
Lee Sung Hoon yang masih duduk di rungannya, Andri Wijaya masuk ke dalam ruangan itu dan menceritakan tentang kejadian Cecilia.
"Bawa dia pulang."
"Baik Presdir."
Sung Hoon sudah banyak pikiran tentang perusahaannya, tapi masih memikirkan tentang Cecilia.
"Sudah aku suruh diam saja di rumah, sekarang juga berani melawan. Cucu Ji-ho juga keras kepala."
Kalau saja dulu tidak berjanji pada sahabatnya, sebenarnya dia juga enggan untuk merawat Cecilia.
Pastinya akan membiarkan Cecilia tetap tinggal di Bejing. Cecilia cucu Ji-ho, dan hanya dia yang masih hidup, tadinya ada sang Kakek yang merawatnya, tapi sang Kakek juga sudah meninggal.
Bahkan Sung Hoon, juga berjanji akan menikahkan Cecilia dengan Eun Ho. Tapi, Eun Ho malah memilih pergi dari rumah. Sudah berapa kali, Sung Hoon berusaha untuk membawanya kembali dan sekarang Stella yang membawanya kembali. Bahkan ada dalam genggaman Stella dan pastinya akan melawan Kakeknya sendiri.
Damar telah tiba di gedung pusat tim penyidik kasus penggelapan dana proyek dan kasus ilegal yang dilakukan oleh perusahaan Ji-sung.
"Silakan duduk Direktur Damar." Ucap seorang pertugas wanita yang profesional.
Damar dengan senyuman manis dan mulai duduk di kursi panas itu. Tampak sepi dan hanya dua petugas yang akan menginterogasi dirinya, bahkan ada barang bukti di meja itu.
"Apakah akan lama?" Tanya Damar dengan santai.
"Tergantung." Dia sambil menyiapkan laptop dan dokumen sebagai bukti atas masalah perusahaan Ji-sung.
"Apakah anda bisa kooperatif dalam interogasi nanti?"
Damar hanya tersenyum ringan dan tampak memegang kedua sisi kursi panas itu.
"Kalau anda bisa membuktikan anda tidak bersalah, anda akan secepatnya keluar dari sini." Ucap petugas yang sangat muda dan dia wanita. Dia salah satu petugas yang terkenal tidak bisa dibujuk dengan cara apapun. Dia sangat pandai bicara, walaupun usianya baru 32 tahun.
Gedung kantor tim penyidik juga sangat riuh, bahkan tidak hanya perusahaan Ji-sung yang terlibat masalah ini, ada dua perusahaan besar dengan kasus yang sama.
"Abyaz... Kamu lagi ngapain? Sudah satu jam aku disini. Sangat membosankan."
Sudah satu jam Damar berada dalam ruangan itu. Hanya sendirian, karena tadi dua petugas sedang mengambil data dari tim audit.
Damar mulai rebahan di sofa, tampak memandangi ruangan itu.
Tadi dia hanya mengisi data dirinya, dan setelah itu belum ada interogasi tentang kasus data gelap perusahaan Ji-sung.
"Abyaz... Aku kangen. Mak Lampir sudah merusak hari-hariku. Aku ini pengantin baru. Kenapa dia begitu kejam sama aku?"
Damar sangat bosan dan tidak tahu apa yang sudah terjadi di luar sana.
Di rumah sakit tempat Cecilia berada.
Suami istri yang saling menatap tajam. Melinda baru tahu tentang kecelakaan putranya, dan sampai putranya tiada. Dan itu karena ulah Glen dan Cecilia. Melinda yang hendak mengambil Cecil, tapi Andri sang suami, lebih dulu pergi membawa Cecil. Tapi, Melinda tidak tinggal diam. Dia menghentikan mobil Andri, yang masih ada di depan rumah sakit itu.
"Kamu mau kemana?"
"Aku di suruh Presdir Lee, untuk membawa Cecil ke rumah."
"Aku saja yang akan membawanya."
"Aku sudah berjanji dengan Presdir untuk melindungi Cecil."
"Jadi kamu sudah tahu."
"Melinda."
"Kamu tahu hal itu?"
"Kita tidak perlu ribut disini."
"Tapi aku mau Cecilia."
"Terserah kamu. Minggirlah, aku harus pergi."
"Kalau begitu, tabrak aku."
Andri Wijaya juga sangat mencintai Melinda, tapi Cecilia adalah keponakannya. Andri memiliki adik perempuan, dan menikah dengan orang korea.
Tapi Andri hanya diam, dan tidak mengatakan kepada siapapun. Dia memilih untuk bekerja di Ji-sung agar bisa menjadi ajudan Lee Sung Hoon, dan bisa memantau Cecilia.
"Melinda. Sudahlah."
Andri Wijaya, dari dulu memang cinta dengan Melinda. Tapi baru kali ini, dia berani menikahi Melinda, sedangkan Melinda hanya memanfaatkan Andri untuk jalannya saja.
Tatapan mata kedua orang itu sangat menakutkan.
"Melinda... Aku mohon. Kamu bisa mengunjungi Cecilia di rumah. Dia masih sakit."
"Apa dia putrimu??" Melinda yang tidak berhenti di situ saja.
"Melinda, kamu sangat tahu apa pekerjaan aku. Aku mohon sama kamu minggirlah, aku juga bisa nekat."
"Kamu akan menabrak aku??"
"Bukankah itu kemauanmu."Jawabnya dengan rasa tidak berdaya.
Melinda akhirnya menyerah, dan mulai memikirkan rencana lainnya. Dia juga belum melihat wajah Glen. Dia hanya tahu dari seseorang yang mengabari dia.
"Melinda, maafkan aku." Ucapnya dan kembali ke mobil setelah Melinda memundurkan mobilnya.
"Damar diinterogasi. Stella benar-benar membuat ini. Sungguh, tidak ada yang berguna." Gumamnya dan segera pergi meninggalkan rumah sakit itu.
Sudah jam 12 siang, Abyaz tadi hanya menerima pesan. Saat dibalas tapi ponsel suaminya sudah tidak aktif.
"Tiga hari??"
"Kenapa HPnya udah nggak aktif?!"
"Apa Damar di kantor polisi?"
Abyaz masih mencoba menghubungi suaminya lagi. Tapi masih tidak aktif. Menghubungi Stella juga tidak diangkat.
Abyaz yang di tempat tidur sangat tidak senang. Memukul bantal dengan kesal dan sangat tidak mengerti kenapa pada saat ingin dekat dengan suaminya. Malah harus berjauhan dan tidak tahu apa suaminya akan menjadi tersangka atau tidak.
"Damar dimana? Apa di dalam penjara?" Abyaz sudah hampir menangis, tapi dia kembali ingat kata-kata Guru Liu.
Menjadi Nyonya Damar akan banyak masalah yang menghampirinya, dan apapun masalahnya, dia harus tetap bertindak sebagai Nyonya.
Apalagi nanti, ketika bersama orang-orang yang ada di kalangan atas. Nyonya Damar tidak boleh menunjukan wajahnya yang penuh dengan masalah.
"Kenapa harus Nyonya??! Kenapa nggak__ Aaaaa...." Abyaz begitu kesal dan kembali meremas-remas bantalnya.
Disaat sang putri unyu meraung gemas karena teman hidupnya. Yang belum ada kejelasan kabarnya. Papa Pras ada di ruang kerja Stella.
"Pak Pras bisa lihat sendiri." Ucap Guru Liu.
Pras yang melihat data perusahaan di ruang kerja Stella juga berfikir aneh. Guru Liu sedang mengerjakan pekerjaannya dan Pras diijinkan untuk melihat data perusahaan yang sangat kacau.
"Lalu dimana uang itu?" Tanya Pras yang melihat nominal begitu besar, dalam pendanaan proyek itu.
"Tidak ada yang tahu." Jawab Liu dan masih melihat data perusahaan yang kemarin Giel simpan.
Saat dulu kerja di RM. pernah sekali bergabung dalam proyek besar, tapi tidak mencapai triliuan.
"Sangat rapi."
Bahkan, data ini juga sangat aneh. Keuangan dalam anggaran sangat berbeda dengan pendanaan proyek.
"Nona Liu, lalu apa proyek itu masih terbengkalai?" Mengingat proses dan jangka waktu proyek sudah beberapa tahun lalu. Kalau berhasil, pasti sudah jadi dan tidak ada kasus seperti ini.
"Bukan hanya terbengkalai Pak Pras. Tapi memang tidak dilanjutkan, dan dana untuk anggaran proyek itu tidak dikembalikan."
"Harusnya ada laporan masuk ke rekening."
"Iya, awalnya memang ada Pak Pras. Tapi, tidak lama. Tiba-tiba tidak ada yang tahu data itu. Hanya ada tulisan. Uangnya, tidak ada."
"Saya mengerti. Memang sepertinya sudah direncanakan. Orang-orang itu memang hebat."
"Pak Pras memuji mereka??"
"Iya, sangat ajaib." Pras tersenyum, dia mengerti masalah ini.
Pras mulai menatap jauh ke sebuah bukit, yang terlihat dari ruangan itu. Sudah siang, tapi udara di daerah itu masih terasa sejuk, karena memang perbukitan.
"Semua hal ada batasannya. Tapi tidak, untuk orang yang kurang menikmati hidupnya. Mungkin rasa syukur itu sudah tidak ada lagi."
"Semoga Damar baik-baik saja." Batin Pras yang merasakan keadaan saat ini.
Uang memang salah satu kenikmatan dunia yang dapat membutakan mata. Segala cara dihalalkan, agar bisa meraihnya. Termasuk saat ini, ada hal yang tidak dimengerti. Tapi, ini memang benar adanya.
"Pak Pras, saya sudah selesai. Apa anda masih ingin disini?"
"Tidak. Saya juga mau keluar."
"Baik, saya akan mengunci pintunya."
Mereka berdua keluar dari ruang kerja Stella dan Guru Liu mulai memikirkan Viral.
"Pak Pras, saya mau menemui Viral. Apa anda ingin ikut?"
"Tidak Nona Liu. Saya harus menemani Abyaz."
"Iya, sebaiknya Abyaz memang harus di rumah saja, sampai keadaan membaik."
Pras tersenyum dan Guru Liu mulai pergi membawa sebuah map hitam.
"Direktur Damar, ada yang ingin bertemu anda." Ucap petugas yang masuk ke dalam ruangan.
Damar yang masih berbaring di sofa, akhirnya duduk dengan santai.
Kebiasaan yang buruk. Dimana ada sofa, pasti posisi uwweenak ya Dam. Rebahan, kaki ke atas sandaran. 🤣😅😂 Haiish, mantunya Mas Pras.
Oleeeng! 🤣🤣🤣
Besok boboknya di kasur ya. 😋
Mau lanjut nggak ya?? 🤠hehehe
Maafkan othor, yang selalu typo 🤗