ABYAZ

ABYAZ
Ciuman Pertama



Masih di malam resepsi pernikahan Tania dan Andre.


Alvaro tampak berdiri dan masih berbincang dengan beberapa teman, serta pengantin pria.


Sosok berjas abu-abu, datang bersama istrinya. Menghampiri pengantin pria asyik berbincang bersama sahabatnya.


"Andre, selamat." Ucapnya dan saling berjabat tangan.


Al melihatnya "Hah, Binar mengenal Andre?"


Sosok yang berjas itu bersama istrinya tampak berbincang dengan Andre. Al berjalan menjauh dan tidak ingin tahu, tentang hubungan Andre dengan adik sepupunya.


Meski usia Binar lebih tua darinya, tapi dari pihak keluarga sang Mama. Al tetap sebagai Kakak.


Sepintas, istrinya Binar melihat. "Honey, bukannya tadi itu sepupu kamu."


"Siapa?" Tanya Binar.


"Sepertinya aku melihat Mas Al." Jawabnya.


Binar bersama istrinya, lantas berfoto bersama kedua mempelai.


Gaby yang tampak mematung di dekat pintu masuk. Menatap ke arah aula pernikahan.


"Huft, kenapa juga aku harus bertemu Kak Binar sama istrinya." Kesalnya, dan Binar berpesan kepada Gaby, agar mau menunggunya di dekat pintu masuk aula.


Al yang tadi keasyikan mengobrol dengan temannya. Dia lupa kalau tadi mengajak gadis bersamanya.


Al terbiasa sendirian, sekalinya membawa gadis, malah jadi lupa ingatan.


"Gaby." Al yang telah mengingat dan berusaha mencari pasangannya itu.


"Mas Al." Panggilan dari Binar, dan ia sudah ada dibelakang Al.


Andre dan Tania turut mengantarkan tamu VIP mereka ke tempat khusus. Kedua mempelai telah menyiapkan tempat khusus untuk bosnya, agar bisa menikmati perjamuan di acara resepsi mereka.


Al membalikan badannya, dan tampak tersenyum. "Iya."


"Tuhkan bener, kalau tadi yang aku lihat itu Mas Al." Sahut Imel, sang istri Binar yang kemayu.


Tangan kiri Al, masih memegang flute glass. Tadinya, hendak meletakan gelas di meja dan lanjut mencari Gaby. Namun, di tempat perjamuan itu. Binar dan istrinya telah menghampirinya.


Kedua pengantin itu, juga tampak terkejut saat melihat Al dipanggil Binar.


Meski Al sudah lama bersahabat dengan mereka semua, Al tidak pernah bercerita tentang keluarganya.


Al yang selalu tertutup, menurut Al keluarganya hanya Mama, Papa dan Kakaknya. Selain itu, saudara ipar dan kerabatnya. Meskipun bergelar Presdir, CEO, Madam dan Direktur. Tetap saja, dimata Al hanya keluarga biasa.


"Iya, kebetulan kita bertemu disini."


"Lama tidak bertemu." Ucap Binar dan Imel tersenyum.


Andre bertanya "Al, kamu mengenal bosku?"


"Bosmu?" Al malah balik bertanya.


Karena, Al juga tidak pernah mau tahu urusan pekerjaan para sahabatnya. Yang Al tahu, sahabatnya ada yang sudah menjadi manager, asisten bos, sekretaris bos, dan pengusaha. Al juga tidak tertarik dengan semua jabatan para sahabatnya.


"Iya, CEO Binar. Bosku yang pernah aku ceritain sama kamu."


Al tersenyum tipis, lalu berkata "Owh, pantes sangat mirip ceritanya dengan adikku ini."


"Adik??" Tania yang terheran.


Binar berkata, "Alvaro Putra Prasetya, Kakak sepupuku yang paling tampan."


"Kamu bisa saja." Balas Al, yang tampak santai.


Tania berfikir "Apa yang Dea katakan tadi itu, benar??"


Andre, "Al, kalau begitu kamu ikut kita saja ke meja itu. Kamu bisa menemani CEO Binar."


"Andre, maaf. Aku tidak bisa. Aku harus mencari calon istriku."


Imel yang tersenyum, bertanya "Mas Al sudah punya calon istri?"


Imel salah satunya, kerabat yang sering menyindir soal Alvaro. Dia pernah bilang kalau Alvaro itu, mungkin saja penyuka sesama jenis. Karena itu, Britney jadi kepikiran.


"Iya, aku sudah punya calon istri."


Binar berkata "Selamat Mas Al. Aku akan tunggu undanganmu."


"Iya, aku pasti mengundangmu."


"Baguslah, aku senang mendengarnya." Imel yang basa-basi.


Alvaro tersenyum, lalu berkata "Maaf semuanya, aku permisi dulu."


Binar yang menatap punggung itu, lalu dia berkata "Sifat yang tidak jauh beda dari Abyaz."


Imel mencebikkan bibirnya, "Selalu saja begitu."


Andre dan Tania, mengantar mereka untuk menikmati jamuan pesta mereka.


Istri Binar, yang sudah tampak duduk. Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada seseorang.


[Aku bertemu Gaby di Hotel Meghan. Jaga baik-baik suami kamu.]


Secepat kilat ia membalas, [Apa??]


[Aku hanya memberikan informasi.]


[Aku sudang menyusul Darren.]


Imel tersenyum, "Darra yang malang."


Gaby yang berdiri dan merasa kesal. "Kenapa aku harus menurut sama mereka?"


Gaby yang masuk ke dalam dan mencari pasangannya, "Huf, apa aku harus telephone dia?"


Gaby yang mengeluarkan ponselnya dan menoleh ke kanan. Saat ada seseorang yang menyenggolnya.


"Maaf." Ucapnya, lalu ada yang menatap Gaby.


Tak!


Ponsel Gaby terjatuh di lantai.


"Iya, tidak apa-apa." Gaby mengambil ponselnya, seketika ada lelaki yang mengambilnya lebih dulu.


"Ngapain kamu disini?" Tanyanya, saat memberikan ponsel Gaby.


"Kamu juga disini." Gaby yang tidak suka.


"Aku hanya memenuhi undangan pengantin pria." Jawabnya.


"Pasti karena Kak Binar." Ucap Gaby.


"Iya, soalnya Andre juga sempat datang di pernikahanku. Masa iya, aku tidak datang ke pernikahannya."


Darren yang mengenakan jas hitam, terlihat gagah dan menawan.


Darren bertanya, "Kamu sendirian?"


"Aku diajak orang."


"Siapa?"


"Untuk apa kamu ingin tahu, kamu bukan siapa-siapaku." Gaby yang ingin menghindar.


Bukannya Gaby kesal atau berlaku sinis kepada Darren. Namun, ini yang terbaik, agar tidak ada lagi pertikaian antara dirinya dengan Darra.


Gaby yang selalu menganggap Darren seperti saudara sendiri adalah kesalahan.


Sepertinya, lebih baik pura-pura tidak mengenalnya dan memutus kata persaudaraan itu.


Meski, Darren sudah menjadi saudara ipar. Bagi Gaby, semua hanya panggilan. Setelah malam itu, Gaby tidak ingin lagi bertemu Darren dan keluarga Lingga.


Gaby ingin melangkah pergi, Darren lebih dulu memegang lengan kanannya "Kamu mau kemana? Kamu kesini sama siapa? Gaby, jawab aku!"


"Kak Darren, lepaskan aku!!"


"Kak? Kamu panggil aku Kak??" Darren yang tidak habis fikir, oleh sikap Gaby saat ini.


"Bukannya kamu itu Kakak iparku. Suami dari sepupuku. Terue, aku harus panggil siapa? Mr. Darren? Atau Direktur Darren?"


Darren terdiam dan Gaby menatapnya tajam. Tangan itu akhirnya melepaskan lengan Gaby.


"Baik, aku tanya kamu sebagai Kakak ipar. Kamu sendirian? Kamu sama siapa kesini?"


"Kak Darren tidak perlu tahu. Jangan cemaskan aku. Aku bukan lagi anak asuhmu." Gaby berjalan pergi dan Darren masih mematung.


Darren yang menatap punggung itu, dan ia juga tidak bisa lagi melindungi Gaby.


Gadis kecil yang pernah dia jaga dan dia besarkan, sekarang sudah dewasa. Tapi, dia juga masih mencemaskan keadaan Gaby.


Darren berjalan dan mencari kedua mempelai. Untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.


"Gaby, tunggu aku. Nanti aku akan mengantarmu pulang." Batin Darren dan merasa bersalah.


Gaby menerima panggilan dari Al, lalu berjalan untuk menemuinya. Al yang menawan dan sangat mempesona. Banyak gadis yang menatap ke arahnya.


"Gaby. Aku minta maaf."


Melihat raut wajah Gaby, yang berubah sendu. Al mengira bahwa, karena dirinya telah melupakan dan membuat Gaby sendirian, tanpa bersama dirinya.


"Ayo kita pulang. Aku sudah capek."


"Iya." Al menggandeng tangan Gaby.


"Kamu sudah bertemu pengantinnya?"


"Sudah. Bahkan, aku bertemu sepupuku. Tadinya, aku mau ajak kamu kenalan sama mereka. Tapi, sudahlah. Lain waktu saja."


Gaby memegang erat tangan Al dan rasanya begitu dingin.


Al bisa merasakan kalau Gaby sepertinya sedang gelisah.


"Gaby, kamu kenapa?" Tanya Al.


Mereka berdua sudah berjalan keluar aula.


"Aku cuma lelah." Jawab Gaby.


Alvaro tanpa pikir panjang mengendong Gaby seperti ala bridal.


Kedua tangan Gaby mengalung ke leher Alvaro. Kedua mata itu saling menatap.


"Apa aku tidak berat?"


Al hanya menggeleng dengan senyuman.


Lift sudah terlihat, Al berjalan sambil menggendong Gaby menuju lift itu.


Ting!


Pintu lift terbuka. Sosok perempuan yang dikenal Gaby, tampak berdiri dihadapan mereka berdua.


Gaby yang lebih dulu melihatnya, seketika mengecup bibir Alvaro.


Dia keluar dari lift, tidak peduli sekitarnya.


"Siapa dia?" Batin Darren. Saat melihat Gaby berciuman dengan seorang pria.