
Sudah jam 9 malam kedua bersaudara telah nekat mendatangi si Nyonya tua.
Duduk di ruang tamu dan masih saja menunggu. Sudah setengah jam duduk di sofa ruangan itu dan si Nyonya tua belum menemuinya.
"Mas Viral."
"Tenang, kamu harus sabar." Papi Binar merasa sudah dipermainkan oleh si Nyonya tua.
Shin-ping juga tidak terlihat sama sekali, mungkin saja masih di hotel tempatnya bekerja dan bersantai.
"Kalian menganggu waktu istirahatku." Setelahnya bertemu, bukannya menyapa manis malah ucapannya begitu sinis.
Papi Binar menatapnya penuh keraguan, dan menganggap perempuan yang ada di hadapannya ini adalah orang jahat.
"Aku tahu, kalian berdua datang kemari hanya untuk menanyakan keberadaan cucu kandungku." Tatapan itu dan hanya tertuju kepada Presdir Viral. Sangat enggan menoleh ke wajah Direktur Binar, sang putra semata wayang, yang diberikan kepada suster panti yayasan puluhan tahun yang silam.
"Berarti benar dugaanku. Kalau Nyonya Jati sudah tahu lebih dulu keberadaan mereka." Batin Presdir Viral dan duduk santai dengan senyuman khasnya.
Mata empat Nyonya Jati, masih terus mengawasi Beby dan Arjuna.
Presdir Viral bertanya "Saya, memang ingin menanyakan hal tersebut kepada Nyonya."
"Aku tidak tahu mereka pergi kemana. Meskipun aku tahu, aku juga tidak akan memberitahu kalian berdua."
Mendengar perkataan itu, sang putra semata wayangnya semakin ragu "Nyonya tua ini, apa benar Ibuku? Kenapa bisa, aku memiliki Ibu kejam seperti dia."
Presdir Viral melihat sisi sinis orang tua ini, dan sama persis tabiatnya dengan adik sepupu yang duduk di sebelahnya.
Presdir Viral berkata "Saya mengerti Nyonya."
Si Nyoya tua menatap wajah putranya dan berkata "Kamu sebagai orang tua, tidak becus mengurus masalah putrimu sendiri."
"Nyonya menasehati aku?" Wajah Binar yang sama persisnya ketika berhadapan dengan Ibu kandungnya.
Sang Kakak yang duduk di sebelahnya, telah memegang tangannya. Agar Binar tidak berlebihan saat menanggapi perkataan si Nyonya tua.
"Aku berkata benar adanya. Kamu Bapaknya, kamu yang membuat dia ada di dunia ini, tapi kamu tidak tahu apapun tentang anak kandungmu."
"Nyonya juga bersalah, memberitahu dunia kalau Beby cucu kandung anda. Masalah ini kembali muncul, karena anda."
Seandainya tidak memberitahu dunia, Arjuna akan terus dipojokan.
Disisi lain, Papi Binar sudah menutup masa lalunya dengan Gisella dan menyerahkan Beby sepenuhnya kepada Papa Damar, agar masalah aibnya dulu, tidak akan menganggu kehidupan putri kandungnya. Rasanya tengah percuma, dan Beby tetap meninggalkannya.
"Kamu berani melawan aku?"
"Seandainya, anda diam saja. Masa laluku tidak akan muncul lagi."
"Kamu memang tidak mengerti apapun."
"Ibu!!!" Suara meninggi, tampaknya keceplosan.
Binar menunduk, meski sudah usia tua, dia juga ingin merasakan jadi anak.
Si Nyonya tua mengulum senyum dan ia berkata "Kamu sudah memanggilku Ibu. Aku terima ucapanmu itu, selagi umurku masih ada."
Sunyi, hening dan seakan ruangan tamu itu menjadi gelap. Sangat aneh rasanya. Bahkan, di usianya yang saat ini, baru kali ini melihat Ibu yang melahirkannya, hadir di hadapannya.
Tidak ada perkataan selamat datang, tidak ada air mata penyesalan, tidak ada ungkapan kasih sayang untuk dirinya.
Si Nyonya tua beranjak dari kursinya dan berkata "Kalian pulang saja, tidak ada gunanya, kalian semua mencari mereka berdua."
"Nyonya, saya hanya ingin memastikan saja. Kalau memang Nyonya sudah tahu keberadaan mereka, saya jadi tenang." Presdir Viral yang mengerti situasinya.
"Pasti pengawal kamu sangat bekerja keras. Hentikan saja pencarian cucuku. Mereka berdua ada di tempat yang aman."
"Baik Nyonya Jati. Saya mengerti. Kalau begitu, saya permisi dulu." Ucap Presdir Viral dan meraih adiknya yang masih saja menunduk penuh kesakitan.
Wajah itu menatap si Nyonya tua, malah berkata "Kenapa aku harus punya Ibu kejam sepertimu??"
"Binar." Sang Kakak terus mendampingi meski usia tua, tapi pikiran adiknya saat ini sudah tidak terkendali.
"Aku juga tidak punya anak yang lemah seperti kamu." Balasnya dan tidak ada penyesalan, karena pendiriannya begitu kuat. Sudah membuang, dan tidak ingin memungutnya kembali. Meskipun, anak kandungnya sendiri.
"Aku lemah?" Suara itu sudah bergetar.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu." Lalu, si Nyonya tua berkata kepada pengawalnya "Gu, antar mereka keluar."
"Ibu mengusir aku?"
Si Nyonya tua yang tadinya, hendak berjalan lalu berkata "Aku hanya ingin ketenangan."
"Ketenangan?"
Sang kakak berbisik "Adikku, ayo kita pergi."
"Aku tidak akan pergi dari sini, sebelum Ibuku memberitahu aku, dimana putriku berada."
Mendengar hal itu, Presdir Viral jadi mengerti.
Sepertinya, harus pergi sendiri dan meninggalkan sang adik untuk menyelesaikan masalahnya. Memang seharusnya, Ibu dan anak ini bertemu dan meluapkan semua masalah yang ada dalam benak mereka.
"Aku pergi dulu." Ucap Sang Kakak dan berpamitan kepada si Nyonya tua. Lalu seorang pengawal mengantarnya keluar dari ruang tamu itu.
Semakin hening, setelah Presdir Viral meninggalkan ruang itu dan suasana tidak jauh berbeda dengan yang tadi.
"Kamu Putra Lingga Mahatma, untuk apa kamu memanggil aku, Ibu?"
Tak ada suara, dan hanya ada air mata. Sudah tampak berlutut dan sang Ibu hanya berdiri, bahkan masih membelakangi sang putra semata wayangnya.
Hanya ada dua orang yang saling terdiam. Sang putra yang tidak mengajukan pertanyaan. Yang seharusnya dia tanyakan.
"Kenapa Ibu membuangku?"
"Kenapa Ibu pergi meninggalkan aku?"
"Kenapa Ibu begitu tega kepadaku?"
"Kenapa Ibu berlaku kejam kepadaku?"
"Nyonya benar. Aku hanya putra Lingga Mahatma."
"Aku memang Ibu yang melahirkan kamu, tapi aku bukan Ibumu. Lebih baik, tidak ada ikatan diantara kita berdua."
"Aku tahu. Tidak ada anak pungut menjadi anak kandung."
Perasaan lega macam apa, tapi di usia tau begini. Rasanya sangat menyesal. Lebih baik tidak mengenalnya sama sekali.
"Lingga Mahatma, sosok Ayah yang sempurna. Tidak seperti suamiku."
"Aku tahu."
"Kamu tahu?"
"Aku tahu, Daddy yang terbaik di seluruh dunia ini."
"Kamu benar." Helaan nafas dan tidak merasa itu mengesakan. Setidaknya, sang putra semata wayangnya, berada di lingkungan yang baik.
Setelah beberapa saat kemudian, sang Ibu telah menceritakan sebuah kisah yang penuh kegelapan. Berlari dan terus berlari dari sebuah ancaman yang akan menyerang.
Sang Ibu tetap bercerita, putranya hanya mendengarkan saja. Tanpa bertanya ini dan itu, setelah berfikir panjang.
"Apa karena hal itu, Daddy selalu mengatur kehidupanku?" Sekali lagi, sang putra ini menyesal dengan isak tangisnya yang tak bersuara.
1 Jam kemudian
Presdir Viral sudah tiba di rumah Beby, dan mengatakan kalau Beby dan Arjuna ada di tempat yang aman.
"Tapi bagaiamana keadaan putriku? Apa Nyonya Jati tahu hal itu?"
"Aku tidak tahu. Nyonya Jati tidak mau mengatakannya."
"Papa, antar Mama kesana."
"Mama ini sudah malam. Nyonya Jati juga masih menyelesaikan masalah sendiri dengan putra kandungnya."
"Papa benar. Mama hanya kepikiran putri kita."
Madam Stella yang tadinya hanya diam tanpa bertanya tentang suaminya, lalu dia berkata "Aku harus menjemput suamiku."
"Stella, sudahlah."
"Viral, kamu mau menghalangi aku?"
"Suami bukan anak-anak yang harus kamu jemput. Nanti juga akan pulang sendiri kalau masalahnya sudah selesai."
"Kamu tahu sendiri, gimana kondisi suamiku."
"Tunggu saja. Biarkan dia bersama Ibu kandungnya."
Menjijing tas yang tergeletak di sofa, lalu berkata "Sepertinya, aku harus menyapa Ibu mertua."
"Stella."
"Suamiku, sudah mengakui Ibunya, aku juga harus jadi menantu yang berbakti."
Sang putra tampannya, membela Maminya "Pakde Viral, biarkan Mami pergi."
"Mirza, kamu jangan terus-terusan membela Mami kamu."
"Tetap saja aku akan membela Mami."
"Baiklah, silakan Nyonya Binar."
"Awas kalau kita bertemu lagi."
"Benar, kamu sama menakutkannya dengan Mamaku."
"Kita dari Gen yang sama."
"Pergilah." Sang Presdir ini, jadi mendesis sendiri "Kenapa para wanita dari Mahatma semuanya nekatan. Tidak Mama, tidak Stella dan juga Darra sama persisnya."
"Kak Viral, kalau aku bagaimana?"
"Kamu tetap yang paling manis, meski kamu sudah kelihatan tua." Jawabnya kepada Bunda Geby.
Bunda Gaby langsung melihat ke cermin dan menatap wajah cantiknya "Aaa,, Wajahku sudah muncul kerutan. Semua ini karena Arjuna". Batinnya yang semakin meradang, karena terlalu kebanyakan mikir tentang putra tampannya.
Madam Stella yang sudah tancap gas dan para pasangan muda juga mulai pergi meninggalkan rumah Beby setelah mendengar penjelasan dari Presdir Viral yang biasa di panggil Pakde itu.
Di dalam mobil, Stella mengingat hal beberapa waktu lalu di sebuah toko buku. Secara bersamaan mengambil buku yang sama dan saling menatap setelah kedua tangan itu memegang buku yang sama.
"Apa aku harus menyapa lebih dulu dan memaggilnya Ibu? Tapi, suamiku belum memanggilnya Ibu."
Setelah Stella melepaskan buku itu, si Nyonya tua bertanya "Kamu ingin buku ini?"
"Silakan, untuk Nyonya saja."
"Bagus. Kamu, mengalah untuk orang yang lebih tua."
Si Nyonya tua ini, memang sepertinya sudah sengaja memasuki keluarga Binar.
Itulah, yang ada dalam ingatannya.
2 jam kemudian.
Madam Stella yang mengemudikan mobilnya dengan kencang. Ada mobil yang mengikuti di belakang mobilnya.
"Untuk apa masih mengikuti aku?"
Meski usia tak lagi muda, tetap gesit dan lincah, saat mengemudikan mobil. Sat set sat set, apalagi sudah tengah malam dan jalan sudah tampak lengang.
Seet!
Duaaar!!
Kecelakaan.