
Satu minggu kemudian, di kampus tercinta. Menatap para saudaranya, yang sedang memperebutkan Arjuna.
Mama dan Papa mertua tak kunjung kembali, ternyata sekalian bernostalgia masa mudanya. Banyak sanak saudara di kampung halaman dan masih betah berkumpul dengan para kerabatnya.
Bilangnya Papa Pras, waktu di telephone "Mumpung lagi di Semarang. Sekalian yang lama. Jarang-jarang bisa liburan tanpa beban pikiran."
Yups, dulu masih punya tanggung jawab bujang tampan. Sekarang, merasa lebih lega. Ketika putra bungsunya itu sudah menikah. Apalagi, sudah ada cucu lagi dari putra bungsunya itu. Jadinya, ingin membagi kebahagiaan itu dengan para saudaranya.
Ada Kakak dan adik-adiknya, mengingat kembali masa mudanya dulu. Di rumah kenangan itu, ada air mata, penuh suka duka, dan mengingatkan akan kedua orang tuanya.
Ghani, Gaby dan Tata. Menatap Viral, Binar dan Darra.
"Aku maminya, jadi sama aku aja."
"Darra, kamu datang terakhir main nyerobot aja."
"Eits, kalian adik kakak jangan ribut disini. Malu, ini dulu kenanganku sama Metta."
"Nggak peduli!!" Keduanya kompak.
Viral mendekat ke arah Gaby, "Arjuna, biar sama aku aja. Itu, pengawalku sudah siap menjaga Arjuna."
"Jangan sama Kak Viral. Sama aku aja. Arjuna sama Mami Darra aja ya."
"Gaby tadi minta aku. Ya sayang, sama Pakde Binar aja ya."
Viral mendorong Binar "Kamu itu Omnya, bukan Pakde. Aku yang Pakdenya."
"Aku kalau dari Gaby ya Pakde. Kecuali dari Mas Al. Aku dipanggil Om."
"Nah, itu yang aku maksud. Arjuna pasti juga bingung, mau panggil kamu itu siapa? Pakde Binar apa Om Binar? Dia bingung, dia masih bayi udah disuruh mikir."
"Sayang, kamu sama Mami Darra aja ya. Itu, ada Papi Darren juga."
Darren yang bersandar pohon dan hanya bersedekap melihat para cucu Mahatma ini, sedang berebut Arjuna.
Memang benar kata Tata. Bahwa, Arjuna bagaikan Tahta. Yang telah diperebutkan para keluarganya.
"Gaby, percaya sama Kakakmu ini. Pakde Viral akan menjaga Arjuna dengan segenap jiwa."
"Gaby, jangan percaya omongannya. Dia cuma bisa cari muka. Semua kerjaannya, aku yang kerjain." Ucap Binar di kala itu memang benar adanya.
"Gaby, sama aku aja. Aku perempuan. Lebih tahu dari pada mereka. Mereka anak sendiri aja nggak pernah gendong."
"Aku sering gendong Noah."
"Aku juga dulu sering gendong Abel."
"Eit, sekarang kalian pulang saja. Urus anak kalian masing-masing. Kalau aku bebas." Darra yang mengejek.
"Noah jam segini udah di sekolah."
"Abel juga udah di playgrup."
Tata berbisik "Percayain sama Kak Viral saja."
Ghani juga berbisik "Mendingan ke Kak Darra deh."
"Aku tadi chatnya ke Kak Binar. Nggak tahunya malah di sebar ke Grup keluarga. Aku jadi bingung."
Arjuna yang bobok tampan dan sangat menawan. Tidak peduli seramai apa mereka berdebat.
Lantas ada yang datang menjemput dengan manisnya.
"Sayang, cucu eyang uti. Uwuh. Uwuh. Eyang terlambat. Sayang."
Wajah Gaby bersinar terang.
Suasana menjadi tenang dan semua menatap ke Mama Britney.
"Akhirnya, penyelamat datang juga." Batin Gaby dengan senang.
Mereka yang berada di depan kampus. Tepatnya di sebuah taman. Area kampus ini, terbilang sangat santai. Tenang dan tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada mahasiswanya.
Meskipun ada yang kepo, hanya satu atau dua orang saja. Di sisi ujung, ada geng kupu-kupu, lantas di dekat tempat parkir ada geng boy. Lalu, ada pula si cantik kampus yang baru tiba. Tapi, dia hanya melewatinya saja dan hanya penasaran dengan sosok berjas abu-abu.
"Sekarang, Arjuna sama Eyang Uti. Bunda biar kuliah dulu."
Gaby berdiri "Mama sama siapa?"
"Mama sendiri sama sopir. Papa kamu di rumah. Kita baru saja sampai, tapi kata Al tadi, kamu bawa Arjuna ke kampus. Makanya Mama kesini."
"Owh gitu. Ya udah, ini tasnya Arjuna."
"Biar aku aja yang bawa tasnya." Binar yang gercep mengambil tas itu.
"Makasih Kak."
Darra tanpa basa basi, langsung saja mendorong strollernya dan Viral tampak merangkul Gaby.
"Akhirnya, kita bisa damai."
Gaby tersenyum, "Berkat siapa dong?"
"Arjuna."
Viral dengan senang dalam hatinya dan menatap pemandangan itu. Darra yang mengikuti langkah kaki Mama Britney dan Binar juga berada di samping kanan Mama Britney. Tampak harmonis dan Gaby juga bisa melihat keakraban itu.
Darren dengan senyuman, melambaikan tangannya dan segera menyusul sang istri.
"Kak Viral. Terima kasih untuk semuanya. Berkat Kakak juga, semuanya terasa damai."
Viral berkata "Kalau aku perhatiin, kampus ini ada yang berubah ya."
"Apanya yang berubah?"
"Aaa, lantainya. Cat dindingnya juga."
"Iih, Kakak apaan sih?"
"Bercanda. Kita lagi di taman. Tapi, ada yang ngawasin kamu."
"Kakak tahu dari mana?"
Viral memegang kepalanya dan ia berkata "Pengawalku selalu pantau kamu. Kemana saja kamu pergi. Mereka ngawal kamu dari jauh."
"Ya, aku cuma nggak mau. Kamu dan Alvaro terlibat masalah lagi. Aku dulu nyesel banget. Nggak bisa ngejaga kamu dengan baik. Harusnya, aku sebagai suadara tertua. Aku bisa melindungi adik-adikku."
"Ya udah, sana ke kantor. Aku mau ada kuliah."
"Oke. Jangan nangis. Ntar make-up kamu luntur."
Gaby memukul dadanya, "Siapa yang nangis. Aku cuma baper aja."
Viral memeluknya, dan Gaby telah merasakan kalau keluarganya telah kembali bersama.
"Aku tahu, apa yang kamu rasakan. Kita saudara. Kita keluarga. Kalau kamu butuh sesuatu, butuh orang buat jagain Arjuna. Aku siap bantu kamu."
"Iya Kak."
"Kalau gitu. Aku balik ke kantor dulu."
"Iya. Hati-hati."
Gaby tampak melambaikan tangan kanannya. Begitu pula dengan Darra dan Binar yang melambaikan tangan kepada bayi tampan itu. Arjuna yang terlelap dalam gendongan Eyang Utinya.
"Arjuna, bikin gemes."
"Aku nggak jadi jagain dia. Kalau gitu, aku balik kerja lagi."
"Kak. Kakak masih marah sama Daddy?"
"Aku?"
"Iya, Kak Binar. Siapa lagi?"
"Nggak! Siapa juga yang marah."
"Ayolah Kak. Kakak pulang ke rumah gih."
"Aku pulang, ke pondok indah."
"Sendirian?"
"Ya sendiri. Sama siapa lagi."
Tahun lalu, Viral yang sedang di gugat cerai. Ternyata malah kembali rujuk demi sang putra. Karena, Noah ternyata sakit dan membutuhkan Ayahnya. Liu akhrinya menyerah. Demi sang putra ia harus mengalah dan membuka lembaran baru dengan Viral.
Tetapi, tahun ini. Binar menyandang status Duren. Duda keren. Pantas saja, skandal tahu lalu, kembali dengan skandal yang hampir sama. Parahnya, gosip kali ini. Binar dituduh menghamili model ambassadornya.
"Kakak sebenarnya ada masalah apa? Aku jadi bingung sama gosip yang bermunculan."
"Aku nggak ada apa-apa."
"Kak, jujur deh. Dua hari lalu, aku lihat Kakak ngobrol sama Kak Abyaz di restoran Deluxe."
"Oh, itu. Cuma ngobrol biasa aja."
"Emh, Kakak kalau lagi ada masalah. Bisa cerita ke aku."
Binar berkata "Sepertinya, adikku ini sudah dewasa."
"Kakak, aku serius."
"Iya, nanti malam. Aku akan ke rumah."
Darra tersenyum dan Darren sudah menunggu di mobil. Mereka pergi dengan arah jalan yang berbeda.
Flashback On
Siang itu di Deluxe Restoran. Abyaz yang duduk sendirian dan Vivi hanya melihatnya dari kejauhan. Abyaz yang memilih restoran ini, yang tampak terbuka.
Tamu lain, juga bisa melihatnya. Namun, di siang itu terlihat sepi pengunjung. Di kala sabtu malam saja. Pengunjung harus pesan tempat ini jauh-jauh hari.
"Sorry, aku terlambat."
"Aku juga baru datang."
Abyaz tersenyum padanya, dan pelayan sudah datang mendekat.
"Kamu mau makan apa?"
"Kamu lebih tahu, apa yang aku suka."
Abyaz dengan santai, ia memilih menu kesukaan Binar. Lantas, pelayan wanita itu pergi dari hadapan mereka berdua.
"Kamu ada perlu apa?"
Abyaz masih saja tersenyum, lantas ia berkata "Terima kasih. Buku harianku sudah kembali."
"Owh, pasti Damar."
"Iya, Mas Damar sudah cerita semuanya."
"Aku cuma berfikir kalau kamu waktu itu masih sakit. Jadi, belum bisa menerima Damar."
"Iya, tapi aku tidak sakit. Aku sangat tahu akan situasi itu. Ya, terlalu cepat untuk aku merasakan cinta yang baru. Aku juga butuh proses, untuk mengenal suamiku. Kamu pasti tahu, menikah dadakan dan tidak kenal dekat. Pasti rasanya begitu sulit."
Abyaz terdiam dan Binar berkata "Kamu memang benar. Aku juga merasa sulit untuk mencintai Imel. Makanya, aku melepaskannya. Dari pada nggak tahu ujungnya nanti. Dia juga harus bahagia."
"Kamu benar."
Setelah itu, mereka berdua hanya saling menatap dan tidak lama pesanan Abyaz sudah datang.
"Binar makanlah."
"Kamu? Masa aku makan sendirian?"
"Aku sedang puasa."
"Puasa? Tapi kamu ngajak aku makan."
"Bukannya dulu kita begitu."
Binar tampak terdiam.
"Aku masih ingat semuanya."