
Berdesar-desir saat menatapnya dan Gaby tidak bisa menepisnya. Bagaimanapun, guru tampan ini sudah menjadi suaminya. Gaby mengingat akan janji suci, yang ia terima saat malam itu.
Al yang masih berdiri, setelah meletakan kotak makan berwarna hijau muda, dan Gaby tampak menatapnya saja.
Beberapa teman sekelas, juga tampak melihat ke arah mereka berdua. Momen yang tidak pernah ada dalam bayangan para murid. Pak Al, si guru tampan yang dingin dan begitu tegas. Bisa jatuh hati pada muridnya sendiri.
"Jangan lupa dimakan." Nada suara yang terdengar kaku.
Gaby menjawab "Iya."
Al yang mengerti akan situasi saat ini, ia juga tidak ingin begini. Namun, sekolah ini semakin riuh, saat es batu itu telah mencair karena seorang murid pindahan.
Gaby mengambil kotak makan itu dan menaruhnya di loker. Nantinya, ia akan memakannya di waktu istirahat pertama.
Al menghembuskan nafasnya, batinnya sangat menderita. Sudah seminggu ini, tidak bisa bersama istrinya. Baru juga memulai hubungan dan pendekatan satu sama lain, malah ada kejadian menimpa pasangannya.
"Sabar, ini ujian." Batinnya dan ia kembali berjalan menuju ke ruang kantornya.
Beberapa murid telah menyapa dan ia sudah kembali menampilkan wajah dinginnya. Padahal, beberapa waktu lalu, sudah ada semburat senyuman ketika para murid menyapanya.
Apakah, kulkasnya sudah diperbaiki?? Atau es batu itu kembali beku? Pikiran para murid yang melihat wajah Pak Al pagi ini.
"Jadi, kamu beneran tunangannya Pak Al?" Tanya Ghani yang mendekat dan Gaby tampak membulatkan bibir.
Gaby menjawab "Aku," Gaby hendak mengatakan kalau dia istrinya Pak Al. Tapi, nantinya akan semakin riuh, dan kabar itu bukan lagi sekedar rumor dari mulut ke mulut.
"Ya begitu." Lanjut Gaby dengan santai dan Ghani penasaran. Lantas ia duduk di bangku depan Gaby membalikan badan ke arah Gaby.
Ghani bertanya "Gimana cara kamu meluluhkan hatinya Pak Al?"
Gaby menjawab "Tidak tahu."
Si Tomboy mendekat, menepuk pundak kanan Gaby, dia juga bertanya "Gaby, apa Pak Al juga begitu saat kalian jalan berdua?"
Mereka melihat Al yang begitu dingin, saat memberikan kotak makanan Gaby.
"Ya gitu. Sama saja." Jawab Gaby menutupinya.
Kedua temannya ini malah semakin penasaran.
"Aku masih heran, waktu Pak Al kasih surat dokter dan meminta setiap tugas kamu. Aku pikir, tadinya itu hanya gosip. Tidak tahunya, Pak Al sendiri yang bilang sama aku. Kalau dia walinya kamu." Ujar Ghani sebagai ketua kelas.
Si Tomboy merangkul bahu Gaby, ia berkata "Kamu hebat, bisa jadi pemenangnya."
Gaby bingung, ia bertanya "Pemenang?"
Ghani berkata "Memangnya kamu tidak tahu, kalau para gadis berebut untuk meraih hatinya Pak Al. Mereka selalu mencari celah untuk mendekatinya. Seperti Cantika, Laura, dan Bu Retta."
Gaby menggeleng dengan bibir yang cemberut manis. Ghani dan si Tomboy malah bercerita ini itu tentang beberapa perempuan yang nekat dan tidak henti mengejar-ngejar Pak Al.
"Aku tidak tahu tentang itu. Yang aku tahu Pak Al itu." Gaby mulai terpancing dan bisa saja temannya hanya ingin mencari info seputar hubungannya Gaby dengan Pak guru tampannya.
"Pak Al itu?" Si Tomboy.
"Ya seperti itu. Seperti es batu." Jawab Gaby dan meringis gemas.
Ghani berkata "Yang aku lihat, Pak Al itu bucin sama kamu." Ghani lantas bangkit dari bangku itu, setelah mendengar bel sekolah berbunyi.
Gaby "Bucin??"
Si Tomboy "Eheems, Bucin." Lantas ia pergi dan kembali ke mejanya.
"Bucin?" Gaby mulai memikirkannya hal itu, merasa ada rasa manis dalam hatinya.
"Entahlah, aku pusing." Gaby yang tidak ingin memikirkan tentang kebucinan suaminya dan bersiap untuk belajar. Mata pelajaran jam pertama akan segera dimulai. Gaby yang tidak lupa berdo'a dan ingin belajar dengan giat.
Saat jam pelajaran sejarah.
"Pak Al menggendong Laura ke UKS?"
"Pak Al mengobati kakinya Cantika?"
"Pak Al berpasangan dengan Bu Retta waktu kelulusan tahun lalu??"
Gaby meresmas-remas lembar tugasnya. Pak guru yang ada di hadapannya. "Gaby, kamu kenapa?"
"Pak Rudi, saya mau ijin ke toilet."
"Sana pergi." Ucap guru itu dan kembali berjalan melihat para murid yang telah mengerjakan tugas yang diberikannya.
Gaby bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kelas. Perasaan apa ini, membuat dirinya tidak fokus untuk belajar.
Perkataan Ghani dan si Tomboy itu, semakin membuat pikirannya ruwet.
Gaby yang berjalan dengan geram dan ingin sekali meluapkan kekesalannya.
"Katanya guru dingin, kenapa perhatian sama yang lainnya. Ngeselin!!"
Gaby dari seminggu ini, tidak suka bila suaminya mendekati dirinya. Namun, ada rasa rindu dalam benaknya.
"Gaby."
Gaby perlahan tersenyum, "Pak Ferdi.
"Gimana keadaan kamu?"
"Baik Pak."
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Waktu itu saya juga cemas. Kenapa murid kesayangan Pak Ferdi bisa di culik orang?"
Gaby terkaget, "Pak Ferdi tahu kalau Gaby diculik?"
Pak Ferdi berkata "Tahu, waktu itu Pak Al pinjam mobil saya buat cari kamu."
"Owh, terus Pak Al gimana waktu itu?"
"Pak Al sangat panik waktu Papanya bilang, Gaby diculik, dibawa mobil Alphard hitam."
"Pak Al panik." Gaby tersenyum saat melihat Pak Ferdi yang bercerita dengan gaya kocaknya. "Terus, wajahnya Pak Al gimana?? Marah tidak?"
Pak Ferdi mendekat dan berkata pelan-pelan, "Pak Al seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Buas!!"
"Emh, Gaby jadi penasaran." Begitu imut dan Pak Ferdi terkikih.
"Ya sudah. Saya mau ambil lembar ujian. Yang penting kamu sudah baik-baik saja. Gaby, ingat! Besok ada ujian matematika paket 5."
"Oke Pak Ferdi. Gaby malam ini akan giat belajar."
"Ulangan yang kemarin nilainya turun."
"Ya kan Gaby kemarin itu sakit Pak."
"Semangat!" sambil mengepalkan tangan ke atas untuk memberikan dukungannya kepada Gaby, "Kamu harus dapat nilai 100."
"Siap! Pak Ferdi."
Pak Ferdi pergi dengan senyuman, dan Gaby mengingat akan perkataan Al yang mengakatan hal sama, jadi memang benar begitu adanya.
"Jadi, Mas Al berubah jadi singa kalau aku kenapa-kenapa." Batin Gaby, yang merasa telah terobati.
Gaby yang masih belia, harus berfikir terlalu banyak. Dunia remaja yang ia tinggalkan, rasanya tidak semudah itu. Ingin seperti teman-teman sebayanya, yang bergaul, berjalan bareng, makan bareng dan bersenang-senang. Tampaknya, Gaby tidak bisa seperti itu.
"Baiklah. Aku biarkan saja Pak Al jadi es batu." Gumamnya dan ia berada ke dalam toilet.
Memikirkan rasa yang semakin tidak karuan saat mendengar cerita si Tomboy. Ternyata, selama Gaby tidak masuk sekolah. Banyak yang konsultasi tentang kebugaran dan olah raga kepada suaminya.
"Ngeselin!!" Kesalnya.
Untungnya toilet perempuan itu sepi dan tidak ada siapapun selain Gaby.
Ada rasa tidak percaya, kala dirinya yang sudah menikah di usianya yang masih belia. Ada rasa ingin bersama, tapi saat mengingat akan dirinya yang dibekap pria yang tidak dikenalnya. Ada rasa cinta dan juga perasaan dilema, kala perempuan lain, banyak yang datang menggoda suaminya.
Gaby yang mengguyur wajahnya di wastafel dan ia tampak kesal pada perasaannya itu. Menatap diri pada sebuah cermin. "Karena Kak Darra aku harus memotong rambutku dan terus mengingat kejadian itu. Aku tidak akan memaafkannya."
Setelah itu ia kembali ke dalam kelas dan mengikuti perlajaran jam pertama dengan fokus.
Gadis belia dengan segudang pikiran di otaknya yang kecil. Sungguh usia ini, membuat dirinya kacau.
Selanjutnya jam olah raga akan dimulai. Guru olah raga yang tampan dan sangat menawan.
"Murid bandelku."
"Jangan panggil aku Gaby, kalau aku tidak bisa membalasnya." Gaby yang menatap suaminya dengan tatapan menghanyutkan.
"Ghani, tungguin!"
Gaby akhirnya berjalan bersama Ghani dan menuju ke kolam renang.
"Kamu yakin ikut renang?" Tanya Ghani, saat melihat Gaby telah siap dengan pakaian renangnya.
"Emh, aku udah sehat. Pasti aku bisa ikut ujian ini."
"Baguslah. Aku akan mendukungmu."
Gaby tersenyum pada ketua kelasnya. Al yang duduk di ujung dan tampak serius menatap istrinya. Pak guru olah raga yang tampan sudah memegang sebuah map dan senyuman sang istri kali ini membuat dirinya gelisah.
"Gaby, kamu tidak mau dekat aku. Malah asyik sama Ghani."
Pak guru tampan ini, kembali mengingat akan perkataan Pak Ferdi. Yang mengatakan, kalau Gaby begitu manis dan sudah tampak bersemangat.
"Apa ini?! Kamu sengaja menjauhiku?" Batinnya dan merasa tidak senang.
Gaby tersenyum tipis, sembari melakukan pemanasan. Hari ini ujian olah raga sesi pertama akan segera dimulai.
"Suamiku yang tampan." Gaby masih menatapnya dengan senyuman, hal itu sangat mencemaskan perasaan suaminya.