ABYAZ

ABYAZ
Bab. 61. Muncul Semangat Baru



"Panggil aku Nenek."


"Nenek?"


"Iya. Aku memang Nenekmu."


"Nenek, pulanglah. Aku tidak ingin lagi mendengar nasehatmu."


"Baik. Aku tidak akan menasehatimu. Kalau sakit, pergilah ke rumah sakit sendiri."


"Aku tidak mau ke rumah sakit."


"Kalau tidak mau di suntik, cepat makan. Ini, aku bawakan bakpao buatan tanganku sendiri."


"Bakpao?"


"Sudah tidak hangat. Tapi ini sangat enak."


Sang Nenek kandung membuka kotak makan. Ada mini bakpao dengan isian coklat dan isian daging cincang.


"Buka mulutmu." Sang Nenek yang ingin menyuapinya dan Beby tampak bibir cemberut. Dia yang kenakanan dan kembali meneteskan air matanya.


Perlahan membuka bibir tipisnya dan ia mulai memakan suapan dari sang Nenek.


"Iya. Rasanya enak." Ada tangis yang menyertai dan perlahan dia memeluk sang Nenek kandung.


Sang Nenek juga tidak bisa menahan perasaan haru. Baru kali ini, dirinya bisa merasakan kasih sayang keluarganya. Sampai saat ini, putranya juga belum ingin menyapa.


"Aku merasakan, kalau Arjuna sangat sulit untuk mengambil keputusan."


"Benar. Aku juga seorang Ibu. Tapi aku tega memberikannya kepada suster Yayasan. Aku mengaku kepada suster, kalau aku menemukan anak itu. Padahal, anak itu putraku sendiri. Demi melindunginya, aku rela. Aku memang kejam dimatanya, tapi tidak masalah."


"Nenek kejam."


"Kalau kamu sudah jadi Ibu. Kamu akan mengerti. Gisella melindungimu dari aku dan mantan istrinya Binar. Sampai dia menukar kalian berdua."


"Ibuku??"


"Kamu tidak tahu?"


"Tidak."


Sang Nenek masih tampak menyuapi Beby "Gisella takut akan ancaman Imel dan aku juga menginginkan cucuku ikut bersamaku. Dia sangat ketakutan dan akhirnya, malam itu menukar kalian. Gisella melahirkan lebih dulu dalam keadaan normal. Sedangkan Ibu yang mengasuh kamu, dia melahirkan secara caesar."


"Aku jadi mengerti."


"Aku tahu semuanya, sebelum Gisella meninggal dunia."


"Nenek tahu tentang Ibu sebelum meninggal?"


"Mata-mataku yang memberitahu aku. Setelah itu, aku mengawasi kamu."


Beby yang menatapnya dan memang begitu adanya. Sang Nenek yang terlihat biasa, tapi kehidupannya luar biasa.


Beby yang tampak ragu, tapi tetap bertanya "Apa Nenek tidak ingin menemui Papi Binar?"


"Aku sudah tua. Biar dia yang datang mencari aku. Aku tidak dianggap juga tidak masalah."


"Terus, kenapa Nenek mencari aku?"


"Kamu, seperti Gisella. Aku sangat menyesal. Aku tidak ingin, kamu mengalami kejadian seperti Gisella."


Sang Nenek sudah menyuapinya dua bakpao mini rasa cokelat. Beby lalu mengambil sendiri dengan warna hijau dan dalamnya isian daging cincang.


"Aku suka ini. Nenek harus sering bikin bakpao untuk aku."


"Kamu yang lebih muda. Harusnya kamu yang memasak untukku."


"Aku mana bisa memasak."


"Jadilah perempuan yang serba bisa. Jangan mengandalkan laki-laki."


Beby terdiam, lantas berkata "Aku tidak mengandalkan laki-laki. Arjuna saja yang memanjakan aku."


Sang Nenek berkata "Kamu sudah lebih segar. Aku harus pulang, kucingku pasti sudah mencariku."


"Nenek ternyata lebih sayang kucing dari pada cucu sendiri."


"Kucingku selalu menurut, tidak pandai membantah seperti kamu." Sang Nenek yang beranjak berdiri dan Beby jadi tersenyum.


"Nenek. Terima kasih."


Sang Nenek lantas pergi dengan hati tenang dan Beby sudah merasa lebih baik.


Setelah mengutarakan perasaannya, Beby mencoba untuk berfikir lebih tenang. Tidak ada salahnya, untuk menghubungi suaminya.


Setelah hari ke 10, Beby mengirim pesan singkat kepada suaminya. Seperti halnya, setiap hari. Menganggap semua biasa saja. Meskipun, tetap saja. Setelah saling mengirim pesan, dan terkadang telephone. Beby jadi menangis kembali.


Beby perlahan bangkit, setelah memulai bisnis baru dengan sahabatnya. Mungkin, karena ada hal baru, hingga akhirnya muncul semangat baru.


Flashback Off


"Arjuna, sayangku, sayangku, sayangku. Akhirnya, aku bisa memelukmu."


Sepanjang perjalanan Arjuna tetap terjaga, dia sangat tidak sabar untuk bertemu istrinya tercinta. Sesampainya di rumah dan bertemu istrinya, perasaan lega penuh kebahagiaan, membuat ia tertidur pulas.


Beby yang terbangun, tidak berhenti memandangi wajah suaminya dan ia begitu gemas, sampai menciumi wajah Arjuna berulang-ulang.


Beby memegang perutnya dan ia berkata "Sayang, Papa kamu sudah pulang."


Beby mengingat, tulisan dari surat Arjuna, meski hanya sebuah kata.


..."Mencintaimu adalah tugasku. Meninggalkanmu kesalahan terbesarku."...


Tetapi, perasaan manis membuatnya ingin segera menemui dan memecah belenggu dalam hatinya. Mungkin, pelarian ke Pulau Sebinar sudah direncanakan oleh Beby.


Perasaan senang tiada tara, perlahan kembali memejamkan kedua matanya.


Setelah pagi indah kembali hadir dalam cerita romantika sang Arjuna.


"Arjuna sayangku, sayangku, sayangku." Beby yang memeluk Arjuna dari belakang, sangat terlihat gemas dan tidak ingin terlepas.


"Kamu sudah mandi?".


"Sudah."


Beby melepaskan kedua tangannya dan melihat ke arah masakan sang suami.


"Pagi-pagi kamu bikin sop?"


"Aku sudah lama ingin masak sop."


"Kenapa tidak bilang? Aku bisa membuatkan untuk kamu."


"Arjuna, aku sudah terbiasa." Belum sampai selesai berkata, Arjuna sudah mengecup bibir istrinya.


"Jangan bilang begitu. Aku mohon sama kamu."


"Kenapa?"


"Aku tidak mau. Aku tetap ingin kita seperti dulu. Sebelum aku pergi."


Keduanya saling menatap dan mereka tampak wajah kekanakan. Arjuna yang sangat memohon dan Beby merasa dirinya sudah terbiasa sendirian.


"Iya. Kamu memang harus memanjakan aku. Apalagi, untuk anak kita."


Arjuna memegang perut istrinya, "Benar. Toge ini, harus tumbuh sehat dan pintar. Biar tidak seperti aku."


"Memangnya ini sayuran?" Beby merasa panggilan itu aneh.


"Iya, anggap saja begitu."


"Dasar. Tidak pandai merangkai kata."


"Kamu lebih tahu tentang aku."


Beby memeluknya dan berkata "Iya, aku sudah tahu semuanya tentang kamu."


Arjuna yang senyam-senyum dan telah mengecup kening istrinya. Tidak lama sop butut ala Arjuna sudah tersaji di mangkok dan Beby segera menikmati.


"Aku suka."


"Aku juga sangat suka. Melihat kamu menyukai masakan aku."


Beby yang duduk di samping suaminya. Arjuna hanya sibuk menatap istrinya.


Beby bertanya "Kamu jadi kerja di Mahatma?"


"Iya."


"Kamu tidak ingin kembali ke duniamu?"


"Beby." Arjuna memegang tangan istrinya. Ada rasa yang susah untuk dijelaskan.


"Aku mengerti."


"Awalnya aku juga nggak bisa. Aku juga bingung, harus memulainya dari mana. Tapi, aku sudah sadar. Kalau kamu lebih membutuhkan aku yang begini ini. Kalau aku selamanya jadi aktor, lalu aku sibuk syuting. Aku tidak akan ada waktu untuk kamu dan anak kita."


"Benar."


Arjuna mengelus rambut istrinya dan Beby kembali menikmati sop buatan suaminya.


"Kalau soal ngidam kamu. Aku akan coba buat sesuatu. Kamu bisa menonton sepuasnya."


"Apa?"


"Ya ada. Nanti kalau sudah jadi, aku berikan khusus buat kamu."


"Emh, nggak suka."


"Bener, nggak suka?"


"Apa dulu?"


"Ya ada. Aku bisa bikin lagu, video klip. Ya pokoknya, tentang kita berdua. Kalau memang kamu ingin aku syuting. Tapi, kalau untuk kembali ke duniaku yang itu. Aku tidak bisa. Aku sudah putuskan, untuk menjadi Imam kamu, suami dan Papa untuk anak kita. Aku nantinya juga akan bekerja di kantor Mahatma."


Beby tersenyum, ia berkata "Aku akan mendukung kamu."


"Terima kasih. Kamu selalu mengerti aku yang begini ini."


"Aku juga sama seperti kamu. Berkat kamu, aku selalu bisa bangkit dan punya semangat baru."


Keduanya sangat manis. Arjuna masih tampak seperti biasa dan sang istri mengerti perasaannya.


Setelah menikmati makan paginya itu, Beby dan Arjuna sudah bersantai di sebuah ruang baca. Terlihat buku tertata rapi di lemari khusus. Banyak buku favorite Beby, terutama bacaan romantis dan cerita cinta mesra.


Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi. Mereka tetap berduaan dengan mesra.


"Arjuna, aku sudah menemui Mamanya Jovita."


Arjuna yang terdiam, dan dia tahu akan hasil sidang waktu itu. Dia yang sama sekali tidak hadir. Sempat, diminta untuk datang ke ruang persidangan sebagai korban, tapi keberatan itu diterima dengan alasan trauma mendalam. Pakde Viral membuat kesan itu, agar Arjuna tidak perlu hadir ke persidangan.


"Sayang, kamu tidak perlu membahasnya."


"Aku tahu semuanya."


"Iya."


"Dia pendendam."


"Sayang."


"Kenapa kamu nggak cerita sama aku?"


Arjuna yang terdiam. Setelah malam pertemuannya dengan Cinta. Arjuna menjadi target utama Madam Yuzra.


Semua rencana yang dirancang, cukup membuat perasaannya senang. Meski begitu, Arjuna sudah melupakannya.


"Aku baik-baik saja. Kamu terlalu cemas sampai-sampai kamu datang ke pesta gelap itu." Ucap Beby.


"Sayang. Aku memang mengenyelidiki apa yang Cinta katakan. Aku nggak tahu kalau akhirnya. Aku sendiri yang masuk ke perangkapnya."


"Sampai kapan kamu akan seperti ini?"


"Aku suamimu, aku harus bisa menjaga kamu."


Baby yang duduk bersandar dada sang suami tercinta. Merasa kalau semua ini terjadi karena dirinya. Dia yang berharap semua akan baik-baik saja.



Setelah siang hari, Arjuna mengajak Beby keluar rumah. Arjuna sudah lama merindukan kota tinggalnya.


Setelah kepergiannya waktu itu, dia ingin menebus hari-hari indah bersama sang istri tercinta.


"Kita mau kemana?"


"Shopping."


"Kamu ajak aku belanja?"


"Iya."


"Tapi,..."