
Ujian akhir sekolah telah usai. Santai di rumah bersama Mama mertua dan Papa mertua. Gaby begitu manja kepada Mama mertua dan minta dibuatin rujak.
Pagi-pagi saat sang suami ke SMA Pesona, bukannya sarapan roti, malah ngerujak mangga muda.
Eits, namanya juga hamil muda. Yang ngidam juga masih muda, minta dibuatin rujak mangga muda sama Mama mertua.
Papa mertua melihatnya ngilu gigi, mana giginya nantinya bakalan ompong. Tampak menggiurkan, tapi rasa masam itu membuat mulut berliur terasa ngilu.
"Papa dulu suka ngerujak, sekarang nggak kuat makan rujak."
"Gaby dulu nggak suka rujak. Tapi dari kemarin kepingin rujak. Ternyata rujak enak banget ya Pa. Seger."
"Iya, seger buat yang lagi ngidam."
Mama mertua berkata "Dulu Mama juga gitu, nggak suka mangga muda. Eh, pas hamil jadi kepingin makan mangga terus. Sampai-sampai ke kantor Mama bawa mangga. Biar kalau pingin makan, udah tersedia."
"Untung aja waktu kemarin ujian, Gaby masih belum kepingin rujak ya Ma. Bisa-bisa Gaby ngiler."
"Iya juga ya. Kamu bisa kuat nahan mual. Kalau Mama nggak bisa. Mama sempat bedrest lama, untungnya Mama kerja di kantor Kakek. Coba kalau di perusahaan orang. Bisa-bisa Mama dipecat gara-gara sering ijin."
Sang Papa mertua hanya tersenyum mendengar cerita itu. Melihat sang istri begitu memanjakan menantunya. Papa Pras sangat bersyukur. Ternyata di usianya saat ini, masih bisa melihat istrinya bahagia. Senyuman istrinya masih sama seperti dulu. Hal itu, yang membuat hatinya terasa tenang.
Papa bertanya "Gaby, teman-teman kamu jadi datang kemari?"
"Iya. Gaby lupa."
"Lupa?" Tanya Mama.
Gaby tadinya duduk lesehan dan fokus sama cobek yang ada di meja, jadi lupa temannya.
"Mama, Gaby harus pulang."
"Pulang?" Mama bingung akan perkataan Gaby barusan.
Mama mertua yang tadinya duduk di sebelahnya, jadi ikutan berdiri. Papa Pras menatap kedua perempuan ini.
"Mama, maaf. Gaby kirim alamat yang rumah sana. Tadi, Gaby juga lupa bilang sama Kak Zoe. Kalau Tata dan Ghani mau main ke rumah."
"Lo, kenapa nggak disuruh kemari saja?"
Papa menyela "Mama, ingat tidak. Gaby masih sekolah. Belum waktunya Gaby mengenalkan suami dan keluarganya."
"Tapi Mama, kemarin sudah kenalan sama Tata dan Ghani."
Gaby dengan wajah yang polos, tampak nyengir, lalu merangkul lengan tangan sang Mama "Mama, maafin Gaby."
"Maaf?"
"Mama, Tata sama Ghani, tahunya ya Mama itu ibunya Gaby. Bukan Mamanya Mas Al. Gaby minta maaf. Gaby bohong lagi."
Mama menghela nafasnya dan tampak pasrah. Sang Papa mertua berkata "Nah, itu tadi yang barusan Papa bilang sama Mama."
Mama mertua, tanpa pikir panjang. Berkata "Ya sudah, kita ke rumah sana. Mama mau temenin kamu."
Gaby yang tersenyum saja, dan Papa berkata "Mama, berikan waktunya. Gaby mau senang-senang sama temannya. Masa mudanya juga tidak akan terulang lagi."
"Tapi, nanti siapa yang nyiapin mereka minuman. Gaby lagi hamil."
"Ada Zoe. Biarkan saja Gaby sendiri kesana. Mama di rumah saja sama Papa."
"Ya sudah kalau begitu." Mama Britney yang mengalah.
Gaby memeluk sang Mama berkata "Mama, kali ini saja. Gaby akan pelan-pelan jelasin sama Tata. Biar mereka nggak kaget juga. Nanti, kalau mereka sudah tahu kenyataannya. Gaby, akan ajak mereka main ke rumah ini."
"Iya. Mama ngerti."
"Mama nggak marah sama Gaby?"
"Mama nggak marah. Kamu juga harus punya teman. Mama kemarin sudah mengenalnya mereka. Mereka anak-anak yang baik."
"Terima kasih Mama." Gaby dengan ceria dan mencium pipi kanan sang Mama mertua. Lantas pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Papa Pras tersenyum, perlahan mendekati sang istri dan memegang tangan istrinya. Papa mertua ini, selalu ada cara untuk membuat perasaan istrinya lebih tenang.
1 jam kemudian.
Sudah ada dua teman sekolah yang datang ke rumahnya. Tata dan Ghani yang sudah tiba di rumah Gaby. Tampak memandangi ruang tamu.
Gaby yang telah menyiapkan mereka minuman, dengan senyuman berkata "Tata, Ghani. Ayo minum dulu. Aku nggak nyiapkan apa-apa buat kalian berdua."
Tata berkata "Sebanyak ini, kamu bilang nggak nyiapin apa-apa."
Ghani yang tersenyum dan menatap ke isian meja. Serba minuman kaleng dan ada air mineral. Aneka snack dan juga ada cake yang dibeli Zoe di toserba yang tidak jauh dari rumah. Untungnya, pagi ini Zoe telah kembali ke rumah, dan ia yang membelikan semua pesanan Gaby.
"Jangan cuma dilihat. Ayo ambil yang kalian suka." Dengan senyuman manis dan begitu ceria.
Gaby juga sudah cukup mengenal Ghani dan Tata. Jadi, dia tahu minuman apa yang biasa dibeli Ghani dan Tata selama di sekolah.
"Tata, ayo minum. Jangan bengong aja." Ghani lantas mengambil minuman soda dan memberikan kepada Tata.
"Ghani, aku bisa buka sendiri."
"Nanti tumpah, ngotori lantai. Kasian Gaby, kalau harus ngepel."
"Kalian, biasa saja disini. Lagian, soal bersih-bersih. Aku ada asisten yang biasa beberes rumah."
"Owh, aku kirain kamu sama Kakakmu."
Sampai sekarang, yang Tata dan Ghani tahu, Zoe adalah kakaknya Gaby dan Mama Britney adalah Mamanya. Hanya Cantika yang tahu soal Gaby. Tapi, dia juga hanya sebatas tahu setelah Cantika terlibat masalah dengan Gaby.
"Emh, Kak Zoe sama aku nggak bisa beberes rumah."
Zoe yang menatap mereka dari sebuah sofa yang ada di ruang tengah.
"Udah, nggak apa-apa. Kalian santai aja disini."
"Iya Gab."
Tata yang biasa garang, tapi melihat tatapan mata Zoe, ia jadi tak berkutik.
"Gaby, kamu ini hanya tinggal sama Kakak kamu? Terus, Mama kamu dimana? Kok dari tadi aku nggak lihat."
"Mama ada, di rumah satunya. Dekat dari sini."
Ghani lantas bertanya "Gaby, apa ini rumah Kakak kamu?"
"Owh, iya rumah Kakak. Bener, rumah Kak Zoe. Tadi, aku dari rumah Mama. Kalian udah datang. Makanya Kak Zoe jemput aku."
Gaby tidak terbuka, begitu rumit masa mudamu. Ingin sekali bisa bermain bersama teman, tapi selalu ada hal yang membuat dirinya bingung.
Tata dan Ghani merasa canggung, Zoe yang mengerti ia mendekat dan berkata "Nona, saya keluar dulu."
"Iya Kak Zoe."
Ghani dan Tata juga sering mendengar, kalau Zoe memanggilnya dengan kata nona bukan dengan panggilan adik.
Zoe telah keluar, meninggalkan mereka bertiga di rumah itu.
Gaby dengan ceria berkata "Kalian nggak perlu sungkan. Anggap aja seperti kita di sekolah."
Tata dan Ghani masih menatap ke sekitar rumah. Yang menurutnya sangat bersih dan lantainya saja sampai mengkilap, tidak seperti rumah mereka. Meskipun ada pembantu, tapi rumah mereka tetap saja tidak sebersih rumahnya Gaby.
"Gaby, asisten kamu dimana?" Tanya Tata.
"Dia datang kalau sore. Kalau pagi begini. Dia kerja di tempat yang lain."
"Jadi, kayak mbak-mbak harian gitu ya?"
"Ya, bisa dibilang begitu."
Ghani yang tidak ingin penasaran, ia bertanya "Gaby, aku pernah dengar tentang kamu. Apa benar, kalau Kak Zoe itu, bodyguard kamu?"
Gaby mengangguk dengan senyuman pasrah.
"Pastesan rumah kamu bagus begini." Ujar Tata yang tidak basa basi.
Mereka bertiga masih berada di ruang tamu, Gaby lantas mengambil sebuah snack yang berisi kacang almond.
Gaby yang dag dig dug, ingin segera berkata jujur. Tapi, dirinya juga belum siap mengungkapkan. Apalagi, kalau dia sampai keceplosan soal pernikahannya, dengan guru tampan mereka.
Tata berkata "Gaby, aku ingin ke kamar mandi.
"Oke, aku temani."
Gaby lekas berdiri dan ia hendak mengantarkan Tata ke kamar mandi.
Ghani masih duduk di sofa, sembari menikmati snack yang ia ambil.
"Apa, Gaby anaknya orang kaya?"
Meski dirinya sekolah di SMA Pesona dengan biaya fantastis. Tapi, Ghani berasal dari kalangan biasanya. Tidak seperti yang lainnya.
Tata sendiri putri pertama dari keluarga yang berada. Sayangnya, dia tidak dimanjakan seperti sosok Cantika, Elsa, maupun Vika.
Meski dirinya terlihat tomboy dan garang. Tata, sebenarnya juga butuh perhatian dari keluarganya. Ya, hampir sama seperti Gaby.
Tidak lama, Tata dan Gaby kembali ke ruang tamu. Kedua perempuan ini, terlihat semakin akrab.
Ghani berkata "Gaby, aku heran sama kamu."
"Hems? Kenapa?" Gaby dengan wajah yang begitu adanya. Centil, imut dan gemesin.
"Kamu anak sultan?"
"Sultan??"
Tata menepuk bahu Ghani, "Ghani, kamu bercandanya kurang kriuk."
"Emangnya, kamu lihat wajahku yang bercanda?"
"Ye, kan aku cuma bicara." Ketusnya Tata.
Gaby tampak duduk di hadapan mereka. "Aku bukan anak sultan."