ABYAZ

ABYAZ
Jalan Berdua



"Gimana?"


"Oke."


"Hem?"


"Yang ini saja. Aku suka." Ucap Al, yang memastikan gaun pilihannya.


Dari beberapa pilihan gaun yang dicoba oleh Gaby. Al menyukai gaun warna dusty pink ini. Tidak berlebihan atau kekanakan, sangat cocok untuk Gaby.


Gaun panjang selutut dengan aplikasi renda dan tile paris, warna dusty pink yang menarik dan kalem. Mode sexy boat neck off shoulder, sangat cantik ketika Gaby yang memakainya.


Butik yang sangat terkenal di kota tempat tinggal mereka. Setelah pulang sekolah, Al membuat janji dengan Gaby di butik itu.


"Emang beneran itu Pak Al?"


"Beneran Elsa." Jawab Cantika.


Ternyata genk kupu-kupu telah membututi mereka berdua.


"Elsa, aku harus gimana?" Cantika yang sudah hilang kendali dan dia semakin membenci Gaby.


"Tarik nafas, buang. Tarik nafas, buang." Ucap Elsa.


Vika menyela, "Emangnya mau lahiran, suruh atur nafas."


"Yang penting jangan emosi oke. Kita pakai cara halus. Aku habis nonton film kemarin. Kalau kita mau menang, kita harus main halus, jangan gegabah." Ujar Elsa yang sok memimpin.


"Caranya gimana?" Cantika yang sudah pusing. Melihat cowok inceran bersama cewek lain di sebuah butik. Rasanya sudah hilang kedudukannya, sebagai Queen di SMA Pesona.


Elsa dan Vika menyusun rencana untuk mengerjai Gaby. Cantika hanya terpaku dengan Pak guru tampannya.


"Pak Alvaroku." Cantika yang melihat dari dinding kaca depan butik itu.


Gaby berputar dan tersenyum di depan cermin. Lantas menatap ke arah lain.


"Hems, bukannya itu Cantika."


Gaby tersenyum dan dia mendekati Al yang duduk di sofa.


Al membuka katalog butik itu, dan dia mencari ide untuk jas yang akan dia pakai nantinya.


"Pak Al."


Gaby duduk di sebelahnya, merangkul lengan kiri Al. Meski Al tampak cuek, tapi ini kesempatan Gaby membuat Cantika cemburu.


"Dia, dia, dia memegang Pak Alvaroku." Cantika semakin iri dibuatnya.


"Pak Al, lihat Gaby!"


"Hemms," Al masih memegang buku itu dan menoleh ke arah Gaby.


Gaby berkata "Elus rambut Gaby."


"Apa maksud kamu?" Al yang tidak tahu.


"Di ujung depan, ada yang ngawasin kita berdua. Lebih baik, Pak Al nurut aja."


"Ngawasin kita?"


"Iya, Cantika and the genk."


Al merasa lucu, ada-ada saja ulah para muridnya itu.


Bukan hanya di sekolah, bahkan di tempat pribadinya saja, ada yang mengikuti dan mengawasinya dengan teropong.


Al mengelus rambut Gaby, "Begini?"


"Lebih lembut Pak Al." Suara itu terdengar pelan.


"Udah?"


"Tatap Gaby." Pintanya.


Al menurut saja dan sampai tersenyum karena merasa ada yang lucu.


Cantika menarik tas Vika. "Kalian lihat itu?"


Elsa dan Vika menoleh ke arah mereka yang bermesraan. "OMG."


"Mataku masih normal."


"Apa yang mereka lakukan?"


Gaby berkata "Nah, gitu dong senyum."


Al semakin ingin melepas tawanya. Memang ada hal lucu. Gaby juga senang atas kejadian ini.


"Rasain, makan tuh cinta." Batin Gaby yang semakin senang.


"Aaaa.. Gimana aku bisa tenang kalau mereka memang sepasang kekasih. Bahkan, mereka akan menikah." Cantika yang geram dan ingin segera kabur. Agar tidak bisa melihat kemesraan mereka berdua.


"Rontok sudah hatiku."


"Gila, Pak Al sudah keterlaluan." Ucap Vika, lalu menoleh ke arah Cantika.


"Mana Cantika?"


"Tadi dia disini."


Cantika sudah berlari ke mobilnya, dia tidak kuat lagi melihat guru idamannya telah bersama gadis lain. Bahkan, guru itu memberikan perhatiannya kepada gadis itu.


"Kalian keterlaluan. Kalian anggap aku ini apa." Cantika yang duduk di kursi kemudi mobilnya.


Dia menopangkan kepalanya di atas setiran mobil. Menangis tersedu-sedu. Vika dan Elsa telah mengejarnya.


Vika yang duduk di sebelah kiri, dia langsung mengelus rambut Cantika "Cantik, jangan nangis."


Elsa berkata "Aku juga kesel sama Pak Al dan Gaby."


Vika berkata pada Elsa, "Sa, udah jangan dibahas."


"Cantik, aku yakin mereka cuma pura-pura."


"Vika, itu tadi nggak mungkin pura-pura." Sahut Elsa yang sok pintar.


"Udah kamu diem."


"Hih." Cebik Elsa.


"Pak Al. Mereka sudah pergi." Ucap Gaby lantas pergi berganti baju dan Al menoleh ke arah parkiran depan.


Al berkata "Ada-ada saja mereka ini."


"Tapi tadi, Gaby kenapa bisa begitu? Apa dia sudah pernah pacaran??" Pikiran Pak Al yang terlalu polos. Melihat Gaby yang tidak tertarik padanya, mengira kalau Gaby gadis biasa dan apa adanya.


Dia kembali fokus pada buku katalog itu dan masih menunggu Gaby yang sibuk berganti baju.


Setelah dari butik tadi, Pak guru tampan mengajak Gaby jalan-jalan di Mal yang tidak jauh dari butik tadi.


Masih mengenakan seragam sekolah dan Al tampak keren dengan kemeja putihnya.


Gaby yang menggendong tas ranselnya dan tampak menjijing tas kertas dari butik yang di kunjungi tadi. Sebuah gaun pesta sudah dia dapatkan dan besok akan memakainya.


"Pak Al, kita mau kemana?"


"Nonton."


"Nonton? Jam segini, mendingan nonton di rumah." Gaby yang apa adanya.


"Kenapa harus di rumah?"


"Gaby nggak suka nonton di bioskop. Lebih seru di rumah, nonton sendirian."


"Kamu pernah nonton berduaan?"


"Pernah." Jawabnya dengan jelas.


Al berfikir "Hemm, bener dugaanku."


Al dan Gaby melewati bioskop. Mereka masih berjalan lagi. Gaby yang terheran bertanya "Pak Al, nggak jadi nonton?"


"Kamu bilang enakan nonton di rumah sendirian."


"Iya sih Pak. Tapi kita udah sampai sini." Gaby menatapnya dengan heran.


"Beli es krim." Al berbalik dan berjalan ke tempat es krim.


Gaby masih mematung dan berkata "Ini guru kenapa sih?! Heran aku. Nggak di sekolah, nggak di sini bikin aku capek."


Gaby berjalan mengikutinya dan dia lagi-lagi melihat Cantika and the genk.


Gaby berlari mengejar guru tampannya dan langsung memegang lengan sang guru.


"Pak Al, bawain ini."


"Kamu nyuruh aku??" Al menatapnya tegas.


"Pak Al, perjanjian kita. Calon istri."


Al menatap lebih dekat wajah itu, bertanya "Ada apa?"


Cantika melihat itu, jantungnya seakan mau copot. Vika dan Elsa juga melihat hal itu. Kedua wajah yang semakin dekat.


Gaby dengan senyuman manis. Tangan dengan jari lentiknya, memegang kedua sisi pipi Al. Dia semakin tersenyum dan Al hanya menatap penuh tanya.


Gaby mengedipkan matanya, lantas berbisik "Pak Al, peluk aku."


Al bertanya "Peluk??"


"Hems, ada kupu-kupu mendekat."


Al menghembuskan nafasnya dan ia mengerti. Kedua tangan yang berotot itu. Sambil memegang tas yang berisi gaun Gaby. Akhirnya, tangan itu bisa merasakan hal berbeda. Bukan hanya memeluk Mama, Papa, atau kedua Kakaknya. Namun, gadis yang baru dikenalnya.


Deegh!


Meski tak ada rasa, namun ini kali pertamanya memeluk seorang gadis.


"Vika, kita harus pergi dari sini." Ujar Elsa.


Cantika yang mengepalkan kedua tangan, dia berkata "Kita harus bisa memisahkan mereka berdua."


"Benar yang kamu katakan. Aku akan membantumu." Balas Vika.


Cantika berkata "Ayo kita pergi."


"Oke." Keduanya kompak menjawab.


Gaby melihat Cantika pergi, dia lantas mendorong guru tampannya.


"Pak Al, cukup."


"Hemm, mereka sudah pergi?"


"Iya, mereka pergi dengan kesal."


Al curiga, dia bertanya "Kamu sengaja, atau memang kamu manfaatin aku?"


Gaby berkata "Emh, sesuai perjanjian kita berdua. Aku bantuin kamu. Kamu juga harus bantuin aku."


Al merasa kesal dalam hatinya, baru membawa perasaan pertamanya dalam pelukan, malah di dorong begitu saja. Namanya juga baru belajar dan mendalami tentang perasaannya.


Gaby telah berjalan pergi.


Al menggeleng saja melihat tingkah Gaby.


"Pak Al pasti marah." Desisnya.


Alvaro, masih mematung dan Gaby menoleh ke belakang.


"Tuh, bener dugaanku." Gaby melihat sorot mata Al yang sangat tegas.


Gaby kembali berjalan ke tempat Al berdiri.


"Pak Al, kenapa masih disini?"


"Sini, gandeng aku."


"Emoh."


"Gaby, buruan!"


Dengan perasaan jengkel, akhirnya Gaby memegang lengan kiri Al dan mereka berjalan berdua.


"Gadis bandel ini, ternyata bisa nurut juga." Batin Al.


Gaby berfikir, "Lumayan juga ada temen."