
Masih di hari yang sama, namun di tempat yang berbeda.
"Eyang, mohon do'a restumu."
Gaya menawan dengan setelan jas hitam. Rambut belahan gaya masa kini. Wajah tampan nan rupawan.
Meski sudah berusia 33 tahun, calon duren ini semakin mempesona tiada tara.
Berjalan dengan gagahnya. Pancaran mata itu, menandakan kalau dirinya telah siap memimpin Mahatma Corporation.
"Silakan Bos." Ucap seorang pengawal yang membuka pintu rumahnya.
Red carpet itu di gelar untuknya, langkah awal yang baik dan ia yang akan duduk di kursi tertinggi Mahatma Corporation.
"Ayo jalan." Ucapnya kepada sopir pribadi.
Mobil sedan hitam nan mewah, telah membawa calon pemimpin ini. Satu mobil yang membawa serombongan para pengawalnya.
Suasana kantor utama semakin riuh, setelah ada kabar. Kalau akan ada perombakan posisi jabatan. Meski, mendengar kabar itu, Lingga tidak peduli dan Binar masih sibuk bekerja sendiri.
"Honey." Ucap Imel yang mendatangi ruang kantor Binar.
"Iya."
"Aku mampir sebentar."
"Aku mau ada rapat. Kamu mau perlu apa?"
"Emh, apa gosip barusan benar?"
"Gosip apa?"
"Si Viral datang kembali."
"Aku tidak tahu."
Imel yang merasa cemas akan posisi suaminya nanti tergeser, ia membawa beberapa dokumen. Imel dan Binar di jodohkan karena bisnis. Lingga sendiri saat itu sedang ada kontrak kerja bersama perusahaan lain. Namun, mereka malah menawarkan diri untuk menjalin hubungan sebuah keluarga.
Binar yang kala itu sakit, bahkan gosipnya Binar tidak akan tertolong. Lalu bertemu putri dari kalangan pejabat, namun naas. Pernikahan itu dibatalkan sepihak, entah karena alasan apa. Calon Binar membatalkan pernikahannya dengan Binar. Beberapa bulan kemudian, datanglah sosok Imel. Putri tiri pemilik perusahaan media.
"Honey." Imel yang menatap Binar dan mengelus rambut suaminya. Bahkan, berani duduk di paha Binar. Padahal Binar sedang sibuk bekerja.
"Sudahlah, kamu pulang saja."
"Tapi ini tentang masa depan kita."
Binar menatapnya dan menghentikan pekerjaannya.
"Apa yang kamu mau?" Tatapan itu begitu racun. Meski menikah dan memiliki putra. Binar belum mencintainya dengan sepenuh hati.
Jari-jari nakal itu, bermain dasi yang tersemat pada kerah kemeja suaminya "Aku ingin memiliki rumah, tapi bukan yang di Pondok Indah. Aku ingin kamu duduk di kursinya Budhe Limar."
Binar membuat istrinya berdiri di sampingnya, "Kamu pikir mudah, aku harus kerja keras setiap hari. Kamu hanya bilang ini dan itu."
"Honey, apa kamu lupa. Kamu jangan mau kalah sama Damar." Ucap Imel yang memancing prahara.
Binar, meskipun sudah merelakan perasaannya. Tapi, dirinya tidak bisa menahan cemburu dikala Abyaz bermesraan dengan Damar.
Binar terdiam dan istrinya merangkul lehernya, berbisik "Jangan beri celah untuk Viral. Kamu bisa saja tertindas. Siapa yang duduk diatas, dialah yang berkuasa."
Setelah itu Imel pergi, Binar menarik dan melonggarkan dasinya "Aku sudah berjuang. Aku sudah bekerja keras. Aku tidak ingin gagal lagi."
Binar yang semakin teropsesi akan kursi atas itu. Limar sebentar lagi akan pensiun, dan tinggal mengawasi para penerusnya. Berita, tentang Limar yang akan turun dari tahta Mahatma, sudah lama terdengar, bahkan sebelum sidang perceraian Viral. Tapi, Limar sampai sekarang masih duduk di kursi agungnya. Bahkan, Lingga saja tidak bisa menggapainya. Mungkin, sudah saatnya menurun kepada anak cucunya, dan bisa kepada Viral Wayah Yuda. Dari namanya saja, sudah mengartikan kalau Viral cucu Yuda.
Yuda semasa mudanya, mendirikan Mahatma Corporation agar bisa turun ke anak cucunya. Apalagi, Viral adalah cucu pertama dari anak pertama dan cucu kandungnya. Berbeda dengan Binar, meski usianya diatas Viral, Binar bukan keturunan dari Yuda Mahatma.
"Viral." Batin Binar dan meremas kertas yang ada di meja kerjanya.
Imel sangat tahu, bahwa kelemahan Binar adalah Abyaz. Imel juga tahu kalau dirinya hanya sebagai bahan pelampiasan. Namun, kekuasan itu penting, tidak ada cinta tapi dirinya harus bisa menjadi Nyonya.
Mengingat akan asal usulnya yang dari kelas bawah dan ibunya menikah dengan golongan atas. Imel merasa dirinya harus bisa mendaki sendiri, bagaimanapun cara yang harus ditempuhnya. Lidah itu, juga harus pandai dalam memutar balikan fakta. Termasuk, tentang Gaby dan Darra.
Viral yang keluar dari mobil, sudah melihat nama besar Mahatma.
"Eyang, Viral datang." Ucapnya dan masih menatap ke atas. Nama yang agung dan begitu besar terpampang diatas kantor utama Mahatma.
Viral tersenyum tipis, lantas melangkahkan kakinya untuk pertama kali sebagai seorang Bos.
"Silakan Bos Viral." Para pengawal itu dengan penjagaan yang rapi.
Para pengawal yang tidak kalah modis dari bosnya. Semua pasang mata yang ada di lobby kantor itu. Tertuju pada sosok yang tampak sedang dikawal.
Viral begitu menawan, meski belum tampak wibawanya. Namun, gaya cengengesan, pecicilan, dan apa adanya Viral. Itu semuanya sudah menjadi alat untuk dirinya, memasuki kantor utama Mahatma.
Eith, itu semua hanya dalam bayangan Viral. Dia seperti semut yang takut di injak.
"Bos. Ayo."
Viral yang hendak kembali pulang dan rasanya begitu gugup. Para pengawal menghadang dan menggandeng lengan tangannya.
"Kalian semua tidak sopan."
"Bos, maafkan kita. Kita hanya menjalakan tugas."
"Ke ruangan Presdir Limar."
Padahal dari rumah sudah tampak sempurna dan akan menjadi calon utama. Semuanya jadi buyar saat melihat para staff Mahatma yang menatapnya.
Viral yang kembali membalikan badannya.
"Bos, demi kita."
"Kita siap mendukung Bos."
Meski Viral termasuk kandidat yang di remehkan para petinggi perusahaan. Namun, banyak sttaf dan karyawan Mahatma memihak padanya. Apalagi kalangan bodyguard, keamanan kantor, petugas kebersihan, dan pekerja pabrik. Tapi, Viral masih merasa dirinya bodoh. Tidak tahu menahu, soal perkerjaan berat ini. Presdir, bukan posisi yang akan mudah dia gapai.
"Bos, demi masa depan kita semua."
"Aku gugup."
"Pasti Bos Viral bisa."
"Ini, bukan ajang tinju. Kalau tinju aku bisa melawan lainnya."
"Bos, niat dari rumah demi siapa Bos?"
"Demi keluarga Mahatma.".
" Ya sudah, Bos ingat terus saja wajah Eyangnya."
"Heems, baiklah."
Mereka sudah berada di depan pintu ruang kantor utama.
Pintu ruangan presdir Limar yang megah, dan ruangan itu nampak mewah setelah para pengawal membuka kedua gagang pintu itu. Pintu dua daun yang tinggi dan besar.
Presdir Limar yang duduk di kursinya, melihat sosok yang berdiri tegap dan masih berada di depan pintu.
Presdir Limar melepas kacamata baca, dan ia ingin memastikan. Kalau yang berdiri itu, memang sang putra tercinta.
"Bos, ayo masuk." Ucap salah satu pengawalnya.
Memejamkan kedua matanya dan berdo'a, kali ini dengan niat yang sungguh-sungguh. Viral akan bekerja keras dan tidak akan bermain-main lagi.
"Eyang, demi keluarga kita."
Viral berjalan dengan gagahnya. Tatapan matanya, telah fokus ke wajah Presdir Limar.
Biasanya, Viral yang datang meminta perkerjaan, namun kali ini niatnya berbeda.
Para pengawal yang malang, disiapkan untuk mengawal Viral. Namun, ada saja tingkah Viral yang bikin tobat.
Viral pernah minta pekerjaan sebagai office boy, tapi para pengawalnya juga menemani dia bekerja. Jadi security perusahaan, para pengawalnya juga ikut dengannya. Bekerja di bagian staff, para pengawalnya juga melakukan pekerjaan yang sama. Bahkan, menjadi karyawan pabrik miliknya.
Lalu, bagaimana nanti menjadi Presdir? Apakah, para pengawalnya juga akan ikut berperan?
Limar yang masih duduk dan tampak bersedekap. Viral sudah berada di ruangan itu. Para pengawalnya, menutup rapat pintu besar itu.
"Mama."
Viral yang memang begitu adanya.
"Ada perlu apa kamu kemari?"
"Begini Ma."
Limar hanya menatapnya dan menunggu jawaban.
"Ops!"
"Maksud kedatangan saya kemari."
Viral bingung mau bicara apa.
"Presdir Limar, ada yang ingin saya katakan."
"Presdir Limar?"
"Presdir, saya ingin mencalonkan diri, dan ingin masuk ke seleksi kandidat"
Viral bingung,
"Bicaralah yang jelas."
"Saya ingin mencalonkan diri sebagai."
"Apa maksud kamu?"
Melihat tatapan Limar yang tajam, Viral jadi kurang fokus. Aura dan wibawa Limar selalu terpancar.
"Saya ingin mencalonkan diri, sebagai Presdir Mahatma Corporation."
Presdir Limar tampak tersenyum.