ABYAZ

ABYAZ
Bab. 63. Arjuna Yang Tidak Berubah



"Aku bangga."


"Kamu bangga sama aku?"


"Tidak."


"Terus?" Tatapan marmut nakal yang penasaran.


"Aku bangga sama pemilik perusahaan." Ujarnya dan berjalan lebih dulu.


Beby yang tersenyum lalu merangkul ke lengan kiri suaminya. Berjalan bersama memasuki kantor istrinya. Arjuna yang sudah mengenal ruang kantor istrinya, dari para informan setia.


"Bos, sama siapa?"


"Bukannya itu Arjuna. Suaminya Bu Bos."


"Iya, dia Arjuna."


"Aku dulu penggemarnya. Nggak nyangka kalau dia suami Bu Bos."


"Aku pikir hanya gosip belaka. Ternyata ada di depan mata."


"Kalian lihat apa?" Sang teman dari Butik dan sekarang bekerja disini. Dia ini gebetan Daniel sang staff tampan.


"Bu Bos sama suaminya."


Dia lantas tersenyum dan kembali ke ruang kerjanya.


Beby yang menuju ke ruang kerjanya dan sang suami tetap setia menggang tangan istrinya. Menaiki anak tangga, dan Arjuna merasa khawatir pada istrinya, yang sedang hamil muda.


"Sayang, apa nggak ada lift?"


"Hah, lift?"


"Iya, kamu sedang hamil."


"Sayang, aku sudah terbiasa."


"Tapi, anak kita belum terbiasa."


"Aku akan berhati-hati."


Setibanya di lantai dua, banyak staff yang menatapnya.


"Hallo." Sapa Arjuna.


"Owh, pantes ambil cuti. Ternyata suamimu sudah pulang."


Starla mengadakan rapat di ruang terbuka dan tampak santai saat dia memilih beberapa desain baru, yang dibuat oleh desainer pilihan.


"Emh, tidak juga." Seutas senyuman manis dan ia lanjut berkata "Karena aku hamil muda, jadinya aku ambil jatah liburku."


Starla yang menatap ke para staff andalan, ia berkata "Kalian semua mendengar?"


"Iya, Bu Starla."


"Ucapkan selamat untuk Bu Bos kita." Starla yang berdiri dan mendekati Beby.


"Bu Bos, selamat atas kehamilannya." Mereka bertepuk tangan dan bersorak senang.


Ada 8 staff di ruangan terbuka itu dan tampak duduk santai. Mendengar sorakan bahagia itu, staff yang lainnya akhirnya datang mendekat.


Tampak senyuman dari mereka berdua, Starla dengan air mata bahagia, sudah tampak memeluknya.


"Selamat untuk kehamilan kamu. Aku senang mendengarnya. Akhirnya, kamu bisa menyusul aku."


"Terima kasih. Berkat do'a dan dukungan dari kamu. Aku bisa merasakan kebahagiaan ini."


"Aku akan menjadi Budhe."


"Benar, kamu akan jadi Budhe yang cengeng."


"Siapa bilang aku cengeng?" Starla yang menyeka air matanya dan Beby semakin bahagia, melihat sahabatnya tidak pernah berubah untuknya.


"Iya, tidak cengeng. Tapi, kamu terlalu membawa persaanmu."


"Karena kamu, aku jadi begini."


"Benar. Cuma aku yang bisa bikin kamu nangis. Coba aja dihadapan kak Bintang nangisnya, apa yang akan dia lakukan?"


"Aku hanya bisa mengamuk kalau sama dia. Kalau aku udah nangis, dia nggak kuat melihatku."


Starla beralih ke Arjuna "Jaga sahabatku. Jangan ditinggal lagi."


"Siap Nyonya Bos Bintang."


"Apaan sih?!"


"Benar kan, Nyonya Bintang."


"Kenapa aku harus punya adik ipar seperti kamu?"


"Sudah takdir."


Starla berkata "Selamat datang kembali Arjuna. Selamat jadi Papa yang hebat."


"Terima kasih."


Semuanya bertepuk tangan, Daniel yang tidak mau kalah sudah mengambil bunga dari vas yang ada di sekitarnya.


"Bu Bos, kita semua nggak nyiapin apa-apa. Hanya ini yang bisa kita berikan."


"Kamu ini, bener-bener nggak mau modal."


"Ini tanggal tua Bu Bos. Kita semua juga belum di gaji sama Bu Bos."


Arjuna tersenyum dan Beby berkata "Iya, iya. Kamu ini, soal gaji nggak pernah lupa."


"Sama bonus yang Bu Bos janjiin."


"Oke."


Mereka semua tertawa melihat tingkah kocak Daniel. Arjuna jadi bisa melihat dengan kedua matanya. Dia juga salah satu penggemar setia yang mengirim info penting soal Beby kepada Arjuna.


"Bos Arjuna, juga harus memberikan bonus kepada saya."


"Nanti aku transfer."


Beby menoleh ke arah suaminya, "Kalian berdua bermain di belakangku?"


Arjuna merangkul Beby, ia berbisik "Dia ketua forum penggemarku."


"Daniel?"


Arjuna mengangguk dan Daniel sangat senang menggoda Bu Bosnya ini. Dia jadi bergoyang senang.


"Bu Bos."


Suara musik kencang ala Daniel sudah di putar. Para temannya mengikuti dance ala Daniel.


"Kalian bisanya berjoget saja."


Sayangnya, sang suami tampannya ikut serta dan dia merasa bingung melihat Arjuna yang bisa berjoget ala Daniel.


"Arjuna kamu ngapain?"


Starla yang bersedakap dan menonton ke arah mereka yang melakukan dance ala Daniel "Sayang, suamimu sudah terkontaminasi."


"Racunnya Daniel memang manjur."


"Tapi asyik."


Mereka para staff lainnya juga merasa senang dan sore ini sepertinya mereka semua terbebas dari beban pekerjaan.


Suara tepukan ala mereka dan Arjuna merasa senang. Daniel memeluk Arjuna.


"Iya. Terima kasih sudah membantu aku."


"Saya selalu berpihak pada Bos Arjuna."


Beby yang mendekat "Daniel, kamu sengaja kerja disini. Hanya untuk mengawasi aku?"


"Bu Bos, bukan begitu. Saya tetap staff andalan Bu Bos."


Para staff lain sudah bubar dan Arjuna memegang lengan istrinya. Semakin debat dengan Daniel, akan jadi runyam urusannya.


"Sayang, ayo kita sholat."


"Daniel, kali ini aku membiarkan kamu."


"Oke, Bu Bos."


Daniel yang mengedipkan sebelah mata dan Arjuna tampak menggeleng.


"Kamu sama saja."


"Sayang, jangan ngambek. Nanti aku jelasin sama kamu."


"Nggak perlu dijelasin."


Setelah beberapa menit dan kedua orang itu tampak sholat di sebuah ruangan tempat khusus untik beribadah.


"Daniel, orang lagi sholat malah kamu fotoin."


Daniel berkata "My Darling, sekali ini saja. Aku selalu tahu tentang Arjuna. Tapi, baru kali ini aku lihat dia jadi Imam."


"Ingat, jangan di sebar ke forum fans Arjuna."


"Iya, iya My Darling."


Kedua orang yang berpacaran dan Starla lewat dari kamar mandi telah berdehem. Membuat mereka berdua pergi dengan terpisah.


Setelah selesai sholat ashar. Arjuna yang saat melihat ke ruang kerja istrinya.


"Ini surat dari kamu, siapa yang buat?"


"Aku."


"Beneran?"


"Benar sayang. Masa iya, aku minta pengawal."


Melihat tadi kelakuan Arjuna sama Daniel jadi berfikiran. Kalau Arjuna memang tidak berubah.


"Baguslah, kalau kamu tetap Arjuna yang sama."


"Aku memang Arjuna. Memang kamu pikir aku siapa?"


"Entah."


Beby yang senyum dan merasa aneh. Arjuna mendekati istrinya yang duduk di kursi kerjanya.


"Aku siapa kamu?"


"Suamiku."


"Kalau dulu?"


"Tidak tahu."


"Dua tahun lalu?"


"Kamu kekasihku, lalu jadi suami yang tidak bertanggung jawab."


"Owh, aku begitu dimata kamu."


Beby memalingkan wajahnya, tapi kali ini tidak ingin menangis lagi. Arjuna yang menatapnya dan tampak bersandar meja kerja.


"Aku tetap Arjunamu yang dulu. Aku memang susah merangkai kata buat kamu. Aku harus nonton film, baca novel dan semuanya. Biar aku bisa membuat surat-surat itu. Tetap saja tidak berhasil."


"Terus?"


"Aku, hanya becerita aja. Apa yang aku rasain selama disana."


"Disana, kamu seperti apa?"


"Aku biasa saja."


"Biasa saja gimana?" Beby semakin penasaran.


Flashback On


"Tuan Muda."


"Aku nggak mood kuliah."


"Hari ini Mr. Kieller."


"Aku nggak bisa konsen. Kalian saja yang kuliah."


Kedua pengawal itu yang mematung dan tidak bergerak. Tapi, mereka selalu berusaha menuruti semua perintahnya.


Ada kiriman foto dari Jimmy, Arjuna semakin kelabakan dan ingin rasanya segera pulang. Sayangnya, dia masih harus menyelesaikan kuliahnya.


"Beby, Beby, Beby. Aku nggak bisa digiin terus. Aku kangen berat. Rasanya aku akan sekarat."


Arjuna sama miripnya seperti Pakdenya, Viral. Karena dari dulu Bunda Gaby selalu mematuhi perkataannya, atau jangan-jangan waktu ngidam membatin perilaku Viral.


Ia mengambil selembar kertas. Dia menulis sebuah surat. Awalnya hanya terlulis kalimat ~Sayangku, aku disini merindukan kamu.~


Hanya seperti itu, sang ajudan harus mengirimnya sendiri naik pesawat ke kota kelahirannya dan menuju ke kantor Mahatma. Setelah tiba di Mahatma dan Jimmy yang harus mengantarnya.


Beby yang ketagihan, dia semakin ingin dikirimi surat. Entah, rasanya aneh tapi Beby sangat menyukainya. Karena, itu tulisan Arjuna sendiri dan dia sangat mengenali tulisan itu.


Setelah kesekian surat, Arjuna malah pusing sendiri. Dia tidak mengerti dan tidak merasakan hal aneh. Perasaannya hanya rindu dan melihat wajah istrinya dari rekaman Daniel yang dikirim ke emailnya, sudah membuat rindunya sedikit terobati.


"Aku tidak punya ide nulis."


"Nonton film Bos."


"Nonton film apa?"


"Film romantis."


Arjuna bersama dua pengawalnya. Nekat nonton drama Korea, ada adegan kiss dan perpisahan. Bahkan, air mata perlahan menetes begitu saja karena terbawa suasana cerita itu.


"Kalian kenapa nangis?" Arjuna tidak sadar kalau dirinya juga menangis.


"Mereka terpisah."


Karena nonton drama Moonlovers jadinya pada melo, bukan hanya Arjuna kedua pengawal itu seharian juga tidak nafsu makan, tidurpun rasanya susah terlelap.


Keesokan harinya, "Tuan Muda. Ini novel yang saya siapkan."


"Kamu saja yang baca, tinggal ceritain sama aku."


"Baik Tuan Muda."


Flashback Off


"Aku rebahan."


Beby menghela nafas, rasanya ada yang sesak dalam dada. Tapi, Beby malah tertawa.


"Kamu ngeselin. Aku disini kerja keras. Kamu hanya rebahan di seberang benua."


"Sayang, aku juga akan bekerja."