin pergi ke suatu tempat. Saat ini dirinya begitu dilema. Masih tidak mengerti, dengan semua masalah yang telah terjadi.


Ini sudah tengah malam. Ia turun di sebuah taman dan tidak jauh dari SMA Bintang Utama. Taman yang sering ia datangi, kala ia masih duduk di bangku SMA.


"Aaaa." Jeritnya.


Degh!


Tangan itu, membuatnya merinding. Bulu kudunya sampai berdiri dan perlahan membalikan badannya.


"Arjuna."


Suara itu masih terdengar sama.


Tadi tangan Arjuna yang telah meraih bahunya. Lalu dia sudah menatapnya. "Ayo pulang."


"Aku nggak mau."


"Ayo, kita pulang ke rumah Oma."


Dia tampak menggeleng, dan tatapan itu kembali sendu. Ia berkata "Arjuna, aku nggak mau bertemu mereka. Aku bukan siapa-siapa. Aku nggak mau merasa kecewa."


Dia telah berjongkok dan menundukan kepalanya. Kedua mata itu, kembali mengeluarkan air bening, tangisnya yang tersedu-sedu. "Sakit Arjuna. Hatiku sakit. Aku sangat kesakitan."


Arjuna menatapnya, ia juga bisa merasakan isi hati gadis itu.


"Kamu yang bilang. Aku harus bisa hidup bahagia. Aku harus membuka lembaran baru. Tapi, aku sangat kesakitan. Aku nggak bisa menatap Mama dan Papa seperti dulu, aku nggak bisa merasakan pelukan Mama dan Papa seperti dulu. Aku nggak bisa berbagi cinta dengan putri kandung mereka. Aku nggak bisa. Aku nggak kuat. Hatiku rasanya sakit sekali."


Suara yang tersengal-sengal, dan Arjuna telah mendekat. Meraihnya ke dalam pelukannya.


Arjuna juga meneteskan air matanya. Turut merasakan luka hati gadis itu.


"Kamu ingin pergi kemana?"


"Aku tidak tahu."


"Gadis bodoh."


Dia yang masih dalam dekapan Arjuna. Meski usianya sudah terbilang dewasa. Tapi, gadis itu memang sangat kekanakan. Lalu, apa yang akan dia lakukan? Apa dia bisa membuka lembaran baru tanpa keluarganya? Apa yang akan terjadi, bila dirinya bukan lagi seorang putri.


"Aku akan menjagamu."


"Kamu ikut aku. Aku ada tempat untuk kamu tinggal."


"Dimana?"


"Pokoknya ada. Nanti kamu bisa tinggal disana."


"Jauh dari rumah Mama?"


"Iya. Lumayan jauh dari sana."


"Baik, aku mau ikut sama kamu."


"Sudah, jangan nangis lagi. Soalnya aku nggak bawa ember."


Ia pergi mengikuti langkah kaki Arjuna "Kamu bisa tahu, kalau aku ada disini?"


"Aku selalu tahu."


"Emh, tumben kamu perhatian sama aku?"


"Dari dulu aku juga perhatian."


Dari ujung jalan, ada mobil sedan hitam dan pengandara mobil itu telah mengawasi mereka berdua.


"Silakan Nona." Arjuna yang membuka pintu mobilnya."


"Terima kasih." Ia merasa senang atas perlakuan Arjuna kepadanya.