ABYAZ

ABYAZ
Bab. 5. Arjuna Menyusul Cinta



Di tempat yang indah bersama calon pendamping. Berdua melakukan foto prewedding. Tampak mesra dan tentunya sangat bahagia.


Setelah malam tiba, Arjuna yang telah selesai mandi dan ia masih mengayak rambutnya yang basah. Mengambil ponsel dan ia membuka aplikasi. Pikirannya yang masih menanti kabar tentang Cinta.


"Em, apa ini?" Arjuna melihat tampilan foto profile di sebuah aplikasi. Foto yang tampak mesra dan pasangan itu terlihat bahagia.


"Apa ini? Cinta sama Mirza?"


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Al dengan segera menghubungi nomor telephone Mirza. Sayangnya, panggilan itu tidak diterima.


"Angkat Mirza!"


"Stth.." Desisnya.


Segera berganti pakaian.


Selama ini yang Arjuna pikir, semua itu hanya sandiwara.


Perjodohan Cinta dan Mirza, ternyata telah dilangsungkan, mereka berdua telah bertunangan sebelum adanya masalah Cinta. Sayangnya, hal itu tidak diketahui oleh sang aktor tampan ini.


Bisa saja, mereka sudah mengundang Arjuna. Sang aktor tidak bisa datang seenaknya begitu saja. Apalagi, dia hampir setiap hari shuting film.


"Aku pikir mereka berdua bercanda." Arjuna yang tampak kesal, satu bulan lalu sepulangnya Cinta dari Amerika. Ia langsung menyetujui perjodohan itu, tetapi Arjuna menganggap itu hanya sekedar guyonan para orang tua.


"Mereka asyik berduaan. Disini aku sibuk memikirkannya. Cinta, awas saja kalau kita bertemu. Aku tidak akan mengampunimu."


Arjuna yang mengenal akan tempat itu, dan ia tidak peduli akan berita tentang dirinya, di berbagai media gosip. Arjuna tetap akan meluncur mencari Cinta.



Yang di seberang benua, tampak jalan berdua menikmati sajian keindahan kota Paris. Mereka berdua sangat terlihat serasi. Cinta, yang saat ini menatapnya.


"Mas Mirza, apa ada yang mencari aku?"


"Tidak ada." Sesekali Mirza melihat ponsel dari sakunya. Berharap, kalau Arjuna tidak akan lagi menghubungi dirinya.


"Mas Mirza, apa Mama sama Papa?"


Mirza tahu apa yang harus ia katakan, karena memang dirinya yang waktu itu mengejar Cinta di pengadilan dan ia yang mengajak Cinta pergi ke tempat ini.


"Cinta kamu tidak perlu cemas, Mama kamu baik-baik saja. Keadaan Mama kamu sudah membaik."


"Apa, Papa menanyakan tentang aku?"


"Iya, Papa kamu mengatakan. Kalau aku harus menjaga kamu dengan baik."


Cinta yang tersenyum dan mereka kembali berjalan berdampingan. Cinta mengalungkan tangannya ke lengan kanan Mirza. Mereka saling senyum dan Cinta juga ingin melupakan masalah tentang dirinya.


"Ayo, kita ke tempat yang lain."


"Kemana?"


"Kemana saja, yang penting kita berdua dan tidak akan ada yang mengganggu kita."


"Baiklah."


"Kamu harus ceria lagi, kalau perlu kita berbelanja. Makan malam yang mewah dan berdansa."


"Mas Mirza."


Itulah yang pernah mereka lakukan saat di Amerika. Setelah kelulusan Cinta, Mirza menyusulnya kesana. Membuat kejutan dan Cinta merasakan perhatian yang lebih, dari sosok yang selalu dianggapnya Kakak.


Gadis mana yang menolak, bila mendapat hal-hal yang disukainya. Mirza sangat tahu, apa saja yang disukai Cinta.


Semua keinginan dan harapan manis itu terwujud dihadapannya. Momen yang romantis dan special. Setelah tiba di rumah, acara pertunangan di gelar secara kekeluargaan.


Mirza Cakra Binar, putra angkat Binar yang diberi nama keagungannya.



Anak laki-laki yang gendut itu, sudah menjelma menjadi sosok pria macho, dengan tubuh kekar, tampak berwibawa dan sangat menawan.


"Mas Mirza, apa Arjuna mencariku?"


"Iya, dia mencari kamu. Pastinya dia mencari sahabatnya."


"Sahabat apanya. Yang ada dia selalu saja buat aku geram."


"Kenapa bisa begitu?"


"Itu bukan pacar namanya, tapi cuma iseng."


"Iseng kenapa pakai sayang-sayangan segala. Aku juga heran. Cewek-cewek yang di gombalin mau aja. Aku nggak suka kalau cuma omongan doang."


"Cinta, Cinta. Kalau aku gimana?"


"Mas Mirza, tahu apa yang aku mau dan perhatian."


"Aku?"


"Aaa. Mas Mirza."


"Aku sayang sama kamu. Dari dulu, aku sudah sayang sama kamu."


"Emh bohong. Waktu itu di rumah Oma, aku lihat Mas Mirza bawa cewek."


"Siapa? Yang mana?"


"Kok yang mana? Wah, berarti banyak kayak Arjuna."


"Bukan begitu Cinta. Aku nggak ada yang special. Mereka itu, cuma teman-teman aku. Teman sekolah, teman kuliah."


"Terus, yang special siapa?"


"Kamu." Mirza yang menyentuh hidung bangirnya begitu gemas dan Cinta merasakan perhatian yang istimewa.


Kedua insan, yang sedang dilanda asmara. Etts, ini baru penjajakan. Benih-benih Cinta itu belum mulai bersemi. Masih terlalu awal untuk mereka mengenal lebih dalam.


Mirza yang memang lebih dewasa dari Arjuna dan juga Cinta. Lebih mengayomi dan menjaga mereka berdua. Apalagi, kita mereka bertiga kumpul bersama. Mirza sangat tahu, harus bersikap apa kepada mereka. Pemikiran dan sikap memang cenderung lebih dewasa Mirza, dibanding dengan sang Arjuna mencari Cinta.


Kedua mata indah itu saling bertemu, dia tempat romantis dan Mirza sangat menjaga Cinta. Meskipun, mereka berdua telah resmi bertunangan. Keduanya, masih belum ada kata membina hubungan ke lebih intim.


2 jam kemudian.


"Cinta, aku mau pergi dulu. Aku ada urusan pekerjaan. Kamu aku antar ke hotel. Nanti malam, aku akan menemani kamu lagi."


"Iya Mas Mirza."


Mereka berjalan bersama, Mirza yang memperlakukan Cinta dengan baik dan begitu sopan. Itulah kenapa, Cinta mau menerima perjodohan itu.


Waktu itu, Papa Binar sebenarnya hanya keceplosan mengatakan hal itu, pada akhirnya, perjodohan ini telah terjadi. Meski Cinta bukan anak kandung Papa Damar dan Mama Abyaz. Pernikahan mereka harus segera dilangsungkan. Dengan begini, Mama Abyaz tidak akan merasa kehilangan putri cantiknya.


Di tempat lain, ada Arjuna yang mencari Cinta. Sampai-sampai, harus terbang jauh ke kota bertabur cinta.


Arjuna yang menyandarkan kepalanya dan tampak kacamata yang tersemat diwajah tampannya.


"Kenapa kamu mengikuti aku?"


"Aku tidak mengikuti kamu."


"Beri tahu aku, apa maumu?"


"Aku tidak butuh apapun, selain namaku."


"Soal nama saja kamu mempersulit hidup orang lain."


"Aku tidak mempersulit dia. Kita tertukar. Aku sudah kembali. Dia harusnya mau memakai namaku."


Bayi perempuan, yang tertukar di rumah sakit. Zolla yang dirawat oleh istri kedua Presdir Arman, dan Cinta yang diasuh oleh keluarga Presdir Damar.


Ternyata, mereka dari keluarga berpunya, lalu kenapa Zolla sampai nekat begitu? Apa tujuannya? Cinta kedua orang tua? Bisa jadi begitu, karena Zolla tinggal bersama istri kedua Presdir Arman, yaitu ibu kandung Cinta. Ada perbedaan derajat antara Madam dan Selir. Mungkin saja karena alasan itu, sampai akhirnya Zolla mencari orang tua kandungnya. Atau, ada hal lain yang membuat Zolla, menyulitkan sosok Cinta Damayaz. Entah, masalah apa itu. Semoga saja, bukan masalah perasaan atau cinta kepada Mirza.


Arjuna berkata "Kamu benar-benar sudah tidak waras."


"Aku sehat."


Mereka berdua, duduk bersebelahan. Entah ini hanya kebetulan belaka, atau memang ada unsur kesengajaan.


Gadis itu, lalu menyandarkan kepala dan memakai kacamata warna biru.


Arjuna sekilas meliriknya. "Kenapa dia selalu menirukan gaya Cinta?"


Gadis itu berkata "Arjuna, kalau dia tidak mau memberikan nama itu. Aku akan merusak acara pernikahannya. Apa, sepertinya kamu juga ingin merusak pernikahan mereka?"


Arjuna menganggap yang duduk di sebelahnya memang sudah tidak waras. Arjuna tidak lagi menanggapinya. Yang jelas, selama Cinta baik-baik saja, ia juga tidak masalah akan pernikahan Cinta dengan Mirza.