
Satu selimut dalam dekapan manja. Setelah sholat subuh, kedua insan ini baru memejamkan mata.
Meski suara kicauan burung kenari milik tetangga, seakan membangunkan dua pengantin baru ini. Tapi, mereka tetap dalam selimut tebalnya.
Bilangnya mau pulang ke rumah orang tua, Al dengan segala cara agar bisa berduaan. Romansa, dua insan saat berbagi cerita, dengan perasaan untuk menyatukan chemistry dan asyik menonton film.
Flashback On
Semalam, setelah selesai sholat isya'.
"Mas Al, ayo pulang." Gaby yang merengek dan Al duduk di atas ranjang malah asyik menyalakan laptopnya.
Ting tong
Ting tong.
"Siapa?"
"Sana bukan pintunya, itu Papa." Ucap Al dengan santai.
Karena, Al barusan mengirim pesan kepada Mama. Untuk mengirimkan saja makanan mereka dan malam ini sepertinya akan menginap di rumah Gaby.
Tidak lama, sang Papa mertua tiba. Mertuanya tampak memegang rantang.
"Papa." Gaby yang membuka pintu pagar rumahnya dan langsung menatap ke wajah Papa mertua yang pesonanya kebangetan.
"Ini makanan buat kalian berdua." Ucap sang Papa saat memberikan rantang stainless susun 4.
Gaby yang bingung tapi dia menerima rantang itu. Masih menatap sang Papa mertua yang mengenakan baju koko warna nude dipadukan dengan sarung warna cokelat tua bermotif garis. Tidak lupa memakai kupyah ala Mbah Pras.
Sudah berusia 65 tahun, tapi Papa Pras masih gesit mengendarai motor matic kebanggaannya. Penampilannya, juga tidak kalah rapi dari putra tampannya. Meski sudah usia, kerapiannya tetap juara. Masih menawan nan rupawan, dengan rambut sedikit beruban, dan terlihat garis keriputnya, tidak mengurangi pesona Papa mertua ini. Meskipun cucu pertama telah menginjak usia remaja, tapi kharismanya tidak memudar sedikitpun.
"Cepat dimakan, keburu dingin." Ucap sang Papa mertua.
"Papa tidak masuk dulu?"
"Papa ada pengajian di tetangga."
Gaby masih menatap sang Papa mertua dan kedua tangan memeluk rantang yang berisi masakan Mama mertuanya.
"Papa pulang dulu."
"Iya Papa."
"Terima kasih." Batin Gaby yang tidak terucapkan. Rasa syukur atas kebaikan Papa dan Mama mertuanya.
Gaby menatap Papa mertuanya, yang melaju dengan santai. Motor matic warna putih itu sudah sampai di pertigaan jalan, dan perlahan sudah tak terlihat lagi.
Gaby yang tersenyum, mengingat akan perlakuan keluarga sang suami. Meski, dirinya telah membuat mereka semua kecewa. Tapi, Papa dan Mama mertua sangat menyayanginya. Begitu tulus kasih sayang itu, sampai bisa menutupi rasa kecewa yang telah menghampiri mereka berdua.
Setelah makan, Al pula yang mencuci piringnya. Gaby hanya menatapnya saja.
"Emh, Mas Al di rumah dimanjain. Kok bisa cuci piring?"
"Dulu waktu kuliah sering ditinggal sendirian di rumah. Apalagi kalau di rumah Kak Abyaz bisa sebulan."
"Owh gitu."
"Sudah selesai." Ucapnya saat Al selesai mencuci piring. Bahkan, dia pula tadi yang menyiapkan makanan di minibar.
"Gantian aku yang ngelap." Ucap Gaby dan Alvaro menarik tangannya.
"Kamu pilihin film saja, tapi jangan yang horor."
"Aku suka film horor." Balas Gaby dan ia berjalan pergi ke kamar yang ada di lantai dua.
"Takut gelap, tapi suka film horor." Alvaro yang bingung akan sosok Gaby.
Gaby yang sudah berada di lantai dua dan memegang laptop suaminya. Entah, kenapa dia iseng membuka setiap file. Padahal disuruh cari film yang akan ditonton berdua.
Di atas ranjang dengan tengkurap. Jari-jari lentiknya menari di atas touchpad. Gaby begitu usil. Foto suaminya di edit yang dia mau. Tertawa geli saat melihat foto itu.
"Emh, ini siapa? Sepertinya aku pernah lihat."
Al yang telah menyusul istrinya dan itu nimbrung di atas ranjang.
"Kamu apain fotoku?"
"Mas ini cewek siapa?" Tanya Gaby.
"Darra."
"Owh, pantes pernah melihatnya."
"Sepupu sendiri masa nggak kenal?"
"Aku ketemu baru 3 tahun yang lalu. Dulu Daddy nggak pernah mau kumpul sama keluarganya. Kalau temuan paling di Jogja itupun jarang banget."
"Emh, jadi dulu kamu di rumah aja?"
"Ya, tidak begitu juga. Paling kalau Daddy libur kerja, ajak aku tamasya."
"Terus, keluarga kamu yang lain. Apa tidak pernah mengunjungi kamu?"
"Mereka juga sibuk, hanya sesekali bertemu. Itupun mereka sendirian, nggak ajak anak-anak mereka. Kecuali, Kak Viral. Soalnya setiap lebaran. Kak Viral selalu ada di Jogja. Makanya, aku cuma kenal dekat sama Kak Viral. Kalau Kak Binar, kenal semenjak di Mansion. Dia yang sering ajak jalan-jalan dan pernah juga jemput aku ke sekolah."
Al menghembuskan nafasnya "Kamu tidak suka sama Darra?"
"Bukannya tidak suka. Soalnya, dia juga cuma anggap aku benalu. Jadinya, ya udah aku menjauh aja. Waktu dia merried. Yang undang aku itu Darren, bukan dia."
Al mengerti, karena dia juga sangat tahu sifat Darra yang suka pilih-pilih teman. Bahkan, sama kembarannya sendiri saja, jarang sekali jalan berdua.
"Mas Al, berarti nantinya Kak Darra panggil aku Kakak dong?! Aku sekarang udah jadi istri, dari Kakak tampan yang dia hormati."
"Hemms,"
"Kenapa Mas, aku benar kan?!"
Gaby masih asyik dengan editannya. "Mas Al kenapa? Mas Al takut aku berantem sama adik sepupumu?"
Al yang telah memejamkan matanya, menjawab "Aku tidak takut."
"Kalau nantinya Kak Darra masih nakalin istrimu ini gimana? Siapa yang Mas Al belain?!"
Al tersenyum, lalu berkata "Istriku sudah pandai mengurus masalahnya sendiri. Untuk apa aku sibuk mengurusnya."
"Aaa.. Ayolah, Mas Al dukung siapa?"
"Hemms."
"Huft, aku tahu. Mas Al nggak mungkin tega sama Kak Darra. Apalagi sekarang dia hamil."
"Apa? Darra hamil??"
"Iya, sekitar 5 bulan."
"5 bulan??"
"Iya, tapi nggak tahu juga sih. Aku nggak peduli."
Tadi siang setelah dari toko emas, Al baru saja ketemuan di taman. Darra tidak seperti orang mengandung.
"Gaby, kamu yakin Darra hamil?"
"Kalau dia tidak hamil, mana mungkin aku bisa terdampar di rumah ini. Budhe Vava yang_" Gaby hampir saja keceplosan, karena dirinya memang telah diusir halus oleh keluarganya sendiri.
"Tante Vava yang mengusir kamu dari Mansion??"
"Mas Al salah mengartikan. Aku cuma asal ngomong aja. Ya sudah, ini aku sudah cari filmnya."
Al meraih kepalanya Gaby, dan kedua wajah itu saling bertemu "Aku harap, kamu bisa jujur. Jelaskan semuanya padaku."
"Mas Al, kemarin udah dijelasin. Apanya yang harus dijelaskan."
"Soal kepindahan kamu!"
"Benar Mas, aku sama mereka tidak ada masalah. Aku sendiri yang ingin pergi jauh, biar suasananya berbeda."
"Jawab aku!"
Gaby dengan spontan, menutup mulut Al dengan manisnya. Suami tampan ini memang seperti pengacara, yang selalu serius dalam bertanya ini dan itu. Gaby semakin gemas dan Al juga menerima sentuhan jemari Gaby. Meski masih belia, Gaby begitu lihai saat mengecup bibir manis Alvaro.
Gaby melepaskan, "2:0."
Al menarik bantal yang ada di dekatnya dan menutupi wajahnya dengan bantal itu.
"Mas Al, mau lagi??" Gaby yang sangat usil.
Tidak lama filmnya telah dimulai dan Al membuka wajahnya "Sudah mulai?"
Gaby mengangguk gemas, tanpa rasa bersalah.
"Lain kali aku balas kamu."
"Mas Al berani?"
Al menjadi diam dan fokus ke arah layar laptopnya. Mana berani Al mendahului, apalagi Gaby masih sekolah. Al masih menjaga diri, agar tidak kebablasan.
Gaby yang duduk dan memeluk guling. Al salah tingkah sendiri dan ia berbaring dipangkuan Gaby.
Gaby mengusap-usap rambut Al dengan gemas. Lalu berkata "Mas Al harus belain aku, kalau Kak Darra jahatin aku."
"Dia nggak akan berani."
"Siapa tahu nanti begitu lagi. Dia lebih kejam dari ibu tiri."
"Memangnya kamu udah pernah di asuh ibu tiri?"
"Tidak. Pantas saja guru olah ragaku sama sifatnya sama Kak Darra. Ternyata masih saudara."
"Jangan samakan aku."
"Buktinya, Pak Alvaro marah-marah terus sama aku."
"Uuu, imutnya bibir bawel ini." Al memegang bibir bawel itu dengan gemasnya.
"Pokoknya, Mas Al harus mentingin aku dari pada Kak Darra."
"Iya sayang." Al yang mencubit bibir yang manyun itu.
Flashback Off
Terbangun karena bunyi suara bel pintu pagar.
Gaby yang terbangun lebih dulu, "Siapa sih?!"
Menoleh ke arah jam weker, baru jam 8 pagi, ini hari minggu dan waktunya bermalas-malasan.
"Mas Al, masih pules banget." Efek menonton film sampai menjelang subuh, matanya jadi susah untuk terbuka.
Gaby yang mencuci muka dan bergegas untuk membuka pintu pagar rumahnya.
Ting tong
Ting tong
Gaby tanpa melihat tamunya, dengan cepat ia membuka pintu pagar rumahnya.
"Selamat pagi." Ucapnya dengan senyuman.
Mentari pagi yang telah menyilaukan mata, menatap ke wajah yang belum dikenalnya.