ABYAZ

ABYAZ
Bab. 28. Sudah Tampak Akur



Turun dari mobil sedan warna putih. Menatap rumah penuh kenangan untuknya dengan jantung yang berdesir lembut, Beby mulai melangkahkan kedua kaki memasuki rumah ini.


Berjalan dengan tatapan sendu dan ia mengingat akan kenangan di rumah ini.


Begitu memasuki pintu besar yang tampak terbuka. Seketika menatap dengan perasaan haru.


Saat ini, waktu sudah senja. Beberapa pelayan telah mendekat. Kedua orang tua itu, tampak berpegangan tangan.


"Opa." Tangisnya, bersimpuh di kaki kakek senja ini.


Suara yang terdengar sendu, "Oma."


Gadis itu menangis tersedu-sedu dengan perasaan cinta untuk Opa dan Omanya. Dia sangat merindukan Opa dan Oma. Bagaimanapun, dirinya yang selalu bermanja ketika bersama, apalagi di masa SMA.


Kedua orang tua renta ini, memeluknya dengan cinta.


Skip


Othor nggak mau ada tangis-tangisan lagi. Jadi untuk cerita itu othor putus. Soalnya, gadis ini juga cucu kesayangan Oma dan Opanya.


Setelah makan malam, Beby bersama Papi Binar di ruang kerjanya. Sudah tidak ada lagi kecanggungan antara anak dan ayah kandung ini. Mereka berdua dari dulu memang sudah akrab. Apalagi dari usia 15 tahun, sudah tinggal bersama di rumah ini.


"Papi, aku nggak akan tanya apapun sama Papi. Aku sudah cukup mengerti saat ini. Kalau Papi ayah kandungku."


"Kamu tidak senang?"


"Bukannya tidak senang. Aku masih butuh waktu buat anggap Papi sebagai ayah kandungku."


"Baik, Papi tidak keberatan."


"Papi sehat?"


"Iya, Papi sehat."


"Papi harus sering cek ke dokter."


"Kamu tidak perlu cemas. Sekarang, ada kamu disini. Papi sangat sehat."


Beby yang sangat tahu, kondisi sang Papi. Bahkan saat dirinya pergi di hari pernikahan itu sang Papi ini pingsan.


Sang Mami masuk ke ruangan itu, lalu berkata "Ini hasil test DNA, kamu mau melihatnya."


"Mami, aku nggak mau melihatnya. Aku tetap anak Mami yang dulu. Aku lebih suka kita tetap begini."


"Baik, Mami akan menyimpannya."


"Papi, Mami, aku mau pulang. Nanti takut kemalaman."


Sang Mami berkata "Eits, nggak boleh. Malam ini kamu harus menginap disini."


"Papi juga masih kangen. Malam ini saja, kamu tidur disini. Kamar kamu masih sama seperti dulu."


"Benarkah??"


Sang Mami berkata "Iya, Mami juga sudah minta pelayan mengganti sprei kesukaan kamu."


"Oke, tapi malam ini aja."


"Emangnya kenapa kalau lama?"


"Arjuna, nanti kalau tiba-tiba pulang, aku nggak ada di rumah."


Kedua orang tua ini tersenyum, sang Mami duduk di sebelahnya "Jadi, kamu beneran pacaran sama Arjuna?"


"Nggak, aku putusin dia selama dia pergi."


"Owh begitu. Anak muda memang ribet pemikirannya."


"Aaa.. Mami juga pernah muda. Pasti tahu rasanya, kasmaran."


"Iya, iya. Mami nggak keberatan kamu pacaran sama Arjuna. Yang penting, kamu bahagia."


Sang Papi berkata "Papi hanya tidak suka dengan pekerjaan Arjuna."


"Aaa... Papi, aku tetep dukung dia jadi aktor. Aku malah nggak suka dia kerja kantoran."


"Papi, biarkan saja anak kita memilih pasangannya. Mau pekerjaannya seperti apa, biarkan saja. Yang penting putri kita ini bahagia."


"Iya, tapi yang dimaksud Papi itu."


"Owh, Papi menggapnya Gisella."


"Sayang, bukan begitu maksud aku."


"Papi, Mami juga bisa cemburu."


"Sayang, aku nggak bilang begitu."


Beby beranjak dari sofa dan berkata "Papi, Mami, selesaikan dulu masalah kalian. Beby mau ke kamar."


Beby berjalan pergi meninggalkan kedua orang tua ini. Disaat ia hendak ke kamar bertemu Mirza.


"Kamu tidur disini?"


"Iya Mas Mirza."


"Aku nggak nyangka, kita ternyata jadi saudara."


"Iya Mas Mirza."


"Meski dulu kita juga keluarga. Tapi,.."


"Mas Mirza, aku harap kita sama-sama bisa melupakan semuanya dan memulai kehidupan baru. Aku sangat berharap Mas Mirza bahagia bersama Cinta."


"Iya, kamu benar."


"Aku permisi dulu Mas."


"Iya."


Perasaan mereka sangat tidak nyaman, canggung dan sedikit malu.


Ya, bagaimanapun mereka pernah saling dekat sebagai pasangan. Apalagi sudah melakukan foto prewedding, orang mana yang bisa tenang bila bertemu sang mantan. Pastinya juga ada rasa gelisah tak menentu. Meskipun, sudah merelakan tetap saja Mirza juga ada rasa tidak nyaman begitu pula dengan gadis ini.


Setelah membuka pintu kamar dan ia melihat Cinta Damayaz yang duduk di kursi meja rias.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Beby ia langsung masuk ke dalam dan ia tampak menjinjing tas gaun serta membawa album foto kenangan.


"Aku tidur disini." Jawab Cinta.


Beby berkata "Harusnya kamu di kamar Maz Mirza."


"Meski kita sudah menikah. Aku masih butuh waktu dengannya."


"Cinta. Apa kita harus tidur seranjang?"


"Ya, bisa dikatakan begitu."


Cinta setelah berganti piyama dan ia tampak menyisir rambut. Tidak lupa memakai serangkaian skincare ala Cinta Damayaz.


Beby meletakan tasnya di sebuah meja dan ia langsung duduk di tempat tidur.


Duduk bersandar dan membuka foto kenangan dirinya bersama keluarga besarnya.


"Kamu baca diary aku??" Beby yang menatapnya tidak suka.


Cinta lantas mendekat dan memegang buku diary yang bertuliskan nama Cinta Damayaz.


"Ini buku Cinta Damayaz. Jadi, akulah pimilik buku ini."


"Owh, aku jadi ngerti. Pantas saja kamu ke SMA Bintang Utama dan menemui Arjuna."


"Aku tidak menemui Arjuna. Arjuna yang datang sendiri kesana. Ya mungkin saja kita berjodoh."


"Huft, nggak sopan baca tulisan aku."


"Aku jadi tahu, karena waktu Arjuna datang ke kamarku. Dia menangis tanpa sebab. Aku pikir, seperti pernah bertemu dengannya. Lalu, aku baca buku diary ini."


"Kamu benar-benar jahat."


"Aku tidak jahat. Kamu sendiri yang pergi."


"Kamu yang meminta namaku."


"Memang seharusnya itu jadi namaku."


Seketika Beby terdiam dan Cinta telah berbaring di sampingnya. Tampak memeluk guling.


"Kamu harusnya sadar. Kamu dari dulu suka sama Arjuna."


"Aku?? Suka Arjuna?"


"Iya, di diary ini kamu selalu menyebut nama Arjuna. Makanya aku mengikuti Arjuna ke Paris. Dia memergoki kamu yang berciuman dengan Mirza."


"Apa? Arjuna melihat aku..?"


"Iya, kamu yang terlalu bodoh."


"Kamu bilang aku bodoh."


Cinta yang tadinya membelakangi Beby, ia lalu menatap Beby dan berkata "Kamu masih polos. Nggak ngerti soal cinta. Mungkin saat ini kamu terbuai karena Arjuna selalu di dekatmu. Tapi, dari dulu kalian sudah saling menyukai."


"Tidak."


"Kamu masih berkata tidak. Baiklah, aku sekarang sudah menyandang nama Cinta. Kamu tidak takut, aku merebutnya kembali."


"Kamu bener-bener jahat."


"Aku tidak jahat. Kamu saja yang kekanakan. Pacaran, putus nyambung, dan mempermainkan perasaan Arjuna."


"Aku tidak mempermainkannya."


"Coba pikirkan sendiri. Betapa sakitnya hati Arjuna saat melihatmu dengan Mirza."


"Tapi, Arjuna juga sering begitu dengan wanita lain."


"Kamu memang bodoh."


"Kamu juga bodoh, sudah menikah tapi tidak bisa merayu Mas Mirza."


"Aku, harus merayu Mirza? Tidak ada dalam kamusku. Aku merayu lelaki. Bagiku, lelaki sama saja. Tidak penting buatku."


"Terus, ngapain kalian menikah?"


"Ini semua karena kamu. Apa kamu tidak memikirkan keluargamu. Padahal, aku sudah membawakan dokumen barumu. Agar kamu bisa menikah dengan Mirza. Tapi, kamu malah kabur."


"Aku tidak berfikir itu. Aku waktu itu, masih tidak bisa menerima keadaanku."


Raut wajah sendu, dan ia masih melihat Cinta yang berbaring di sampingnya.


"Sampai saat ini, aku masih membiasakan diri."


Cinta Damayaz bertanya "Kamu waktu itu, menemui Ayah Arman?"


"Iya, aku kesana. Aku syok waktu melihat foto Jovita."


"Owh, benar. Kalian pernah ribut karena Arjuna."


"Dulu kita satu sekolah, kenapa aku tidak mengenalimu?"


"Aku tidak banyak bergaul, aku lebih suka menyendiri."


"Emh, iya. Kamu dulu sama Ibu Gisella, tinggal di sana. Apa yang biasanya terjadi? Kalian semua akur tidak?"


"Aku sama Ibu tinggal di rumah belakang. Tapi, Ayah sangat mencintai Ibu."


"Owh, begitu."


"Iya, tetap saja. Mereka tidak pernah menganggap kita ada. Meskipun, Ayah juga memberikan materi lebih. Aku tidak pernah merasakan seperti kamu yang dicintai keluarga."


"Kalau Ibu Gisella bagaimana?"


"Ibu juga sesuka hatinya, jarang di rumah. Lebih suka menghabiskan waktunya di luar."


"Aku jadi mengerti perasaan kamu."


"Aku tidak apa-apa. Dari dulu aku selalu bersikap begini. Aku tidak suka bergaul dan bepergian. Aku lebih suka di rumah."


"Kalian kalau berangkat sekolah gimana? Sama Jovita?"


"Jovita selalu ada sopir yang mengantar. Aku biasanya diantar sama Ibu. Setelah itu, Ibu pergi. Baru siangnya kembali menjemput aku."


"Ibu pasti menyayangimu."


"Iya, kalau sayang pasti. Tapi, jarang sekali ada di rumah. Ibu suka berbelanja seperti kamu, dan selalu bergaul dengan para temannya."


"Apa karena itu, Ibu banyak hutang?"


"Hutang??"


"Iya, aku diberi warisan. Tapi untuk melunasi hutang Ibu. Terus, aku disuruh tanda tangan, agar tidak menuntut mereka. Seperti kamu yang menuntut Mama sama Papa."


"Gila, kamu sudah dibodohi mereka semua."


"Tapi, Om Arman bilang begitu. Ibu punya banyak hutang."


"Iya, hutang selama menghidupi Ibu dan aku. Kamu sudah dibodohi sama dia."


"Aku tidak peduli."


Keduanya mengobrol dan menceritakan masa lalu mereka berdua.


"Kita, sekarang saudara. Aku jadi adikmu di kartu keluarga."


"Dasar, kekanakan. Aku sudah buat kartu keluarga dengan Mirza. Jadi, kalian tetap sama berlima."


"Owh begitu. O iya, apa Mas Mirza juga memperlakukan kamu dengan baik?"


"Iya, sebagai suami dia baik sama aku."


"Terus, kenapa tidak tidur sekamar?"