
Malam sudah berlalu, dan pagi telah tiba.
"Pagi sayang."
"Pagi suamiku."
"Aku akan mengantar kamu."
"Tidak perlu."
"Kenapa? Aku sudah jadi suamimu."
"Kamu masih harus bekerja. Aku tidak akan menghalangi karirmu." Beby yang mengecup gemas pipi Arjuna yang sudah berstatus suami.
Semalam, setelah gosip menyebar ke penjuru dunia maya. Keluarga besar mereka telah datang dan membawakan penghulu. Ada Papa dan Mama, Papi dan Mami, Bunda dan Ayah.
Ada pula, Om Sadewa, Pakde Emran dan juga Pakde Viral. Mereka semua telah berkumpul dan menjadi saksi.
Keluarga ini, tidak ingin mempersulit kedua anak yang lagi dilanda asmara. Mereka bukan takut akan gosip itu. Setelah Opa dan Oma tahu tentang hubungan mereka, lalu menyuruh para orang itu untuk segera menikahkan Arjuna dan Beby.
Bersamaan dengan Jimmy yang menerima telephone, para keluarga besar itu sudah berada di depan rumah itu. Jimmy juga terkaget, ternyata Arjuna bukan orang sebarangan. Jimmy baru tahu, kalau Arjuna dari keluarga Mahatma.
"Arjuna, kalau aku tahu dari dulu. Aku kena pinalti juga nggak apa-apa. Kamu bisa bayar dendanya."
"Enak aja."
"Ya, uang 1 M pasti receh buat keluarga Mahatma."
Beby tersenyum, lalu berkata "Jimm, tapi nyari duit itu juga susah."
"Uu, sayangku udah tahu rasanya nyari uang susah."
"Iya, makanya aku sekarang jarang belanja."
"Tapi waktu di Bali?"
"Ya cuma sekali itu saja sayangku."
"Pintar sekali. Berarti kamu bisa mengatur keuanganku."
"Nggak mau. Mama Jimmy aja yang ngatur uangmu."
Melihat ke arah jam, Beby yang tadinya sarapan beranjak berdiri.
"Sayang, aku udah terlambat."
"Sarapan kamu belum habis."
Beby mencium tangannya dan berkata "Aku pamit dulu." Mengecup bibirnya.
"Jimmy, aku berangkat."
"Iya, hati-hati."
Beby yang pergi dan Arjuna hanya menatap istrinya yang berjalan pergi.
Jimmy bertanya "Arjuna, kamu mau klarifikasi gosip itu?"
"Untuk apa, lagian aku sudah resmi menikah. Aku juga bukan penculik."
"Aku terserah kamu. Aku tidak akan lagi memaksa kamu."
"Hemm, setelah bertemu Pakdeku kamu jadi penakut."
"Bukan takut. Pakdemu nepuk-nepuk punggung aku, agar aku tidak menyusahkan kamu."
"Hemms, Pakde Viral memang begitu. Dulu waktu aku bayi sampai usia 15 tahun, selalu saja di kawal. Mana bisa aku bermain dengan orang lain selain Cinta, Kak Noah sama saudaraku yang lain."
"Owh, pantes saja waktu SMA kamu jadi badung."
"Ya begitu. Kemana saja, aku selalu di kawal. Palingan, aku latihan berkuda, berenang, di ajak ke tempat golf. Aku sendiri jadi bosan."
"Bagus dong. Kenapa kamu malah jadi aktor?"
"Entah, aku hanya ingin aja. Aku hanya ingin melihat dunia luar dengan caraku sendiri."
"Hish, gaya. Bilang aja mau ngumpulin betina."
"Jangan begitu. Aku sekarang sudah punya istri."
"Ya ya ya. Aku paham. Aku mau siap-siap. Nanti jam 9, kita harus berangkat."
"Iya, atur saja."
Kedua orang itu, dan Arjuna dalam hati begitu senang. Sayangnya, semalam ia tidak bisa unboxing istrinya. Karena, dua hari ini, Beby sedang kedatangan tamu bulannya.
[Sayang, jangan lupa kabari aku.]
Starla yang melihat ada pesan masuk, tapi dia tidak bisa membaca pesan itu.
Starla pagi-pagi juga langsung tancap gas menuju ke Butik Gloria.
"Owh, iya. HP Beby ada sama Starla. Apa dia yang bikin gosip itu??"
Arjuna lalu berkata "Jimmy, aku mau nyusul Beby dulu."
"Iya, tapi jangan lama-lama. Nanti kita terlambat."
"Cuma mau mastiin istriku selamat sampai tujuan."
"Iya, hati-hati."
Beby yang begitu riang gembira dan ia baru saja tiba di Butik Gloria. Hanya butuh waktu 30 menit untuk menuju ke Butik itu, tapi harus melewati jalan tol. Kalau tidak, pasti bisa 1 jam lebih.
"Selamat pagi."
"Pagi."
Ketiga teman menatapnya dan Beby tampak biasa saja. Dia langsung ke ruang istirahat untuk meletakan tasnya.
Petugas kebersihan masih tampak membersihkan kamar mandi di ruang istirahat. Televisi tampak menyala, kemudian Beby melihat berita tentang Arjuna.
"Arjuna menculik gadis? Apa maksudnya??"
Beby yang tidak tahu menahu tentang gosip itu, ia lalu pergi setelah meletakan tasnya di laci khusus.
"Beby, kamu kenapa?"
"Aku nggak apa-apa."
"Kemarin, teman kamu kesini. Dia ambil ponsel kamu."
"Owh, Starla. Aku sudah tahu. Terima kasih. Aku kemarin lupa meletakan HPku di atas meja."
"Iya, namanya Starla. Tadi malam dia datang. Dia sahabat kamu?"
"Iya, dia sahabatku."
"Seperti Bu Maharani?"
"Tidak, aku kenal Bos cuma di SD saja. Kalau Starla teman di SMA."
"Owh, begitu. Apa dia orang kaya?"
"Starla?"
"Iya, aku lihat dia mengendarai mobil keren."
"Emh, iya. Dia memang anak orang kaya."
"Aku?"
"Iya, kamu punya sahabat orang kaya. Mana mungkin kamu orang nggak punya."
Belum sampai menjawab, Starla yang datang dan langsung membuka pintu itu. Wajah itu dan tatapan itu.
Beby sampai hendak berlari untuk menghindarinya.
"Cinta!!!"
Beby yang angkat tangan dan perlahan ia membalikan badan.
Kedua teman yang tadi mengintrogasi Beby sudah tampak menjauh.
"Ampun. Aku salah."
Starla dengan tatapan garang dan sudah berkacak pinggang. Telah menatap lekat wajah sahabatnya.
"Kamu, kamu, ada masalah besar tapi kamu nggak cerita sama aku."
"Aku nggak punya masalah apapun."
Beby jadi mati kutu dihadapan Starla.
"Jawab aku. Apa ini?! Arjuna? Dia sudah menculik kamu? Benar begitu??"
"Owh, itu cuma liburan keluarga. Kak Bintang pasti cerita di hari ulang tahunku."
Melihat sang sahabat yang berpenampilan aneh, lalu melihat cincin yang menyemat di jari manis Beby.
"Kamu menikah dengan Mirza?"
"Tidak."
"Cinta, aku tahu. Kamu menikah dengan Mirza."
"Starla, nanti aku jelasin. Aku sedang kerja. Nggak enak sama lainnya."
"Kamu bilang apa barusan? Kerja??"
"Iya, aku kerja disini."
Bos Maharani datang, dan melihat Starla yang menatap Beby.
"Starla, kamu kesini?"
"Kak Maharani. Dia pegawai Kakak yang paham mode??"
"Maharani Kakak kamu??"
"Iya, dia sepupuku. Apa kamu sudah lupa. Kita pernah main ke rumahnya."
"Aku tidak ingat."
"Dasar, kamu ingatnya Arjuna, Arjuna terus."
Maharani berkata "Kalian bisa membahasnya di luar."
"Bener Kak, aku memang mau nyeret ini bocah."
"Bu Bos. Aku nggak mau sama dia."
"Ayo ikut aku. Jelaskan sama aku."
"Starla, kamu tanya saja sama Kak Bintang."
"Nggak, aku mau kamu yang menjelaskan sama aku."
Beby, akhirnya menyerah dan patuh dengan sahabatnya.
Ketiga teman itu, melihatnya sampai ke luar. Starla masih memegang tangan Beby. Lalu mereka berada di mobil Starla.
Setelah beberapa menit bercerita dan sang sahabat hanya diam tanpa kata.
"Kenapa kamu diam? Tadi ingin tahu."
"Aku hanya bingung."
"Kamu nangis?"
"Aku ngerti kenapa kamu nggak mau cerita sama aku."
"Ya udah, lagian sekarang aku sudah menikah dan aku sudah tahu siapa ayah kandungku. Aku tidak sedih lagi. Kamu akan jadi Kakak iparku, kita nantinya jadi keluarga."
"Iya, aku tahu."
"Ya udah, jangan nangis."
"Aku pikir hanya dalam film. Ternyata sahabatku sendiri mengalami hal ini."
"Awalnya, aku mengira ini hanya mimpi buruk. Tapi, aku mengerti dan semua ini harus aku lalui."
Starla yang masih menangis, telah memeluk sahabatnya.
"Aku harap, kamu sama Arjuna akan selalu bahagia."
"Semoga harapanmu menjadi do'a. Aamiin."
Starla yang menyeka air mata, lalu berkata "Aku menyesal. Harusnya aku segera pulang."
"Aku tidak apa-apa."
"Aku tahu. Kamu pasti nangis terus."
"Memang, awalnya sangat sulit. Aku bahkan susah untuk menjalani kehidupan baruku dengan nama ini. Perlahan, aku bisa memulai kehidupan baruku."
"Aku minta maaf. Selama ini, aku terlalu sibuk dengan diriku. Sampai aku tidak tahu tentang kamu."
"Aku baik-baik saja."
"Terus, kamu akan tetap kerja disini?"
"Aku nyaman kerja disini."
"Aku tidak suka melihat kamu yang lemah begini."
"Kamu bilang aku lemah?"
"Iya, kamu lemah. Kamu bisa-bisanya memberikan nama kamu. Aku akan jadi kakak iparnya, aku pasti akan membalas dia."
"Hei, jangan begitu. Cinta juga banyak kesedihan. Dia hidup dalam keluarga yang tidak harmonis. Kamu tahu siapa saudara tiriku?"
"Siapa??"
"Jovita. Untung saja Om Arman bukan ayah kandungku. Kalau dia ayahku, aku pasti akan sering bertemu Jovita."
"Iya, kamu sama Jovita pernah ribut."
"Iya, cuma sama kamu. Aku nggak ribut."
"Ya iyalah, mana mempan aku sama gombalan Arjuna. Kamu aja dulu udah dibodohi sama Arjuna. Mau aja disuruh ini itu sama dia."
"Jangan begitu. Arjuna sekarang sudah jadi suamiku. Aku akan tetap membela suamiku."
"Baik Nyonya Arjuna. Saya mengerti."
"Ya udah, aku mau kerja."
"Oke, aku juga mau ada urusan."