
Hari yang di tunggu telah tiba. Di hotel mewah nan megah. Acara akad nikah telah dilangsungkan, dihadapan para keluarga besarnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Cinta Damayaz binti Damar Setya Ardana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?"
"SAH!"
"SAH!"
"SAH!"
"Alhamdulillah."
Suasana mengharu membiru, disertai panjatan do'a untuk kedua mempelai.
Langkah kaki itu, melangkah dengan pasti. Mirza, telah resmi menikahi Cinta Damayaz, dihadapan kedua keluarga besar ini. Wajah itu, tatapan itu, kian berubah, saat seseorang yang berjalan mendekat dengan senyuman manisnya.
"Mas Mirza."
Mirza yang seakan terpaksa, tapi ini sudah menjadi keputusannya. Menatap mempelai wanita dengan sikap dewasa.
Dua jam sebelum acara akad nikad di langsungkan. Cinta yang meninggalkan sebuah surat dan ia telah menandatangi lembaran yang tersirat atas nama Cinta Damayaz, sudah sah di hadapan hukum.
Gugatan itu telah di terima Cinta dengan lapang hati. Mengingat akan perkataan Arjuna, kalau dirinya harus membuka lembaran baru.
Akhirnya, dua minggu sebelum acara pernikahannya di laksanakan. Dirinya menemui Zolla secara pribadi, lalu mereka berdua telah mendatangkan kuasa hukum mereka berdua. Akhirnya, secara hukum mereka berdua telah berganti nama.
Cinta mengajukan nama dan mengganti nama yang dibuatnya sendiri. Dirinya telah menyerahkan nama Cinta, untuk Zolla. Mereka berdua sudah saling menerima kenyataan pahit ini.
Cinta juga akan menjalani hidup baru, dengan nama baru yang telah menjadi pilihannya.
Cinta yang tidak berpamitan dan seakan telah menghilang dalam sekejap. Kedua orang tua itu, dikala seharusnya bisa melihat putri yang dicintai bersanding di pelaminan. Tetapi, hanya ada air mata yang telah menghiasi pernikahan Cinta Damayaz.
Bukan hanya Mama Abyaz dan Papa Damar yang menangis. Seluruh keluarga besarnya, juga merasakan hal yang sama.
"Cinta."
Arjuna yang datang dalam diam, ia hanya memenuhi sebuah undangan. Melihat akan apa yang ada di depan kedua matanya.
Arjuna berkata "Cinta, selamat tinggal. Semoga kita bisa berjumpa kembali."
Surat itu, juga telah dibaca Arjuna. Ia juga menangis, saat membaca isian surat yang tertulis tangan. Cinta yang menulisnya dengan segenap cinta, untuk kedua orang tua tercinta, untuk keluarga besar tersayang dan juga demi dirinya sendiri.
Meskipun dirinya dalam keadaan hidup, dirinya seolah sudah mati dan tak ada yang bisa menghidupkan perasaannya. Sampai kapan dirinya akan merasakan kepahitan itu, sampai dirinya menutup mata, atau sampai dirinya menghilang bak ditelan bumi.
Meski fisik dan raga itu ada dihadapan keluarganya, sayangnya pikiran dan hati Cinta tak lagi sama.
Melihat dan menatapnya, merasakan pelukan dari kedua orang tuanya, membuat dirinya semakin rapuh, rasanya lebih sakit.
Dirinya tidak kuat lagi, untuk menjalani kehidupan seperti ini.
"Selamat untuk kalian berdua. Aku do'akan, kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah."
"Terima kasih. Terima kasih, sudah menyempatkan datang di hari pernikahanku." Balas Mirza kepada Arjuna.
Cinta yang sekarang bersanding dengan Mirza, hanya tampak menatapnya saja dan ia hanya terdiam tanpa kata.
"Kalian saudaraku. Mana mungkin, aku tidak datang di hari bahagia kalian."
Arjuna yang menoleh ke arah pengantin perempuan yang hanya tampak diam tanpa kata, hanya senyuman tipis yang telah menghiasi wajah cantiknya hari ini.
"Akhirnya, kamu yang mengatakan sendiri. Kalau aku saudara kamu. Arjuna Madaharsa."
Setelah pernikahan di gelar meriah dan tanpa ada halangan apapun. Keluarga besar mereka, juga memaklumi akan situasi yang sekarang ini.
Di kamar hotel, setelah acara resepsi selesai. Mirza dan Cinta tampak bersama.
Cinta yang duduk di depan cermin, ia melepaskan kedua antingnya dan masih menatap Mirza dari sebuah cermin.
Mirza yang telah melepaskan jas dan membuka kancing kerah kemejanya, duduk di atas tempat tidur dan tampak diam tanpa kata.
Saat acara akad nikah, mereka berdua memakai pakaian adat sunda dengan nuansa putih. Sedangkan waktu resepsi, mengusung tema modern dengan nuansa hitam.
"Mirza, aku bisa bersikap sopan dihadapan para keluarga dan tamu kamu. Tapi, kamu harus ingat perjanjian kita berdua."
Tadinya, Mirza ingin membatalkan saja pernikahannya setelah membaca surat dari calon istrinya. Sayangnya, apa yang telah di ucapkan gadis dihadapannya ini, memang benar adanya.
"Aku memang cinta. Dokumen pernikahan itu atas nama Cinta. Aku sebenarnya tidak masalah. Tapi dia, dia yang akan terhina."
"Aku tidak mengerti ucapanmu." Mirza yang saat itu semakin tak terkendali, meremas peci dan ingin meleparkan dengan rasa kesalnya.
"Aku tahu, aku tahu kalau kamu sudah mencintai dia. Tapi, dia sudah memilih jalan hidupnya sendiri."
Mirza yang saat itu tertunduk, sampai kedua kakinya terasa lemas dan ia hanya pasrah akan keadaan ini.
"Pikirkan, nama Cintamu. Semua orang tahunya nama Cinta Damayaz. Bukan fisik dan wajahnya. Aku ketika berias wajah, juga hampir mirip dengannya. Apa kamu tidak akan khawatir? Apa yang orang akan katakan? Cinta sudah meninggalkan dirimu. Lalu kedua orang tua, keluarga besar. Nama baik mereka yang akan tercemar. Bukan aku."
"Apa yang kamu inginkan?"
"Cinta, aku cinta. Menikahlah dengan nama Cinta Damayaz. Semua akan terselesaikan. Tanpa ada orang yang akan tahu."
Mirza yang tampak kesal, mengumpatnya dengan perkataan buruk.
"Mirza, mereka semua mengenalnya nama Cinta Damayaz. Para tamu juga telah mengetahui nama Mirza dan Cinta. Di semua media bisnis dan undangan hanya tertera nama Mirza dan Cinta. Bahkan, itu banner di depan dan rangkaian bunga berdatangan atas nama kamu dan Cinta Damayaz. Bukannya begitu, Mirza Cakra Binar?"
"Semudah itu kamu berkata."
"Mirza, kita sama-sama sudah dewasa. Aku sudah menawarkan nama Cinta Damayaz. Bukan aku. Aku tidak peduli kalau memang kamu ingin menyudahi pernikahan itu nantinya. Yang jelas, saat ini kedua keluarga telah menantikan kamu yang menikahi Cinta Damayaz."
"Kamu benar-benar licik."
"Aku licik?"
"Katakan sama aku. Dimana Cinta berada?"
"Cinta ada disini. Dihadapan kamu. Kalau kamu tidak percaya, panggil Arjuna. Dia sangat mengenali tulisan tangannya. Aku yakin, dia sendiri yang ingin pergi. Aku tidak memaksanya, dia sendiri yang mendatangi aku waktu itu dan ingin memberikan nama dia sama aku."
"Kamu telah memanfaatkan situasi ini."
"Aku tidak memanfaatkannya."
"Kamu keterlaluan."
"Lebih keterlaluan mana? Orang yang sudah lemah. Tapi, kamu berbuat seolah pangeran yang membantu meringankan beban hidupnya. Pikirkan itu, Mirza Cakra Binar."
Mirza yang sudah tampak berkaca-kaca.
"Mirza, apa kamu mengerti perasaan dia? Apa yang kamu pikirkan tentang dia? Aku yakin, dia sangat kesakitan dan kecewa. Meskipun, dia tersenyum dihadapan keluarga, kamu tidak bisa melihat sorot matanya yang sudah rapuh."
Mirza yang geram dan hendak mencekik gadis yang ada dihadapannya ini, tapi ia berusaha untuk tenang.
Mirza berkata "Terserah kamu."
"Aku?"
"Demi Cinta. Semuanya, akan baik-baik saja."
Mirza merasa sudah tidak bisa menjaga Cinta. Mengalah dalam perasaannya.
"Iya."
"Baik. Anggap saja kita menikah kontrak. Kalau kamu tidak puas, ceraikan namanya."
"Terserah apa maumu. Aku ikuti saja perkataanmu."
Mirza yang telah rapuh dan merasa kalah dengan gadis ini.
Maaf, tulisannya dikit-dikit.
Soalnya ini ada hubungan rumit.
Nanti perlahan semua terbongkar.
Penjelasan, nanti ada di bab-bab lanjutannya.