
Gaby tampak tertidur di dalam mobil. Pria itu sudah membelikan makanan untuk Gaby. Dia yang duduk di kursi kemudi, memandangi wajah Gaby.
"Kamu sekarang sudah besar. Waktunya aku untuk membebaskan kamu, Gaby."
Dia tersenyum dan masih menatap ke wajah itu. Gaby yang dari kecil sudah dia anggap saudara sendiri. Namun, pria itu hanya mengemban tugasnya. Bahkan, dia sudah menikah dan istrinya sangat tidak suka kalau suaminya masih sibuk mengurus Gaby. Apalagi, Gaby bukan lagi gadis kecil yang harus diasuhnya.
"Makanlah, aku akan mengantar kamu pulang."
Gaby yang masih menguap dan tampak meregangkan kedua tangannya. Kedua bahu rasanya pegal, karena olah raga basket tadi.
"Apa ini?"
"Kentang, chicken, burger." Jawabnya, saat memberikan makanan cepat saji.
Gaby memanyunkan bibirnya, lalu berkata "Aku mau makan nasi."
"Nasi?" Selorohnya yang kaget.
Gaby mengangguk, "Aku ingin makan nasi."
"Tuker." Ternyata pria itu juga membeli paket lainnya, dan hendak memakannya nanti. Karena setelah ini, dia harus pulang ke ibukota.
Mobil itu kembali melaju dan Gaby mulai menikmati makanannya. Pria itupun juga merasa ada hal aneh. Tidak biasanya Gaby meminta nasi.
"Kamu nanti pulang?" Tanya Gaby, dan bibir itu sudah belepotan, ada saos yang menempel di ujung bibirnya.
"Iya, aku harus pulang. Kamu baik-baik disini. Jangan keluyuran kemana-mana."
"Tenang saja, aku bisa jaga diri."
"Jangan sampai, kejadian itu terulang lagi. Sekarang aku nggak bisa ngawasin kamu setiap waktu."
"Aku tahu. Di kota ini, nyaman. Orangnya juga ramah."
Gaby sudah mengenal tetangga rumahnya, mereka ramah.
"Jangan percaya orang sembarangan. Jangan bilang kalau kamu sendirian di rumah."
"Tapi, nenek sebelah rumah tahu."
"Kamu pergi ke tetangga?" Dia syok. Sepertinya akan sia-sia, bila Gaby tidak mau berdiam diri di rumah.
"Udah, kamu nonton drama aja di rumah. Nggak usah kemana-mana. Kalau begitu lagi, aku ajak kamu balik ke Mansion."
"Aku nggak mau, aku lebih suka disini."
Gaby melotot dan bertanya "Apa istri kamu tahu kalau kamu kesini?"
Gaby sangat mengenalnya, dan dia adalah sepupunya kembarnya. Batari dan Betari.
Betari Darra Lingga, adalah istri Darren.
"Gaby, mungkin ini tugas terakhirku."
"Aku tahu."
"Pak Lingga pasti sudah menghubungi kamu."
"Pak Lingga? Dia mertua kamu."
"Sudah terbiasa begitu."
Darren menyayangi Gaby seperti adik kandungnya. Namun, dia sudah menikah, menjadi suami dari sepupunya.
"Kak Binar kemarin datang. Membelikan aku sepatu."
"Iya. Aku tahu."
"Jangan bilang sama Kak Viral, soal aku yang disini."
"Pasti dia akan tahu."
"Aku yang sudah menggangu keluarga Pakde Lingga."
"Gaby."
Darren juga menyesal, namun dia juga sudah jatuh hati kepada Darra saat pertama kali bertemu di Golden Mansion 3 tahun yang lalu.
Gaby tersenyum dan tangannya masih sibuk memotek-motek makanannya. "Darren, jadilah suami yang baik. Aku akan tetap menjadi adikmu."
Darren mengangguk, karena sekarang ada ikatan di keluarga besar Mahatma. Meski rasanya sangat tidak nyaman dengan situasi ini, Darren dan Gaby akan terbiasa seiring berjalannya waktu.
"Kalau Kak Viral mencariku, bilang saja aku baik-baik saja."
Viral sebagai Kakak tertua di keluarga Mahatma dan mereka masih sering mengadakan acara keluarga. Limar sebagai sesepuh, dia ingin seluruh keluarga besarnya rukun sampai anak cucunya. Dia selalu mencontohkan agar anak cucunya, mengingat Kakek, Nenek, Buyut dan harus mengenal sepupu serta para kerabatnya.
"Aku baik-baik saja." Batin Gaby dengan senyuman manis nan centil.
Flashback On
Hotel berbintang lima, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di pintu masuk hotel.
Gadis belia memakai gaun putih pajang, dan terlihat belahan kaki. Kaki jenjang nampak memakai sepatu hak tinggi. Senyuman manis diberikan kepada seseorang yang membuka pintu mobil.
"Terima kasih." Ucapnya.
Gadis belia berjalan memasuki hotel, ia berjalan menuju aula pernikahan. Ia yang berjalan sendiri, ia yang ingin menghadiri pernikahan pria baik yang dikenalnya dan sepupu perempuannya.
"Nona, undangannya." Pinta seorang yang memegang perangkat digital untuk memindai undangannya.
"Maaf Nona, undangannya tidak dapat discan."
Gadis belia itu bingung, karena memang benar. Inilah undangan dari Darren yang diberikan khusus kepadanya.
"Saya kerabatnya Mr. Darren dan Kak Darra."
Petugas itu bertanya "Maaf Nona, tolong tunjukkan identitas anda."
Gadis itu bingung, sepertinya dia lupa bawa dompet yang berisi kartu identitasnya.
"Saya nggak membawanya."
"Maaf Nona, anda tidak diizinkan masuk."
Gadis itu tampak binggung, beberapa tamu undangan telah antri di depan pintu aula pernikahan itu. Ia akhirnya berjalan pergi dan tidak ingin mengacaukan pernikahan Darren dan Darra.
Saat berjalan, gadis belia itu menabrak pria berjas hitam. Pria tampan yang menawan, postur tubuh ideal dan gagah.
"Sorry."
"Tidak apa-apa." Ucapnya dan ia hanya sekilas melihat gadis belia itu.
Gadis itu berjalan ke arah lift, dan ternyata pria itu juga menuju ke lift.
Ting
Pintu lift terbuka, gadis belia dan pria itu memasuki lift yang sama. Pria itu, lebih dulu menekan tombol angka 9.
Pintu lift tertutup.
Gadis belia itu sendiri bingung, ntah mau kemana dia pergi. Dia tidak menekan tombol angka pada lift itu.
Ting
Pintu terbuka, pria itu keluar dan sudah sampai tujuannya. Gadis belia itu juga tampak berjalan dan mengikuti langkah pria itu.
Dugh
Gadis belia yang melamun saja, dia berjalan dan tidak melihat apa yang ada dihadapannya.
"Ini kamarku." Ucap pria itu.
Setelah menabrak pria itu, Gaby berjalan ke tempat tidur dan sesampainya disitu, ia menjatuhkan dirinya dalam keadaan tengkurap.
Suara ringikan tangis terdengar oleh pria itu. Bahkan, Pria itu juga bingung dan ia masih memegangi pintu kamarnya. Ia tidak ingin timbul fitnah dan masih saja dia membuka pintu itu lebar-lebar.
Selesai menangis, gadis itu merapikan tatanan rambut dan riasan wajahnya. Meski air mata itu melunturkan sebagian riasan wajahnya. Namun, dia masih terlihat cantik dan manis.
Riasan wajah tipis dan sesuai usianya yang masih belia, rambut panjangnya ia urai begitu saja setelah melepas jepit yang membuat rambutnya seperti bun.
"Maaf, telah mengganggu." Ia yang menatap pria itu.
"Iya." Balasnya, tampak wajah tidak senang.
Gadis itu berjalan pergi, dan kembali lagi kehadapannya "Terima kasih."
"Iya." Dalam hatinya "Sana cepatlah pergi jauh."
Gadis itu kembali menoleh dan menundukkan kepalanya, "Thank you mister." Lantas melambaikan tangan kanannya.
Pria itu hanya menggangguk, lalu mengumpat "Gadis aneh."
Pria itupun menutup pintu kamarnya dan berjalan ke kamar mandi. Ia telah menemukan segumpal tisue dan jepit di atas wastafel.
"Gadis itu." Pria itu begitu kesal.
Lalu, ke tempat tidur. Terdapat bekas lipstik, sprei terlihat kotor. "Awas saja kalau kita bertemu lagi. Aku akan terus mengingatmu."
"Jangan sampai Mama melihat ini." Dia bergegas menghubungi pelayan hotel.
Suara bel kamar berbunyi. "Al... Ayo ke aula."
"Nanti Al nyusul."
"Ada apa?" Tanya Sang Mama.
"Itu, ada kecoak."
"Kecoak? Di kamar kamu?"
"Iya."
Sang Mama berfikir, hotel sebagus ini mana mungkin ada kecoa. Dia lantas pergi dan memaklumi putranya.
"Untung saja." Sambil mengelus dada.
Flashback OFF
"Sudah sampai rumah."
"Terima kasih untuk makanannya." Gaby turun dari mobil itu.
"Jangan bandel."
"Iya." Melambaikan tangan.