ABYAZ

ABYAZ
Sebentar Saja



"Gaby?" Seorang teman yang melihat hal aneh terjadi pada Gaby.


"Yul, Yul.. Gaby!" Seorang teman itu tampak menepuk bahu Yulia.


Tangan itu seolah meminta tolong.


Yulia yang panik saat melihat Gaby tenggelam. "Tolong!!"


Yulia dan beberapa teman kelasnya "Tolongin Gaby!"


Kepanikan semakin terjadi, ketika tangan Gaby sudah tidak terlihat.


"Gaby!!!" Teriakan si Tomboy.


Mereka melihat Gaby tenggelam dalam kolam renang.


Pak Al yang fokus pada penilaian murid, tidak memperhatikan istrinya yang berada di kolam sebelahnya. Kolam yang lebih dalam dan Gaby sepertinya mengalami kram pada kaki kanannya, sampai tenggelam dalam kolam renang itu.


Ghani yang hendak membantunya juga tidak pandai berenang.


"Nona."


Bodyguard cantik segera menjeburkan dirinya ke dalam kolam dan Al berlari ke tempat itu setelah seorang murid berteriak-teriak memanggil Gaby.


Pak Al main nyemplung aja dan tidak peduli dengan sekitarnya. Pak Al mendapati Gaby ke dasar kolam. Kedua tangan Pak Al mendekap erat gadis belia itu. Pak Al yang membawanya ke atas sampai membuat dadanya sesak.


Entah kenapa, mendengar teriakan memanggil-manggil nama Gaby, dirinya seketika panik dan tidak bisa berfikir tenang.


"Gaby." Panggilnya saat meletakan tubuh itu di pinggir kolam dan Zoe juga tampak lelah dengan kepanikannya.


Zoe tidak begitu pandai berenang, dan membuat dirinya juga lemas setelah berada di sisi kolam. Zoe yang mencoba mengatur nafas dan perlahan mendekat ke arah Gaby.


Kedua tangan Al, sudah berada di atas dada Gaby dan melakukan kompresi untuk pertolongan. Berulang kali menekannya dengan pikiran panik.


Gaby yang belum terbangun dan Al segera melakukan nafas buatan dihadapan para muridnya.


Hah??!


Beberapa muridnya terheran dan ada pula yang memalingkan wajahnya, agar tidak melihatnya.


Guru tampan itu, sudah kelewat batas. Itulah yang ada dalam benak beberapa murid, namun inilah tujuannya agar Gaby bisa kembali sadar.


Al kembali melakukan kompresi pada dada itu dengan perasaan gelisah.


Huuk!!


Perlahan Gaby terbatuk hingga mengeluar air dari mulutnya.


Seketika sang suami tertunduk lemas dan menghembuskan nafas lega, saat ia melihat istrinya tersadar kembali.


"Gaby!"


Gaby kembali terbatuk dan terasa nafas yang sesak. Zoe mendekat memegang pergelangan tangan Gaby dan ia berkata "Pak Alvaro. Saya akan membawa Nona ke rumah sakit."


Gaby yang perlahan membuka mata, dengan lirih, ia berkata "Kak Zoe, Gaby baik-baik saja."


Al menggeleng dan mulai naik pitan


"Patuhlah!"


Sudah seperti ini kejadiannya, Gaby masih saja suka membantah dan tidak mau menurut.


Gaby yang meraih tangan Zoe dan ia ingin duduk. "Tadi, kaki Gaby kram. Gaby baik-baik saja."


Zoe dengan mimik wajah yang gelisah dan tidak menjawabnya. Hanya merangkul badan itu, agar Gaby tidak terjatuh.


"Terserah kamu!" Al yang berkata keras dan ia memilih pergi meninggalkan istrinya.


Dari tadi, setelah penilaian terhadap Gaby. Al sudah tampak melarang Gaby agar tidak berenang lagi. Malah tidak menurut dan akhirnya kejadian seperti ini.


Gaby merasa kalau fisiknya baik-baik saja, temannya mengajak berenang bareng dan ia tidak bisa menolak ajakan teman-temannya.


"Kak Zoe, terima kasih." Ucapnya dengan tatapan tulus.


"Pak Alvaro yang menolong Nona, bukan saya." Balasnya dan Zoe merasa lebih tenang.


Gaby kembali berkata "Tapi, baju Kak Zoe juga basah."


Si Tomboy mendekat dan memberikan handuk untuknya "Gaby, sebaiknya kamu beristirahat dulu. Pak Al sepertinya sangat marah."


Gaby menoleh ke arah Al berjalan, "Aku sudah buat dia marah?"


"Iya Ta. Terima kasih handuknya." Balasnya dan Zoe membuatnya berdiri, lalu memapahnya pergi meninggalkan area kolam renang itu.


Gaby masih menoleh ke arah suaminya. Tampak berjalan melewati suaminya dan guru olah raga ini, kembali pada pekerjaannya dengan perasaan kesal.


Pak Al yang masih basah kuyup. Ada 5 murid lagi yang harus mengkuti ujian sesi pertama ini. Nantinya, ada ujian sesi dua di bulan berikutnya, tapi dalam bidang olah raga yang lain.


Ghani melihat kalau guru olah raganya begitu marah, berkata pada Si Tomboy "Pak Al marah sama Gaby."


"Tapi, aku iri melihat mereka. Pacarku nggak bisa sepeduli itu."


"Kamu punya pacar??" Sang ketua kelas ini tampak meragukan temannya.


"Ya iyalah, emangnya kamu si kutu buku. Nggak bisa nyari pacar." Si Tomboy yang tampak meledeknya.


Ghani yang tidak terima, "Aku tidak kutu buku. Aku cuma tidak ingin menyia-nyiakan uang Ayahku."


"Owh, aku pikir kamu kutu buku." Lantas si tomboy pergi dan Ghani masih penasaran akan guru olah raganya itu.


"Ini bocah kenapa, tiba-tiba sok dekat begini?"


Al yang tidak mempedulikannya dan masih mengamati muridnya yang berenang.


"Gaby tadi, hanya pura-pura." Ucap Ghani dengan pelan.


Mendengar hal itu, Al menatap serius wajah Ghani dan ia tampak berkacak pinggang "Apa maksud kamu?!"


Ghani yang berdiri di sisi kanannya, ia berkata "Emh, Gaby hanya ingin membuktikan ucapan saya dan Tata."


Ghani tampak menyengir dan Al semakin curiga akan hubungan Gaby, Ghani dan Tata. Dari awal pelajaran olah raga hari ini, mereka bertiga tampak akrab dan tidak seperti biasanya.


"Jelaskan sama saya!" Suara pelan menyeramkan.


"Pak Al, Dewa sama Tria belum dinilai." Ghani semakin tersenyum, saat membuat guru tampan ini geram.


"Seru juga." Batin Ghani senang.


"Ghani!"


Ghani menggaruk-garuk kepala, saat melihat ekspresi sinis wajah guru tampannya.


"Ya sudah! Istirahat nanti, kamu ke ruangan saya." Ucap Al yang tampak kaku dan ia sambil memberikan nilai kepada muridnya.


"Maaf Pak, saya mau ke kantin. Nanti, kalau saya ke ruangan Bapak. Saya tidak bisa makan."


"Makannya di ruangan saya. Saya akan mentraktir kamu."


"Beneran Pak?!" Terheran.


Al berkata "Saya tunggu di ruangan saya."


"Yes!!" Batin Ghani semakin senang.


"Saya agak lama ya Pak. Saya harus ganti baju dulu dan beli minuman."


"Saya akan menyediakan makanan dan minuman kamu."


"Baik, saya segera kesana." Selorohnya dengan santai.


Ghani dengan senang hati dan sang guru tampan ini terpancing akan perkataannya barusan.


Tata si gadis tomboy juga menatap dari kejauhan, saat Ghani memberikan kode kepadanya.


Tata yang tampak tertawa dan ia berhasil mengelabuhi sang guru kulkasnya.


"Akhirnya, Pak Al beneran bucin sama Gaby. Ini kesempatan aku bikin mereka semakin renyah."


"Kress! Krees!" Oceh Tata, lalu berjalan pergi meninggalkan area kolam renang.


Waktunya istirahat pertama dan Gaby sudah tampil rapi dengan seragamnya.


Zoe tampak menyiapkan makanan untuk Gaby.


"Kak Zoe, Gaby mau makan bekal dari Mama."


Zoe bingung dan hanya menatapnya saja. Mereka berada di ruangan khusus yang disiapin kepala sekolah untuk Zoe. Sekolah swasta ini tetap membutuhkan dana tambahan, setelah Zoe meminta ijin dan memberikan surat dari Viral. Entah, kenapa kepala sekolah langsung menyuruh petugas kebersihan, untuk membersihan gudang sisi timur dan tidak jauh dari gedung olah raga. Malahan, ruang itu tempat di sebelah ruang simpan alat olah raga.


Setelah berganti pakaian, Al menuju ke gudang penyimpanan dan akhirnya mendengar suara Gaby yang merengek manja pada Zoe.


"Aa.. Kak Zoe. Gaby nggak mau minum obat ini lagi. Gaby mohon buang saja obatnya."


"Tapi Nona harus meminumnya."


"Gaby nggak bisa minum obat ini. Nanti Gaby bisa mengantuk."


Zoe mengerti, karena nanti masih ada jam pelajaran berikutnya. "Baiklah, saya akan menyimpan obat ini."


"Kak Zoe makan aja semuanya. Gaby mau makan ini." Gaby yang memeluk kotak makannya dengan gemas.


Zoe tersenyum, lalu berkata "Tapi, saya tidak terbiasa makan berdua."


"Hah?" Gaby merasa heran.


"Saya akan bawa ini keluar."


Gaby bersiap berdiri dan meminta Zoe duduk. Lalu berkata "Gaby ngerti. Kak Zoe duduk disini saja. Gaby mau ke kantin."


"Tapi Nona." Belum sampai berkata, Gaby telah kabur lebih dulu dan Zoe merasa lega, melihat keceriaan pada wajah Gaby saat ini.


Gaby yang keluar pergi dari gudang itu dan seketika bertabrakan dengan sang suami.


"Kenapa tidak mau menurut??" Bisiknya dan membuat jantung Gaby berdetak kencang.


Tangan kiri memegang ujung kaos yang dipakai Al saat ini, dengan kepala menunduk. "Aku cuma.."


Gaby kali ini susah untuk membatahnya. Suasana lorong gudang yang sepi dan kedua insan ini bertemu begitu saja. Membuat Gaby sulit mengucap kata.


"Kamu menghindariku??"


Suara itu semakin membuat perasaan Gaby tidak karuan.


"Tidak." Jawabnya lembut.


Mencoba untuk menjauh, namun sayangnya tangan Al lebih dulu menariknya dan kembali dalam dekapannya.


"Sebentar saja." Pinta suaminya.