
Hari yang sungguh tidak terbayangkan oleh Gaby. Dirinya sudah mengakui, telah membuat masalah besar. Di hadapan Alvaro, Gaby meminta maaf kepada Papa Pras dan Mama Britney.
Gaby yang berlutut dihadapan kedua orang tua ini, dan menangis. Air mata yang penuh rasa kasih. Gaby yang menyesal atas kebohongannya itu.
Tidak ada niat dalam hati kecilnya, untuk membohongi keluarga Papa Pras dan Mama Britney.
Alvaro yang telah menjelaskan dan Gaby saat ini masih bersimpuh dihadapan Papa Pras dan Mama Britney.
"Jadi, kamu ini anaknya Langit Mahatma?" Tanya Mama Britney dengan lembut.
"Iya." Gaby yang masih menangis.
"Ternyata kamu keponakan, Vava. Kenapa, aku bisa tidak tahu." Mama Britney yang merasa tidak nyaman. Perasaannya begitu rapuh, apalagi semakin usia, pikirannya tidak seperti semasa muda. Sulit untuk berfikir jernih dan menerima penjelasan ini.
Alvaro mengambilkan minum, dan memberikan kepada sang Papa, "Mama, minum obatnya."
Setelah itu Papa Pras terdiam, namun saat ia menatap Gaby. Papa Pras jadi mengerti, apa alasan Gaby membohongi mereka semua.
Papa Pras merangkul bahu sang istri, lalu berkata "Mama istirahat saja."
Mama Britney bertanya "Apa Vava tahu, kamu tinggal sendirian?"
"Iya."
Papa Pras memegang tangan istrinya, agar sang istri bisa lebih tenang. Mama Britney yang dari tadi gemetar, saat Alvaro menjelaskan tentang sosok Gaby sebenarnya.
"Apa Vava tahu tempat tinggal kamu yang sekarang?"
"Budhe tidak tahu."
Mama Britney menoleh ke wajah Al dan suaminya "Papa, apa yang harus kita lakukan sama keluarga Lingga?"
"Mama yang tenang." Ucap Papa Pras yang membesarkan hati sang istri.
"Apa Vava yang mengusir kamu, dari rumahnya?" Perasaannya gelisah.
"Mama." Alvaro yang menyela dan berusaha untuk menyudahi masalah ini.
"Budhe Vava tidak mengusir Gaby. Tapi Gaby sendiri yang ingin pergi."
Alvaro menggeleng, berkata "Gaby..."
"Gaby tahu, semua ini karena Gaby. Budhe Vava juga berat hati."
Papa Pras, dengan lembut berkata "Mama, sebaiknya istirahat."
Gaby yang bersimpuh di hadapannya. "Mama, maafin Gaby. Gaby tidak berniat untuk melukai hati Mama."
"Sudah, kamu juga harus tidur. Ini sudah malam." Ucap sang Mama dan ia lekas pergi meninggalkan ruang tengah.
Setelah sholat isya', Al mengajak Gaby untuk kembali ke rumahnya dan ia segera menjelaskan masalah Gaby. Lebih cepat lebih baik, pikirnya Al. Dari pada nantinya, malah sang Mama dan Papa mendengar kabarnya dari orang lain. Setidaknya, sebagai suami. Al harus bisa menjaga dan melindungi istrinya. Meskipun, Gaby bersalah. Dia tetap harus bisa melindunginya.
Papa Pras memapah istrinya ke kamar dan Alvaro memeluk Gaby di sofa yang ada di ruang tengah rumahnya.
"Mas Al..." Gaby yang masih terus saja menangis.
"Sayang, sudah ya. Jangan menangis terus."
"Tapi Mama belum maafin Gaby."
"Kita harus kasih waktu buat Mama."
Setelah di kamar, Mama Britney duduk di atas tempat tidur. Sang Papa masih menemaninya.
"Papa, tolong ambilkan ponsel Mama."
"Mama, ini sudah malam. Mama tidur ya."
"Biar Mama bertanya sama Vava."
Papa Pras menggeleng "Mama, tidak perlu menghubunginya."
"Tapi Mama ingin tahu dari kedua belah pihak."
Papa Pras dengan tenang berkata "Mama, dari awal Papa sudah bertemu Gaby."
"Papa sudah bertemu Gaby?
"Iya, waktu di acara arisan Abyaz. Papa melihat Gaby bersama Lingga. Tapi, Papa pikir, dia modelnya Lingga. Lalu, malamnya Papa balik lagi dan bertemu di lift. Gaby menangis. Papa juga tidak menegurnya, hanya merasa kalau Gaby lagi ada masalah."
"Kenapa Papa tidak bilang?"
"Papa tidak ingin mematahkan hati Mama. Dari awal Mama sudah antusias ingin menikahkan Alvaro. Bagaimana Papa tega, mengulas masalah Gaby dengan Lingga. Papa hanya mengamati Gaby setiap berada disini. Yang Papa lihat Gaby anaknya polos, baik dan tidak aneh-aneh."
"Terus, apa lagi yang Papa tahu?"
"Papa hanya tahu soal itu. Tadi pagi, Kartu keluarga yang dilampirkan Gaby. Tidak ada masalah, dan memang nama orang tua Yusuf dan Danial. Itu saja yang Papa baca."
"Mama istirahat saja. Biar Alvaro sendiri yang menyelesaikan masalah istrinya."
"Tapi Papa, ini masalah Vava."
"Mama, apa kamu sudah lupa. Bagaimana sikap Vava yang lebih membela menantunya?"
"Masalah itu sudah berlalu."
"Kalau sudah berlalu, kenapa setiap saat Mama membahas pernikahan di depan Alvaro."
"Tapi Pa, soal Gaby."
"Mama, Gaby menantu kita. Mulai saat ini kita harus menjaganya. Apapun keadaan kita. Mereka yang harus menghormati keluarga kita. Termasuk, Gaby."
"Papa, apa Mama sudah kelewat batas sama Gaby?"
"Sudahlah, Mama tidak perlu banyak pikiran. Sekarang Mama yang tenang. Mama istirahat. Besok kalau sudah jauh lebih tenang. Kita bicara lagi sama Gaby.
"Iya."
Beberapa saat kemudian, Papa Pras kembali ke ruang tamu. Melihat Alvaro yang perhatian kepada Gaby. Tampak mendekap dan mengelus rambut Gaby.
"Al, Mama sudah tidur. Kamu ajak istrimu ke kamar."
"Iya Pa." Jawabnya.
Gaby yang masih sendu, bertanya "Papa, gimana keadaan Mama?"
"Mama sudah tidur. Kamu juga harus tidur. Besok kamu harus sekolah."
"Papa. Gaby minta maaf."
"Sudahlah, Papa tidak marah sama kamu. Papa dan Mama hanya butuh waktu, untuk menerima kenyataan ini."
"Gaby yang salah. Gaby sudah salah."
"Gaby, menurutlah sama suami kamu."
"Baik Papa."
Alvaro mengajaknya ke kamar dan Gaby masih menoleh ke arah Papa Pras.
"Bahkan, disaat Gaby salah. Papa tidak marah sama Gaby."
Gaby perlahan menopangkan kepalanya ke dada Alvaro. Perasaan gelisah itu, semakin tenang dikala Alvaro berada disisinya.
Sudah pukul 11 malam, dan di tempat lain. Viral yang baru saja tiba di kediaman Limar Mahatma.
Viral yang berjalan menuju ruang kerja sang Mama. Dia tampak kesal dan ada rasa kecewa.
"Mama pasti sudah tidur." Gumamnya.
Viral yang menatap bingkai besar di hadapannya.
"Eyang, kenapa keluarga Mahatma bisa terpecah belah begini? Apa kesalahan Eyang? Sampai para anak dan cucu Eyang mendapat balasannya. Karma apa ini Eyang?"
"Jangan salahin Viral, kalau sampai keluarga Lingga hancur."
Viral yang masih menatap foto Yuda Mahatma bersama istrinya. Viral sang cucu pertama keluarga Mahatma. Meski dilahirkan saat sang Mama dalam tahanan dan ia tidak banyak tahu tentang masa lalu Eyangnya.
Namun, Viral selalu membela yang lemah. Dia nekatan, dan tidak pandang bulu, meski itu kerabatnya sendiri.
"Eyang mau, Viral menduduki kursi Eyang?"
"Apa Eyang ingin, Viral menghancurkan Mahatma Corporation?"
Entah kenapa, setelah mendengar tentang Gaby tadi, pikirannya semakin tertuju pada Mahatma Corporation.
"Baiklah, kalau itu yang Eyang mau. Viral akan segera melaksanakan tugas ini dengan sebaik mungkin."
Viral memberikan kiss bye kepada Eyang Yuda yang ada dalam foto itu. Kegilaan apa yang akan Viral perbuat nantinya. Apakah ini sebuah pembalasan atau tentang hubungan kekeluargaan?
"Mama, Viral sudah kembali." Ucapnya, saat membuka pintu kamar Mamanya.
Limar yang tampak tidur menyamping dan mendekap guling. Sekarang hidupnya hanya untuk Viral. Setelah kepergian suaminya dua tahun yang lalu.
Aldo, lebih dulu meninggalkan dunia ini, karena sakit yang dideritanya. Meskipun, Limar sudah berjuang keras untuk kesembuhan suaminya. Namun, takdir berkata lain.
Setelah kepergian sang adik dan suaminya. Limar hanya sibuk mengurus Mahatma Corporation dan memenuhi semua keinginan Viral. Limar tidak peduli dengan pernikahan Viral yang berantakan, bahkan Viral yang merebutkan hak asuh atas putranya, Limar tidak ambil pusing. Yang jelas, selama Viral baik-baik saja dia tidak masalah. Detik ini juga, bila Viral menginginkan posisinya, dia akan memberikannya, meskipun Lingga menghalanginya.
"Mama, Viral akan bekerja keras."
Viral yang berniat untuk kembali ke Mahatma dengan sepenuh hati.