
Selama perjalanan menuju ke rumah. Beby melihat ke layar ponselnya. Arjuna telah mengirim pesan lagi. Tapi, Beby tampak mengabaikan pesan itu. Perasaannya, semakin risau.
"Arjuna mencintai Cinta Damayaz."
Gadis itu kembali menatap ke layar ponsel. Dari semenjak Arjuna menjadi aktor. Beby belum pernah menontonnya di layar kaca, baik film, drama series atau tentang gosip mengenai Arjuna.
Baginya, Arjuna saudara, sahabat dan keluarga. Tidak pernah memuji peran Arjuna, karena memang dia tidak mau menontonnya. Setiap ada iklan yang dibintangi Arjuna dan seketika muncul dihadapannya. Ia langsung mengganti saluran televisinya.
"Arjuna. Aku kecewa sama kamu."
Saat ini dia melihat layar ponselnya, membaca berita idola. Di layar itu, terpampang foto Cinta dan Arjuna.
"Arjuna. Aku bukan Cinta."
Seketika dirinya merasa sangat terluka. Luruh sudah air matanya. Saat melihat gosip tentang cinta pertama Arjuna.
Entah, apa yang harus dilakukan saat ini. Dirinya juga bingung. Dirinya yang terluka, berulang kali dan rasa sakit itu kian hari bertambah. Semakin kecewa, yang ada hanya air mata. Mungkin ini, ucapan gadis yang menggugat dirinya. Hari-hari yang penuh luka dan tidak ada lagi keceriaan itu.
"Pak, tolong antar saya ke bandara."
"Baik Mbak."
Entah, kemana lagi ia akan pergi. Percuma, sejauh mana kakinya melangkah pergi. Kedua orang tuanya, pasti akan mengetahui.
"Semua ini, hanya karena Cinta." Dirinya yang pergi, entah kemana tujuannya. Meskipun pada akhirnya ia akan kembali lagi.
"Aku mohon, biarkan aku sendiri. Jangan halangi aku."
Setelah hampir 3 jam, dirinya baru tiba di bandara. Jalan yang padat merayap, membuatnya jenuh akan gelisah dirinya.
Pintu masuk bandara, juga sangat ramai di malam ini. Dia lalu turun dari taxi itu. Berjalan dengan perasaan terluka. Kaki itu terus melangkah dengan pasti.
"Percuma aku pergi. Kalian pasti akan mencariku."
Beby yang terus berjalan dan masih sangat jauh untuk masuk ke terminal bandara.
Setelah 30 menit berjalan kaki, ia akhirnya tiba.
Mengatur nafas dan melihat ke sekitar. Kepalanya yang terasa berat akan semua pikirannya, membuatnya terasa sangat lelah.
Di tempat yang lain. Seseorang telah membuka sebuah amplop. Yang berisi tentang masa lalu. Setelah membaca surat itu, ia tampak menangis.
"Cinta? Anakku?"
Tatapan itu menjadi kosong. Masih berada di ruang kantornya. Dadanya semakin sesak, jantungnya berdetak lebih cepat.
"Aku? Papanya Cinta??"
"Ini tidak mungkin."
Selama 1 jam, hanya termenung. Mengingat lagi, akan masa mudanya.
Flashback On
Sekitar tahun itu, bisa dibilang setelah pernikahan Gaby dan Alvaro.
"Baby, aku datang."
"Sayang, kamu jadi menceraikan istri kamu?"
"Ada apa? Kamu jadi nggak sabar begini?"
"Mas, aku punya pilihan lain."
"Apa maksud kamu?"
"Mas, aku juga wanita yang butuh segalanya. Kalau aku jadi yang ke dua. Aku nggak mau mas."
"Baby, kamu kekasihku. Hanya aku yang mendukung karir kamu."
"Mas, aku dari belia. Minggat dari rumah. Terus ketemu kamu. Percuma kalau kamu hanya mendukung karirku."
"Baby, aku udah punya istri. Kamu sangat tahu itu."
"Tapi aku nggak bisa."
"Baby, jangan tinggalin aku. Cuma kamu yang mendukung aku. Kamu yang selalu semangatin aku, selama aku bertaruh dengan rivalku."
"Mas, sampai kapan kamu giniin aku?"
"Sabar sebentar saja. Biar istriku yang meminta cerai. Kita tunggu aja ya."
"Nggak mau."
"Baby."
"Mas."
"Ayolah, jangan ngambek."
"Aku sama istrimu cantikan mana?"
"Ya kamu dong sayang."
"Beneran?"
"Ya udah, malam ini kamu harus disini."
"Hei, kita belum menikah."
"Biarin."
"Kamu nggak takut sama aku?"
"Kenapa harus takut?! Kamu selalu membela aku. Meski aku yang salah. Kamu selalu datang tepat waktu."
"Baby, aku juga laki-laki normal."
"Biarin, aku juga mau sama kamu."
"Jangan, jangan goda aku."
"Aku malah penasaran, seberapa kuat iman kamu mas."
"Kamu menantang aku?"
"Oke, oke. Silakan pulang. Tapi kalau aku pergi jauh sekali, jangan menyesal."
"Jangan bilang begitu. Kita udah punya rencana."
"Aku juga kasian sama istri kamu Mas."
"Biarkan saja. Lagian, dia sama aku nggak punya anak."
"Iya, aku tahu. Aku juga udah test DNA."
"Serius Mas?!"
"Baby, aku selalu terbuka sama kamu."
"Terus, kalau sama aku. Kamu ingin punya anak?"
"Emh, mau kalau sama kamu."
"Kok, emh?"
"Iya mau sayang. Tapi, nanti kalau kita udah menikah."
"Yakin?"
"Yakin. Masa nggak."
"Ya udah, sana pulang."
"Kok malah ngusir aku?"
"Aku nggak ngusir kamu mas. Tapi, kalau nantinya kita punya anak perempuan. Kamu jangan begitu lagi. Kamu harus berubah. Kasian anak kita."
"Iya, aku akan jadi Papa yang baik."
"Bagus deh."
"Ya udah, aku pulang saja."
Setelah itu, berpisah. Lalu mereka kembali bertemu, dan hubungan intim itu terjadi. Mereka berdua juga tidak mengerti. Ada unsur kesengajaan. Sepertinya begitu, tahu-tahu, sudah ada berita Model X dengan ikon X sang bos pemilik perusahaan GG, telah bermalam di kamar hotel. Jebakannya, manjur.
Sayangnya, setelah sang pria resmi bercerai. Perempuan itu sudah menikah dengan konglomerat. Antara perasaan dan kekayaan. Perempuan itu, tidak mau menjadi sosok yang munafik. Dari awal dia tahu kekasihnya pria beristri. Tapi, tetap saja. Perasaan itu terganti oleh kekayaan. Hidup butuh duit, semuanya serba duit. Dia yang masih belia, tidak ingin merugikan masa mudanya.
Model Ambassador, artis muda. Arelia Gisella. Kala itu seusia Gaby. Kehidupan tidak seperti Gaby. Berjuang sendiri, demi masa depan hidupnya.
Gisella, juga pernah bertemu Pak Alvaro. Demi teman-temannya. Dia bertanya secara pribadi. Tapi, saat hari itu dia sudah menjalin hubungan dengan pria beristri.
Awalnya, hanya mas, mas, mas, perlahan jadi gemas. Sang pria beristri, terbiasa menganggapnya adek, adek, lama-lama eh ajak-ajak. "Dek ayuk kita nikah."
Ribet amat hidupnya ini orang. Bikin candu asmara. Karena ingin melupakan masa lalunya.
Flashback Off.
"Gisella, kita punya anak?"
"Mas, kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa. Aku cuma sedikit pusing."
"Tumben Mas pakai surat, ini untuk apa Mas?"
"Owh, itu ada tagihan dari media."
Karena surat itu, dalam keadaan terbalik. Tidak ada tulisan apapun.
"Mas, ayo kita pulang."
"Iya."
Tidak lupa, ia memasukan surat itu ke dalam laci. Semoga saja tidak ada yang membaca surat itu.
"Mas, aku udah bilang. Jangan ke kantor dulu."
"Aku baik-baik saja."
"Iya, tapi karena masalah Cinta. Kamu jadi lupa buat chek-up lagi."
"Aku nggak apa-apa. Aku cuma hipertensi semua orang begitu."
"Tapi tetap saja. Aku cemas."
Saling mengobrol sampai di parkiran. Harusnya, suaminya yang menjemput istrinya. Ini malah terbalik. Istrinya jauh muter balik, untuk menjemput suaminya. Sudah tak lagi muda. Tapi, ambisinya masih sama.
Setelah di dalam mobil, sang suami berkata "Sayang, aku minta tolong sama kamu."
"Apa Mas? Apa ada yang penting?"
Sebelum mobil berjalan, keduanya saling menatap.
"Aku ingin test DNA, dengan Cinta?"
"Cinta?"
"Maksud aku, putrinya Damar yang dulu. Iya, Cinta."
"Mas, kamu ini aneh-aneh aja."
Sang istrinya menggapnya hanya bercanda.
"Aku serius. Ada seseorang yang mengatakan. Kalau aku ini, Papa kandungnya Cinta."
Seeet!!
Mobil itu terhenti, untung saja, baru hendak menyebrang jalan. Istrinya mengeremnya dengan pas.
"Baik, aku akan bantu kamu."
"Sayang, aku nggak bermaksud begitu."
"Iya Mas. Aku mengerti."
"Dulu, aku memang pernah menjalin hubungan dengan Gisella. Tapi, aku nggak tahu itu bisa terjadi begitu aja. Demi Allah, aku nggak berniat begitu."
"Mas, aku tahu. Kamu nggak perlu bersumpah lagi."
"Terima kasih. Kamu selalu bisa mengerti aku."
"Mas, kita sepakat untuk menikah. Dari awal aku sudah bilang. Aku nggak bisa punya anak. Kamu ajak Mirza ketemu aku. Aku senang, lalu kita menikah dan membesarkan Mirza. Aku tidak marah. Hanya saja, aku kaget. Kamu tadi baca surat?"
"Iya, itu. Aku juga tidak tahu. Itu dari siapa?"
"Apa jangan-jangan?"
Di tempat lain, ada yang bergembira-ria.