
Setelah lelah berjalan dan berkeliling Mall, mereka duduk manis di dalam bioskop.
Abyaz memilih film action. Karena dia takut kalau nonton film horor, sedangkan film romance, dia tidak terlalu tertarik. Menurutnya lebih keren baca novel, dari pada nonton film dengan adegan manis-manis.
Memang keanehan itu semenjak Abyaz masih di perut, sang Papa ngidamnya juga nonton film action, suka fitness dan suka pria kekar, bahkan brewokan.
Ternyata itu tipe idaman Abyaz memang pria garang yang kekar.
Sayangnya, teman hidupnya adalah pria manis dan sangat menggemaskan.
Terkadang memang begitu adanya, realita tidak sesuai ekspektasi, dan harapan sering kali tidak sesuai kenyataan.
"Aku suka pria yang begini, damage."
Abyaz memang suka pria garang, dan tampangnya yang wow. Badannya kekar dan tampak macho.
Duduk dalam barisan di kursi penonton dan sangat seru. Sudah satu jam berjalan.
Jam menunjukkan pukul 20.35 WIB. Disaat tadi suasana di sore hari begitu cerah. Malam ini hujan sangat deras. Tapi, yang nonton dalam bioskop tidak tahu apa yang terjadi di luar.
"Keren!" Ucapnya dengan suara pelan.
Tidak lama pria tampan penuh pesona itu datang.
"Tuan."
"Suttth..."
Pelayan yang duduk disebelah kanan Abyaz, akhirnya pergi dan Damar yang berganti duduk di sebelahnya.
Menatap sang istri yang fokus pada filmnya. Abyaz masih tidak sadar kalau sang suami manisnya sudah ada di dekatnya.
Saat tangan kanannya berpegang pada kursi dan tangan kiri Damar menyentuh, lalu Abyaz menoleh ke arah.
"Dam..."
Damar hanya mengangguk dengan manisnya.
Tangan kiri Damar memegang tangan kanan Abyaz, dan tidak henti menciumi tangan itu.
Damar masih saja memegang tangan Abyaz. Bahkan saat Abyaz makan popcorn dan minum. Damar yang menyuapi dia.
"Kalian, pulanglah."
"Baik Tuan."
"Masih hujan deras, kalian hati-hati."
"Iya Tuan."
Abyaz tidak banyak berkata dan sangat terdiam. Hanya pasrah dengan tindakan sang suami manisnya.
Sudah jam 9 malam, hujan masih sangat deras.
"Kamu sudah bandel, aku harus kasih hukuman buat kamu."
Abyaz hanya diam dan suaminya masih mengandeng tangan kanannya.
Damar yang membawa mobil Stella. Tiba tepat waktu. Walaupun sangat macet, tapi dia bisa sampai sebelum filmnya selesai.
"Kamu marah sama aku??"
Damar yang mengerti kalau dirinya juga salah saat bersikap seperti ini. Abyaz dari tadi hanya diam tanpa kata.
Damar juga diam dan mereka berdua terjebak kemacetan.
Hujan sudah tidak sederas tadi. Tapi, jalanan ibukota malam ini sangat padat merayap.
Tangan kiri Damar memegang kepala Abyaz dan bertanya "Kamu mau apa? Hemms,... Mau jalan-jalan?"
Abyaz masih diam, dan memalingkan wajahnya ke arah jalanan. Tidak ingin membahasnya dan diam tanpa kata. Padahal, sebelum bertemu sang suami, dia tidak henti menggerutu.
Setelah satu jam dalam kemacetan. Mereka berdua sudah tiba di sebuah hotel berbintang dan sangat lux.
Sebuah hotel yang menyuguhkan pemandangan malam kota Jakarta.
Hujan sudah reda dan Abyaz hanya diam, tatapannya hanya ke sebuah gedung-gedung pencakar langit.
Damar memeluknya dari belakang, dan berkata "Aku salah. Aku minta maaf."
Abyaz yang bersedekap dan tidak mau membahas itu. Hanya diam, dan enggan untuk membalas perkataan teman hidupnya.
"Apa aku temanmu?"
Abyaz masih terdiam dan tidak mau menjawab pertanyaan suaminya.
Damar yang meletakan dagunya pada bahu Abyaz. Lalu menoleh ke wajah cantik Abyaz. Dengan lembut mencium pipi kanan teman hidupnya.
"Aku kangen sama kamu."
"Kamu nggak mau maafin aku?"
"Kenapa diam?"
Damar yang melihat sang istri hanya diam tanpa kata. Dirinya sadar sudah salah, sudah pergi dengan segala kesibukan dirinya dan dia sudah mengekang istrinya.
"Abyaz,..."
"Kucing manismu juga lelah."
"Ayolah, jangan biarkan kucing manismu gelisah."
Perasaan dikala kedua orang ini sangat tidak bisa dimengerti, ada ego dalam diri seseorang dikala rindu mendera. Saat seseorang yang sudah mulai mengisi hati dengan perasaannya. Tapi, dia tetap saja memainkan pikiran dan ego yang ada dalam dirinya.
"Sayang." Suara Damar yang begitu menggemaskan. Perlahan Abyaz juga gemas mendengarnya.
Kucing manisnya memang membuat dirinya juga rindu. Ingin rasanya memeluk dan menepuk-nepuk lembut kepalanya, seperti biasanya. Memang kucing manisnya, butuh sentuhan tangannya.
Tangan Damar menarik tangan Abyaz. "Ayo elus-elus kepalaku."
Abyaz jadi tidak bisa lagi menahan dirinya. Menghembuskan nafasnya, perlahan membalikan badannya.
Tatapan yang begitu kesal dan bibirnya yang unyu cemberut manja.
"Aku kangen sama kamu." Ucap Abyaz dan sangat menggemaskan.
Damar tersenyum manis dan memeluk teman hidupnya dengan penuh rasa yang ada saat ini.
"Aku juga, aku kangen sama kamu. Aku bahkan, kepikiran kamu terus. Apalagi tadi pagi, kamu matiin ponsel. Kamu bikin aku cemas."
Kedua tangan Abyaz mengalung di leher Damar, dan Damar yang memegang pinggang istrinya dengan nyaman.
"Masih ngambek?"
Abyaz hanya menggeleng dan perlahan memeluk erat teman hidupnya. Damar mulai merasakan, kalau Abyaz juga sangat merindukan dirinya.
"Jangan pergi lagi."
Damar tersenyum dan bertanya "Kenapa?"
"Aku nggak mau ditinggal lagi."
"Iya, nanti aku akan ajak kamu."
"Terus kenapa kemarin ninggalin aku?"
"Aku cuma nggak mau kamu capek."
Keduanya masih saling menatap, Abyaz sedikit tersenyum. Damar sangat gemas dibuatnya.
"Sudah, jangan marah."
"Aku kangen sama kamu."
"Kamu teman hidupku."
"Kalau kamu diam saja, aku takut."
Abyaz tersenyum dan kembali memeluknya lagi.
Sudah lebih dari jam 10 malam, tapi kedua orang ini, menikmati malam minggu mereka.
Tidak ada romance yang special, tapi sebuah perasaan menyatukan dua insan yang sedang dilanda rindu.
Kedua orang yang tidak tahu apa yang akan terjadi di esok hari nanti. Mereka hanya ingin mengungkapkan perasaan rindu yang sudah melanda.
"Abyaz."
"Emh, apa?"
"Dikala perasaan tidak ada yang tahu. Aku hanya ingin kamu tahu. Kalau aku sudah jatuh cinta sama kamu."
Abyaz tersenyum manis dan membalikan badannya.
Abyaz tampak malu-malu, dan mulai melihat ke arah jauh yang seolah tidak ada ujungnya. Hati Abyaz memang satu, tidak bisa dibagi atau terisi oleh cinta yang lainnya. Tapi, perasaan teman hidupnya memang nyata adanya.
"Aku juga cinta sama kamu." Abyaz yang tersenyum manis, tapi ada genangan bening yang tampak berkilau pada kelopak matanya.
Damar juga merasa hatinya tidak lagi menampung luka. Damar yang mulai membuka perasaan dalam hatinya yang terluka karena masalah keluarganya. Dia sangat berharap, Abyaz bisa membantu dia untuk menyembuhkan luka dalam hatinya.
"Mulai malam ini, aku akan melakukan tanggung jawabku. Sebagai suami kamu." Bisiknya lembut.
Perlahan mengangkat Abyaz ke tempat tidur.
Teman hidup, yang tidak hanya ingin mencintai, tapi dia juga ingin dicintai. Layaknya pasangan yang memberi dan mendapatkan hak atas cinta yang ada.
Bukan karena dia egois, atau dia ingin lebih dari sekedar kata cinta. Tapi saat ini, dia benar-benar ingin dicintai oleh sang istri.
Tirai kaca yang tertutup otomatis dengan remot. Damar mengatur suhu ruangan. Lampu kamar dibuat redup dan suasana malam ini terasa manis.
Abyaz hanya menatap langit-langit kamar itu.
Entah, apa yang akan dilakukan sang suami. Pastinya, dia juga harus memberikan hak atas suaminya dan keduanya harus menerima hak serta kewajibannya sebagai suami istri.
Sudah satu bulan setelah mengikat janji dalam ikatan suci.
Damar yang telah melepas hoodie, berjalan ke tempat tidur. Suasana tampak hening dan tidak ada suara apapun.
"Aku mencintaimu, aku akan menuntun kamu dan kamu hanya milikku seorang."
Damar dengan rasa berbedar, dan ada keegoisan dalam dirinya. Abyaz tidak meyangka bahwa suami imutnya yang terbiasa seperti kucing manis, ternyata jadi singa yang hendak menerkamnya.
Damar yang melepas kaos. Tampak otot pria yang menggoda dan Abyaz sangat senang melihatnya. Harapan memiliki suami macho ada dihadapannya.
Abyaz memberanikan dirinya, tangan kirinya menyentuh dada itu. Roti sobek yang begitu memikat. Tidak garang, tapi sangat menawan.
"Kenapa?"
"Aku suka." Kepolosan Abyaz yang telah menyentuh dada itu.
Damar menatapnya dengan tatapan nakal, dan Abyaz tersenyum manis.
"Kamu sudah siap?"
Abyaz yang mengigit kuku jari sebelah kanan dan tangan kirinya masih menyentuh dada itu, dia hanya mengangguk manja.
Malam mana yang terdustakan, tiada malam yang nikmat kecuali malam pertama bagi keduanya.
Unboxing akan segera dimulai Damar 😍
Othor, tidak bisa membuat tutorial unboxingnya.
Kan Damar yang Unboxing bukan othor. Tolong harap tenang. 🤪🤪😂🤣😭😭