ABYAZ

ABYAZ
Kabar Gembira



Pagi indah dengan anugerah yang tercipta. Duduk diantara keluarga barunya, yang ia miliki saat ini.


Penuh kasih dan sayang untuknya. Tidak dipungkiri, bahwa semakin hari perasaan bahagia itu kian tumbuh di hati.


Duduk terdiam dengan kedua tangan di atas meja. Bak anak usia dini yang di minta gurunya untuk duduk anteng dan mengikuti bimbingan sang guru.


Gaby menatap manis kedua orang tua dan suaminya telah menyiapkan menu khusus untuknya.


"Papa, Gaby kenapa diam saja ya. Apa mereka lagi ada masalah?" Bisik sang Mama mertua kepada suaminya.


Papa Pras membalasnya "Dia lagi menunggu suaminya. Biarkan saja. Mama selesaikan dulu makannya."


Papa mertua menikmati teh hangat aroma melati. Sang Mama mertua tetap mengamati raut wajah Gaby saat ini.


Sudah 10 menit seperti itu. Raut wajah sang menantu kesayangan tampak kekanakan.


"Gaby, kamu ada masalah apa sayang?" Mama mertua tidak tahan saat melihatnya.


Bibir imut itu telah berubah cemberut dengan tatapan sendu.


"Besok, Gaby ada ujian, mungkin lagi kepikiran itu." Papa Mertua dengan santai menjawab akan pertanyaan Mama mertua.


Raut wajah yang kekanakan dan semakin sendu. Air mata yang luruh saat melihat sang suaminya datang mendekat ke arahnya.


"Papa, Gaby nangis." Ucap sang Mama mertua kepada suaminya.


Suami tampan yang datang dan meletakan nasi goreng yang dimintanya. Tadi, sewaktu masih di kamar, meminta nasi goreng favorite Al. Suaminya sendiri yang harus memasak untuknya.


"Sayang, ini nasgor special buat kamu."


Pecah sudah tangisnya dan Papa Pras langsung menatap putra tampannya dengan tatapan serius.


"Sayang, sudah dong. Jangan nangis lagi." Ucap Al, sembari mengelus rambut istrinya.


Wajah itu semakin imut saat menangis dan ia berkata "Mama, Mas Al nakal."


Mama mertua lantas mendekat dan bertanya "Sayang, ceritakan sama Mama. Al berbuat apa sama kamu. Sampai kamu nangis begini."


"Mama malah mojokin Al." Ucap Al dan tidak terima atas ucapan sang Mama.


"Mama." Gaby yang meraih tangan sang Mama mertua dan memeluknya. Al sedikit menjauh dari posisinya berdiri.


"Al, kamu sudah apain Gaby?" Mama Britney yang tampak melotot ke putra tampannya.


"Mama sudah." Papa Pras menyela dan melerai istrinya agar tidak memojokan Alvaro.


Al langsung berkata "Mama, Gaby nggak apa-apa. Ini cuma bawaan hormon bumil."


Mereka terdiam, hanya terdengar isak tangis Gaby dan sangat manja suara tangisnya itu.


"Bumil??" Mama yang terkejut.


Papa Pras bertanya "Al, kamu bilang apa barusan, Gaby hamil?"


"Mama, Papa dengerin Al baik-baik. Gaby positif hamil. Papa sama Mama mau punya cucu dari Al."


"Alhamdulillah." Mama dan Papa mertua bersamaan berucap syukur.


Gaby yang masih sesenggukan dan Mama mertua telah mengelus rambut menantunya dengan rasa sayang.


"Selamat ya sayang." Mama mertua mengecup pipi sang menantu dengan rasa sayang yang ada dalam hatinya.


"Mama."


Gaby yang masih menangis, dan sang Mama mengerti akan kondisi Gaby yang masih sekolah dan hendak melanjutkan pendidikannya.


Baru beberapa hari lalu, Gaby sharing dengan Mama mertua, untuk memilih jurusan apa yang akan di ambil dan di kampus mana yang akan di pilih untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.


"Gaby sayang. Kalau kamu kesulitan merawatnya. Mama bisa carikan baby sister. Mama yang akan mengawasinya. Mama tidak masalah kalau harus menjaga cucunya Mama. Kamu nggak usah kepikiran soal bayi kamu nanti. Jaman sekarang, banyak anak muda yang kuliah dan punya bayi. Mereka juga bisa melanjutkan kuliah dan sampai lulus kuliahnya. Kamu nggak usah cemas lagi."


"Mama. Bukan itu yang jadi kepikiran Gaby. Gaby bahagia. Gaby tidak masalah kalau soal kehamilan ini."


Semua yang ada dihadapan Gaby, menatapnya bingung.


"Entah kenapa Gaby bawaannya ingin nangis melulu. Apalagi kalau lihat Mas Al. Gaby nggak kuat menahan perasaan. Gaby ingin nangis kalau lihat Mas Al."


Papa mertua langsung menggeleng dan Mama mertua tersenyum mendengar hal itu. Ada-ada saja bumil belia ini.


"Al, duduk sini. Jangan dekat-dekat Gaby." Pinta sang Papa.


"Papa, Mas Al disini aja. Gaby nggak bisa lihat wajah Mas Al."


Al duduk di sebelahnya dan memegang tangannya. "Kamu makan ya. Ini tadi aku masak dengan bumbu cinta."


"Aku maunya di suapin Mama."


Sang Mama mertua telah siap memegang sendok. Gaby saat ini sangat tampak kekanakan.


"Kamu harus makan."


Mama mertua dengan senang hati, menyuapi sang menantu yang sedang mengidam ini.


Bibir imut itu dengan manisnya berucap "Makasih ya Ma."


Sang suami merasa lega dan menatap dengan senyuman. Papa Pras kembali menikmati sarapan paginya dengan perasaan tenang.


"Rumah ini semakin terasa adem." Batin sang Papa mertua.


2 jam kemudian


Keluarga ini, menuju ke rumah sakit Bunda Sehat. Gaby yang duduk bersandar dan ia tetap menatap ke arah jalanan. Perasaannya yang tenang dan tidak ingin menoleh ke arah suami tampannya.


"Mas Al, nanti aku maunya ditemani Mama."


"Hem?"


"Aku maunya sama Mama."


"Aku suamimu."


"Tapi aku maunya sama Mama." Ia yang hampir menangis lagi saat sang suami menatapnya.


Mama berkata "Al, biarkan saja. Kalau memang Gaby maunya sama Mama."


"Benar juga."


"Tapi, aku maunya sama Mama. Nggak mau sama Mas Al."


Al menghembuskan nafasnya dan berkata "Baiklah, kalau itu yang kamu mau."


"Yes, akhirnya sama Mama."


Al memanggil "Papa."


Sang Papa duduk dikursi belakang menjawabnya "Iya."


"Papa. Apa semasa Mama ngidam seperti ini ?" Tanya Al dan Gaby tersenyum kesenangan.


"Mama kamu, dulu ngidamnya juga aneh-aneh. Papa pernah manjat pohon mangga demi Alishba. Terus, manjat pohon jambu air demi Abyaz. Kalau waktu ngidam kamu dulu, Papa disuruh main sepak bola sama anak-anak kecil."


Al bertanya "Apa Mama juga nangis terus?"


"Mama nggak nangis. Tapi, waktu hamil kamu. Mama nggak mau tidur seranjang sama Papa. Kita tidurnya jauhan, sampai bulan ke 7 itu baru mau tidur seranjang."


"Sampai begitu? Papa bisa?"


"Papa bisa bertahan, soalnya Abyaz kalau tidur maunya ditemenin sama Papa."


"Al harus gimana? Gaby tiap lihat Al malah nangis."


Papa berkata "Al, kamu harus sabar dulu. Perlahan Gaby juga akan nyariin kamu."


"Tapi kalau sampai 9 bulan gimana? Apa Al harus terpisah rumah lagi?"


Gaby berkata "Mas Al, begitu lebih baik. Aku balik ke rumahku aja. Aku tinggal sama Kak Zoe."


"Huf!" Batin Al yang mendesah, ia tidak terima akan keadaan saat ini.


Sesampainya di rumah sakit. Al yang langsung menuju ke pendaftaran pasien.


Sekitar 30 menit lagi, pemeriksaan dimulai. Ini bulan pertama dan untuk melihat kantong janinnya, Gaby harus minum air mineral, lantas menahannya agar tidak ke toilet.


"Mama."


"Sabar." Mama yang mengelus tangan Gaby.


Rasa tidak nyaman dan ia berdebar. Ada rasa cemas, gelisah dan perasaan yang susah dijelaskan dengan kata-kata.


Gadis belia ini juga enggan, saat ada beberapa ibu hamil lain yang menatap ke arahnya. Mungkin saja ada yang berfikir negatif tentang Gaby. Ada pula yang tidak peduli, dan hanya melihat sosok Gaby, sebagai gadis yang cantik dengan penampilan yang menarik.


"Mama, masih lama ya?"


"Sebentar lagi, nomor antrian kita."


Ini hari minggu, hanya rumah sakit swasta ini yang menerima pasien ibu hamil di jam minggu pagi.


Jam pemeriksaan, dari jam 10 sampai jam 12 siang.


Al dan sang Papa menunggu di kursi tunggu. Lumayan jauh dari mereka menunggu antrian untuk pemeriksaan.


"Bunda Gaby." Panggilan suster yang nyaring.


Gaby berdiri dan sang Mama mertua juga telah bersamanya. Gaby terus saja memegang lengan tangan Mama mertua.


"Mari silakan." Ucap suster, yang memintanya masuk ke ruang praktek dokter kandungan.


Dr. Lisa Pramudisa, seorang dokter kandungan yang cantik dan berusia 45 tahun.


Gaby lantas berbaring di atas ranjang dan suster telah menyelimuti bagian perut ke bawah. Gaby yang memakai dress nuansa pinky dan ia merasakan perutnya sudah diberi gel oleh suster.


"Bunda Gaby." Panggilan dari dokter cantik itu.


"Iya bu dokter."


"Masih sangat muda."


Gaby hanya tersenyum


"Kehamilan anak pertama."


"Iya bu dokter."


"Baik, saya akan memeriksa janin Bunda."


Dr. Lisa melihat dari layar dan ia menjelaskan semuanya. Dari kantong janin yang sudah terbentuk dan janin yang masih tampak kecil mungil.


Gaby berkaca-kaca saat melihat janinnya dari layar besar yang terpampang di hadapannya.


Mama Britney melihat layar besar itu dan berkata dalam hatinya "Masyaallah Tabarakallah. Terima kasih ya Allah."


Setelah pemeriksaan selesai.


Saat mereka ada di dalam mobil.


"Al, dokter bilang. Gaby tidak boleh kecapekan. Sementara harus bedrest."


"Mama tenang saja. Al sudah memikirkannya."


"Mama, Mas Al. Gaby besok tetap harus ikut ujian."


"Sayang, kamu harus nurut apa kata dokter."


"Emmh, Mas Al."


Papa berkata "Kalau begitu, Mama besok harus temani Gaby ke sekolah."


Mama berkata "Ide yang bagus. Mama bisa menemani menantu Mama."


"Bisa kacau kalau Mama tahu. Menantu kesayangannya sering ribut sama murid yang lain." Keluh Al dalam hatinya.


"Mama. Gaby biar ujian di rumah. Al akan mengurusnya. Mama nggak usah khawatir."


"Mas Al, tapi aku masih ingin ke sekolah." Rengeknya manja.