
Dua orang yang hanya saling menatap, Cinta hanya memandangi wajah Mirza. Begitu pula dengan Mirza yang merasa heran dengan sikap sang istri.
Cukup lama dalam keheningan, Mirza yang berjongkok di sisi tempat tidur dan menatap lekat wajah itu. Cinta hanya diam tanpa berucap kata, dan masih memeluk gulingnya.
"Kamu, ada masalah?"
Cinta menjawab, "Tidak."
"Baik. Aku mengerti."
Mirza yang bangkit dan berjalan pergi. Mengambil pakaian dari sebuah lemari dan hendak berganti.
Cinta merasa tidak ada yang aneh, dan ia memegang dadanya. Merasa tidak ada getaran apapun. Perlahan, dia sudah tampak duduk bersandar.
Sekitar 10 menit, Mirza berada di kamar mandi. Cinta juga masih duduk dan ia tampak menanti. Perkataan Mirza tadi juga belum membangkitan perasaan dalam hati.
"Aku tidak berdebar?"
Meski usia terbilang sudah dewasa, perempuan yang satu ini sama sekali belum pernah merasakan kasmaran.
Masa puber pertama, hanya suka menonton film kartun. Sampai dirinya menyukai salah satu tokoh kartun yang dia gemari. Bahkan, sampai sekarang masih saja menyimpan beberapa boneka kartun cowok tampan.
"Beby, aku tidak merasakan apa-apa. Apa yang harus aku perbuat?"
Tidak lama, Mirza telah kembali ke kamar itu. Keduanya saling menatap dan Mirza juga merasa hal ini biasa. Meskipun, saat tadi terkaget dan heran. Mirza tidak berfikiran negatif soal istrinya tidur di atas ranjangnya.
"Mulai malam ini, aku akan tidur bersamamu." Ucapan itu secepat kilat, dan Mirza yang terdiam hanya menatap saja.
Mirza yang masih mematung dan ia sudah memakai piyama biru dongker.
Sosok laki-laki ini, juga tidak telalu memikirkan soal statusnya sebagai suami. Selama 2 tahun, dianggurin selalu tidur terpisah kamar meski mereka berdua satu rumah. Mirza menganggap itu hal biasa. Apalagi, mereka menikah juga karena peristiwa.
"Iya, aku tidak masalah." Mirza yang langsung naik ke atas ranjang. Wajah Mirza juga tampak biasa saja.
"Aku."
Mirza lalu menoleh ke arah istrinya. Istri yang sah dimata agama dan hukum. Ia sendiri yang menikahi perempuan ini dan semua keluarganya juga telah merestui.
"Iya."
"Aku, ingin kita memulai lembaran baru."
Mirza sedikit tersenyum tipis, dengan perlahan berkata "Baik."
"Kalau nantinya kamu tidak puas dengan hubungan kita. Kamu bisa menceraikan aku."
Mendengar hal itu, Mirza jadi tersenyum. "Baik."
"Mirza. Bagaimana aku harus memulainya? Aku tidak tahu."
Perempuan ini, yang memang bicara apa yang ada. Tidak berniat menutupi perasaannya. Meskipun, terikat akan pernikahan. Selama mereka tinggal bersama, semua serba mereka lakukan sendiri. Tidak ada aktifitas berdua, saat dihadapan keluarga saja, mereka bisa makan di satu meja. Biasanya, Mirza dimana dan Cinta dimana. Tidak ada keterikatan yang mengharuskan istri dan suami ini, bersikap layaknya pasangan. Mirza juga tidak pernah memaksa, agar Cinta bisa menjadi seorang istri. Sedangkan Cinta, tetap pada pedomannya. Kalau dirinya, tidak akan merayu Mirza.
"Aku mengerti. Kamu istriku. Sudah seharusnya aku bertanggung jawab."
"Mirza. Aku hanya." Susah sekali untuk berkata dan Mirza perlahan memegang tangan istrinya.
"Kita jalani seperti biasa. Perlahan, kita pasti bisa melaluinya."
"Kamu benar."
Mirza sudah duduk tegap, lalu berkata "Kamu istriku. Pijitin aku."
"Aku?"
"Bukannya, kamu ingin menjadi seorang istri yang mematuhi perintah suamimu."
"Iya. Kamu benar."
Cinta perlahan beranjak ke sisi Mirza, saat mendekat juga tidak merasa ada hal yang membuatnya berdebar. Mirza merasa ada hal manis saat menikmati pijitan ala Cinta.
Duduk dan sang istri memijat bahunya. Entah dia sengaja atau tidak, tapi saat Cinta masih memijitnya. Seketika Mirza membalik badan dan menjatuhkan Cinta ke atas tempat tidur. Kedua tangan kekar itu masih mendekap istrinya.
"Mirza."
Keduanya masih saling menatap, ntah perasaan apa yang merasuki Mirza.
"Kamu takut?"
"Tidak."
"Malam ini, kamu sudah tidur di atas ranjangku. Kamu harus siap melayani aku."
Kedua mata itu, yang tadinya masih menatap suaminya. Perlahan sudah tampak terpejam. Mirza dengan niat dalam hatinya, dia perlahan mengecup kening istrinya. Ini bukan kali pertama dia mengecup kening istrinya, jadi sangat mudah bagi seorang suami seperti Mirza.
"Panggil aku Mas Mirza."
"Mas Mirza"
"Bagus."
Saling menatap penuh kehangatan, Mirza tampak tersenyum. Sang istri masih dalam kebekuannya. Perlahan kedua bibir itu saling bersautan, dan ciuman ala mereka berdua telah dilakukan.
Cinta memegang sisi bed cover. Mirza menuntunnya, agar memegang ke bahu dan melingkari ke lehernya.
"Aku akan melakukannya."
Ciuman itu yang terlihat bergairah dan membawa sensasi liar bagi Mirza. Sang istri yang hanya pasrah akan keadaan. Yang mengharuskan dirinya untuk merasakan panasnya gairah manja.
Malam pertama Cinta dan Mirza. Meski belum ada rasa cinta menandai kedua hati. Mereka tetap melakukan dengan perasaan yang ada saat ini. Mirza tidak henti membuat Cinta mendesah. Suara yang terdengar sexy itu, membuat Mirza semakin liar dalam permainan.
Skip ya. Othor nggak bisa nulisnya wahai pembaca yang baik hati dan budiman.
Di kamar, rumah mewah tampak satu lantai dengan halaman yang luas.
Ruang kamar yang tampak terang dan tidur dalam dekapan. Perlahan mata itu terbuka dan menatap dalam perasaan.
"Aku tidak bermimpi." Beby semakin memegang erat tangan Arjuna.
Flashback On
Setelah kepergian Arjuna, yang awalnya baik-baik saja. Rona bahagia itu sudah berganti kelabu. Semakin hari kian resah dan gelisah. Sangat sulit hidup tanpa sang Arjuna.
Beby yang kala itu, di Butik Gloria. Pingsan saat jam pulang, Jimmy menjemputnya. Hanya Jimmy yang membantu hari-harinya.
Semakin hari, Jimmy tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan Beby sendiri tidak mau tinggal bersama keluarganya.
"Beby, kamu harus makan."
"Aku tidak mau."
"Ayolah, demi Arjuna."
"Tidak Jimm."
Jimmy juga yang mengadu kepada Maharani, membuat Beby berhenti bekerja di Butik Gloria. Bahkan, para pegawai Butik juga sempat menjenguk Beby di rumah Jimmy.
"Kalau kamu tidak mau makan. Aku akan mengantarkanmu ke rumah orang tuamu."
"Aku tidak mau kesana."
"Beby, Arjuna masih hidup. Aku yakin dia akan segera kembali. Kalau kamu yang mati duluan. Arjuna bisa membunuhku."
Mendengar hal itu, Beby sedikit senyum dan tidak lama, sang Nenek kandung datang menemuinya.
"Aku tadi ke Butik. Mereka bilang. Beby sakit dan tidak lagi bekerja."
"Benar Nyonya."
"Aku datang kesini. Untuk menemuinya."
Jimmy mengantarkan ke kamar. Sang Nenek kandung ini menemui cucunya. Melihat wajah pucat dan tampak terlelap.
"Beby." Jimmy yang memanggilnya.
Sang Nenek kandung berkata "Biarkan, dia tidur."
"Baik Nyonya."
Jimmy yang mengerti dan ia pergi dari kamar itu.
"Aku sudah salah. Kamu ternyata, sama seperti Ibumu."
Mendengar suara itu, Beby terbangun dan menoleh ke samping kanan. Ada Nyonya 100 M, dalam batin Beby. Yang sampai saat itu, Beby belum mengakui kalau Nyonya 100 M adalah Nenek kandungnya.
"Nyonya."
"Iya. Aku." Balasnya dengan suara tegas.
"Kenapa datang kemari?"
"Aku hanya ingin melihat, seberapa parah penyakitmu."
"Nyonya mendo'akan aku sakit?"
"Tidak."
Tatapan itu dan Beby perlahan duduk bersandar. Menatap wajah sang Nenek kandung.
"Aku yang membuat suamimu pergi."
Beby membalasnya "Benar. Nyonya telah membuatnya pergi."
"Kamu sama persis seperti Ibumu."
"Ibu?"
Suara itu yang terdengar pelan, dan sang Nenek kandung memegang tangan Beby.
"Iya. Ibumu, Gisella."
"Memangnya, Ibuku wanita seperti apa?"
"Ibumu hanya gadis biasa. Demi Binar putraku. Dia pergi dan tidak lagi muncul dihadapan putraku."
"Maksud Nyonya?"
"Binar, sebelum menjalin hubungan dengan Ibumu. Dia mempunyai istri."
"Istri?"
"Iya. Kamu, pasti tidak banyak mendengar ceritanya."
"Iya. Aku tidak tahu apapun. Karena aku tidak mau mendengarnya."
"Kamu sama persisnya dengan Gisella."
"Jangan samakan aku dengan Ibuku. Pasti ada perbedaan antara aku dan Ibuku."
"Sampai Ibumu meninggal. Dia masih mencintai Binar."
"Papi? Nyonya tahu hal itu?"
"Aku sangat tahu."
"Bohong. Buktinya, aku yang tertukar Nyonya tidak tahu."
"Anggap saja aku berbohong."
"Baguslah, kalau aku terlahir karena cinta."
"Kamu senang?"
"Sedikit."
Suasana berubah hening dan Beby tampak menangis lagi. Sang Nenek kandung juga tampak berkaca-kaca.
"Kamu menyesali Arjuna yang pergi meninggalkan kamu?"
"Tidak."
"Kenapa kamu menjadi lemah?"
"Aku hanya merasakan, apa yang Arjuna rasakan. Aku ingin bersamanya, saat dia butuhkan. Tapi, aku tidak ada keberanian."
"Inilah, kenapa aku menyamakan kamu dengan Gisella. Ibumu menikah dengan suami Yuzra. Hanya untuk menyelamatkan nama baik Binar dan status Binar sebagai suami orang."