
"Aku juga masih mengingatnya."
Abyaz kembali tersenyum, lantas Binar mulai menyatap makananya. Ia tanpa basa basi dan Abyaz hanya menatapnya.
Sekitar 10 menit berlalu, Binar sudah selesai makan. Tampak menatap Abyaz, akan tetapi Abyaz telah memalingkan wajahnya. Menyeka air mata yang telah menetes di wajahnya.
"Kamu?"
Abyaz menatapnya dengan senyuman, lalu berkata "Jadilah adikku yang dulu. Aku mohon. Lupakan cinta kita berdua."
"Abyaz."
"Binar, dari awal kita sudah melupakan semuanya. Tapi, aku masih ingat. Aku masih ingat apa saja yang pernah kita lalui. Sampai, akhirnya kamu pergi ke luar negeri. Aku ingat, aku bahkan tidak lupa semuanya. Aku sampai sekarang masih ingat jelas, kenangan kita."
"Abyaz." Binar yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Tapi, aku sudah lupa siapa kita. Apa hubungan kita? Saudara? Kerabat? Atau orang pertama? Aku bahkan sudah tidak lagi mengenali kamu."
Abyaz mengambil sebuah tisue dan ia mengelap air matanya. Binar menunduk dengan air mata yang luruh begitu saja.
Tak ada kata, tak ada suara. Seketika menjadi hening. Abyaz yang telah mengungkapan perasaannya dan Binar tampak diam dalam perasaannya.
"Binar, sampai kapan kamu akan terus begini?"
"Abyaz, aku."
"Aku tahu. Semua ini gara-gara aku."
"Abyaz, bukan begitu."
"Aku tahu, Imel juga mengatakan hal serupa."
Binar yang semakin tidak bisa meredam perasaannya. Tampak menatap Abyaz dengan cucuran air matanya. Lalu, ia kembali mengingat semua pengorbanan yang ia lakukan untuk Abyaz.
"Iya, aku terusir dari rumah dan harus ke luar negeri. Aku pula yang menjadikan kamu menyukai Eyang Damar. Aku pula yang rela tertembak untuk Viral dan itu semua untuk kamu. Aku cuma ingin kamu bahagia."
Abyaz yang merasa sesak dalam hatinya dan Binar yang telah kacau dalam perasaannya.
"Kamu sudah tahu, tapi kamu nggak pernah mau tahu. Bahkan, semenjak kamu menikah dengan Damar. Kamu selalu menjauhi aku. Bahkan, nggak ada sapaan setiap kita bertemu. Apalagi pelukan seperti dulu. Nggak ada Abyaz. Aku nggak terima kamu begini sama aku."
Abyaz berkata "Aku tahu. Aku yang salah."
Binar dengan terang-terangnya berkata "Apa aku masih bisa merebutmu dari Damar??"
Abyaz yang memalingkan wajahnya dan air mata itu semakin mengalir deras.
Binar yang duduk bersandar dan tampak menatapnya. "Abyaz, sampai sekarang aku masih menunggu jawaban. Sampai detik ini. Aku masih menunggu jawaban. Apa kamu mencintai aku?"
Abyaz yang menangis tersedu-sedu, "Iya, aku dulu memang mencintaimu. Tapi, kamu dengan mudahnya pergi meninggalkan aku."
"Dulu? Dulu? Benar, dulu. Tapi, kenapa kamu tidak mau membalasnya? Aku disana. Di seberang benua, aku nungguin kamu. Aku masih menunggu. Pada akhirnya, aku merelekan kamu dengan yang lainnya. Meski hatiku sangat sakit."
Abyaz yang menatapnya dan ia ingin memberanikan dirinya. Tatapan yang sangat penuh perasaan. Bukan lagi penyesalan, melainkan sebuah penjelasan.
"Abyaz kamu tidak tahu. Setiap kamu telephone Eyang Damar. Aku pergi, aku menjauh. Aku tidak ingin terluka dalam. Bahkan, aku menginap di rumah temanku. Agar aku tidak mendengar suara kamu."
Abyaz masih saja menatapnya dan ia kembali menyeka air matanya.
"Sekarang, aku sudah lega. Ternyata, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan."
Abyaz yang perlahan menjadi tenang dan ia memberikan sebuah foto masa kecilnya.
"Simpanlah baik-baik."
Binar mengambil foto itu, foto pertama kali dirinya mengenal Abyaz. Mereka tampak duduk berdua dan sangat manis.
"Aku akan tetap menyimpan kenangan kita di hatiku. Aku tidak akan melupakan kenangan itu. Terima kasih, untuk semuanya. Terima kasih, untuk kenangan itu."
Binar berdiri, ia berkata "Aku akan menyimpan foto kita. Terima kasih, sudah menyiapkan makan siangku dan kamu menemaniku. Aku sudah merasa lega. Aku bahagia. Kamu juga harus bahagia."
Abyaz lantas berdiri, dan mengulurkan tangannya. "Aku tidak menyesal. Aku harap kamu juga begitu."
Binar memeluknya dan ia merasa Abyaz juga sudah membuka dirinya kembali.
"Kamu benar, kita saudara."
"Iya, kamu harus panggil aku Kakak."
"Baiklah, Kak Abyaz."
Melepas pelukan itu, lalu Abyaz mengusap rambutnya "Adik yang pintar."
"Aku pergi dulu, aku mau balik ke kantor."
"Iya, aku juga mau ada urusan. Vivi juga sudah nunggu."
Mereka akhirnya jalan bersama, menuju ke pintu utama restoran itu dan Binar tampak tersenyum.
"Abyaz, kamu jangan terlalu sibuk."
"Hee.."
"Aa, Kak Abyaz maksud aku. Baru satu menit sudah lupa."
"Iya, aku sibuk untuk menyenangkan diri. Kalau jadi ibu rumah tangga saja, jadinya jenuh."
"Bener, kalau kesana kemari. Pastinya jadi hiburan."
Setelah, Binar menatapnya "Aku pergi dulu."
"Iya, hati-hati."
Binar melangkah pergi, lalu mobil Abyaz menghampiri. Vivi yang telah menyusun agenda ini, pemesanan restoran dan ia pula yang menghubungi Binar.
"Madam, kita akan ke Meghan."
"Oke. Ayo berangkat."
Vivi juga tampak memberikan kotak make-up Abyaz. Bahkan, bulu mata anti badai juga sampai lepas sebelah.
"Harusnya, makan malam aja. Biar lunturnya dijam tidur."
"Madam ingin makan malam berdua dengan Tuan Binar?"
"Bukan begitu. Kamu salah bikin agenda. Untungnya restoran sepi."
"Madam, saya sudah mengaturnya."
"Iya, hidupku sekarang di tangan kamu Vivi."
"Madam, tidak suka?"
"Bukannya begitu, siang ini aku harus bertemu Binar. Terus nyusul bos kamu ke hotel. Aku jadi ribet dandannya."
"Madam santai saja. Presdir tidak keberatan dengan pertemuan siang ini."
Damar melempar-lempar bola tenis ke keranjang bola. Entah, apa yang sedang ia mainkan. Sepertinya, semacam ada perasaan yang cemburu.
Damar lantas menyambar jasnya dan ia akan berangkat ke hotel Meghan.
1 jam kemudian
"Sayang, kamu harus menyenangkan aku."
"Kamu cemburu?"
"Entah! Disini. Rasanya tidak karuan." Damar yang merabakan telapak tangan Abyaz ke dadanya.
"Sayang, kamu sendiri yang nyuruh aku menemuinya."
"Tapi, jangan ada pelukan. Aku juga manusia biasa. Aku juga bisa terluka."
"Uuu sayang."
"Cepat obati."
"Gimana caranya?"
"Pelukan, kayak kamu peluk Binar."
"Kamu menang lawan dia di platinum bisnis. Tapi, kenapa kamu jadi merasa kalah karena aku."
"Sayang, ini dua hal yang berbeda."
"Emmh, sayangku. Damdamku."
Abyaz memeluk Damar.
"Kayaknya bukan begini meluknya."
"Aaa, tahu begitu kamu nggak usah lihat."
"Kamu ingin, suamimu ini mati penasaran."
"Ya udah, jangan bilang begitu."
Damar lantas memeluknya dengan penuh perasaan "Sayang, maafin aku."
"Untuk apa?"
"Kalau aku tiba-tiba di peluk perempuan. Kamu marah nggak?"
"Tuh kan, filingku tajem banget."
"Spontan sayang."
"Spontan?"
"Kamu nonton nggak, waktu aku dapat penghargaan platinum bisnis. Sebelahku Madam Kitten, meluk aku erat banget."
"Enggak, aku nggak lihat."
"Wah, kamu harus lihat."
"Mana coba."
Lalu Damar memperlihatkan sosok itu, dan wow dia sangat sexy. Dadanya sampai menonjol, tapi usia dia lebih tua dan orang luar negeri.
"Iya Mas. Aku nggak suka."
"Kenapa?"
"Kamu pasti udah kena, pelet dia."
"Apa itu pelet?"
"Itu tadi, nyos gitu Mas."
"Aah, kamu ini ngaco."
Damar jadi meluknya dari belakang, Abyaz semakin sexy dan body goals. Pelatihan semasa awal pernikahannya, membawa Abyaz menjadi lebih disiplin untuk olah raga dan menjaga berat badan, dengan pola makan sehat dan tinggi serat.
Damar hendak mengecup lehernya, Abyaz malah menghindar.
"Sayang, kamu kenapa? Wah, jangan-jangan karena pertemuan tadi."
Abyaz menoleh dan menatapnya "Mas, aku udah niat puasa. Kamu jangan mancing aku deh."
"Eh, kamu beneran puasa?"
"Ya Allah, Mas Damar."
"Aku pikir kamu cuma pura-pura."
"Mas, aku juga nggak segitunya kalau bohong atau pura-pura."
"Iya, apalagi kamu dulu cinta pertamanya Binar. Aku jadi beneran kalah."
Abyaz mencium aroma tak sedap, lantas ia bertanya "Mas, apa kamu taruhan sama Binar?"
"Nggak gitu sayang. Cuma dia bilang. Ya aku akan kalah dari dia dan terbukti."
"Owh, jadi kalah menang. Cuma karena cinta aku."
"Sayang, Binar yang bilang. Bukan aku."
"Aa, kalian sama aja."
Abyaz yang pergi meninggalkannya dan Damar berkata "Duh salah ngomong, ngambek lagi."
Abyaz akhir-akhir juga jadi uring-uringan nggak jelas, karena perasaan cintanya. Damar juga semakin ada rasa cemburu berat dan tidak ingin terluka. Apalagi, kalau sampai sang istri meninggalkannya.
Abyaz kembali ke kamarnya dan Damar berkata "Sayang, maafin aku."
"Emh, aku ngantuk Mas. Aku mau tidur. Bangunin nanti jam 4."
"Sayang."
"Mas, aku ngantuk."
Hotel bagi Damar adalah tempat singgah sementara dikala suntuk. Apalagi jarak tempuh rumah dan kantornya bisa dibilang lumayan jauh.
"Iya, aku juga akan tidur."
Damar memeluknya istrinya dengan perasaan tenang.
Flashback Off
Binar kala di kampus Gaby. Ia telah mengingat kembali kenangannya bersama Abyaz.
"Aku mengingatnya."