
Semoga, Bab sebelumnya lulus sensor. Sudah dirubah setipis tisue. ðŸ¤
Pagi setelah lemburan gairah malam. Arjuna sudah pergi meninggalkan sang istri. Beby yang merasa gemas, saat ia menatap tempat tidurnya.
Sprei itu adalah bukti, bahwa semalam ada sepasang pengantin baru yang telah menikmati malam pertama mereka.
Meraih sprei itu dan segera mengganti yang baru. Tampak senyuman dengan pikiran melayang ke hal dewasa.
"Arjuna, aku akan membalasmu." Batin Beby dan ia sudah mengganti sprei yang tadinya warna abu-abu tua. Untungnya tidak warna putih, bisa-bisa si tukang cuci melihat nodanya.
"Gimana aku mencuci ini. Masa iya, aku bawa ke tempat laundry?"
Sebenarnya, ada mesin cuci yang biasa Jimmy pakai untuk mencuci pakaian setiap dia ada di rumah. Namun, Beby sudah terbiasa memakai jasa cuci dan setrika.
"Aku simpan saja dulu. Aku juga sudah terlambat ke Butik." Gumamnya dan ia meraih tas yang ada di meja.
Melihat tasnya yang pernah dijambret dan ponselnya juga tampak retak. Ia berharap, tidak lagi mengalami hal itu. Semenjak itu, Beby tidak lagi membawa banyak uang. Hanya membawa uang secukupnya, beli bensin, bayar parkir dan untuk membeli makan siangnya.
Setidaknya, ada uang 10 lembaran merah di dalam dompetnya.
Melihat ke cermin yang ada di depannya. Penampilannya tidak masalah. Bekas merah itu, meski terpampang jelas, tapi syal yang dipakainya sudah cukup membantu menutupi bekas gigitan meongnya.
Tepat jam 8 pagi, Beby sudah tiba di Butik Gloria. Para pegawai lainnya, memperhatikan penampilan Beby.
"Tumben dia pakai syal?"
"Beby kenapa pakai syal?"
"Apa dia ingin menampilkan kekayaannya?"
"Orang kaya seperti dia, bebas saja. Kerja cuma untuk hiburan."
Anggapan para pegawai Butik Gloria, yang sudah mengetahui, kalau Beby istrinya Arjuna Madaharsa, dan ia cucunya konglomerat.
Mereka tidak saling menyapa, Beby juga langsung ke ruang istirahat, meletakan tasnya ke dalam loker dan kembali ke depan untuk bekerja sebagai pelayan.
"Beby."
"Iya."
"Tumben kamu pakai syal?"
"Iya, aku juga sudah memesan untuk kalian semua. Tapi, nanti siang baru dianter."
"Benarkah?"
"Iya. Sesekali, kita harus menampilkan hal yang berbeda. Siapa tahu, ini jadi pemikat para tamu Butik Gloria."
"Iya juga ya. Aku malah tidak kepikiran begitu."
Dia yang selalu mengajak Beby untuk mengobrol dan tidak basa basi, bila bertanya ini itu kepada Beby.
Di rumah mewah dengan tatapan sinis, Starla yang melihat kamar Cinta Damayaz. Sebenarnya, dia masih menyimpan dendam dengan putri kandung mertuanya. Tapi, karena suaminya memintanya tinggal sementara di rumah ini, Starla menurut saja dengan perkataan suaminya.
Beby semalam itu, sempat-sempatnya memamerkan bekas gigitan meong nakalnya. Starla kembali melihat foto sahabatnya. Perlahan, ia menoleh ke arah kamar Cinta Damayaz.
Starla yang sangat penasaran, ia berjalan dan memasuki kamar Cinta Damayaz. Bagaimanapun, kamar itu telah menjadi saksi, awal pertemuan Starla dengan sang Bintang kejora.
"Dia tidak ada disini." Starla yang telah membuka pintu dan masuk begitu saja tanpa permisi kepada sang pemilik kamar yang sekarang.
"Semuanya beda." Starla yang masih menelusuri kamar itu. Dia dengan sengaja masuk ke ruang ganti, namun beberapa pakaian dan aksesoris sang sahabat masih tetap berada di ruang itu.
"Ini, jaket kembaran kita waktu piknik sekolah." Starla yang mengambilnya. Sangat tidak suka, bila Cinta Damayaz yang sekarang akan memakai jaket itu.
Starla yang garang, tapi dia perasa. Sangat sulit mengendalikan dirinya, apalagi tentang sahabatnya.
Mengambilnya dan melipat jaket itu. Starla yang beranjak pergi dari ruang ganti. Sayangnya, saat ini Cinta Damayaz telah melihatnya.
"Kamu mencuri?"
Starla yang masih menyimpan hati, dan dibilang mencuri. Dia malas menatap Cinta dan pergi begitu saja.
"Tidak punya sopan santun." Ucap Cinta.
Starla yang menghentikan langkahnya. Kalau bukan karena Bintang. Dirinya juga malas mengakui perempuan ini sebagai adik iparnya.
"Aku kakak iparmu. Kamu yang harus sopan kepadaku."
"Aku tahu. Tapi menerobos masuk kamar orang lain. Itu namanya tidak sopan."
Rumah ini sudah sangat sepi, Starla yang enggan meladeninya. Cinta yang tampak bersedekap, bayangkan saja suaranya itu seperti Jisoo Blackpink, sedangkan Starla seperti Rose.
"Masih ingin disini?" Cinta dengan senyumannya dan Starla merasakan kesedihan sahabatnya, ketika melewati masa-masa tersulit tanpa dirinya.
"Starla, kamu disini?" Bintang yang dari tadi mencarinya. Starla menyeka air matanya dan mendekat ke arah Bintang.
"Iya, aku mengambil ini."
Bintang menatap Cinta dan tidak berkata apapun padanya. Starla memegang lengan tangan suaminya.
"Kenapa waktu itu kamu nggak bilang sama aku?"
"Starla."
"Kamu sama saja seperti yang lain, sudah membiarkan ini terjadi."
Kembali lagi menyalahkan sang Bintang kejora. Selama di Villa, apa yang Bintang dapatkan. Hanya amukan dari sang kekasih hati. Starla sangat kecewa akan sikap Bintang. Yang membiarkan adiknya pergi begitu saja dan hidup dengan status barunya. Bahkan, dirinya tidak bisa lagi memanggil nama Cinta.
"Starla. Ayo kita apartemen. Lebih baik kamu tinggal disana."
"Terserah kamu."
Percuma juga Starla menyimpan hati pada Cinta Damayaz yang sekarang. Sampai di apartemen, nantinya juga akan bertemu lagi karena sebelah apartemen Bintang itu, juga apartemen kedua adiknya, yaitu Bulan dan Cinta.
Terus, kalau dirinya bekerja di kantor Cinta Interior. Starla yang telah resmi menjabat wakil direktur, pasti akan sering bertemu. Karena, perusahaan interior itu juga berdiri atas nama mereka berdua. Meski sang pemilik perusahaan itu, Cinta Damayaz. Sepertinya, Starla tidak sudi kalau harus bekerja sama dengan adik ipar yang ini.
Selama berada di dalam mobil, Starla hanya terdiam. Mengingat akan masa putih abu-abu. Mereka berdua punya banyak kenangan manis. Meskipun, Cinta Damayaz sering mementingkan Arjuna. Starla juga bisa memahami hal itu, bahkan Starla juga selalu meminta mereka untuk jaga jarak. Cinta yang sering berdebat dan ribut dengan beberapa pacar iseng Arjuna, membuat Starla terkadang ikut turun tangan.
"Sayang. Beby sekarang sudah bahagia. Kalau kamu masih begitu terus, nanti dia akan bersedih juga."
"Ya udah, aku juga mau jadi pelayan butik seperti dia."
"Starla. Ayolah, kamu bersikap dewasa. Mana mungkin aku membiarkan kamu bekerja di butik. Apalagi, jadi pelayan."
"Kamu mau aku bahagia atau aku yang menyalahkan kamu?"
"Aku mau kamu bahagia."
"Ya udah, aku juga mau kerja seperti Beby. Titik."
"Aku nggak bisa memberikan ijin. Lebih baik kamu di rumah dari pada kerja di butik."
"Kamu bisa begitu sama aku. Kenapa kamu nggak belain adikmu??"
"Sayang, waktu itu aku juga serba salah. Mama jatuh sakit. Beby waktu itu juga ada Mirza. Aku juga bingung harus gimana. Aku udah jelasin sama kamu."
"Harusnya kamu bilang, padahal kita sering telephone."
Bintang yang enggan membahas ini lagi, Starla masih memiliki banyak angan dan cita-cita dengan sahabatnya itu.
"Aku sekarang juga di usir dari rumah. Aku nggak punya ijazah. Lebih baik aku juga seperti Beby."
Seet!!
Mobil itu langsung berhenti, untung saja jalannya sepi dan tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang di jalan itu.
"Kamu menyesal?"
Starla menjawab "Aku tidak menyesal. Tapi aku masih menyimpan luka sama adik kandungmu."
"Aku tahu."
"Aku pikir, saat kamu ingin melamarku. Semua akan baik-baik saja. Tapi, setelah aku melihat kamar itu. Aku jadi semakin sakit hati. Aku merasakan hati sahabatku yang sangat terluka. Pantas saja dia memilih tinggal bersama Arjuna. Kamu sendiri sebagai Kakaknya, nggak mau mengerti dia."
"Iya, aku akui. Aku salah."
"Baguslah, kalau kamu sudah sadar."
"Sampai kapan kamu akan menyalahkan aku?"
"Aku tidak tahu." Starla yang merasa ada yang mengganjal dalam hatinya, ia malah jadi menangis tersedu-sedu.
"Bintang, aku mau seperti dulu. Aku nggak suka dengan Cinta yang sekarang."
Bintang memeluknya dengan penuh perasaan. Selama di Villa hal itu juga terjadi. Makanya, saat malam itu. Dirinya sibuk memenangkan perasaan Starla dan tidak datang menjenguk Beby Ayazma.
Bintang juga sangat menyesal, dia yang saat itu tidak punya pilihan lain. Bintang yang selalu menemani sang Mama di rumah sakit dan tidak menyusul kemana Cinta pergi. Sedangkan, Bulan juga tidak pulang ke rumah. Bahkan, dia baru tahu setelah tiba di rumah.
"Aku nggak suka. Aku nggak rela."
"Starla, aku mengerti apa yang kamu rasakan."
Bingtang mengecup kening Starla, lalu kembali melajukan mobilnya setelah menenangkan Starla.
Di tempat shuting Arjuna. Ada Nyonya cantik bersama pengawalnya, sudah tampak datang mendekat.