
Disaat malam itu, Gaby yang berdiri di balkon dan Alvaro memeluknya dari belakang.
Menatap langit gelap yang cerah, dan berdua dengan canda tawa. Seseorang telah menatapnya dari dalam mobil.
"Gaby sudah menikah."
"Ini tidak mungkin!"
Darren dengan segala pikiran yang menerjang. Kedua tangannya yang bersandar setiran mobil, tampak mengepal geram dan terlihat sangat emosi.
Sorot mata penuh kekecewaan pada dirinya sendiri. Seorang Darren yang pernah diwanti-wanti oleh Langit Mahatma. Bahwa, Darren harus menjaga dan melindungi putri kecilnya. Tapi, Darren sudah lalai dan tidak bisa menepati janji itu. Apalagi usia Gaby baru 18 tahun, ternyata malah sudah menikah dan Darren tidak tahu menahu akan hal itu.
"Aku sudah bersalah." Darren menunduk dengan penyesalan. Wajah itu berubah muram dan perlahan bersandar pada lengan tangannya yang berada di setiran mobil.
Mobil sedan hitam, terparkir di area parkir Taman Bumi Asri. Suasana hati pengendara mobil itu sudah tidak nyaman. Rasa sesak dalam dadanya dan ingin menumpahkan segala perasaan yang ada.
"Gaby, maafin aku." Gumamnya dan ia kembali menatap ke arah balkon rumah itu.
Darren yang saat itu masih pelajar, dan hidup dengan seorang nenek. Tidak ada biaya untuk meneruskan sekolahnya. Pada akhirnya bertemu Langit Mahatma dan diajaknya ke rumah. Semua biaya sekolah dan kebutuhan sang nenek itu juga dipenuhi oleh Langit Mahatma.
Darren remaja begitu polos dan tidak neko-neko. Pandai dalam hal pelajaran, rajin dalam keseharian, dan menurut pada perintah Langit Mahatma.
Tidak kenal lelah dan begitu sabar saat bersama Gaby kecil. Gaby yang kecil dengan segala tingkah lucunya, sangat aktif dan menggemaskan.
Setelah masa itu, Darren semakin dekat dengan Gaby. Layaknya Adik dan Kakak. Saling mengenal dekat, penuh canda tawa, serta suka dan duka bersama.
"Darren, kenapa Daddy nggak bangun lagi?" Lirihnya dan wajah polos itu menatap ke wajah Daddynya. Isak tangis Gaby kala kepergian Daddy tercinta. Darren yang telah memeluk erat, dan ia berkata dalam hatinya "Aku akan menjaga kamu."
Langit Mahatma yang mengidap sakit parah, namun beliau tidak memberitahu putrinya dan juga Darren. Kabar kalau Daddy dilarikan ke rumah sakit, lalu Darren yang saat itu berada di luar negeri, segera kembali.
"Bapak, maafin saya." Darren yang geram akan dirinya sendiri. Kebiasaan ia memanggil Bapak kepada orang yang mengangkat derajatnya. Luruh sudah hati dan perasaannya. Air bening perlahan menetes dari sudut kelopak mata dan ia merasa begitu kesal akan dirinya sendiri, mengingat akan janji yang tidak bisa ia tepati.
Setelah mendapat kabar kalau Gaby sudah menikah. Darren langsung mencari tahu dan meluncur ke kota tempat tinggal Gaby. Rasa tidak percaya dan menyesali akan dirinya yang tidak bertanggung jawab atas keadaan Gaby.
Kembali menoleh ke atas melihat sosok suami Gaby. Darren tidak bisa berfikir panjang, dia tetap menyalahkan dirinya. Dengan gemetar menyalakan mesin mobilnya dan ia hendak pergi meninggalkan tempat itu.
Lampu mobil menyala dan Gaby seketika melihat ke arah mobil yang tampak dikenalnya.
"Darren!!" Batin Gaby dan masih melihat ke arah mobil yany berada di parkiran taman.
Tidak berselang lama, mobil itupun melaju pergi meninggalkan area taman.
Al yang masih mendekapnya dari belakang bartanya "Kamu masih tidak mau memaafkan aku??"
"Apa aku harus mandi bunga tujuh rupa?" Al dengan suara pela dan Gaby hanya terdiam tanpa kata.
"Gaby."
Dari tadi Gaby masih tidak bisa berkata, dan hanya emh, emh, emh. Mengingat akan Darra yang memeluk suaminya di taman dan ada saksi yang melihatnya.
"Kamu bohong aku masih bisa maafin kamu. Kenapa sekarang kamu nggak bisa maafin aku??" Dengan gemas pelukan itu dan Gaby tersenyum centil.
Perlahan membalikan badannya dan raut wajah Gaby seolah sudah tampak menangis. Bukan Gaby kalau tidak bisa jahil dan membuat suaminya ini bakalan kapok.
Suara sendu "Mas Al tega!" Tangan itu sembari memukul dada kekar Alvaro.
"Iya aku salah. Tapi aku tidak 100% bersalah. Orang aku diam saja, tidak memeluk seperti ini." Dengan gaya tangannya yang mendekap istrinya.
"Sama aja, itu namanya pelukan."
"Bukan begini sayang." Al yang melepaskan tangannya dan meraih tangan Gaby untuk memeluk bahunya.
"Tetap saja, ini namanya pelukan." Bibir imut nan centilnya dan sorot mata yang terlihat sendu. Begitu manja dan sangat menggemaskan.
Alvaro juga tidak tega melihatnya, ia perlahan mengelus rambut Gaby "Aku minta maaf. Aku janji akan menjaga diriku dengan baik."
"Huft!" Gaby kembali membalikan badannya ke arah taman depan rumahnya.
"Iya aku maafin. Tapi..." Gaby dengan cemberut manja.
Alvaro semakin menempel dan tampak menunduk "Tapi apa?"
"Ya sudah, aku nggak apa-apa. Aku udah maafin Mas Al." Gaby yang melepaskan tangan Al dan ia berjalan pergi. Al masih merasa kalau Gaby belum bisa menerima kata maaf itu.
Gaby dengan santai berjalan menuruni anak tangga dan Al masih saja mengejar istrinya.
"Gaby." Al meraih tangan itu dan membuat Gaby berbalik badan.
Berdiri di antara anak tangga dan kedua wajah itu saling menatap dekat. Al yang ada di hadapannya, begitu serius saat menatap wajah tampannya. Sorot mata yang penuh ketulusan dari dalam hati dan kedua tangan yang memegang tangan istrinya dengan penuh perasaan.
"Aku tahu, aku sudah bersalah. Aku tahu kamu belum bisa maafin aku."
Gaby tersenyum centil, lalu berkata "Iya, aku nggak apa-apa."
"Kamu masih marah sama aku?"
Gaby semakin gemas dengan suaminya, ia berkata "Emh, aku tidak marah. Aku cuma sedikit kesal. Kenapa suamiku bisa dipeluk wanita lain?"
"Kesal? Kamu tidak cemburu?"
Gaby menggeleng dengan bibir tampak membulat, dengan tatapan tenang dan gemas ia mencium pipi suaminya, lalu ia berkata "Aku tidak cemburu, aku hanya kesal. Kenapa suamiku tidak cerita, malahan aku harus dengar itu dari genk kupu-kupu."
"Kamu tidak cemburu?" Al merasa ada hal aneh yang mendera perasaannya.
Gaby kembali menggeleng.
Al berkata "Baguslah kalau tidak cemburu." Perasaan apa ini, malahan Al merasa ada yang sakit dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Al melepaskan tangan Gaby, dan dengan cuek Gaby juga kembali berjalan menuju ke ruang dapur.
Al memegang bagian dada dengan telapak tangan, "Ada apa ini? Kenapa aku yang kecewa?"
Gaby yang membuka kulkas dan ia terlihat mengambil minuman kaleng. Al masih tampak mematung di tangga itu.
"Aku? Aku yang terluka?"
Al masih bingung akan dirinya, perasaan berdesir dan rasanya tidak senang saat Gaby tidak cemburu akan dirinya yang dipeluk perempuan lain.
"Mas Al kenapa?" Gaby yang melihat Al masih membeku dalam pikirannya sendiri.
Al berjalan dan mendekat ke arah Gaby. Tatapannya begitu aneh, tidak seperti biasanya. Melihat ke wajah Gaby dan Gaby minum dengan mata yang mengarah ke wajah tampan Al.
Semakin mendekat dan Al tiba-tiba meraih pinggangnya. Gaby terhentak kaget dan secepatnya menunduk. Tidak lagi berani menatap wajah itu, tangan kiri memegang minuman kaleng dan Al menatap lekat sosok istrinya.
"Gaby."
Gaby perlahan mendongak ke atas dan melihat wajah suaminya "Iya."
Tangan kanan Al masih memegang pingang ramping itu, dan menatap wajah Gaby dengan seksama.
Perlahan tangan kiri Al mengelus lembut rambut Gaby, ia berkata "Jadilah istri yang pencemburu."
"Hems?" Raut wajah polos dan mata Gaby berkedip centil, keduanya masih saling memandang.
Entah perasaan apa yang merasuki benak Alvaro saat ini, dia tidak suka kalau istrinya santai saat mengetahui ada gadis lain yang memeluk dirinya.
Tatapan Al yang semakin serius. Gaby sampai mati kutu, dan tak bisa memalingkan wajahnya.
"Gaby."
"Aku, suamimu!"