
Setelah malam tiba, di sebuah kamar dan tampak sedang bermanja.
Gaby dalam dekapan suaminya dan ia menjadi tahu akan masalah Binar.
"Aku baru tahu kalau dulu Kak Binar cinta sama Kak Abyaz."
"Hemms."
"Kenapa Pakde Lingga nggak setuju? Apa karena beda keyakinan? Papa gimana?"
"Papa nggak setuju, karena ada ikatan saudara. Meskipun, Binar itu anak angkatnya Tante Vava. Papa menyayangi Binar seperti layaknya anaknya sendiri. Ya kasih sayang seorang Pakde ke keponakannya. Contohnya, kayak Kak Viral ke Arjuna."
"Tapi Arjuna ada ikatan darah Mas, sama Kak Viral."
"Ya makanya itu, Papa sudah menyayangi Binar seperti anaknya sendiri. Kalau soal beda keyakinan sepertinya memang iya. Karena, Papa sangat melarang anaknya yang mencintai beda keyakinan. Mama aja sebelum nikah langsung mualaf."
"Aku baru ngerti. Kenapa Pakde Lingga begitu mengatur kehidupan Kak Binar."
"Terkadang, orang tua juga bisa salah. Mereka mengatur kehidupan anaknya, dan akhirnya membuat anaknya terluka. Binar sekarang sudah sadar, kalau dia sudah salah. Tapi, Om Lingga merasa lebih bersalah. Sudah menempatkan posisi Binar jadi begitu. Akhirnya, Binar yang membawa perasaan untuk bersaing dalam dunia bisnis. Malah, Binar yang jatuh sendiri dan ia memupus sudah harapannya untuk merebut kembali perasaannya dulu."
"Aku jadi kasihan sama Kak Binar."
"Sayang, kita sebagai orang tua. Kita harus berhati-hati dalam mendidik putra kita dan mengatur putra kita. Selepas dia dewasa, kita jangan sampai ikut campur terlalu dalam kehidupan pribadinya."
"Iya Mas. Aku pikir, langkah Pakde Lingga sudah benar. Ternyata, malah memburuk sikap putranya. Sampai akhirnya, Kak Binar harus melepaskan harga dirinya sebagai seorang pria."
"Kamu tadi telephone dia?"
"Iya, dia lagi sama Budhe."
"Lalu, apa katanya?"
"Pakde Lingga sudah memberi kebebasan untuknya dan tidak mengatur lagi posisi pekerjaan Kak Binar. Kak Binar juga bilang, dia akan segera pergi dari rumah."
"Dia bilang begitu?"
"Kak Binar tadi bilang, dia mau pergi."
"Pergi?"
"Iya Mas Al. Pakde Lingga sudah tidak lagi mengatur kehidupannya, Kak Binar mau hidup sesuka hatinya."
"Terus, dia mau pergi kemana?"
"Bilangnya tadi, mau ke rumah Papa."
"Papa?"
"Iya, dia mau mancing sama Pakde Pras. Terus mau kemana lagi gitu. Pokoknya, dia mau sama Papa kita."
Al langsung menepuk jidatnya sendiri dan Gaby merasa bingung.
"Mas Al kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Iya, kita harus segera mencari baby sister."
"Kata Mama nggak perlu."
"Papa sama Mama sepertinya mau tinggal dengan Binar di Pondok Indah."
"Bener juga, aku nggak kepikiran soal itu."
"Mama rindu rumah lamanya. Mungkin, Papa sudah mengobrolkan dengan Binar."
"Tadi bilangnya, sementara Mas Al. Apa nantinya balik ke rumah Pesona. Disana dekat pemancingan. Papa juga masih sering pulang kesana."
"Sudahlah, terserah Papa sama Binar gimana. Yang penting, malam ini kita cuma berdua."
"Mas, aku kangen Arjuna."
"Tadi. Kamu sendiri yang bilang sama Kak Viral. Iya, susulin aja ke Eyang Uti."
"Ya, aku pikir kita akan kesana."
"Sayang, pekerjaanku makin numpuk selama Mas Damar nggak ada di JS. Aku jadi bantuin Kak Liu ngurus yang di JS."
"Uuwwu, sayangku. Sini aku cuncun."
Al merasa senang, akan kecupan manja istrinya. Akhirnya, ia membalikan posisi sang istri.
Gaby yang sudah berada di atas kasur dan Al menatapnya dengan penuh perasaan.
"Mas Al. Jangan nakal."
Sayangnya, Al tidak menghiraukanya. Kecupan lembut dan semakin lincah. Kedua bibir itu saling mengecup, dan terasa basah. Kedua tangan Gaby yang perlahan mengalung ke leher suaminya.
"Aku akan menuntunmu sampai ke puncak."
Gaby dengan gemas dan suaranya begitu lembut "Pelan-pelan."
Bimbingan suami nakalnya dalam memanjakan gairah yang ada. Suasana malam yang tenang dan merasa akan menang dalam meraih puncaknya.
"Mas.."
Suara itu semakin menggigit dan, akhirnya... Aauuu. Terjadilah hal yang lebih dan lebih dalam lagi.
"Mas Al."
"Sayang."
Untuk yang kedua kalinya dan masih dalam dekapan manja. Malam ini jadi terasa sangat lama, karena keduanya begitu rakus untuk mendapatkan kepuasan.
Setelah pagi kembali, Gaby yang sudah mengenakan dress maroon kerah V. Lalu, sang suami sudah terlihat rapi dengan kemeja bergaris warna biru muda.
"Sayang." Al yang masih saja mengecupnya dan Gaby merasakan hal yang berbeda.
"Mas.."
"Apa?"
"Jangan kecup leherku."
"Kenapa?"
"Aa. Mas nakal."
Saat menatapnya, dan kembali meraih pinggang istrinya. Tampak kecupan manis dan lembut mengitari leher istrinya.
"Sana berangkat."
"Aku bisa berangkat siang."
"Mas, jangan macem-macem deh. Nanti kalau ada yang datang gimana?"
"Gaby sayang. Kamu kalau pagi, jangan pakai dress ya. Mataku bisa kacau."
"Ingat, aku larang kamu pakai beginian kalau di luar."
"Mas, aku juga nggak pernah pakai daster ini."
"Tetap saja sayang."
"Mas.." Tangan Al yang gemas dan Ia langsung mengangkat tubuh Gaby dalam dekapannya dan sudah membawanya kembali ke kamar.
"Mas, sudah jam 7. Nanti kamu terlambat."
"Kalau kamu bawel. Aku malah jadi terlambat sayang."
"Aaaa.. Mas Al."
Pertarungan di atas kasur kembali terjadi. Gaby yang merasa kalau suaminya semakin hari, sudah semakin liar.
Dengan segenap hati, Gaby juga sudah berani memanjakan sang suami dan Al merasa kalau Gaby sudah semakin dewasa. Tidak ada salahnya, karena suami istri sepatutnya seperti itu, bercumbu mesra dan saling merayu.
Kemudian, menutupnya dengan ciuman. Gaby mencium bibir suaminya dengan manis nan lembut. Permainan lidahnya juga semakin liar dan menggoda. Al semakin hari sangat terpuaskan, akan layanan sang istri.
Eits, itu dikala Arjuna ada yang menjaga. Kalau tidak begitu. Mana bisa mereka bercumbu dan merayu mesra penuh gairah manja. Yang ada, ayah tampan itu menimang-nimang bayi tampannya.
Setelah mendapatkan vitamin paginya. Alvaro siap berangkat. Mandi keramas, ganti baju dengan pakaian tampak berbeda.
Sang istri memperlakukannya dengan baik. Dan saat ini, mereka berdua ada di halaman depan rumah. Al yang hendak berangkat ke kantor. Masih saja, ada ciuman manis dengan gaya dewasa.
"Tata jangan lihat." Ucap Ghani
Tata langsung berlari dan membalikan badan. Tata menutup bibirnya sendiri.
"Duh, aku jadi deg-degan." Dada Tata yang telah berdesar-desir.
"Tata kamu kenapa?"
"Baru kali ini, lihat ciuman dunia nyata. Bukan di dalam drama."
"Emangnya, kamu suka nonton drama??" Ghani yang merasa heran, akan sikap dan gaya Tata yang telah berubah.
"Iya. Aku baru kemarin aku nonton drama."
"Sepertinya, Tata sudah ketularan Gaby." Ghani yang tahu, kalau Gaby yang lebih suka nonton film atau drama.
Mereka berdua ada di sisi pagar rumah sebelah kanan. Alvaro yang telah pergi dengan mobil dan tidak melihat mereka berdua.
"Tata, Pak Al sudah pergi. Kita gimana? Jadi ke dalam?"
"Nanti dulu. Tunggu waktu yang pas."
"Oke."
Tata jadi mengipas lehernya dan ia jadi berkeringat. Seperti senam jantung, dan ia memegang dadanya.
"Aku masih deg-degan."
"Kenapa deg-degan??"
"Ghani, kamu ngagetin aku aja."
"Emangnya kenapa kamu jadi deg-degan?"
"Nggak apa-apa."
"Ayo kita masuk." Ghani yang meraih tangan kiri Tata.
"Iih, jangan pegang-pegang."
"Tata, ssth.."
"Ghani, minggir. Aku jalan duluan."
"Yee, tadi bilangnya minta di anterin."
"Kambuh lagi. Kenapa Tata jadi arogan lagi? Perasaan kemarin masih imut."
Rona berseri-seri dan Gaby tampak senyam-senyum. Sembari menyiram tanaman-tanaman yang ada di halaman.
"Pagi Nyonya Alvaro."
"Eh, Tata gurita sudah datang."
"Untung saja, tidak waktu aku eheems."
Ya, begitulah. Dikala punya teman belia dan dirinya sudah menikah. Bahkan, ia sudah merasakan ++ dan sudah punya banyak pengalaman. Sayang, hal itu tidak bisa ia ceritakan kepada sang sahabat.
"Ciie, tumben Nyonya nyiram taneman?"
"Iya, kasian pada layu."
"Owh, kirain karena lagi nggak ada Arjuna."
"Uu, kamu bilang Arjuna. Aku jadi kangen."
Tata lalu duduk di kursi santai, yang ada di halaman depan rumah itu. Ghani juga tampak berjalan mendekat ke arahnya.
"Hei, kalian berdua barengan?"
"Owh, nggak. Aku naik ojek." Tata yang menyela.
Ghani lalu berkata "Aku baru turun dari angkot."
Gaby mencium gelagat yang aneh, "Eh, kemarin Mas Al bilang. Kalau kalian suap-suapan. Bener nggak?"
"Gaby sayang, itu aku nyuapin dia. Karena, dia harus gendong bayi kamu."
"Iya bener." Ghani yang merasa seolah sedang di interogasi.
"Emh, aku kirain. Kalian berdua jadian."
"Eh, nggak."
"Iya, nggak jadian. Habisnya Pak Al. Bikin kita kaget pas datang. Jadinya, ya dari pada ribet jelasin. Aku bilang aja ya gitulah."
"Owh, kirain beneran jadian."
Tata merangkul Gaby, "Gimana rasanya ciuman?"
"Kenapa?"
"Tadi aku lihat."
"Waduh!"