ABYAZ

ABYAZ
Senja Sore Yang Membawa Cinta



Abyaz yang memandangi senja sore dari dalam mobil. Pernah sang Papa berkata tentang jingga dibalik senja.


Jingga yang hanya datang sebentar saja, dan akan pergi berganti biru tua bahkan menjadi gelap. Berhiaskan bulan dan juga bintang-bintang. Tapi sebuah janji, esok mentari akan kembali, dengan membawa sinarnya, dan jingga juga akan hadir disore harinya.


"Papa, Abyaz akan pulang."


Abyaz yang memegang sebuah kalung, hadiah dari sang Papa. Kalung dengan liotin berbentuk matahari.


Di tempat Damar berada ternyata jalan yang dilalui Stella begitu macet. Stella sudah menghubungi pengawal untuk menahan Abyaz, agar tidak pergi.


"Kakak, itu sangat macet."


"Terbang sana."


"Abyaz dimana?"


"Sama, macet juga."


"Apa dekat sini?"


"Aku bukan GPSnya."


Damar lupa tidak membawa ponsel pintarnya.


"Kakak menyimpan ponselku?"


Damar yang lupa, tadi juga dimana ponselnya.


"Coba kamu hubungi nomormu."


Stella memberikan ponselnya.


"Bagaimana?"


"Masih aktif, tapi tidak ada yang menjawabnya. Apa mungkin di Hotel?"


"Coba telfon lagi."


Abyaz yang masih memandangi luar dan senja akan menghilang.


"Nona, ponsel anda berbunyi."


Sudah dari tadi ada suara ponsel, dan Abyaz mengambil ponsel dari saku celananya.


"Hallo Kak Stella."


Abyaz lupa kalau itu ponsel sang suami, dan tidak sadar kalau sudah menjawab panggilan itu.


"Hallo..." Ucap Abyaz yang masih belum sadar.


"Bukannya HPku mati. Terus ini?"


Abyaz yang memandangi ponsel itu dan tampak syok. "HPnya Damar, tapi Kak Stella telfon."


"Kak Stella, ini ponselnya Damar ada sama aku kak."


"Sayang, kamu dimana?"


Abyaz jadi membeku, suara Damar yang sangat jelas. Abyaz yang menjauhkan ponsel itu. Dia tampak bingung, harus berkata apa nantinya.


"Sayang, kamu dimana?"


Stella menatap ke arah Damar.


"Abyaz???"


Damar mengangguk.


"Jawab aku. Kamu ada dimana??"


Abyaz bukannya menjawab malah dia mematikan ponselnya. "Haaah, aku jadi syok. Tapi, kenapa harus aku matikan. Bukannya dia sudah bangun. Berarti dia sudah baik-baik saja."


"Kakak, Abyaz dimana? Telfon lagi, tanya mereka ada dimana??"


Stella sebenarnya tahu mereka ada dimana, tapi yang duduk di sebelahnya tidak sabaran.


"Pegangan."


"Apaan??"


"Nurut."


Stella memutar mobilnya dan mencari jalan yang sepi dari navigasi mobilnya.


Setelah masuk jalan tol, Stella dengan kecepatan tinggi dan sangat kencang.


"Kakak. Aku masih mau hidup."


"Diam!!"


Stella dengan segala apa yang ada pada dirinya, mulai melihat cinta yang mulai bersemi diantara keduanya. Entah itu cinta atau sebuah rasa yang sangat luas artiannya.


"Kamu cinta sama Abyaz??"


"Kita sudah menikah."


"Jawab saja."


"Iya, aku cinta istriku."


"Bagus!"


Stella cukup puas dengan jawaban Damar, dan mobil itu semakin cepat melaju.


Damar sampai berkeringat dan tangan kiri masih berpegang pada handle mobil.


Wuuusshh!!! (Bayangin aja film F&F)


"Cinta." Desis Stella dan sudah keluar dari tol, lalu mencari keberadaan mobil pengawalnya.


"Apa imbalan kamu buat Kakak?"


"Apa mau Kakak?"


"Em, kamu harus kembali dan rebut hak kita."


Damar tidak menjawabnya.


"Jawab aku."


"Aku tidak bisa."


"Adikku benar-benar bodoh."


"Apa kamu mau, Cecil yang duduk di kursinya Kakek?!"


"Biarkan saja, aku tidak peduli."


"Damar!! Aku tahu kamu cuma lulusan STM. Setidaknya kamu bisa berfikir. Saat ini, Cecil yang bukan siapa-siapa sudah sangat licik. Bagaimana nanti, apa kamu akan diam saja?? Bagaimana kalau Abyaz masuk penjara??!"


"Obat itu hanya alasan saja. Cecil tidak akan berani menyentuh kamu."


"Aku heran, kenapa Adikku tidak bisa berfikir."


Damar dengan selaga perasaannya, berkata "Aku bisa menjaga Abyaz dengan caraku sendiri."


"Kamu pikir, kamu akan bisa menang melawan Mama, Kekek dan sekarang Cecilia??"


Damar yang enggan untuk kembali, dan tidak mau terlibat apapun lagi.


"Kakak sudah bantu kamu. Kakak kasih jalan untuk kamu. Tapi kamu sudah menyianyiakan kesempatan ini."


Damar dengan rasa yang terluka dalam hatinya dan dia tidak peduli lagi akan sosok Mamanya, bahkan Kakeknya.


"Terserah Kakak mau bilang apa tentang aku. Yang, jelas. Aku tidak akan kesini lagi."


"Oke, kalau sampai kamu kalah. Semoga kamu tidak menyesal."


"Mereka akan tahu, apa kelemahan kamu. Karena kamu sudah memperlihatkan cinta kamu, dihadapan mereka."


Mobil sport itu sudah berhenti di depan mobil pengawalnya.


2 pengawal turun dan dua mobil di belakangnya baris dengan rapi. Area dekat bandara, dan cukup sepi di sore hari ini.


Damar yang keluar dari mobil dan berjalan ke arah mobil pengawal.


Abyaz yang melihatnya berjalan ke arahnya.


"Sayang,.... Aku masuk ya." Damar yang masih berdiri di samping mobil.


Abyaz yang diam tanpa kata, lalu Damar masuk dikursi depan bagian kiri. Sopir dan pengawal, sudah ada diluar.


"Sayang, kamu mau ninggalin aku??"


"Aku tidak ninggalin kamu."


"Ini buktinya."


"Aku hanya mau pulang."


"Baik, kita akan pulang."


"Tidak."


Damar lalu melompat ke belakang, dan duduk di sebelah kanannya.


"Lihat aku."


Abyaz masih memalingkan wajahnya dan tidak mau melihat ke arahnya.


"Abyaz, lihat aku."


Damar yang tidak kuat menahan diri, lalu dengan cepat meraihnya dan mendekapnya erat.


"Kita kesini berdua. Pulang juga harus berdua."


"Baik, tapi kamu harus janji sama aku."


"Apa?"


"Kamu harus bisa menjaga diri kamu sendiri."


Damar "Iya sayang. Aku akan menjaga diriku dengan baik."


"Apaan, tadi buktinya kamu dibawa orang pergi."


"Sayang, maafin aku."


"Nggak mau."


"Ayolah."


"Emh, aku mau bikin perhitungan sama kamu. Tapi, Kak Stella menyuruh aku pergi ke tempat lain. Aku harus pulang dulu, aku kangen sama Papa."


"Apa maksud kamu ke tempat lain??"


"Entah, aku juga nggak tahu."


Damar masih menatapnya dengan senyuman manis. Jarinya Abyaz bermain seolah langkah kaki di dada Damar.


"Kamu bikin aku gemas."


"Aku senang, kamu menyelematkan aku."


"Aku sayang kamu."


Abyaz tersenyum manis dan Damar mengecup keningnya dengan gemas.


"Ya udah kita pulang."


"Damar, sebaiknya kamu tidak perlu ikut aku."


"Kenapa?"


"Kamu harus kembali ke rumah." Ucap Abyaz dengan tangan memegang pipi kiri Damar.


"Aku tidak mau. Aku maunya sama kamu."


Damar menunduk, seperti anak kecil yang sedang dinasehati ibunya.


"Damar, kamu harus tahu satu hal. Semua apa yang kita miliki, tidak harus kita dapatkan. Ada kalanya, kita butuh berjuang untuk mendapatkannya."


"Kamu menasehati aku??"


"Kamu pasti belum sholat."


Damar jadi ingat, ini sudah hampir maghrib, sang jingga juga sudah berubah warna.


"Aku mau kamu jadi imam yang baik, aku mau kamu jadi suami yang baik, aku mau kamu jadi kepala keluarga yang baik dan aku juga mau kamu jadi Papa yang baik."


"Emss, pasti aku lakukan semuanya. Kamu, jangan memarahi aku."


Abyaz melotot dan berkata "Ya udah kita pulang."


"Oke,.. Kita pulang."


Stella mengetuk kaca mobil sedan hitam itu dan berkata "Sudahlah, kalian jangan memadu kasih disini. Aku akan memberikan tempat untuk kalian berdua."


"Kak, bukannya aku harus pergi??"


"Iya, nanti saja. Ikutlah aku."


Damar tersenyum, "Sayang, yang penting kita selalu berdua."


"Tapi, aku kangen sama Papa Mama."


"Nanti kita bisa video call. Kita pasti akan pulang. Setidaknya kita bulan madu dulu."


Damar dengan matanya yang tidak biasa, Abyaz mundur dan merasa aneh.


"Tuan Muda, Nona, kita akan mengikuti Nona Stella."


Mobil itu lalu mengikuti mobil Stella dan dua mobil di belakangnya juga masih mengawal mereka.


"Aku sayang kamu."


"Ems, aku tahu."


"Sayang,...."


Abyaz menatap Damar dan memegang dahinya "Normal. Lalu apanya yang salah? Apa jangan-jangan reaksi dari racunnya Cecil??"


Damar dengan manis memegang tangan Abyaz "Sayang, kita bisa bulan madu."


"Ini pasti racun itu." Batin Abyaz dan merasa tidak tenang, "Ya Allah, aku harus gimana ini??"


Abyaz dengan ekpresi takut dan Damar semakin merayu. "Kak Stella, tolong aku. Jangan biarkan aku berdua dengannya."


Damar yang begitu manis, dan rasanya hanya ada Abyaz dalam otaknya. Entah, apa yang merasuki pikirannya saat ini. Apalagi, tadi dia sangat senang, setelah tahu kalau Abyaz sudah menyelamatkan dirinya.


"Sayang, mau ya?"


"Mau apaan??"


Damar mengangguk-anggukan kepala, dan senyuman manis itu rasanya juga bikin Abyaz merasa geli.


Pengawal dan sopir tidak menghiraukan Damar yang merayu istrinya. Tapi, dalam hati mereka pasti tertawa.


4 mobil dengan barisan rapi, saat berjalan melewati tol arah ke Bukit Sentul.


"Kalian, harus mengikuti skenario yang aku buat." Batin Stella dengan percaya diri.



"Selamat datang di rumah kalian."