ABYAZ

ABYAZ
Bab. 46. Malah Jadi Ribut Sendiri



Keluarga Mahatma dan keluarga Jisung sudah tampak membahas Arjuna. Para orang tua yang tidak terima atas berita yang mencuat begitu saja. Sayangnya, Arjuna mengatakan kalau hal itu benar terjadi. Dirinya sudah dilelang dalam sebuah acara pesta laknat.


Tanpa sepengtahuan Beby. Papa Damar, Papi Binar dan juga Pakde Viral sudah membahas dengan para pengacara. Sayangnya, sang pengacara juga tidak bisa menjamin keberhasilannya, bila kasus ini akan dibawa ke meja hijau. Karena, Arjuna sendiri yang mengatakan kalau dirinya memang berada di tempat itu dan ada seorang Nyonya yang sudah memberikan 100 M kepada Nyonya tuan rumah acara pesta.


"Gila. Ada perempuan yang seperti dia." Damar yang sudah mencak-mencak sendiri.


"Presdir, tolong tenang."


"Gimana aku bisa tenang. Ini sangat tidak manusiawi."


"Tapi, Madam Jovanca juga tidak mau bertanggung jawab. Karena, Arjuna datang dengan sukarela."


"Ini jebakan."


"Saya akan mengumpulkan semua bukti. Kalau Arjuna adalah korban."


Papi Binar berkata "Aku hanya ingin mendukung putriku. Dia tetap percaya kalau Arjuna adalah korban. Aku akan membantu Arjuna demi putriku."


Pakde Viral yang tidak bisa duduk tenang. Tampak mondar-mandir, lalu berkata "Aku bisa memberikan 100 M. Seandainya saja, semalam Arjuna mau menghubungi aku."


"Arjuna sudah dijebak mereka. Mana bisa menghubungi kamu. Kalau itu seandainya bisa, pasti nggak ada kabar seperti ini." Desis Papa Damar yang duduk, tapi kakinya terus bergoyang dan tidak bisa santai.


"Seandainya saja, Arjuna tidak menjadi aktor."


"Binar."


"Iya, demi putriku aku akan diam saja."


"Bagus." Pakde Viral yang tidak mau duduk dan masih saja mondar-mandir.


"Siapa Nyonya 100 M?" Tanya Papi Binar kepada mereka semua.


"Kita belum mendapat bukti yang jelas."


"Nyonya Shin-ping. Itu yang terdengar dari Arjuna."


"Shin-ping?" Papa Damar yang tidak pernah mendengar nama itu, apalagi dalam dunia bisnis.


"Arjuna berkata begitu sama aku." Jawab Pakde Viral. Karena, hanya Pakde Viral yang menemui Arjuna pagi tadi, di rumah Jimmy dan mencari tahu masalah yang sebenarnya.


"Kita bisa menuntut media, sama Madam Jovanca." Ucap Papa Damar.


Papi Binar hanya mendengarkan, lalu Pakde Viral berkata "Demi keponakanku, aku akan berjuang di pengadilan."


"Demi keluargaku, aku akan mengirim mereka semua ke penjara." Papa Damar telah meremas gagang kursi yang di dudukinya.


Ayah dan Bunda, hanya berdiam diri di kamar mereka. Bunda Gaby masih terus menangis dan menyesalkan perbuatan putra semata wayangnya.


Mama Abyaz dan Mami Stella, mereka telah mendatangi Butik Gloria.


Kedua orang itu duduk di sofa dan hanya mengamati putrinya. Dua pelayan juga bingung. Dari tadi, dua Nyonya itu hanya menatap ke arah Beby.


Beby yang tidak mempedulikan kedua orang tua ini, dia hanya sibuk dengan pekerjaannya.


"Nyonya, bagaimana dengan yang ini?" Tanya seorang pelayan dan Mama Abyaz hanya mengangguk.


Sudah ada 3 gaun yang menggantung pada sebuah gantungan dihadapannya. Mami Stella juga melakukan hal yang serupa.


"Nyonya, ini sudah ada 3 gaun. Apa lagi yang harus saya carikan?"


"Tolong, carikan gaun motif bunga. Yang ada kerutan di bawah dada." Ucap Mama Abyaz.


Lalu pelayan satunya, masih sibuk mencarikan gaun untuk Mami Stella.


Sedangkan Beby, melayani dua tamu yang lain. Ada dua gadis muda yang seumuran Beby. Tampak memilih gaun yang Beby tawarkan kepadanya.


"Yang ini juga bagus."


"Nona. Gaun ini memang cocok untuk menghadiri pesta pernikahan."


"Kamu, sudah menikah?"


"Saya?"


"Iya. Aku tahu, kamu dulu yang sering jalan sama Arjuna."


Degh


Beby merasa kalau dua gadis yang ada dihadapannya ini, memang pernah ia temui. Tapi, Beby sudah lupa, dan tidak mengenali mereka berdua.


"Kamu Cinta Damayaz kan?! Alumni SMA Bintang Utama?!"


"Nona berdua, mengenal saya?"


"Iya. Kita sangat mengenal kamu. Kita dulu teman sekelas Arjuna di SMA Bintang Utama."


"Owh, begitu. Saya malah sudah lupa." Ucap Beby dan ada rasa yang tidak nyaman.


"Arjuna, apa kabarnya? Kamu masih bertemu dia?"


Beby yang tampak bingung, di sofa lain ada kedua orang tuanya. Lalu, Beby mengingat kalau dirinya tidak akan malu dengan semua masalah Arjuna. Apalagi, dengan berita 100 M, masih panas-panasnya.


"Iya. Kabar Arjuna sangat baik."


"Sangat baik? Kalian ternyata masih berhubungan seperti dulu."


"Iya. Kita masih seperti dulu."


"Hebat juga ya kamu. Bisa menemani Arjuna sampai ke titik ini." Ucap salah satu dari mereka.


Salah satu dari gadis itu sudah tampak tersenyum, ia berkata "Aku nggak nyangka. Kamu bisa setia dan bersaing dengan 100 M."


"Aku bersaing?"


"Wow. Kabar pagi ini sepertinya sudah terjawab di depan mata kita. Arjuna demi 100 M. Pantas saja, dia begitu. Ternyata demi pelayan."


Mami Stella yang mendengar itu, ia tidak sabar. Sayangnya, tangan Mama Abyaz sudah menghalangi langkahnya.


"Biarkan saja." Ucap Mama Abyaz.


"Tapi, Beby putri kita."


"Beby bisa menghadapi mereka."


Kedua orang tua ini saling berbisik dan tatapan Mami Stella sangat sinis.


"Aku mau gaun ini." Ucapnya dan Beby hanya terdiam.


"Aku juga mau ini."


Beby berkata "Baik Nona."


"Nah, pelayan memang harus sopan."


Tampak menatap Beby dan yang satunya berkata "Arjuna, sangat tidak beruntung."


Sebenarnya, mereka berdua itu sudah mendengar kabar soal Cinta yang tertukar dengan Zolla, dari teman mereka, yaitu Jovita.


Mereka berdua saat mendengar hal itu sangat senang. Tidak menyangka hal itu bisa terjadi pada Cinta Damayaz, yang sering menganggu mereka saat dulu jalan bersama Arjuna.


"Demi 100 M." Mereka tampak tertawa dan Beby masih menahan dirinya. Beby tidak ingin terpancing dengan omongan mereka berdua.


Beby yang tampak diam tanpa kata dan dua Nyonya menatap dua Nona dengan tatapan sinis.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Kedua Nona itu masih saling melempar canda dan tampak menjelekan sosok Arjuna.


"Kalian bisa tertawa karena aku. Tapi, aku tidak suka kalian menertawakan suamiku."


Melihat ke jam dinding yang berdiri di sisi kanan. Sudah waktunya Beby untuk beristirahat. Beby dengan tatapan sadis sudah berjalan keluar dan dia sangat tidak terima akan ejekan yang dilontarkan kedua Nona tadi.


"Kak Stella."


"Aku tidak bisa melihat putriku dihina."


Mama Abyaz yang tidak lagi melerai Mami Stella. Sudah tampak melepas tangan Mami Stella.


Mama Abyaz berkata "Mbak, tolong segera hitung semuanya. Saya mau ada urusan."


"Baik Nyonya."


Baby yang telah menghadang mobil matic warna merah merona. Kedua gadis itu menatap wajah Beby.


"Dia sedang apa?"


"Melawan kita."


Beby yang memintanya keluar dengan jarinya. Tatapan mata itu sudah berubah garang, gadis itu akhirnya mematikan mesin mobil yang barusan dinyalakan.


Mereka yang hendak melaju pergi, tapi Beby sudah menghadang dan meminta mereka keluar dari mobil.


Keduanya saling menatap tajam, dan gadis satunya juga keluar dari mobil. Madam Stella yang keluar dari pintu utama Butik Gloria.


"Kamu?"


"Aku tidak terima kalian berdua menertawakan suamiku."


"Suamimu??"


"Iya. Arjuna, suamiku. Apa yang kalian tahu tentang suamiku. Sampai kalian berdua menertawakannya."


"Kita, tidak menertawakan Arjuna."


"Tadi, barusan. Aku mendengar sendiri ucapan kalian berdua."


Kedua orang itu, yang berlagak bodoh. Perlahan, salah satu dari mereka telah mendekat dan memegang bahu Beby.


"Kita, memang menertawakan kalian berdua. Kamu dan Arjuna. Sangat serasi." Ia kembali tersenyum dan Beby menyingkirkan tangan itu dari bahunya.


Mami Stella hanya menatap putrinya dari kejauhan. Mama Abyaz telah membayar semua belanjaannya dan berjalan keluar dengan cepatnya. Dua pelayan itu, juga mengikuti Mama Abyaz.


"Silakan kalian berdua menertawakan aku. Tapi aku sangat tidak suka, kalau kalian berdua menertawakan suamiku."


"Emh, gimana ya. 100 M itu pasti sangat banyak sekali. Untuk hidup berdua dan kamu tidak akan jadi pelayan lagi."


Beby yang tersenyum, "Kalian tidak tahu apa-apa. Jangan seolah, kalian berdua tahu tentang masalah Arjuna."


"Kami memang tidak tahu soal uang 100 M. Hanya saja, aku punya bukti. Arjuna yang bergandengan dengan nenek-nenek."


Dia yang tertawa dan Beby merasa geram. Menampar gadis itu dengan kerasnya.


Dash!


"Kamu berani nampar aku?"


"Iya. Aku tidak takut dengan kalian berdua."


Seorang gadis menarik rambut Beby dan Mama Abyaz melihat itu berlari mendekat.


"Lepaskan rambut putriku."


Mami Stella juga menghadang tangan gadis yang satunya. Dia yang hendak menampar balik pipi Beby.


"Kamu mau menyentuh pipi putriku?" Tatapan mata Mami Stella begitu garang, membuat gadis itu jadi takut menatapnya.