
Saat berada di ruangan kerja sang Papa. Hanya terdiam dan menatapnya saja.
Sang Papa berdiri, "Ayo, kita ke kantin."
"Tapi aku belum sholat dzuhur."
"Baik, kita pergi ke mushola. Papa juga belum sholat."
"Papa jangan begitu, aku kerja. Papa juga kerja."
"Kenapa memangnya? Papa belanja sesuai layaknya pembeli. Kamu mengantar juga profesional. Tapi, kita makan siang bareng apa masalahnya?"
"Masalahnya, staff Papa pada lihatin aku."
"Kamu malu?" Sang Papa yang manatap putrinya dengan gemas.
"Nggak. Aku nggak malu."
"Bagus kalau begitu."
Setelah di depan pintu, dan keluar lebih dulu.
"Tuan, saya mau ke mushola dulu."
"Mari silakan, saya juga belum sholat."
Mereka tampak berjalan bersama. Beby sedikit mundur ke belakang. Para staff juga bisa melihat ke mereka.
Berdua dan menaiki lift, ada beberapa staff yang menuju mushola kantor.
Setelah beberapa menit di mushola dan sang Presdir itu masih memperhatikan putrinya.
"Jurus apa yang Arjuna punya? Anak ini jadi rajin sholatnya?" Batin sang Papa.
Beby yang sudah tampil dengan wajah segar dan sang Papa masih menunggu di depan mushola.
"Tuan, masih menunggu saya?"
"Iya."
Mereka berjalan ke arah kantin dan tampak beberapa staff yang melihatnya.
"Presdir tumben ke kantin?"
"Aku mimpi apa, sampai Presdir mau makan disini?"
"Siapa yang bersama Presdir?"
"Makan berdua."
Sang Papa yang menyuruhnya berjalan lebih dulu, untuk mengambil makanan. Layaknya prasmanan di sebuah hotel. Makanan sehat dari ahli gizi dan koki handal. Makanan yang fresh, ada nasi, mie, roti, ikan, daging, ayam, dan ada pula sayuran serta buah segar.
Sang Papa masih melihat ke arah Beby. Memang tampak apa adanya. Cara ia mengambil, yang tidak berlebihan dan ia hanya mengambil yang dia suka.
Ada pula cafetaria tempat bersantai, dan kantin perusahaan ini yang sangat bersih, dengan meja kursi tertata rapi.
"Mari, silakan duduk disini."
"Terima kasih."
Sang tuan putri tersenyum dan Sang Papa juga tersenyum.
Beberapa staff juga menatapnya dengan heran.
"Siapa gadis itu?"
"Mana aku tahu."
"Eh, jangan-jangan Presdir kita begini." Tanda selingkuh dengan wanita muda.
"Ngaco kamu. Kalau kayak begitu. Masa iya di kantin ini berani ajak yang muda."
"Ya bisa aja dia kenalannya atau kerabat."
"Kalau nggak salah, anaknya juga seusia cewek itu. Dia baru menikah."
Seorang gadis mengamati penampilannya, "Sepertinya begitu. Lihat penampilannya. Seperti bukan putrinya Presdir."
Dari ketiga anaknya, tidak ada satupun yang bekerja di JS.
Sang Bintang kejora, ia hanya sering mengikuti pertemuan penting saja.
"Saya senang berkenalan dengan putra Presdir Damar."
"Kamu memang calon penerus, seperti putraku."
"Putra Presdir Damar memang punya kharisma."
"Bagus, anak muda. Kamu harus mengikuti jejak Papa kamu. Hebat."
"Saya masih harus banyak belajar."
"Tidak apa-apa. Kita semua senang bertemu pemuda yang seperti kamu. Mengumpulkan wawasan bisnis dan tidak langsung menerobos pasar bisnis."
Damar hanya mengenalkan dan tidak mengarahkan. Tapi, sang Bintang bisa menempatkan dirinya. Bersosial itu juga salah satu kunci kesuksesan dalam bisnisnya.
Sang Bintang ini baru belajar mengenal seluk beluk JS. Yang nantinya, akan di turunkan kepadanya.
Sang Bulan purnama, jalan-jalan kemana saja yang dia mau. Tapi, dia sangat pandai melihat peluang. Setiap ada hal yang sulit dipecahkan sang Papa. Bulan bisa membantunya dengan baik.
"Papa, jangan ambil proyek itu nanti jadi rugi."
"Baik, Papa akan menurut sama pengamat handalnya Papa."
"Papa, sepertinya harus bisa meraih proyek ini. Bagus ini proyeknya. Aku jamin, Papa bisa dapat keuntungan besar."
"Ya, nanti Papa coba pikirkan."
Ya seperti itulah. Sedangkan si kecil ini. Hanya bersenang-senang. Tapi, Cinta Damayaz sudah ada kantor sendiri. Dia ingin menjadi desain interior seperti Mama semasa muda.
Sayangnya, kantor itu baru berdiri dan sudah berada di tangan Bos Cinta Damayaz yang sesungguhnya.
Saat ini yang berada di kantin. Papa dan anak masih tampak menikmati makan siang mereka.
Di ruang kerja Presdir.
"Papa kemana?"
Sang istri keluar dari ruangan, setelah melihat ponsel suami yang tergelatak di atas sofa.
"Mas Damar makan siang dimana?"
Melihat staff yang berdiri dan ia hendak makan siang.
"Mona, kamu melihat Presdir?"
"Presdir makan siang di kantin." Jawabnya jujur setelah melihat berita grup chat, yang mengatakan kalau sang Presdir makan di kantin bersama perempuan. Dia juga penasaran, ingin segera ke kantin.
"Kantin?"
"Iya Madam. Presdir bersama pegawai butik."
"Pegawai butik?"
"Papa main-main sama Mama?"
"Madam, saya mau makan siang di kantin. Mau bareng saya?"
"Kamu saja kesana. Saya ada urusan."
"Baik Madam."
Melihat ekspresi sang Madam yang membara, asisten sekretaris itu juga ketakutan.
Madam Abyaz kembali ke ruangan dan mengambil nota yang tertera di atas meja.
"Butik Gloria?"
"Papa kesana, membeli ini?" Mata sang istri seolah telah ingin melompat dari kelopak matanya.
Gaun malam yang pastinya tidak akan lulus sensor. Begitu sexy dan aduhai bila di kenakan oleh perempuan muda yang berparas indah.
"Ini, warna merah begini."
Meremas kesal gaun itu dengan perasaan emosi.
Sang Mama yang sangat penasaran dan pergi begitu saja. Istrinya makin usia semakin pencemburu.
Yang di kantin tampak selesai makan. Kemudian, Beby Ayazma akan pergi.
"Tuan, terima kasih untuk makan siangnya."
"Sama-sama"
"Saya permisi dulu."
"Silakan."
Sang Papa yang tampak santai saat mengantarnya keluar, sekarang kembali di lobby.
"Papa."
"Mama."
"Papa, Mama nyari ke ruangan Papa."
"Papa ada tamu?"
"Iya, tamu special."
Lalu sang istri berkata "Mama cuma mampir. Ya, udah Papa bisa lanjut kerja."
"Iya, ini Papa memang mau lanjut bekerja."
Begitu santai.
sang istrinya yang menganggapnya, seolah pandai menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kalau begitu. Mama mau pergi dulu."
"Hati-hati."
"Iya."
Madam Abyaz lalu pergi dan Presdir juga sudah kembali ke ruang kerjanya.
Beby yang berjalan dan mencari taxi. Dari tadi susah menghentikan taxi.
Sudah lebih dari jam 1, pastinya para teman kerjanya mendumel karena Beby yang terlalu lama mengantar belanjaan itu.
"Huft. Mereka udah mencariku."
Beby yang masih di dalam bus, karena tadi susah mencari taxi di kawasan itu. Dia tidak pernah memakai taxi online, jadinya lebih memilih menaiki bus kota.
Sudah lebih dari 1 jam perjalanan dan Beby tak muncul juga. Lalu mereka bilang, ada yang komplain soal gaun yang rusak.
"Gaun rusak?"
"Mbak, apa masih lama?"
"Iya, Nyonya. Dia masih ada di dalam bus."
"Owh, begitu. Saya akan menunggu."
Para pelayan ini, hanya bertiga. Karena, sang Bos juga baru saja pergi untuk urusan lain. Lalu yang bekerja di ruang kerja, tetap fokus pada pekerjaannya.
Hanya ada kasir dan dua pelayan. Lalu ada tamu wanita sexy dengan tampilan mewahnya. Tampak duduk di sebelah Madam Abyaz. Tapi, di sofa berbeda.
Layaknya Nyonya, yang dilayani oleh para pelayan ini. Mereka sangat ramah dan berlaku menuruti apa saja yang di perintahkan pembeli ini.
Bagaikan ratu yang duduk di singgasana. Ia hanya menunjuk dan pelayan mengantarkan gaunnya.
"Saya tidak mau itu. Terlalu norak."
Padahal, dia sendiri yang menunjuk ke arah itu.
"Kanan lagi, yang ada belahan."
"Ini Nyonya."
"Apa ada warna lain?"
"Tidak ada Nyonya. Disini setiap warna yang ada, pasti akan beda mode dan ukurannya."
"Uuh, aku mau warna nude. Nude."
"Nude disebelah sana. Nyonya ingin yang seperti apa?"
"Belahan samping, ya mirip yang itu tadi."
"Baik Nyonya. Akan saya carikan."
Setelah 30 menit dua pelayan itu melayaninya. Sang Tamu itu akhirnya pergi dengan membawa satu gaun yang dia inginkan.
Madam melihat cara kerja para pegawai, begitu profesioanl. Lalu mengapa dirinya bisa cemburu.
"Cuma makan siang di kantin. Kenapa aku harus cemburu?" Pikirnya dalam hati.
"Mbak, saya sudah menunggu lama. Saya tidak jadi komplain."
"Baik Nyonya."
Setelah Madam Abyaz hendak berdiri dan merapikan dress yang ia kenakan saat ini.
Bersamaan Beby yang membuka pintu itu, dan matanya langsung tertuju kepada sang tamu. Madam Abyaz, masih tampak menghadap ke belakang.
"Nyonya, dia sudah datang."
"Nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
Saat membalikan badan dan langsung menatapnya.
"Kamu."
"Mama."