
Langit malam yang indah, sang bulan tampak bundar menawan. Gaby yang berjalan seorang diri. Jalan Arjuna Raya yang sangat ramai di malam ini.
Baru jam 7 malam, banyak pengendara motor dan mobil yang berlalu lalang. Gaby yang hendak menyebrang jalan dan menoleh ke kanan, lanjut menoleh ke kiri. Kemudian berjalan menuju mini market.
Gaby hendak masuk dan membuka pintu mini market. Sosok yang ia kenal telah menatapnya sinis.
"Bapak!" Terkaget.
Alvaro yang mengenakan hoodie putih, tampak menyernyitkan dahinya. Kota yang luas, kenapa terasa begitu sempit. Lagi-lagi bertemu muridnya, ntah mini market mana yang ia hampiri, selalu saja ada yang menyapanya.
Alvaro diam saja dan Gaby tadi yang mendorong masuk pintu itu, perasaannya seketika aneh.
Gaby yang sedang berbelanja untuk kebutuhan hariannya, dia tidak lagi melihat guru olah raganya.
Gaby mengambil minuman soda dan botol kaleng itu sudah di pegang jemari kaku dan terasa otot tangan yang kuat.
"Bapak lagi."
Alvaro hanya diam setelah mengambil minuman itu. Lantas pergi tanpa berkata apapun. Aura wajah beku itu memang dingin. Sorot mata itupun, seperti benda runcing yang siap menancap ke wajah Gaby.
Gaby mencebikan bibir imutnya dan berkata dalam hatinya "Bukannya tadi dia udah pergi. Ngapain disini lagi. Menyebalkan."
Tangan Gaby seolah ingin mencakar, dan ingin mengacak-acak rambut gurunya itu.
"Guru kejam" Ekspresi saat mengumpat.
Seketika, Al membalikan badan, seolah dia tahu apa yang ada dalam batin Gaby.
"Anak bandel." Sepertinya terjadi perang batin.
Senyuman tipis nan nakal, Alvaro berikan kepada Gaby. Lalu dia berjalan ke arah kasir. Meletakan minuman soda itu dan langsung membayarnya. Alvaro keluar lebih dulu. Duduk di kursi yang ada di teras mini market, sembari meneguk minumannya.
"Apa maksudnya itu? Beraninya sama gadis imut seperti aku." Gaby yang masih di depan mesin pendingin mimuman itu.
"Buruan sana pergi. Awas saja, kalau sampai bertemu lagi." Gaby lantas pergi ke arah kasir.
Selesai berbelanja, Gaby berjalan pulang dan tidak lagi melihat sosok gurunya itu.
Gaby menghembuskan nafasnya dan merasa lega. Dia berharap tidak ada yang mengusik dirinya.
"Jalan sendirian neng?"
Ada dua anak muda yang menggoda.
Gaby tetap berjalan saja, dan tidak ingin menghiraukannya.
"Neng, mau abang anterin?"
Suara itu jelas terdengar dekat.
Ssett!
"Ayo naik." Pinta Al, yang mengajak Gaby untuk segera menaiki motornya.
Gaby tidak lagi berfikir panjang, dia juga takut sama orang tak dikenal itu. Meski banyak kendaraan yang berlalu lalang di Jl. Arjuna Raya. Gaby tetap cemas akan situasi ini.
Kedua orang itupun akhirnya pergi, dan Gaby sudah menaiki motor Pak Al.
"Pegangan."
"Hemms?"
"Nanti kalau kamu jatuh, aku nggak mau disalahin."
Gaby mengerti, dia memegang sisi hoodie yang Al kenakan. Tangan Al meraih pergelangan tangan Gaby dan membuat Gaby agar berpegangan erat melingkari perutnya.
Gaby yang masih jengkel dengan Pak Al. Namun suasana ini, membuatnya terasa nyaman.
Semilir angin malam menemani mereka berdua. Motor gagah itu melaju santai. Tidak dipungkiri, karena hal ini pula, Al merasakan hal berbeda, dia tidak lagi risih terhadap perempuan.
Apakah ada getaran manis yang dirasakan Al? Othor tidak tahu. ðŸ¤
"Malam yang menyenangkan." Batin Gaby.
Sudah lama sekali dia tidak merasakan hal ini, ada sosok yang melindungi dirinya selain pria yang bernama Darren.
Ini kali pertamanya ia membonceng motor. Gaby sampai tidak sadar, kalau dari tadi sudah memutari taman Bumi Asri.
"Pak Al, stop!" Pintanya, saat melihat ayunan di area bermain taman Bumi Asri.
Seketika motor gagah hitam itu berhenti.
"Ini rumah kamu?"
"Bukan. Tapi sudah dekat."
"Dimana?"
"Tadi kelewatan."
Gaby turun dari motor itu dan berkata "Pak Al, terima kasih."
"Rumah kamu dimana?" Tanya Al.
"Itu rumah yang No. 5. Depan ayunan taman."
Alvaro tanpa kata langsung tancap gas dan Gaby merasa aneh atas kelakuan gurunya ini.
"Ternyata masih satu komplek." Batin Alvaro. Ia tidak lama juga sampai di rumah.
"Orang aneh. Tapi dia perhatian juga." Gaby jadi senyam-senyum sendiri.
Ada seseorang yang duduk di teras dan menunggu kedatangan Al. Britney yang tampak berbincang dengannya. Tamu yang satu ini, sangat dikenal Al sewaktu di kampus dulu.
"Dia." Batin Al saat melihat teman yang pernah menyentuh perasaannya.
"Al.." Sosok nan manis dan paras yang aduhai. Apalagi di usianya yang sudah matang. Body dan lekukan tubuhnya sangat menggoda mata buaya.
Sepertinya, sekarang ini Al sudah bisa memahami. Sosok gadis seperti apa yang bisa menyentuh hati dan perasaannya.
"Al, teman kamu sudah lama nungguin. Mama masuk dulu ke dalam."
"Iya Ma."
Al duduk di kursi yang tadi di duduki sang Mama. Gadis itupun menatap Al dengan senyuman.
"Andre bilang, waktu itu kamu datang ke reuni."
"Owh, iya."
"Dia juga bilang, kamu sendirian."
"Memang aku lagi ingin sendiri. Aku waktu itu dari Sekolah."
"Emh, iya." Gadis itu masih menatap wajah Al.
"Al, Andre juga bilang sama aku. Kalau dulu kamu."
"Aku dulu kenapa?"
"Tidak jadi." Ia tampak mengurungkan niatnya. Yang tadinya ingin bertanya soal isi hati dan perasaan Al.
"Al, aku akan menikah."
"Aku tahu."
"Iya, pasti mereka udah bilang sama kamu."
"Andre yang bilang sama aku. Dia juga mengundang aku secara langsung."
Tamu itu, lalu berkata "Aku harap minggu depan kamu datang ya."
"Pasti aku datang."
Al yang berkuliah mengambil jurusan mesin, pernah terpikat akan pesona mahasiswi jurusan management dan ia telah bekerja di perusahaan asing yang ada di ibukota.
"Aku harap, kamu datang mengajak pasangan kamu."
"Andre pasti bilang, aku masih jomblo."
"Al..."
"Tidak apa-apa. Aku akan datang dan mengajak muridku."
"Benar, Pak guru tampan pasti para muridnya terpesona."
"Kamu bisa saja."
Al dan dia memang akrab, namun hal lain membuat mereka berdua menjadi tidak seakrab dulu waktu di kampus. Al yang selalu menganggap, bahwa dia teman yang berbeda. Dia juga memperlakukan Al lebih dari sekedar teman.
"Al, aku harus pulang. Pamitin sama orang tua kamu."
"Baik."
Jarak kota ini dan ibukota akan memakan waktu sekitar 3 jam, itupun kalau jalannya lancar.
"Al, kamu wajib datang." Pintanya lagi.
"Iya, aku pasti akan datang."
Dia pergi dan Al masih melihat mobil itu berjalan pergi meninggalkan rumahnya.
Al masuk ke rumah, dan sang Mama menatapnya "Al, dia teman special kamu?"
"Ma, sudahlah. Dia cuma teman biasa."
"Apa jangan-jangan kamu seperti Papa. Ditinggal mantan."
Al tersenyum dan berkata "Ya bedalah, aku mana pernah pacaran. Mana mungkin pria tampan seperti aku ditinggalin."
Sang Mama tersenyum dan berkata "Jaman sekarang pria tampan kalah saing sama pria mapan."
"Mama, emangnya Al kurang mapan? Al juga udah kerja. Al juga mandiri."
Sang Papa yang menonton acara televisi, tetiba menyahut. "Iya mandiri. Makan dan mandi sendiri. Itu, kamar kamu siapa yang merapikan setiap harinya? Baju kotor juga numpuk di kranjang kamar, kalau bukan Papa yang laundry, mana mungkin bisa pindah ke lemari."
"Papa tahu sendiri, Al sibuk."
"Iya Pa, Al memang sibuk. Sampai kadang lupa pamitan sama Mama."
"Bukan begitu Ma."
"Terus, tadi keluar rumah nggak pamit, tadi kamu kemana?"
"Di taman depan." Jawabnya.
Pras dan Britney menatap Al. Mereka kompak bertanya "Kamu pacaran?"