ABYAZ

ABYAZ
Ulah Motor Gagah



Keesokan harinya, di SMA Pesona. Gaby yang turun dari angkot dan Alvaro telah melewatinya begitu saja.


Terlihat Gaby yang manyun-manyun, tampak sedang mengumpat Pak guru olah raganya itu.


"Dasar. Guru Kejam." Karena motor Al, telah menciptratkan air genangan yang ada di dekat Gaby.


Baru saja, ia turun dari angkot sudah tertimpa kesialan. Sepatu dan kaos kaki warna putih itu, tampak kotor dan ia tidak henti mengerutuki perkataan sinis kepada guru tampan ini.


Gaby berlari mengejar motor gagah itu ke area parkir. Bukan Gaby namanya, kalau dia bisa bersantai saat ada orang yang seperti Pak Al. Entah sengaja atau tidak, Pak Al adalah pelaku utama.


"Pak." Panggil Gaby yang menatapnya.


Al yang baru melepas jaketnya, menoleh ke kanan kiri, lalu bertanya "Aku?"


"Iya, siapa lagi kalau bukan Pak Alvaro."


Entah perasaan apa ini, Al yang tadinya ingin tersenyum. Namun, dia tetap menjaga imeg dinginnya.


"Ada apa?" Al yang masih sibuk dengan jaket dan helmnya.


Gaby mengangkat kakinya, berkata "Ini."


Alvaro tidak mengerti, dan hanya melihat sekilas saja.


"Apa?" Tanyanya.


Beberapa murid telah menatap mereka berdua. Ada pula yang melihat dari kejauhan. Terus, ada beberapa murid yang memang tidak peduli pada mereka berdua.


"Ini sepatu Gaby." Dia juga menunjuk ke arah sepatunya.


"Terus, kenapa?" Alvaro tidak mengerti.


Gaby beraksi "Tadi Gaby baru turun dari angkot, Pak Al lewat gitu aja. Ini, motor Bapak udah nggak sopan. Dia, mengiprat genangan air sampai menodai sepatu kesayangan saya."


Pak Al bertanya "Menodai?"


"Emh, iya menodai, mengotori sepatu saya. Ini sepatu Gaby jadi buluk. Nih, coklat-coklat, gimana ini? Bapak harus bertanggung jawab." Suara itu begitu kencang. Gaby tidak henti menerocos.


Semakin banyak mata yang menatap mereka berdua.


"Hah, Pak Al menodai Gaby?"


"Minta tanggung jawab."


"Apa hubungan Pak Al sama anak baru itu?"


"Pak Al ternyata mesum ya."


"Pantes saja sok kegantengan, mainnya begitu."


"Duh, nggak nyangka. Pak Al yang terlihat sopan dan menawan, tega berbuat itu sama muridnya."


Dalam hati para murid, semua hal buruk tertuju pada Pak Al. Seolah, Gaby adalah korban yang sudah dinodai.


"Iya, saya mengerti. Sini sepatu kamu." Pak Al berjongkok dan melepas sepatu Gaby.


Kriing!!


Semua murid pergi, ia berlari ke kelas masing-masing karena suara bell masuk sekolah.


"Pak Al. Hentikan!"


"Diam! Nurut aja." Ucapnya tegas.


"Galak bener. Tapi kenapa aku bisa nurut?" Batin Gaby.


Al melepas semua sepatu Gaby, lalu dia memberikan sandal karet yang ada di dalam tas ranselnya.


"Pakai ini." Ucapnya. Memakaikan ke kaki Gaby.


Gaby mulai merasa aneh "Pak Al, ini sendalnya kegedean. Kaki Gaby nggak nyaman."


"Nanti aku cariin yang lebih kecil. Berapa ukurannya?"


"Size 37." Jawabnya dan ukuran sandal Pak Al itu 42.


"Sana belajar, nanti ke ruangan saya."


"Okay." Gaby berjalan seperti badut.


"Anak bandel." Batinnya senang.


Sepertinya, memang ada hal berbeda. Entah kenapa, ada rasa nyaman ketika berhadapan dengan murid centilnya ini.


Pak Al yang melihat Gaby berjalan. Ternyata, Pak Al merasakan hal berbeda. Namun, lagi-lagi dia mengelaknya.


Pak Guru tampan itu, segera menuju ruang kantornya. Iya bersiap-siap untuk mengajar kelas XII IA. 5.


Meletakan sepatu Gaby di sebuah rak sepatu dan ia langsung berganti kaos olah raga yang diambil dari tas ransel.


"Nggak ada Papa di rumah, aku jadi terlambat." Gumamnya, Al memang anak Papa.


Apapun, Papa siapkan untuk anak tampannya, dari pakaian, jaket dan helm. Bahkan, motor kebanggannya, siapa lagi yang mengelap sampai kinclong kalau bukan sang Papa.


"Selamat Pagi Bu Betty. Maaf, saya terlambat." Ucapnya dan masih jalan seperti badut. Bukan Gaby, kalau tidak bisa bertingkah unik.


Semua murid di kelasnya menatap aneh, hanya Ghani yang cuek dan fokus pada lembaran tugas-tugas temannya.


"Gaby, kumpulkan tugas kamu ke Ghani." Ucap Bu Betty pada Gaby.


"Baik Bu Betty." Ia langsung membuka tas dan mencari lembar tugasnya. Lalu, kembali berjalan ke depan seperti bebek.


Si tomboy berkata "Ini anak caper muluk."


Bu Betty menarik kacamatanya, untuk menatap kaki Gaby. Memastikan kacamata yang di pakai benar "Gaby, kamu tidak memakai sepatu?"


Gaby hanya menggeleng dengan imut.


Bu Betty, guru yang bertubuh gemoy, body aduhai dan berkulit putih. Ia selalu tegas saat mengajar, namun guru satu ini juga ramah dan pandai bercerita.


Setelah Bu Betty selesai mengajar, dia memanggil Gaby agar ikut dengannya.


"Bu Betty, kita mau kemana?"


"Toko sekolah."


"Kenapa kesana?"


"Nyariin sepatu kamu." Jawabnya dan Gaby masih berjalan dibelakangnya.


"Tapi sepatu Gaby ada sama Pak Al."


Tuing!


Bu Betty membalikan badan, ia menatap wajah Gaby. Kemudian mengamati dari ujung kaki sampai ke atas rambut Gaby.


Gaby bingung, tapi menjawab "Iya, Bu Betty."


"Apa Pak Al berlaku kejam sama kamu?" Tanyanya dengan suara pelan.


Gaby berkata "Iya, tadi di depan gerbang."


"Hem, di depan gerbang sekolah kita?"


Gaby mengangguk. "Iya, di depan sana." Sambil menunjuk tempat perkara kejadian.


Bu Betty mendengar desas desus, soal Pak Alvaro yang sering menyuruh Gaby.


"Apa Pak Al, suka sama kamu?"


Gaby terpingkal dan tawanya itu seperti tak ada beban, lalu berkata "Mana mungkin. Bu Betty bisa saja."


"Gaby, biasanya kalau orang begitu. Dia suka sama kamu."


Gaby membatin "Jangan sampai yang dikatakan Bu Betty itu terjadi. Aku juga nggak boleh menyukai Pak Al."


"Bu Betty tenang saja. Nggak mungkin Pak Al yang kejam bisa suka sama Gaby."


"Berarti benar, dia kejam sama kamu?" Bu Betty suka kepo.


"Bukan begitu, tapi dia suka perintah Gaby seenaknya sendiri. Guru macam apa yang tega nyuruh-nyuruh murid perempuan."


Bu Betty, lalu kembali mengajaknya berjalan "Sudah, kita bahas lagi nanti."


"Nanti?" Batin Gaby, kenapa dia malah berteman dengan sang guru ini.


"Iya Bu Betty, nanti jam istirahat saya akan ke ruangan Bu Betty." Gaby seperti adik yang menurut kepada kakaknya.


Perkara sepatu kesayangan kecipratan air aja, jadi cerita panjang. Gaby ini, kecil-kecil suka mencari sensasi.


Siang hari, selepas istirahat siang. Pak Al dipanggil ke ruang kepala sekolah.


"Pak Al, apa gosip itu benar?"


Pak Al bertanya balik "Kalau boleh saya tahu, Gosip tentang apa ya Pak?"


Kepala sekolah melirik ke kanan, di balik jendela ada sosok pengadu dan ternyata kepala sekolah ini juga tidak ingin api panas semakin membakar sekolahnya.


"Gosip tentang murid yang bernama Gaby dan anda Pak Al."


"Saya dan Gaby?"


"Benar, desas desus dari pagi tadi sudah menyebar. Kalau anda menodai anak murid anda yang bernama Gaby."


"Saya? Menodai?" Pak Al yang terlihat syok.


"Ya seperti itu, dari aduan yang saya dengar."


Pak Al sendiri bingung, kenapa bisa ada gosip seperti itu. Lantas dia berkata "Untuk meluruskan semua masalah ini. Pak Lukman juga harus memanggil Gaby dan orang yang menyebar gosip itu. Karena saya tidak berbuat apa-apa."


Pak Lukman berkata "Baik Pak Al. Semuanya harus beres siang ini juga."


Brraaagh!!


Di ruang kelas, gebrakan meja terdengar kencang.


"Kamu pandai menggoda Pak Alvaroku."


Gaby yang masih menulis tugas tambahan, dia hanya mengangkat kepalanya dan menatap Cantika.


"Kamu lagi." Lirihnya.


Elsa, mengangkat kerah leher Gaby dan menariknya keras-keras "Gadis ******."


Gaby yang tersulut amarah, dia tidak tinggal diam. Menyekek Elsa dengan kencang "Kamu bilang apa barusan?!"


Vika dan Cantika menarik Gaby sekuat-kuatnya.


Gubrrak... Gedubrragh!


Seorang petugas sekolah datang dan hendak memanggil Gaby.


"Hentikan!!!"


Gaby yang sudah emosi dan tampak beberapa cakaran melukai wajah serta tangannya.


Elsa yang sesak nafasnya, karena tangan Gaby begitu kuat menekannya.


"Apa-apaan ini??!" Suaranya terdengar tegas.


Ghani mendekat, berkata "Pak, mereka bertiga duluan yang masuk kelas sembarangan."


Cantika menatap ke Ghani.


Meski si tomboy tidak suka dengan Gaby, tapi dia melihat fakta kalau Gaby telah terpancing emosi.


"Pak, Gaby memang bersalah." Ucap si tomboy.


Semua menatap Gaby, lalu tomboy berkata lagi "Elsa, yang mulai lebih dulu Pak. Ini buktinya, kancing kerah baju Gaby sampai terlepas."


Suasana menjadi kacau, Gaby juga sama dan matanya berkaca-kaca.


"Kalian berempat, ikut saya ke kantor kepala sekolah."


Mereka berjalan bersama petugas, Ghani menertibkan kembali ruang kelasnya. Si tomboy merapikan meja Gaby yang berserakan, karena Vika juga mengacaukan tugas yang dikerjakan Gaby barusan.


"Pak Lukman, mereka berempat membuat gaduh."


"Pak, Gaby mencekek saya."


Pak Al duduk menghadap ke arah kepala sekolah hanya terdiam.


"Gaby, menjambak saya Pak." Cantika dengan suara lantang.


Vika berkata "Gaby juga mendorong saya sampai kebentur meja."


Gaby hanya diam, meski sebagian kulit terasa perih, akibat cakaran dari genk kupu-kupu.


"Gaby, hubungi orang tua kamu."


Gaby masih diam, tanpa pembelaan.


"Gaby."


Gaby menatap kepala sekolah dengan tegar. Gaby, berkata "Bapak kepala sekolah. Saya tidak bisa memanggil orang tua saya."


"Kenapa tidak?! Kamu sudah pernah diberi SP sama BK. Sekarang, wali kamu harus dipanggil kemari"


"Mereka tidak bisa kemari Pak." Jawabnya lagi.