
Pagi dengan suasana berbeda dan semua serba teratur, bahkan sangat diatur oleh Stella Anastasya.
Abyaz yang sudah mulai dengan sarapan pagi, dan harus belajar bagaimana cara makan menawan.
"Baru aku kembali ke diriku yang dulu. Tapi aku harus menjalani karantina."
Duduk tidak boleh bersandar, punggung harus tegap dan lurus. Makan tidak boleh membungkuk dan harus tetap pada posisi menawan. Kedua tangan yang memegang garpu dan sendok.
Abyaz sudah belajar membedakan alat makan yang ada dihadapannya. Seperti sendok makan, sendok sup, garpu daging, pisau daging, garpu untuk kue, sendok untuk puding, dan banyak lagi.
"Silakan dimakan." Ucap Liu.
Guru khusus melatih Abyaz. Agar menjadi wanita berkelas, sekalipun itu hanya menyantap puding.
Makanan penutup dalam menu pagi ini. Sangat tidak ada dalam bayangan Abyaz. Semua menu eropa, padahal Abyaz sudah rindu soto bening Boyolali, yang ada di dekat rumah Papa Pras.
"Aku harus sabar, demi bisa pulang ke rumah."
"Abyaz, angkat dagumu." Tegur Stella dengan tatapan yang dingin.
Abyaz tidak membalasnya, karena tadi guru sudah mengajarinya. Agar tidak berkata apapun saat masih menikmati makan.
Kecuali, selesai mengunyah, meletakkan sedok, menyeka mulutnya, setelah itu diperbolehkan berbicara.
"Hems, Damar...aku harus diam tanpa kata."
"Abyaz, ini baru permulaan." Ucap Stella dan pergi meninggalkan ruang makan khusus Abyaz.
Abyaz tetap pada posisi makannya, dan telihat wanita yang berkelas.
Di lantai bawah, ada Damar yang sudah selesai menikmati makan paginya, dengan menu yang berbeda dari Abyaz.
"Aku harus mengikuti aturan mak lampir. Setelah ini, bisa tinggal berdua bersama istriku."
"Kamu tidak makan?" Tanya Stella yang duduk di sebelahnya.
"Aku sudah selesai sarapan."
"Bagus. Nanti jam 8 pagi, kamu harus belajar di ruang baca."
"Apa aku boleh menemui istriku?"
"Nanti siang, jam istirahat. Kalian boleh bertemu."
"Oke."
"Tapi ingat, jangan buat anak." Tegas Stella dan Damar tersenyum manis.
Damar tersenyum gemas dengan rasa yang semakin penuh hasrat membara. Tampak memancarkan aura bahagia dalam dirinya.
"Tapi berduaan, tetap boleh kan??!" Tanyanya.
"Yang jelas, jangan buat Abyaz hamil. Sebelum kalian menyelesaikan misi kita."
"Siap sister." Balasnya dan pergi dengan senang.
Usianya sudah 29 tahun, tapi seperti anak kecil. Terkadang merasa senang ketika diperhatikan dan sangat bahagia saat mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Damar, kamu jangan senang dulu." Ucap Stella dengan senyuman manis, tapi sangat menyeramkan.
Flashback On
Semalam, setelah selesai sholat isya'. Lanjut mereka bertiga makan malam bersama, tidak ada hal aneh. Bahkan Damar terlihat begitu manis, Abyaz juga tampak menikmati makan malamnya. Mereka berdua, juga sudah lupa dengan masalah yang menimpa mereka.
"Sayang, kamu nambah lagi ya." Ucap Damar yang sangat tahu kalau Abyaz suka ceker pedas. Bahkan Stella juga menyiapkan khusus untuk Abyaz.
"Ems, nggak. Aku sudah kenyang." Jawabnya.
"Ya udah. Kalau gitu, nanti kita nonton ya."
"Nonton??" Abyaz yang merasa bingung.
Abyaz kemarin melihat kalau mansion ini cukup jauh dari kota. Bahkan daerah perbukitan, dan jalan ke arah mansion itu seperti melewati hutan.
"Nonton berdua di kamar." Ucap Damar yang sangat manis dan begitu manja.
"Emh, liat gimana nanti." Balas Abyaz dan sebenarnya ingin menghindari malam pertamanya.
"Kamu nggak mau?"
"Bukan gitu, aku capek."
"Emms, tadi kamu sudah seperti dalam film. Aku suka gaya kamu."
Entah kenapa, Damar sepertinya masih belum sadar sepenuhnya. Tapi kalau dari fisiknya tampak segar dan tidak masalah. Hanya saja pikirannya sudah tidak tahu kemana.
"Kalian sudah selesai makan?" Tanya Stella.
Damar yang memegang tangan kanan Abyaz, tampak mingkem dan hanya mengangguk saja.
"Ems, baiklah. Nanti aku tunggu kalian berdua di ruang kerja lantai atas. Ada yang perlu kita bahas."
"Oke." Balas Damar dengan semangat.
"Iya Kak Stella." Ucap Abyaz dengan senyuman manis, tapi perasaannya menjadi resah. Dilihat dari sorot mata Stella yang aneh, pasti ada hal penting.
Setelah beberapa menit kemudian, Abyaz dan Damar sudah di ruangan Stella.
"Ada hal serius yang harus aku katakan."
Abyaz tampak duduk bersandar di dada Damar. Tangan Damar juga memengang tangan kanan Abyaz dan menciumi tangan itu. Tangan yang sudah melakukan tindak kejam.
"Apa kalian ingin berbulan madu?" Tanya Stella dengan manis dan sangat manis.
Damar dengan penuh rasa senang berkata "Iya, kita memang harus bulan muda."
"Iya kan sayang?" Lanjut Damar yang bertanya ke Abyaz.
Tapi Abyaz hanya diam tanpa kata, dia tampak mengantuk, saat tangan kiri Damar yang tidak henti mengelus rambut panjangnya.
"Kalau kalian ingin berbulan madu, kalian harus menyelesaikan satu misi."
"Misi??" Suara Damar yang penasaran.
"Iya misi."
Damar dan Abyaz cukup mendengarkan.
"Selama kalian belum menjalankan misi ini. Kalian tidak boleh buat anak."
Abyaz yang tadinya bersandar langsung tampak segar "Aku akan ikuti misi Kak Stella."
Stella tampak senang, walaupun wajah itu terlihat datar dan cukup serius.
Damar dengan rasa tidak senang, berkata "Apa-apaan ini."
"Ini namanya melanggar hak privasi."
"Aku nggak setuju."
Damar dengan segala hak atas dirinya dan dia pengantin baru. Kenapa ada larangan tentang privasi berhubungan intim.
"Oke, kamu boleh pergi. Tapi ingat, Cecilia bisa bertindak apa saja. Bahkan terhadap Abyaz."
"Kamu masih tidak ingin mengikuti misi ini?"
"Silakan saja pergi."
"Kalau semua sudah ditangan Cecilia."
"Aku juga tidak akan bisa lagi membantu kamu."
"Hal apa yang terkuat saat ini. Uang!"
"Dia yang diatas, dia yang akan menang."
"Tapi kalau ada yang terjadi pada istri kamu. Aku juga tidak akan bisa membantu kamu."
Damar mulai berfikir, walaupun Cecilia hanya menggertaknya, tapi hal di hotel sudah terbukti. Dia sudah nekat. Damar merasa tidak akan tenang. Kalau Cecilia akan menyakiti teman hidupnya.
Damar tampak menatap wajah Abyaz dan menarik Abyaz lagi, untuk kembali dalam dekapannya.
"Jangan jauh-jauh."
Damar kembali memegangi Abyaz, dan mengelus rambut Abyaz seperti mengelus kucing manis.
Stella yang masih berdiri di depan mereka berdua, lalu mematikan lampu ruangan itu. Tampak proyektor yang menyala dan terputar sebuah video.
"Kamu bisa lihat sendiri, apa yang dia perbuat."
Damar memperhatikan video tentang Cecil yang memberikan obat itu, bahkan di toilet pria sudah hampir mencium Damar.
"Emhs, itu dia nakalin kamu. Kamu diem aja. Aku nggak suka."
"Sayang, itu aku nggak sadar."
"Apaan, kamu menikmatinya."
"Sayang kamu cemburu??"
"Aku nggak benci, kalau ada berani yang menyentuh milikku."
"Sayang, maafin aku yang tidak bisa menjaga diri."
Tapi Damar tampak tersenyum manis, dan semakin gemas dengan teman hidupnya, karena teman hidupnya itu sudah mulai cemburu.
"Gimana? Kamu mau pergi?? Silakan keluar."
Damar masih diam dan Abyaz berkata "Kak Stella aku mau balas dendam. Aku nggak bisa diam lagi. Dia itu memang sengaja."
"Sayang, apa kamu mau mukulin dia lagi?"
"Mungkin saja."
Stella menggeleng dan berkata "Tidak!Jangan kotori tangan kalian. Ada satu hal yang kalian harus tahu. Kita harus bermain halus. Kakek sudah berencana mengirim Cecil keluar negeri."
"Kak Stella tahu dari mana?" Tanya Abyaz dengan rasa penasaran.
"Uang. Karena uang kita bisa mendapatkan segalanya. Termasuk informasi."
Padahal Stella sudah menyadap ruang kerja Kakek Sung Hoon. Sebelum Damar dan Abyaz datang kesana, Stella sudah menyiapkan semuanya. Memang benar, Stella selalu menganggap uang adalah salah satu kunci utama.
"Abyaz, uang bisa berbicara. Jangan lagi kamu mengotori tangan kamu."
Stella mematikan videonya dan ada struktur organisasi Ji-sung Grup. Song Ji Ho dan Lee Sung Hoon.
Song adalah marga keluarga Cecilia. Ji, dulu yang bekerja sama dengan Lee Sung Hoon, tapi belum sampai menuai hasilnya, dia sudah meninggal dunia.
Keluarga Song hanya tersisa Cecilia. Karena suatu kecelakan hebat terjadi, saat Cecilia masih sangat kecil. Dari situlah, Cecilia dirawat oleh Lee Sung Hoon.
"Damar, tugas kamu masuk ke dalam grup Ji-sung. Sebagai anggota tim audit."
"Audit?? Apa nggak ada tugas lain??!" Damar yang sangat malas dengan data dan keuangan. Apalagi melihat angka yang tertulis tapi tidak melihat uangnya.
"Kamu memang selalu pilih-pilih. Tapi sayangnya, aku hanya bisa meletakan kamu pada posisi tim audit. Itu hanya satu minggu."
"Yes Sister!"
Tangan Damar masih memegangi tangan istrinya.
"Abyaz, tugas kamu adalah jadi wanita berkelas. Kamu harus menjadi istri Lee Eun Ho."
"What???" Damar dengan rasa yang tidak senang.
"Damar, kamu masih tetap bodoh."
"Siapa bilang aku bodoh. Aku hanya malas berfikir."
Abyaz menyentuh pipi Damar dan berkata "Itu juga nama kamu. Apa bedanya??"
"Sayang, tetap saja beda."
Stella bersedekap dan berkata "Ayo fokus dulu. Sudah malam. Nanti sebelum jam 10 malam, kalian harus tidur dan besok mulai dikarantina."
"Apalagi itu karantina??" Tanya Damar yang cukup serius.
"Karantina, belajar sesuai aturan Kakak!"
"Damar, kamu tahu. Kakek sudah menyusun rencana, seolah Eun Ho sudah menikah di Luar Negeri, kalau Abyaz tidak segera muncul di media, di pesta sosialita dan acara-acara penting. Kamu tahu apa yang akan terjadi, Cecilia yang menjadi istri Eun Ho.
"Dan, kalau sampai mereka menemukan video kemarin. Abyaz yang akan dianggap menjadi istri simpanan, bukan Cecilia."
"Jadi, lebih baik Abyaz secepatnya muncul di dunia mereka. Kamu mengerti?? Sudah paham?!"
"Ternyata jadi konglomerat sangat susah. Aku pikir, hanya tinggal makan, seperti kata Om Seung-ho kemarin."
Damar melepaskan tangan istrinya dan mulai berdiri "Lalu apa rencana Kakak??!"
"Rencana kita, menghancurkan grup Ji-sung."
"Perusahaan akan berdiri dengan nama baru, dan perjodohan akan terhapus dengan sendirinya."
Stella dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh rasa kebencian.
Abyaz masih bingung, dia tidak banyak mengerti. Tapi cukup menurut dengan Stella dan Damar masih dengan dirinya. Tapi, apa yang Kakaknya katakan memang benar.
Flashback Off.
Abyaz masih dengan sarapan paginya dan belajar mengenal berbagai menu makanan, yang ada dalam acara pesta besar.
"Abyaz, aku pergi dulu. Ingat! Belajar yang maksimal. Sabtu nanti akan ada pesta. Kamu harus bisa." Ucap Stella yang sudah membawa coat ditangan kirinya dan perlahan memakai kacamata hitam.
Damar yang di ruang baca. Mulai belajar tentang keungan perusahaan.
"Tuan, silakan dikerjakan."
"Oke."
"Waktunya hanya 20 menit."
Damar membuka lembaran pertama sudah barisan angka-angka yang membuat matanya jadi terbuka lebar.
"Angka doang, nggak ada duitnya."
"Ada Tuan, tapi tidak disini."
Damar dengan tersenyum dan tampak santai.
Stella yang hendak masuk ke dalam mobil, menerima telfon dari seseorang.
"Kerja bagus, ikuti saja mereka."
Stella melempar coatnya dan dengan cepat memakai seatbelt.
"Pria? Siapa yang diajak join Cecilia?"
Stella mulai melajukan mobilnya.
Maaf ya, kalau sering typo dan salah penempatan tanda baca. 🙏
Apa yang akan terjadi nanti?? othor juga tidak tahu. 🤭
Kalau misinya nanti sudah selesai.
Mau lanjut atau tidak ya? 🤗
Semoga tetap Like ya ✌😍
Terima kasih 🙏