ABYAZ

ABYAZ
Teman Hidup Jauh Lebih Berarti



Siang hari dan masih berada di kantor, Abyaz duduk di sofa, tampak bermain ponsel. Entah dia bermain game, atau menulis sesuatu. Yang jelas, dia hanya fokus dengan Hpnya.


"Damar lama banget rapatnya, udah jam 1 juga."


Abyaz mulai bete, tadi di setelah dari mushola yang ada di kantor, Abyaz mendengar obrolan tentang dirinya dengan Damar.


"Oppa, nikah?"


"Pak Damar?"


"Serius kamu?!"


"Iya, aku tahu dari Bu Stella.


"Apa dia yang tadi digandeng Pak Damar?"


"Tadi aku juga lihat."


"Aku ga terima."


"Aku juga."


"Pupus sudah harapan kita."


"Dia cantik, kayak artis India."


"Iya, kayaknya bukan orang sini."


"Sudah, kalian jangan bermimpi lagi."


Abyaz tadi yang melewati mereka hanya tersenyum manis. Obrolan mereka ada yang memakai bahasa jawa dan tampak kecewa setelah mendengar, kalau Bos muda mereka sudah menikah.


Tapi mereka tidak tahu, kalau Abyaz mengerti apa yang mereka katakan. Soalnya, karyawan tahunya Pak Damar dijodohin sama gadis Jakarta.


Kata-kata itu masih terngiang dalam telinga Abyaz dan dia merasa tidak nyaman.


Dulu dengan sang kekasih hatinya, setiap saat sang kekasih tersenyum, Abyaz langsung melarang. Apalagi yang ini, dimana-mana ada penggemar beratnya.


"Bisa-bisa aku kena santet online."


Abyaz mulai merinding dan memeluk badannya sendiri, lalu berdiri dengan perasaan gelisah.


"Menikah sama dia, ternyata membawa aku dalam bahaya besar."


Abyaz seolah ingin mengatakan kepada sang Papa, lebih baik batalkan saja pernikahannya.


"Buku nikah juga belum jadi."


"Apa aku batalkan saja."


"Tapi Papa sudah menikahkan aku."


"Apa yang aku pikirkan."


"Ya Allah, maafkan hamba."


"Damar, kenapa kamu buat aku takut."


"Uuuhhh!!"


Abyaz masih dalam pikirannya yang kacau. Damar juga sudah berbohong, katanya sendirian, buktinya dia punya Kakak. Malah sangat cantik dan dia sangat dewasa.


Damar yang selesai rapat, masuk ke ruangannya dan melihat istrinya yang cemberut. Lalu duduk di sampingnya dan mengayak rambut Abyaz dengan gemas.


"Uuuhhh.... Aku kesal."


"Kenapa?"


"Aku mau pulang."


"Hems, udah jam 1. Kamu belum makan."


"Iya, aku mau cincang kamu terus aku makan."


Damar melihat ekspresi Abyaz yang sangat kesal.


Tangan kirinya meraih kepala Abyaz dan menyandarkan di dadanya. Lalu dia berkata "Kepala kecil ini, pasti banyak yang dipikirkan."


Damar yang mengusap rambut Abyaz dan Abyaz masih sibuk dengan ponselnya.


"Mau makan apa?"


"Makan kamu."


Tangan kiri Damar yang mendekap Abyaz, tiba-tiba digigit Abyaz begitu saja.


"Kamu mau makan apa?"


Abyaz merasa nyaman saat bersandar dan berkata "Aku mau makan masakan Mama."


"Ya udah, aku mau sholat dulu. Aku pesankan mie ayam dulu di depan. Nanti kita ke rumah Mama."


"Beneran?!"


"Iya, nanti kita pulang kesana."


"Ya udah, aku mau mie ayam sama es campur."


"Oke."


Abyaz mulai bangkit dan duduk bersila dengan tersenyum manis.


Damar yang beranjak pergi dan meminta tolong sama karyawannya, untuk membelikan mie ayam dan es campur yang stay di depan kantor JS.


Di depan kantor itu, banyak pedagang makanan, sebelah kantor itu juga ada pabrik tekstil yang sangat terkenal di daerah itu.


Walaupun masih area persawahan, tapi disitu begitu ramai. Banyak juga usaha kecil menengah dan perumahan.


"Asyik, aku nanti bisa ketemu Papa."


Abyaz memang anak Papa, dari kecil cenderung nempel ke Papa dan selalu bersama Papa, entah itu ke sekolah ataupun bepergian.


Pras sendiri juga merasa kalau dia memang lebih mengutamakan Abyaz. Apalagi semasa kecilnya, Abyaz tidak bisa pisah dari Papa.


Pernah sekali, Pras pulang ke Semarang tanpa mengajak Abyaz. Akhirnya Abyaz demam, dan sampai di rawat. Padahal itu hanya sakit mala rindu. Setelah itu, Pras tidak lagi pergi tanpa Abyaz.


"Abyaz." Stella masuk ke ruangan itu.


Yang tadinya duduk bersila dan fokus ke ponselnya, jadi duduk dengan sopan.


"Iya Kak Stella."


Stella yang duduk di kursinya Damar, lalu memandangi Abyaz.


"Minggu depan akan ada pesta penting. Kamu harus datang sama Damar."


"Pesta?"


"Bukannya Damar sudah cerita tentang dia, dan perjodohannya."


"Emh, iya Kak. Katanya, Ibunya."


"Maksud aku, ibu mertua ada pesta."


"Iya. Mama akan menikah, untuk yang empat kalinya."


Abyaz mendengar hal itu cukup terjatuh. Ponselnya beneran jatuh, karena ada rasa yang membuat dia kaget.


"Ke empat??"


Ada rasa tidak percaya dalam diri Abyaz, dan merasa aneh.


"Bukan gitu Kak, hanya bingung aja."


"Aku anak pertama Mama Melinda."


"Aku tidak punya Papa. Karena dari lahir sampai besar aku tidak pernah bertemu. Tapi aku mendapat kabar, kalau Papaku sudah meninggal karena tertembak."


"Mama menikah dengan Ayahnya Damar. Tapi hanya 10 tahun, dan mereka bercerai."


"Damar akhirnya seperti terkurung. Karena didikan Kakek sangat tegas."


Abyaz masih mendengarkan Stella.


Damar tidak banyak cerita. Saat lamaran, Damar hanya cerita soal Ayahnya. Tidak ada cerita tentang Mamanya.


"Terus Damar minggat, terdampar disini. Tinggal bersama keluarga Ayahnya."


"Aku kenal mereka. Tapi kita tidak dekat."


"Aku menjemput Damar. Tapi dia sudah pindah keyakinan, bahkan namanya juga sudah ganti. Dari Lee Eun Ho, jadi Damar Setya Ardana."


"Akhirnya aku disuruh Kakek untuk mengawasi dia."


Abyaz mulai mengerti soal suaminya.


"Baguslah. Damar sudah menikah. Jadi aku bisa kembali menemani Kakek."


Abyaz hanya tersenyum manis, dia sendiri masih bingung dengan perasaannya.


Tapi disisi lain, ternyata masa lalu suaminya sangat tidak bahagia.


"Mamaku bernama Lee Dae Yoon. Tapi dia pergi dari rumah dan hobbynya menjalin hubungan dengan para pria."


"Padahal, Kakek berharap Mama kita bisa berubah."


"Damar sepertinya juga jenuh melihat Mama kita yang begitu, tapi kita tidak bisa menasehati Mama. Jadi, kita hanya membiarkannya saja."


"Kita juga punya adik laki-laki, umurnya 15 tahun. Setelah bercerai dari Ayahnya Damar, Mama menikah lagi, tapi tidak lama suaminya meninggal karena sakit. Dan nanti, minggu depan akan menikah lagi."


"Tapi kali ini menikah dengan orang kepercayaan Kakek. Makanya aku harus kembali, agar bisa mengawasi mereka berdua."


"Kamu tidak perlu cemas soal Damar, dia memang begitu. Aku tahu, kalian tidak ada cinta."


"Tapi Adikku sangat manis, dia lembut seperti Ayahnya. Aku juga sangat mengenal Om Eka, dia sosok yang penyayang. Hanya saja Mamaku susah diatur. Akhirnya mereka berpisah."


"Damar, juga korban keegoisan Mama."


Abyaz hanya mengangguk. Mulai merasa bersalah atas sikapnya yang menggerutu saja.


"Abyaz. Setelah nanti bertemu keluargaku di Jakarta, kamu jangan merasa kecil."


"Ingat!! Pastikan kamu memasang wajah kamu. Karena dalam keluargaku, tidak ada wanita yang sederhana."


Tidak lama pesanan makanan sudah diantar oleh karyawan dan Stella yang membuka pintunya.


Abyaz merasa tidak enak dan Stella tersenyum, lalu berkata "Makanlah, aku masih ada urusan."


"Kamu tidak perlu cemas, tunjukan pada semua orang. Kalau kamu istri Damar Setya Ardana. Pemilik JS corporation, sekaligus cucu Presdir Lee Sung Hoon."


"Presdir Lee Sung Hoon."


"Aku sepertinya pernah baca di majalah bisnis."


Stella mengedipkan sebelah matanya. Akhirnya dia pergi dengan senang.


Usianya hanya selisih 3 tahun dengan Damar. Tapi Stella sosok yang sangat tegas dan tidak basa basi.


Sepertinya sosok Melinda Yoon, juga pernah dekat dengan Yuda Mahatma. Melinda yang seusia Limar, sudah memiliki anak sedewasa Stella Anastasya.


Ya, usia Stella sekitar 32, hanya selisih 2 tahun dengan Alishba, yang masih berusia 30.


"Ems, jadi nggak nafsu makan."


"Kenapa Kak Stella harus cerita soal itu."


"Aku jadi merasa bersalah."


Abyaz menggerutu sendiri dengan perasaan gelisah.


Abyaz yang menambahkan sambel, tapi lidahnya berubah hambar. Biasanya dia sangat tergoda, ketika melihat mie ayam dengan sambal cabai yang pedas.


Damar yang selesai sholat dzuhur, dia kembali ke ruangan dan melihat Abyaz yang sedang makan.


"Kenapa tidak dimakan?"


"Suapin."


"Suapin??"


"Biasanya Papa yang nyuapin aku."


Abyaz yang manyun dan seperti anak kecil. Damar yang merasa ada hal lucu, lalu mendekati Abyaz.


"Emms, aku suapin. Tapi nanti ada imbalannya."


"Apa imbalannya?"


Damar menunjuk bibirnya.


Damar yang berusaha untuk menggodanya dan Abyaz jadi melupakan kata-kata Stella.


Dengan gemas mengambil mangkok mie dan kembali duduk bersila, perlahan mulai menyumpit mie ayamnya.


"Abyaz.... Abyaz.. Aku jadi kepingin makan kamu."


"Nanti kalau aku sudah kenyang, sekarang aku masih menambah lemak." Selorohnya, matanya melirik wajah Damar.


Damar mengambilkan tisue dan menyeka mulut Abyaz.


"Anak gadisnya siapa ini? Kenapa makannya belepotan."


"Anak gadisnya Papa Pras." Dengan tengilnya.


"Owh, aku lupa. Papa barusan balas chat aku. Katanya mereka lagi di Semarang."


"Kok mereka nggak ngajak aku."


"Emh, baca ini." Damar menunjukkan ponselnya.


"Tadi waktu aku ngobrol ditelfon. Aku lupa, tidak tanya mereka lagi dimana."


Abyaz yang semakin manyun unyu.


"Huft, mereka pergi tanpa aku."


"Mau nyusul?"


"Paling nanti malam pulang, Al besok juga ada kuliah."


"Ya udah. Besok kalau Papa ada di rumah kita kesana."


Abyaz lalu tersenyum dan kembali menikmati makan siangnya. Damar semakin gemas, saat melihat Abyaz yang tidak jaim.


Abyaz menampilkan dirinya yang apa adanya. Dia seperti bersama teman dekat. Memang, mereka itu suami istri. Tapi rasanya, teman hidup jauh lebih berarti untuk keduanya.



Visual hanya pemanis.


Thank' Google ✌😂