ABYAZ

ABYAZ
Bab. 52. Air Mata Sang Bunda



Arjuna yang menggandeng mesra lawan mainnya. Tampak adegan berjalan di pinggiran kolam renang Villa.


Arjuna dan Jimmy dari pagi tadi, sudah tampak di lokasi syuting yang berada di daerah puncak.


Nyonya yang masih memakai kacamata hitamnya. Terus berjalan menghampiri Arjuna yang sedang syuting.


"Arjuna." Panggilan dengan suara tegas dan Arjuna seketika menoleh ke arah Nyonya yang berpenampilan formal.


Pakaian kerja yang tampak menawan dan sudah berhadapan dengan Arjuna.


"Anak nakal." Dia langsung menjewer Arjuna begitu saja dan terekam kamera.


Sang sutradara acara dating show telah menghentikan rekaman itu. Berkata "Cut!"


"Sudah terlibat masalah. Masih mau lanjut jadi aktor." Ucapnya dan tidak melepaskan telinga Arjuna.


"Ampun Mami. Ampun."


Akhirnya, sang Mami melepaskan tangan kanan yang tadi menjewer telinga Arjuna. Sampai-sampai daun telinga Arjuna menjadi memerah.


"Mami kejam bener. Sakit ini." Arjuna yang mengelus kupingnya sendiri.


Lawan mainnya juga masih menatap ke arah Nyonya itu. Perlahan, ia melepas kacamatanya dan menatap Arjuna dengan tatapan tajam.


"Mami sudah bilang. Mami nggak suka kamu jadi aktor."


"Mami kenapa pulang? Bukannya Mami temani Ziel kuliah, malah kesini."


"Kamu mau melawan Mami?"


Arjuna yang selalu mati kutu dihadapan Mami Darra. Akhirnya, sang Mami yang dulu merawatnya, telah kembali ke kota tinggalnya dan sekarang berhadapan dengannya.


"Mana berani aku melawan Mami."


"Bagus."


"Mami, duduk dulu disana. Aku masih harus syuting."


"Tidak. Mami mau tetap berdiri disini."


"Mami mau jadi piguran?"


"Mami kasih kebebasan buat kamu. Tapi, kamu malah jadi begini. Apa itu kamu, dilelang. Mereka sudah gila, Mami akan membalas mereka semua."


Arjuna yang malas berdebat, dan menuntun sang Mami untuk duduk.


"Mami duduk disini. Aku harus kerja lagi."


Sang Mami masih terus nekat, bukan Mami Darra kalau tidak bisa membuat Arjuna gerah.


"Mami. Aku mohon sama Mami."


"Tidak. Mami akan tetap disini."


"Mami Darra lebih nekatan dari Beby. Kalau begini terus. Gimana aku bisa syuting?"


Jimmy mendekat dan Arjuna telah berbisik padanya. "Biarkan Mami Darra berjalan di sekitar sini. Kalau tidak, aku bisa di seret ke rumahnya."


"Dia siapa kamu?"


"Saudara Bunda."


"Nyonya dari Mahatma juga?"


"Iya."


Jimmy tersenyum dengan sedikit meringis. Dia juga takut kalau sudah berhubungan dengan Mahatma.


Akhirnya, syuting tetap berjalan dan ada Nyonya Darra yang terus mengawasi sang Arjuna.


Setiap ada adegan yang sekiranya tidak berkenan, Mami Darra jadi mendekat.


"Cut!"


Arjuna merasa pusing, Mami Darra yang selalu merusak moment manisnya.


"Mami, aku mohon. Lebih baik Mami pulang saja."


"Kamu mengusir Mami?" Tatapan sang Mami berubah sendu, Arjuna yang sangat tahu kalau dirinya belajar akting dari Mami Darra.


Arjuna menghela nafasnya, dan rasanya begitu susah untuk merayu Mami Darra.


"Kamu serius mengusir Mami?" Semakin sendu wajah itu, dan Arjuna juga berubah gemas melihatnya.


Perlahan, air mata palsu itu menetes ke pipi cantik merona. Riasan mata dan bibirnya selalu sama, meski usianya tak lagi muda. Mami Darra yang selalu memperhatikan penampilan dengan gaya menawan. Membuatnya, terlihat cantik dan mempesona. Orang luar, tidak akan tahu kalau sosok yang ada dihadapan Arjuna ini adalah Mami yang merawatnya dulu. Ada yang mengira kalau Mami Darra itu, juga termasuk Nyonya lelang.


"Oke, Mami bisa disini. Tapi, jangan gangguin Arjuna." Tatapan Arjuna juga sangat menolak kehadiran sang Mami.


"Iya. Mami akan diam saja."


Belum sampai Mami Darra menjauh, Arjuna sudah dipukuli memakai tas.


Dash


Dash


Dash


"Bunda. Ampun, ampun. Jangan pukul Arjuna Bunda. Bunda."


Sang Bunda dengan tatapan sadisnya dan sudah menangis sepanjang jalan.


"Kamu masih berani syuting? Kamu berani tampil setelah lelang itu??"


Bunda yang tidak peduli, akan orang di sekitarnya. Mami Darra yang tampak bersedekap, tidak membela Arjuna di depan banyak orang.


"Bunda." Wajah Arjuna yang kekanakan.


Melihat Bunda Gaby, semua jadi lebih fokus pada mereka bertiga. Arjuna memanggilnya Bunda pada sosok Nyonya yang sangat muda dan imut.


"Pulang atau mereka pengawal yang mengangkat kamu."


"Arjuna lagi kerja. Malu sama sutradara."


"Kamu masih punya malu? Iya? Kamu malu?"


Bunda Gaby menjewer telinga yang sebelahnya. Tadi yang satunya sudah dijewer Mami Darra. Sekarang, Bundanya sendiri yang berlaku kejam padanya.


"Bunda sakit." Tatapan itu, setelah tangan Bunda melepaskan telinga kanannya.


"Sakit? Kamu begitu saja sakit. Gimana hati Bunda? Gimana Arjuna. Kamu bisa ngerasain hati Bunda yang sakit?"


"Iya, aku salah. Aku sudah salah." Arjuna yang sangat kekanakan di hadapan sang Bunda. Percuma, meskipun dirinya menangis, kali ini tidak ada yang bisa membelanya.


"Bunda nggak mau melihat kamu syuting. Ayo pulang."


"Bunda, kali ini saja. Aku mohon."


"Tidak."


Arjuna yang ditarik tangannya oleh sang Bunda, lalu dia melepaskan tangan sang Bunda. "Bunda. Istriku tidak melarang, kenapa kalian semua melarang aku? Aku bukan lagi anak-anak yang selalu kalian atur."


"Kamu masih bisa bilang begitu, setelah apa yang menimpa kamu. Aku ini Bundamu. Aku yang melahirkan kamu. Aku akan mengutuk orang-orang yang melelang kamu."


Suara Bunda Gaby yang sangat keras dengan tangisnya tersedu-sedu.


"Bunda." Arjuna yang meneteskan air mata dengan perasaan menyesal.


Mami Darra memeluk Bunda Gaby.


Arjuna yang tertunduk dengan tatapan sendu, dia meraih tangan sang Bunda.


"Bunda, maafin Arjuna."


Mami Darra mendekap Bunda Gaby. Para pengawal mengangkat Arjuna.


"Tuan muda."


"Lepaskan aku. Aku bisa berdiri sendiri."


Mami Darra membawa Bunda Gaby berjalan pergi. Jimmy yang melihat itu juga tampak menangis.


Sang sutradara, menghentikan proses syuting hari ini. Mereka tidak mengira, kalau Arjuna sosok orang penting.


Jimmy melihat Arjuna yang berjalan pergi mengejar sang Bunda dan tampak dikelilingi pengawal dari Mahatma.


"Arjuna."


Jimmy yang menghubungi Beby, tapi panggilannya tidak diangkat olehnya.


"Beby, ayo angkat." Jimmy yang tidak tega melihat raut wajah Arjuna.


Mau bagaimanapun, Arjuna sudah dewasa. Tapi, kedua orang tua tadi juga tampak mempermalukan sang Arjuna di depan banyak kru yang sedang bekerja. Arjuna bukan lagi anak-anak yang bisa mereka atur dan selalu diawasi para pengawal.


"Bunda."


"Arjuna pergilah." Mami Darra yang melerainya.


Bunda Gaby yang sudah duduk di mobilnya. Arjuna berdiri di dekat pintu mobil dan hendak mengikuti sang Bunda.


"Kembalilah shuting. Mami yang akan menenangkan Bundamu."


"Tidak mau. Bunda masih marah sama aku."


"Arjuna. Kalau kamu masih ingin jadi aktor, pergilah."


"Gimana aku bisa syuting. Bunda tidak meridhoi aku."


"Kamu sudah sadar?" Mami Darra yang duduk di sisi pintu dan Arjuna masih di kelilingi pengawal Mahatma.


"Mami, aku paham. Aku memang salah. Aku selalu membantah kalian semua. Aku ingin memiliki kehidupan sendiri. Tapi, jangan begini. Aku nggak mau kalau Bunda marah sama aku." Arjuna yang menangis, bak anak kecil yang hendak ditinggal pergi Ibunya.


"Mami beri kamu kesempatan. Tapi, mereka semua akan mengawal kamu."


"Arjuna nggak akan kembali syuting kalau Bunda masih marah."


Mami Darra masih menatapnya, "Bagus kalau begitu. Ayo pulang."


Arjuna yang masih penuh keraguan, ia menoleh ke arah lokasi syutingnya.


Perasaan itu terasa rapuh. Sangat sulit untuk diterima begitu saja. Sedari dulu, dirinya memang ingin kebebasan dan bersenang-senang dengan kemampuan dirinya. Bukan hanya duduk, belajar dan mengikuti jadwal yang mereka atur untuknya. Tidak ingin menjadi sosok Tuan Muda, yang selalu dikelilingi para pengawal Mahatma.


"Arjuna. Mami mengerti. Kamu sudah membuat pilihan. Pergilah, Mami yang akan mengantar Bunda kamu pulang."


Arjuna melihat ke arah wajah sang Bunda. Meski dirinya, sangat senang ketika syuting, tapi melihat raut Bunda, dirinya tidak bisa lagi untuk meraih angan-angannya.


"Aku akan ikut Bunda pulang."


Mami Darra yang keluar dari mobil itu, dan Arjuna masuk ke dalam mobil sang Bunda. Duduk di sebelah sang Bunda.


Arjuna yang memegang tangan Bunda, "Bunda, aku akan menurut sama Bunda."


Arjuna memeluk Bundanya dan sudah menangis tersedu-sedu. Bunda juga merasakan hati putranya. Meskipun, sangat melarang putranya. Dalam hati kecilnya, juga ingin melihat putranya bahagia.


"Bunda. Aku minta maaf."


Mobil itu, belum beranjak pergi. Mami Darra masih menatap ke arah mobil itu.


Mami Darra juga memalingkan wajahnya, menyeka air matanya. Perasaan untuk putra pertama.


Arjuna sudah mengambil hatinya lebih dulu, dibanding anak kandungnya. Mami Darra yang lebih menyayangi Arjuna. Rasa sayangnya begitu tulus, dari awal bertemu bayi tampan itu. Sampai masih membekas dalam ingatannya. Arjuna pula, yang membangkitkan dirinya, agar bisa memiliki seorang putra.


"Bunda." Arjuna yang masih memeluk sang Bunda.


"Ayo kita pulang."