ABYAZ

ABYAZ
Bab. 37. Merusak Pintu Kamar



Di waktu siang, Dokter Owen dan Bulan mendatangi rumah Jimmy. Bukan Bulan namanya, kalau dia tidak tahu mereka pergi kemana.


Bulan dan Owen pergi secara terpisah, mereka telah sampai di halaman rumah Jimmy. Bulan merasa mereka memang berada di rumah ini.


"Bang Owen, aku yakin mereka ada disini."


"Ya udah, ayo jalan."


Keduanya, berjalan masuk ke rumah. Meski ada pagar tinggi tetapi pintu gerbang yang sudah berkarat dibiarkan saja terus terbuka. Halaman yang luas dan area kawasan rumah Jimmy ini termasuk sepi. Meski, rumah ini sangat dekat jalan raya utama. Tetapi, tidak ada orang luar yang tahu, kalau aktor tinggal di rumah itu.


Tampak luar seperti rumah lama dan berhantu. Tetapi begitu memasuki rumah itu, sangat modern dan terlihat ruangan yang menarik.


Bulan dan Owen sudah masuk rumah itu. Duduk di kursi tamu dan Jimmy menatap mereka berdua.


"Saya, Jimmy manager Arjuna."


"Jadi ini rumah Arjuna?" Bulan yang menatap ke ruangan itu, dan Bulan cukup mengaggumi desain interiornya.


"Ini rumah saya, bukan rumah Arjuna."


"Kamu juga suka makrame?"


"Hasil mengikuti langkah Arjuna."


Hiasan interior yang sangat indah, Bulan juga sangat menyukainya. Bulan yang tampak berdiri dan menatap makrame berukuran besar.


"Gimana kamu membawa ini?"


"Di paketin sama penjualnya."


"Owh, begitu. Aku pikir kamu di pesawat bawa ginian. Pasti berat banget."


"Setiap aku berbelanja, aku selalu minta dipaketin. Aku cuma fokus sama Arjuna."


Bulan yang duduk dan bertanya "Apa Arjuna ada dirumah?"


"Kamu ini keluarganya Beby?"


Bulan tersenyum, lalu berkata "Sorry, aku lupa memperkenalkan diri."


Bulan berkata "Aku Bulan, Kakaknya Beby. Terus ini, Bang Owen. Dia sepupu aku. Dia juga yang mau memeriksa kondisi Beby."


Jimmy berkata "Mereka ada di kamar. Mungkin sedang bobok cantik."


"Kamarnya dimana?"


"Ada di belakang, dekat ruang makan."


Bulan menoleh ke arah itu. Bang Owen tampak diam tanpa banyak berucap kata.


"Cepat bangunin, dokternya harus balik ke rumah sakit."


Bang Owen berkata "Sudah, biarkan saja."


"Kalian tunggu sebentar."


Jimmy berjalan meninggalkan mereka berdua dan memanggil Arjuna.


Mengetuk pintu kamar itu dan tidak ada yang merespon dari dalam.


"Arjuna. Jimmy berisik." Lirih Beby.


"Sayang, aku juga mengantuk."


Jimmy yang telah memanggil cukup lama dan tidak direspon oleh Arjuna.


Bulan yang merasa, kalau hal itu tidak akan berhasil. Bulan mendekati Jimmy.


"Biar aku saja." Ucap Bulan dengan senyuman manisnya.


"Silakan."


Bulan menatap pintu kamar itu.


3


2


1


Dengan tatapan manis dan kakinya sudah menendang dengan kencang.


Jimmy yang tampak melongo saat melihat Bulan.


Pintu kamar itu sudah terbuka. Kedua orang sedang tidur berpelukan, langsung syok begitu mendengar suara pintu itu.


"Kalian berdua. Bangun!" Bulan dengan tatapan tajamnya.


"Aaa... Arjuna. Aku takut sama Kak Bulan." Beby yang meletakan wajahnya kedada Arjuna.


Arjuna yang masih dengan rasa kantuk, la berkata "Apa tidak ada cara yang lebih halus?"


Bulan yang berkacak pinggang, berkata "Hanya ini yang aku bisa."


Arjuna yang masih mendekap istrinya dan Beby perlahan menoleh ke sang Bulan purnama.


"Kakak bawelku."


Bulan yang hendak pergi, ia berkata "Bang Owen sudah menunggu lama. Cepatlah kalian bangun dan pergi ke ruang tamu."


Bulan yang pergi meninggalkan kamar itu dan Jimmy menatap pintu kamarnya.


Memegang pintu itu dan Bulan berkata "Aku akan memperbaikinya."


"Kamu bisa?"


"Tukang yang bisa."


Bulan dengan gaya tengilnya pergi ke ruang tamu. Ia bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun.


Bulan sudah kembali duduk dan Owen memandangi adik perempuan ini.


"Gimana nanti Edward menghadapi kamu?"


"Bang Owen ngomong sama aku?"


"Iya, aku hanya penasaran."


"Tentang apa?"


"Tentang kamu sama Edward."


"Owh, aku sama Edward. Kita biasa saja."


"Kalian mau menikah, tapi perilakumu masih sama saja."


"Nah itu dia Bang." Bulan yang duduk santai dan menghadap ke wajah Bang Owen.


"Bang Owen tahu nggak, obat penunda kehamilan?"


"Untuk apa?"


"Bang. Masa gitu aja nggak ngerti. Aku sama Edward tinggal menghitung hari. Tapi, aku belum siap hamil dan jadi Ibu."


"Owh, itu masalahnya. Tapi menurutku, cepat hamil akan lebih baik."


"Kok begitu?"


"Aku yang 12 tahun menikah, baru tahun lalu putraku lahir."


"Merawat bayi tidak harus di rumah, Jaman sekarang, banyak orang yang merawat bayi di mana saja. Bahkan, adapula yang membawa bayinya ke tempat kerja."


"Aku mana ada pekerjaan. Aku hanya merasa kalau seorang ibu, harus ada di rumah untuk anak dan suaminya."


"Bulan, Bulan, pemikiran orang itu tidak sama. Kalau kamu mikirnya begitu terus. Bagaimana kamu ingin menikah?"


"Tadinya, aku ingin membatalkannya."


Saat berkata itu, Bulan telah melihat ke layar ponselnya.


"Bang Owen, panjang umurnya. Edward sudah di Bandara. Aku lupa untuk jemput dia."


Bulan berkata "Honey." Begitu manis saat menghubungi calon suaminya dan Owen bisa melihat perubahan aura wajah sang Bulan purnama.


Setelah menghubungi calon suaminya, Bulan lantas duduk lagi dan Owen jadi menatapnya kembali.


"Kamu tidak menjemputnya?"


"Tidak."


"Edward sudah sama Papa."


Owen berkata "Kamu harus segera pulang. Dari Jerman kesini, juga memakan waktu yang lama."


"Biarkan saja."


"Kenapa begitu?"


"Sesekali aku harus begini. Sebelum aku, jadi istrinya dan harus melayaninya setiap hari."


Saat mereka masih mengobrol, Beby dan Arjuna datang mendekat.


Beby yang tidak mau di gendong, sudah tampak di gandeng saja oleh sang suami tercinta.


"Pak Dokter. Saya.."


"Tidak apa-apa."


Dokter tampan, siap untuk memeriksa dengan alat medis yang dibawanya.


Bulan dan Arjuna saling menatap tajam.


"Arjuna, pintu kamar kamu memang harus cepat diganti, biar kamu tidur dengan nyaman."


"Kak Bulan harus memperbaikinya."


"Aku akan kirim tukang."


"Tidak bisa. Aku tidak mau orang luar melihat aku disini."


"Aku tidak bisa memperbaikinya."


"Bisa menendang nggak bisa tanggung jawab."


"Heh, aku akan tanggung jawab, tapi aku akan menyuruh orang."


Arjuna yang memegang tangan Beby dan istrinya hanya diam saja. Dokter Owen juga masih mengganti perban yang menutup luka di kepala Beby. Kedua orang itu tidak bisa diam sedikitpun.


Jimmy berkata "Arjuna, aku tidak masalah dengan pintunya. Memang sudah waktunya untuk rusak."


Arjuna menatap Jimmy dan Bulan jadi tersenyum manis.


Bulan berkata "Makanya, kamu jangan sembarangan ngajak kabur pasien rumah sakit."


"Aku nggak ngajak kabur."


"Ini buktinya, ada di depan mata."


"Tapi aku nggak ngajak kabur."


"Terus, kamu mau bilang kalau Beby yang meminta kamu begitu?"


"Memang begitu faktanya."


Beby, Jimmy, dan Dokter Owen jadi menatap sang Arjuna. Bulan semakin menggali dan tidak melepaskan Arjuna begitu saja.


"Adikku, kamu dengar sendiri. Dia suami macam apa yang tidak bisa mengerti perempuan."


"Kak Bulan yang memancing aku."


Arjuna menatap istrinya "Sayang, bukan begitu maksud aku."


Beby dengan wajah imutnya, ia berkata "Arjuna, aku nggak nyangka kamu bisa bilang begitu."


"Sayang, bukan begitu maksud aku."


"Bagus, kamu sendiri yang memperjelas kalau kamu itu sudah salah. Kamu bukan suami yang terbaik untuk adikku."


"Kak Bulan memojokan aku terus."


"Beby, kamu harus ikut aku pulang."


Beby terdiam, tangan dia masih dipegang erat oleh sang Arjuna.


"Kak Bulan. Aku juga salah, Arjuna tidak begitu."


"Owh, sekarang kamu membela Arjuna."


Beby berkata "Dia suamiku."


"Benar. Kamu istrinya Arjuna. Kamu harus bisa melayani suamimu."


Dokter Owen dan Jimmy tersenyum.


Beby seketika terdiam, setelah merasa dirinya sudah dijebak Kakaknya.


Setelah beberapa saat, Dokter Owen telah berhenti memeriksa dan perban juga sudah tampak berbeda.


"Beby, ini obat kamu."


"Iya Dokter."


"Abang nggak bisa berlama-lama disini. Abang harus balik ke rumah sakit."


Beby berkata "Bang Owen. Terima kasih. Aku jadi merepotkan Abang."


"Tidak masalah. Ini sudah menjadi tugasku. Kamu harus semangat. Itu juga udah ada obat nyeri. Pasti badan kamu rasanya sakit."


"Iya."


Bulan berkata "Beby, cepatlah sembuh. Suamimu sudah ingin dilayani."


"Tidak. Aku apa-apa bisa sendiri."


Bulan menepuk bahu Arjuna "Aku lega, ternyata kamu yang menikahi adikku."


"Memangnya, aku ini siapamu?"


"Iya, kamu yang adikku. Tapi aku nggak suka cowok playboy seperti kamu. Aku dulu dukung Mirza, karena dia lebih dewasa."


"Kakak pilih brondong."


"Itu masalah lain."


Mereka yang melihatnya jadi tersenyum, dan akhirnya sang Bulan pergi dengan bahagia. Bagaimanapun, Beby adalah Adiknya, dari bayi sampai nanti, mereka tetap akan menjadi saudara.


Setelah mereka pergi, ada yang datang.